
Daniel mengajak Reyhan ke danau yang terdapat di rumah Opanya, mereka berdua duduk di kursi dengan pandangan melihat Danau yang begitu luas dan juga indah. Reyhan melihat kakaknya yang hanya diam memandang ke depan, sesekali pria dingin itu mengetuk-ketukan jarinya di pegangan kursi.
“Kenapa kak daniel mengajakku kesini?” tanya Reyhan merasa bingung.
“Kau tidak lihat kita sedang santai disini” ketus Daniel tanpa mengalihkan pandangannya.
“Mending di sana tadi santainya, daripada disini cuman berdua. Nggak seru, apalagi dengan kak Daniel Cuma diem aja” tukas Reyhan.
Daniel langsung melihat kearah Reyhan,
“Kau mau ke sana? Kau mau dikasari oleh Om ku tadi. Kau tidak lihat seberapa tidak sukanya Om Justin padamu” ucap Daniel dengan menaikan nada bicaranya menatap tajam adiknya tersebut.
Reyhan terdiam, ia ingat bagaimana Justin tadi padanya.
“Kau mengkhawatirkan aku kak?” tanya Reyhan menatap kakaknya itu yang langsung memalingkan wajahnya.
“Jangan ke pedean,” ucap daniel tanpa menatap reyhan.
Reyhan tersenyum melihat Daniel, kakaknya itu terlalu gengsi untuk mengatakannya. Tapi dia tahu bahwa Daniel mengkhawatirkan dirinya kalau tersinggung atau apa. Di tidak salah berpihak pada kedua kakaknya daripada Mamanya, kakaknya lebih menyayangi dirinya tanpa ada timbal balik sama sekali.
“Kalian berdua memang kakakku yang terbaik,” ucap reyhan dengan haru.
Mendengar itu Daniel hanya diam saja tidak menggubris, kak Daniel walaupun begini menyayangiku kan.
“Oh iya, papa bagaimana kak, kenapa dia belum berkumpul dengan kita tadi. Apa Opa dan oma kak Daniel menghukum atau bahkan menghabisi Papa” ucap reyhan melihat Daniel yang menatap Danau.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, Opa dan Oma ku bukan orang yang seperti itu. Mereka bukan seperti kakek dan nenekmu yang pembohong sok baik itu” Tangan Daniel terkepal mengingat kakek dan neneknya yang ternyata tak sebaik yang ia kira. Sudah salah dulu ia berpihak dengan kedua orang tua itu.
“Huh, kakekku. Bukannya kakek dan nenekmu, yang akrab dengan mereka kan situ, bukan aku.” Pungkas Reyhan tidak terima.
“Tidak usah dibahas lagi” ucap Daniel.
.................
Marco berjalan mendekati semua yang sedang berkumpul di Balkon, tadi dia sudah meminta maaf pada orang tua Monica saat ini dia harus minta maaf kepada Kakak serta adik dari manta istri pertamanya itu.
Namun pandangannya sedikit melihat ada yang kurang disitu, kemana Reyhan, kenapa dia tidak ada diantara mereka berempat. Daniel juga tidak ada, mereka berdua tidak ada disitu.
“Pa,.” Ucap Dirga saat melihat papa mertuanya yang datang mendekat. Mereka semua langsung melihat kearah Marco yang berjalan mendekat.
Marco tersenyum sambil berjalan mendekat kearah Dirga dan yang lainnya. Pandangannya menatap Michel dan juga Justin secara bergantian, dua orang itu menatapnya dengan sorot mata yang berbeda.
“Kak,.” Ucap Marco mendekati Michel yang duduk, dia langsung bersimpuh di kaki kakak iparnya itu.
“Marco berdirilah, kenapa kau begini” ucap Michel menyuruh Marco untuk berdiri.
“Aku minta maaf padamu kak, aku minta maaf telah membuat Monica menderita. Dia adik kesayanganmu” ucap Marco sambil menangis di kaki Michel.
__ADS_1
“Sudahlah, berdiri.”
Marco berdiri saat Michel memegang bahunya, kakak iparnya itu berdiri sambil memegangi bahunya saat ini.
“ aku sudah memaafkan mu sebelum yang lain memaafkan mu Marco. Aku tidak membencimu selama ini, aku menganggap apa yang terjadi ada Monica itu memang jalannya takdirnya. Aku tidak menyalahkan mu ataupun membencimu. Aku selama ini diam padamu karena aku kecewa karena dirimu menjauhkan Dena dan Daniel dari kami. Itu saja yang membuatku merasa kecewa denganmu” ucap Michel menepuk pelan bahu Marco.
“Aku minta maaf,..” lirih Marco menunduk dengan air mata yang menetes.
“Andai akau lebih tua dari kalian berdua yang sedang berdrama saat ini, tidak akan ku maafkan. Gunanya apa ada hukum serta kantor polisi, kalau kesalahan bisa selesai dengan minta maaf” sinis Justin menatap kedua orang didepannya yang saling berpelukan.
Marco melepaskan pelukannya pada Michel dan dia langsung melihat ke samping, Justin adik iparnya melihat dirinya dengan sinis.
