Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 14


__ADS_3

"Apa kabarmu?" ucap Radewa saat berjalan di samping Dena saat ini. Dewa mengantarkan Dena ke kamar Dirga karena tadi Dena tidak tahu letak kamar Dirga dimana.


"Baik" ucap Dena singkat, ia berjalan lebih dulu seperti menghindar dari Dewa.


"Kamu masih sama ya, jarang bicara dan masih dingin seperti Dena yang ku kenal" senyum Dewa melihat Dena yang diam saja menunjukkan wajah datar.


"Aku tidak menyangka kamu menjadi adik ipar ku, aku.." ucap Dewa terhenti saat dia sampai di depan pintu dan pintu itu terbuka.


"Kau sudah pulang..?" ketus Dirga saat melihat Dena yang sudah berdiri di dekat pintu kamarnya bersama sang kakak.


"Ada apa kak?Kau di depan kamarku?" ketus Dirga lagi kali ini pada kakaknya yang berdiri memperhatikan dirinya.


"Aku hanya mengantar Dena saja?Aku pergi dulu," ucap Dewa langsung pergi dari hadapan mereka berdua tetapi sebelum pergi dia melihat sekilas ke arah Dena yang membuang mukanya.


Dirga merasa ada yang aneh dengan kakaknya dan Dena. Mereka berdua seperti dua orang yang pernah saling mengenal, apa hanya perasaanya saja.


"Kau kenal dengan kakakku sebelumnya?" tanya Dirga pada Dena saat kakaknya sudah pergi.


"Tidak," jawabnya singkat.


"Ini kamarmu,.." Dena langsung melangkah masuk ke kamar Dirga meminggirkan pria itu yang terdorong sedikit memberi cela Dena untuk masuk.


Kamar besar dengan kasur king size didalamnya, serta interior kamar yang begitu mewah dengan warna abu-abu yang mendominasi kamar tersebut. Kamar khas pria single.


"Siapa yang menyuruhmu masuk kedalam kamarku" ucap Dirga kesal menyusul Dena yang sudah berjalan ke koper miliknya saat ini.


"Jangan harap aku mau tidur sekamar denganmu, kau keluar dari kamarku sekarang" Dirga menunjuk pintu keluar menyuruh Dena untuk keluar.


"Dengan senang hati aku akan keluar, tapi aku tidak perduli jika mamamu syok atau banyak pikiran lagi gara-gara masalah ini" Dena mengambil koper-kopernya setelah melihat isi kopernya. Mendorong ke dua kopernya kearah sofa.


Dirga diam saja, dia berpikir serta membenarkan apa yang Dena katakan barusan. Bagaimana kalau mamanya menjadi banyak pikiran gara-gara hal ini.


"Ya sudah kau boleh tidur di kamarku. Tapi jangan berharap kau bisa tidur di tempat tidurku" Ucap Dirga memperhatikan Dena yang berjalan ke sofa di balik televisi yang memang ada di dalam kamar Dirga saat ini.



"Aku pun tidak sudi menginjakkan kakiku ke tempat tidurmu" ucap Dena dingin lalu ia, segera membaringkan dirinya di sofa karena memang saat ini badannya sungguh merasa tidak enak sedari kemarin.


"Syukurlah.." ucap Dirga lega lalu ia melenggang pergi ke tempat tidurnya. Melihat Dena yang sudah membaringkan tubuhnya di sofa.


………………

__ADS_1


tok tokk


Terdengar suara seseorang yang sedang mengetuk pintu membuat Dirga langsung terbangun memperhatikan kearah pintu dimana ada seseorang yang mengetuk tersebut.


"Dirga..Dirga bangun nak ayo makan malam" teriak Sisil dari luar kamar Dirga. Dirga langsung mengambil ponselnya yang berada di nakas meja melihat jam berapa sekarang. Benar saja saat ini sudah waktunya makan malam.


"Dirga, apa kamu dan Dena sedang tidur ayo nak makan malam dulu" ucap Sisil lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari dalam kamar anaknya.


"Iya ma sebentar, " ucap Dirga lalu hendak keluar dari kamar menghampiri sang mama.


Sedetik kemudian ia ingat Dena sedang tidur di sofa bagaimana kalau mamanya masuk dan melihat itu.


Segera saja Dirga berlari kecil menghampiri Dena yang tidur di sofa. Ia menggoyang-goyang tubuh perempuan itu agar bangun.


"Hei.,Kau bangunlah Mama sedang ada di luar," ucap Dirga


"Mama, Mama,.." lirih Dena dalam tidurnya.


