
Flashback ON
Daniel saat ini baru saja pulang dari rumah kakeknya dia berjalan masuk kedalam rumah dengan wajah dingin sekaligus datar seperti biasanya padahal tadi sebelum masuk kedalam rumah wajahnya begitu senang berseri saat mengingat kebersamaannya dengan sepupu kecilnya anak dari pamannya.
Saat di berjalan di lantai bawah rumahnya, tak sengaja ia mendengar suara seseorang yang bicara menyebut-nyebut nama kakaknya dan juga keluarga Doni Suherman yang ia ketahui sebagai rekan bisnis Papanya dan Istri Doni adalah sahabat mamanya dulu.
Itu suara Marco yang sedang berbicara dengan istrinya di kamar tamu. Daniel langsung mendekatkan langkahnya didepan pintu kamar itu berniat untuk menguping pembicaraan mereka yang membawa-bawa nama Dena.
"Honey bagaimana bisa kamu ada ide untuk memperluas jaringan mu dengan keluarga Suherman itu?Padahal keluarga mereka susah sekali untuk diajak bekerja sama dengan seorang yang pernah terlibat masalah" Tanya Soraya penasaran dengan cara suaminya bisa menjadi rekan bisnis Doni Suherman.
"Tentu saja ada dong honey, istri dari Doni Suherman itu kan sahabat mantan istriku dulu. Jelas mereka mau, ditambah lagi mereka menyodorkan perjodohan anak mereka dengan Dena. Sehingga membuatku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini" Jelas Marco.
"Bagus honey, kita pergunakan Dena agar kamu semakin berkuasa dalam perekonomian di negara ini."
"Nah itu honey, makanya aku langsung menerima tawaran mereka untuk menjodohkan Dena"
"Tapi honey, bagaimana kalau Dena menolaknya?Kalau dia menolak bagaimana kalau ia kita buang saja keluar negeri" usul Soraya.
"Tidak, dia tidak akan bisa menolak ini. Dan kalau dia menolak aku tidak akan membuang dia kemanapun, karena dia aset rumah ini" tukas Marco seperti tidak terima dengan ucapan istrinya.
"Bagaimanapun caranya, aku harus membuat Dena mau menerima perjodohan tersebut, agar kita semakin berjaya" tambah Marco mantap.
"Bagus, honey apa perlu aku bantu dirimu untuk membujuk bocah tengik itu" Soraya memberikan tawaran pada Marco.
"Tidak honey, aku bisa mengurusnya. Lebih baik kamu pikirkan cara agar Daniel serta Reyhan tidak mengetahui semua ini"
Diluar kamar Daniel menggenggam tangannya kuat, buku-buku jarinya memutih. Wajahnya berubah mengeras sorotan tajam begitu saja keluar. Dia langsung pergi dari tempat itu berjalan keluar rumah kembali, entah akan kemana dia sekarang dengan emosi yang seperti itu.
FlashBack Off
………………
"Kenapa Om Doni menjodohkan Kakakku dengan putramu, apa kamu tidak kasihan dengan kakakku yang sudah menderita tapi akan kau buat menderita lagi" ucap Daniel berusaha menahan emosinya.
"Apa maksudmu Daniel.?"
"Om tidak mengerti apa yang kamu maksud. Kenapa kakakmu harus menderita saat om menjodohkannya dengan putra om,?"
"Pokoknya Om harus membatalkan perjodohan ini, saya tidak mau tahu" ucap Daniel dengan mata nyalang menatap Doni.
__ADS_1
"Maaf Daniel om tidak bisa membatalkan ini semua, Om sudah ada janji" Doni mulai berjalan mendekati Daniel yang dadanya naik turun menahan emosi.
"Janji?Janji sama siapa Om?Sama papa saya? Ingkari Janji itu, Papa saya orang licik asal om tahu dia menikahkan Dena hanya untuk kesenangannya saja" Daniel menepis tangan Doni yang ada di pundaknya saat ini.
"Saya mohon om, saya mohon pada anda tolong batalkan perjodohan ini, saya takut kakak saya malah semakin menderita. Dan itu akan membuatnya depresi, aku tidak ingin kakakku pergi meninggalkanku om" tambah Daniel dan tak terasa air mata menetes dari matanya saat ia mengingat Dena yang akan bunuh diri waktu itu.
"Kamu tenanglah Daniel, kakakmu tidak akan menderita di keluargaku. Aku janji aku akan melindunginya, aku menjodohkan dia dengan putra om agar dia bisa keluar dari rumahmu itu" ucap Doni menaruh tangannya kembali dipundak Daniel bermaksud untuk menenangkan pemuda itu.
Sungguh Daniel seorang pemuda yang masih begitu muda di umurnya ke dua puluh tahun.
"Aku tetap tidak bisa menerima perjodohan ini om, aku mohon om batalkan ini" Daniel terus memohon didepan Doni.
"Daniel, kamu disini nak,." Sisil baru saja kembali dari arisan ibu-ibu bersama teman-temannya tampak kaget melihat Daniel yang meneteskan air matanya didepan suaminya.