Melihat itu bukannya apa Marco malah tersenyum melihat Justin adik iparnya itu sudah besar sekarang dulu waktu ia menikah dengan monica bocah itu masih berumur enam tahun. Jarak usia Justin dan Monica memang cukup jauh, dulu saat ia baru pertama kali bertemu dengan Justin bocah itu selalu menempel padanya tidak mau lepas. Kini bocah kecil itu sudah besar, rasanya waktu begitu cepat berlalu.
“Justin, kau sekarang sudah dewasa” ucap Marco haru, dia berjalan mendekati Justin ingin memeluknya. Tapi Justin menghindar untuk dipeluk.
“Jangan mencoba dekat denganku, aku bukan anakmu jangan sok akrab denganku” tukas Justin,
“Kau mau minta maaf? Tidak usah, aku menerimamu sekarang bukan berarti aku memaafkan mu” ucap Justin dan duduk kembali.
Marco tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Justin tersebut, ia malah tersenyum melihat adik iparnya. Ia bangga pada Justin yang sekarang sudah besar,.
“Marco kau duduklah, kita mengobrol bersama” ucap Michel menyuruh Marco untuk duduk.
°°°°°
“Sayang,.” Ucap Dirga mulai berbaring di paha dena tangannya masih bergerak diperut istrinya itu.
“Apa?” Dena yang tadinya memegang buku langsung melihat kearah Dirga.
“Aku punya tiga usulan nama untuk anak kita, kamu pilih yang bagus yang mana, kamu ma kan”
“Bukannya yang mau memberi nama kamu, bukan aku”
“Iya, yang akan memberi nama aku. Tapi aku bingung, ada tiga pasang nama bagus yang aku pikirkan sekarang”
“Kenapa kamu memikirkan tiga nama sekaligus,?”
“ya karena nama-nama itu bagus, aku ingin anak-anakku mempunyai nama itu. Tapi aku bingung diantara tiga itu mana yang bagus” pungkas Dirga.
“Ya sudah sebutkan saja namanya, nanti aku yang pilih mana yang bagus.” Ucap Dena.
“Siapa aja namanya?” ucap dena lagi.
“Pertama, ada Gian dan Gibran yang memiliki arti anak laki-laki anugrah dari tuhan yang pandai, kedua ada Ethan dan Evan dua nama ini berasal dari bahasa Ibrani, Ethan memiliki arti sebagai sosok yang kuat sementara Evan artinya muda dan gesit, terakhir aku ada usul nama yaitu Alexis dan Alden itu memiliki arti laki-laki penolong dan pelindung.”
“Diantara tiga itu kamu pilih mana sayang?” ucap Dirga menatap istrinya.
__ADS_1
“namanya tidak adik yang berawalan huruf D,” ucap Dena menatap Dirga.
“Kamu mau anak kita namanya berawalan dari huruf D” tanya Dirga balik.
“Iya,”
“Kita bedaian ya, di keluarga kita terlalu banyak nama dengan huruf D. Masa anak kita juga, Papa aku Doni, Aku Dirga, kamu Dena kembaran kamu Daniel, terus kakakku Dewa walaupun namanya Radewa. Untuk anak kita kasih nama dengan huruf berbeda ya?” ucap Dirga mendudukkan dirinya menatap sang istri.
“Ya sudah deh terserah kamu,”
“Jadinya, kamu mau kita nama i siapa anak kembar kita nantinya?”
Dena terdiam, dia juga bingung memilih yang mana. Ketiga nama itu bagus-bagus semua, ia haru pilih mana.
“Kalau kamu lebih tertarik dengan yang mana?” dena seakan bingung harus pilih amna. Padahal nama untuk anaknya sendiri.
“Aku kan tanya kamu sayang,?”
“Kamu saja aku bingung, ketiganya bagus”
“Kalau yang pertama bagaimana? Kita kasih nama anak kembar ita Gian dan juga Gibran” ucap dirga pada akhirnya.
“Iya tidak apa, kalau kamu lebih tertarik dengan itu. Aku ikut kamu saja” ucap Dena mengikuti kemauan Dirga.
“Ya sudah, kita namai anak kita dengan nama itu. Gian Jacob Suherman dan Gibran ILLecas Suherman. Bagaimana?” ucap dirga menatap Dena.
“Iya, itu bagus, aku setuju”
“Terimakasih kamu menghargai pemberian anam anak kita” ucap Dirga mencium Dena.
“Sama-sama” pungkas Dena setelah Dirga menciumnya tadi.
“Nanti kita keluar jalan-jalan ke Mal disini ya. Kita beli perlengkapan bayi kita nanti.” Ucap dirga lagi.
“Iya,” jawab Dena sambil mengangguk.
“Kalau begitu kamu tidur dulu sekarang, istirahat. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh ini” ucap Dirga membaringkan pelan Dena dan dia langsung menyelimuti istrinya tersebut.
“Kamu juga tidur,” ucap dena pad Dirga.
“Aku ingin keluar sayang, bicara dengan yang lainnya”
“Tidak usah, kamu ikut tidur saja denganku, kalau kau tidak mau aku juga tidak mau tidur” pungkas Dena
“Ya sudah, aku juga ikut tidur, sudah kamu tidur” Dirga ikut membaringkan dirinya, dia memeluk istrinya tersebut.
°°°
__ADS_1
T.B.C