"Iya Mama, Mama di luar bangunlah" Dirga yang masih belum tahu kalau Dena mengigau masih mengira yang di panggil Mama adalah mamanya yang di luar.


"Cepatlah bangun, keburu mama masuk" ucap Dirga lagi masih menyuruh Dena untuk bangun.


"Ma,.Mama.Kenapa Mama pergi begitu cepat" lirih Dena dengan mata terpejam, sambil meneteskan air matanya.


"Ternyata kau mengigau, " ucap Dirga dan secara refleks tangannya tak sengaja menyentuh dahi Dena.


"Kau demam?" tanya Dirga, tetapi masih tidak ada tanggapan dari Dena.


"Woy bangun, buruan.." Dirga menepuk-nepuk pipi Dena agar bangun.


"Dirga, Kamu sama Dena apa belum bangun?Mama masuk ya?" teriak Sisil lagi sambil memutar knop pintu.


Dirga semakin kelabakan, harus apa dia sekarang. Tidak ada cara lain, dia melepas bajunya lalu sedikit menggeser Dena agar ada ruang untuk dirinya tidur disitu juga.


Dengan terburu-buru, ia menaruh tangannya di bawah kepala Dena menjadikan tangannya sebagai batal perempuan itu. Lalu ia berbaring disebelah Dena sedikit memeluk perempuan tersebut karena sofanya yang terlalu sempit.


Pintu terbuka Sisil langsung mengedarkan pandangannya ke kamar sang putra dilihatnya tempat tidur yang kosong dan pandangannya beralih ke sofa.


Dilihatnya di situ, senyumnya mereka saat melihat apa yang ia senangi. Dirga sedang tidur bersama Dena memeluk perempuan itu di sofa.


"Manis sekali," gumam Sisil saat melihat itu semua. Lalu ia berjalan keluar dari kamar itu tidak berniat untuk mengganggu pengantin baru yang sedang bermesraan.

__ADS_1


°°°°°


Pukul 20.30 Dirga merasa kelabakan sendiri karena sedari tadi Dena belum bangun dari tidurnya dan perempuan itu badannya juga semakin panas.


Sebenarnya tadi Dirga berniat untuk membiarkannya saja tidur di sofa tapi, hatinya masih memiliki nurani sehingga dia sekarang memindahkan Dena ke tempat tidurnya.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?, kenapa perempuan itu badannya malah bertambah panas saja" Dirga memperhatikan Dena yang tidur di ranjangnya saat ini.


"Apa aku harus memanggil Mama agar mengurus perempuan ini.?Benar aku harus memberitahu mama" Dirga langsung berjalan keluar kamar hendak menemui mamanya.


Biasanya kalau jam segini mamanya itu masih berada di bawah di ruang tengah bersama papanya, Dirga langsung saja menuju keruang tengah.


"Ma,Mama" panggil Dirga pada mamanya yang sedang duduk bersama papanya saat ini dan juga Dewa yang ada di sana.


Mereka bertiga langsung melihat kearah Dirga datang.


"Kenapa Dirga?kenapa kamu lari-lari begitu di dalam rumah" tanya Doni memperhatikan putranya yang gelisah.


"I..Itu Dena pa, Dena demam tinggi" ucap Dirga sambil menunjuk-nunjuk ke arah kamarnya yang ada di atas.


"Hah, Dena Demam tinggi?Kok bisa Dirga" tanya Mamanya.


"Aku tidak tahu ma,"


"Tadi perasaan saat mama ke kamar kamu, kamu sama dia masih tidurkan di sofa dan kamu tadi meluk dia kok bisa nggak tahu kalau demam" omel Sisil


"Sudah Ma, lebih baik kita ke atas lihat Dena" ucap Dewa.


"Bener kata Dewa ma, lebih baik ayo kita ke atas" Sisil langsung berjalan cepat menaiki tangga, dia sangat khawatir mendengar itu baginya Dena sudah seperti anaknya sendiri walaupun ia baru menjadi menantunya selama tiga hari ini. Dena adalah anak sahabatnya dan dia juga sudah berjanji pada Monica Mama dari Dena untuk menjaga anaknya itu.


………………


"Bagaimana dok menantu saya?Apa dia baik-baik saja?" tanya Sisil kepada dokter yang memeriksa Dena barusan.


Tadi Keluarga Suherman langsung saja menelpon dokter keluarga mereka untuk memeriksa Dena.


"Menantu nyonya tidak apa-apa, dia hanya demam saja."


"Saya akan memberikan obat penurun demam dan juga beberapa vitamin" ucap dokter itu lagi


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2