Daniel melihat kearah Sisil yang juga melihatnya. Daniel langsung saja berjalan mendekati Sisil, Daniel mengambil kedua tangan Sisil memegang didepannya.
Dia Seakan memohon pada Sisil.
"Tan, Tante Sisil aku mohon padamu. Bujuk Om Doni untuk membatalkan perjodohan Dena dengan putra kalian" sendu Daniel menatap Sisil penuh harap.
Sisil melihat kearah suaminya yang hanya diam menatap mereka.
"Daniel, Ta..Tante minta maaf sama kamu. Tante nggak bisa bujuk Om Doni buat batalin ini semua" ucap Sisil dengan ragu.
"Percuma aku memohon pada Tante, Tante sama saja seperti suami tante. Mana yang katanya sahabat Mama saya, anak mama saya akan menderita tapi dia diam saja melihat anak sahabatnya. Percuma juga aku datang kesini," Daniel langsung berdiri tegap kembali. Pandanganya berubah tajam kembali seperti biasanya dan raut wajah datar sekarang yang tercetak di wajah tampan miliknya.
Dia langsung pergi begitu saja,.
Tetapi saat langkahnya baru beberapa langkah, dia berbalik melihat semua orang yang ada di situ.
"Kalau sampai kakak saya menderita gara-gara ulah kalian, ingat aku tidak akan tinggal diam" ucapnya penuh penekanan di setiap katanya.
Lalu ia berjalan cepat meninggalkan semua orang itu. Pandangannya menatap tidak suka kearah Dirga yang ternyata bersembunyi dibalik tembok didekat ruang kerja Doni.
°°°°°
@Kediaman Sharman.
Dena sendiri baru saja pulang, tepat jam makan malam. Dia berjalan santai masuk kalam rumah jangan lupakan wajah datarnya. Namun sekarang wajah dingin itu tampak tersenyum tipis, dia sangat senang sekarang. Hatinya terhibur berkat anak-anak Panti yang telah menghiburnya.
__ADS_1
"Dari mana kamu?" sebuah suara menghentikan langkah Dena dan raut wajahnya berubah menjadi dingin seperti biasa.
"............." Dena hanya diam malas untuk menjawabnya.
"Papa tanya kamu darimana?" tegas Marco menatap putrinya nyalang.
"Bukan urusan Papa" ketus Jihan.
"Terserah kamu mau jawab atau tidak. Papa hanya ingin memberitahumu bahwa pernikahanmu akan di ajukan. Tiga hari lagi kamu akan menikah dengan Dirga, Jadi kesempatanmu hanya tinggal besok"
"Aku kan sudah bilang Pa, aku menolak perjodohan ini" pungkas Dena lalu hendak berjalan pergi.
Tapi langkahnya lagi-lagi terhenti gara-gara perkataan Marco.
"Kalau kamu masih bersikeras tidak mau menikah dengan Dirga. Kamu lihat saja anak-anak yang di Panti Asuhan Kasih Bunda akan terlantar, karena Papa akan mencabut Donatur tetap Mamamu. Dan Papa juga akan menjual Vila serta rumah yang kamu pertahankan itu" Ancam Marco menatap anaknya dengan senyum licik.
"Mau mu apa? kenapa kau melakukan sesuka hatimu Pa..Apa Papa sudah menjadi gila gara-gara perempuan ular itu. Mana cintamu pada Mamaku Pa kenapa kamu seperti ini padaku dan Pada mama dulu"
"Stop Dena," bentak Marco.
"Aku tidak mau pa, aku tidak mau menikah dengan anak om Doni." tangis Dena mulai pecah.
"Papa tidak perduli kamu mau atau tidak, pokoknya kamu harus menikah dengan anak Om Doni. Kalau kamu tidak mau ingat ancaman Papa itu."
"Aku mohon Pa, aku mohon sekali ini saja Papa menuruti keinginanku" ucap Dena sambil menangis di kaki Marco. Ia memegang erat kaki Papanya yang akan pergi.
"Apa Papa sebegitu tidak ada rasa kasih padaku" tambah Dena menatap wajah Papanya yang hanya datar saja melihatnya.
"Dena lepaskan kaki Papa,"
"Tidak, Tidak sebelum Papa membatalkan semuanya" ucap Dena di sela-sela isakan nya.
"Jadilah yang pandai balas budi Dena, berikan balas budi mu pada Papa yang telah membesarkan mu sampai seperti ini"
"Minggir.." Marco menghempas Dena sehingga membuat Dena terjatuh. Lalu ia berjalan pergi setelah kakinya terlepas dari Dena.
"Pa...Papa..." raung Dena memanggil Papanya yang tidak menoleh sama sekali. Pria itu malah berjalan masuk ke kamar tamu.
Dena menangis sejadi-jadinya ditempatnya saat ini melihat keatas. Seakan memohon pertolongan. Tangisnya semakin menjadi, dia begitu sakit sekarang, serta begitu bingung apa yang harus dia lakukan saat ini.
__ADS_1
°°°
T.B.C