Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 46


__ADS_3

"Ayo masuk mobil," ajak Dirga pada Dena saat mereka berdua ada di depan rumah yang kebetulan juga mobil sport terbuka milik Dirga ada di depan rumahnya saat ini.


"Aku tidak naik mobil, aku akan naik bis" tolak Dena dengan ajakan Dirga.


"Tidak usah, naik mobil saja. Memangnya kau kemana?" paksa Dirga menarik lengan Dena untuk masuk kedalam mobilnya.


"Kenapa kau selalu memaksa" ucap Dena datar.


"Dan kenapa kau selalu keras kepala, tinggal masuk saja" ketus Dirga.


"Kau tadi belum menjawab pertanyaan ku, kau mau kemana?" lanjut Dirga saat dirinya sudah masuk kedalam mobil.


"Aku akan ke makam mamaku, habis itu aku akan menjernihkan pikiranku" jelas Dena dan langsung mengalihkan pandangannya seakan malas berlama-lama berbicara dengan Dirga.


"Oh, naik mobil saja. Jangan naik bis, aku tidak bisa" pungkas Dirga dan langsung menjalankan mobil miliknya pergi.


Dena hanya pasrah saja mau bagaimana lagi, dia sedang malas berdebat pikirannya tertuju pada kemarahan Daniel tadi. Apa seharusnya dia jujur saja pada Daniel tentang apa yang dia ketahui, kalau dia tidak jujur makan kedepannya nanti akan terus-terusan timbul kesalahpahaman ini.


Dirga memperhatikan Dena yang memalingkan wajahnya ke jalan, dia ingin menegor tapi rasanya enggan. Bisa-bisa nanti wanita dingin itu ke geran kalau dia terlalu perhatian.


Rasanya sekarang ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di keluarga Dena dan dengan alasan apa ia dulu menerima perjodohan ini. Padahal waktu itu Dena terang-terangan juga menolaknya tapi kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran.


………………


Tak butuh waktu lama mereka berdua akhirnya sampai di pemakaman tempat dimana Mama Dena dimakamkan. Dena keluar dari mobil terlebih dahulu, dan dia berjalan kearah seorang penjual bunga yang tepat di depannya saat ini.


"Berapa bu," tanya Dena kepada penjual itu.


"20 rb, mbak"


Dena langsung mengeluarkan uang dari dompetnya, tetapi keduluan Dirga.


"Biar aku yang bayar" ucap Pria itu sambil mengambil uang 50rb dari dompetnya dan memberikannya kepada penjual tersebut.


Dena setelah memperhatikan Dirga membayar dia langsung pergi dari situ meninggalkan Dirga yang sedang menunggu kembalian.


Karena Dena pergi begitu saja membuat Dirga juga terburu-buru untuk menyusul Dena.


"Kembaliannya untuk ibu saja" ucapnya sambil berlari mengejar Dena.


Dena berjalan ke makam Mamanya, dia berdiri melihat makam itu yang tertata rapi dengan rumput hijau yang menghiasi.


"Apa kabar Ma?" ucapnya dan langsung berjongkok menaruh bunga itu di makam sang Mama.


Dirga yang telah sampai juga langsung berjongkok di sebelah Dena.


"Ini makam mamamu?Kalau boleh tahu dia meninggalnya karena apa?" tanya Dirga yang begitu penasaran. Karena selama ini dia mengira istri dari Papa Marco adalah ibu dari Dena.


"Kau tidak dengar aku tadi bilang apa?" ketus Dena melihat Dirga.


"Ya aku cuman bertanya untuk memastikan. Tidak usah sewot begitu"

__ADS_1


"Dia meninggal karena kecelakaan," jawab Dena memberitahukan penyebab mamanya meninggal.


"Kecelakaan?"


Dena hanya diam tidak menjawab lagi rasa penasaran Dirga.


"Nenek tua bangka itu sebentar lagi menyusul mu Ma," ucap Dena tiba-tiba dan membuat Dirga kaget langsung menoleh kearah Dena.


"Jika dia bertemu denganmu di sana, jangan maafkan dia Ma. Aku tidak ikhlas kau memaafkannya. Dia sudah memisahkan mu dari kita, dan juga sekarang dia akan memisahkan ku dengan Daniel. Ma, tadi Daniel marah padaku, aku bisa apa..Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya juga padanya?" Dena bercerita mengeluarkan uneg-unegnya di makam sang mama tanpa perduli Dirga yang tengah melihatnya dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.


Dena mengusap batu nisan sang Mama dengan penuh kerinduan yang menelusup di hatinya. Dan setelah melakukan itu dia segera berdiri saat ini.


"Ma aku pulang," ucapnya dan langsung berjalan.


"Kau mau kemana lagi?" ucap Dirga ikut berdiri dan berjalan menyusul Dena.


"Ketempat yang membuat pikiran terasa bebas" Dirga merasa tidak mengerti dengan ucapan Dena.


"Bicara yang gamblang, aku tidak mengerti" tukas Dirga berjalan di samping Dena saat ini.


"Ku serahkan padamu ingin kemana?tapi ada yang kupikirkan saat ini" ucap Dena masih berjalan.


"Apa?Dimana?" Dirga semakin penasaran dengan perkataan Dena yang terkesan menggantung.


"Aku ingin ke pantai" pungkas Dena memberitahukan keinginannya mau kemana.


"Kau ingin ke pantai bilang dari tadi jangan berbelit-belit" dengus Dirga, dia langsung berjalan ke mobilnya.


°°°°°


Daniel duduk di koridor rumah sakit bersama dengan Pamannya dan juga Kakeknya. Tadi, Papanya Marco juga di situ namun sekarang dia sudah pulang karena Soraya terus saja mengajak pulang. Sehingga mau tidak mau dia juga mau pulang.


"Kakak kamu tidak kesini" tanya Jason lirih takut ayahnya akan mendengar. Namu apalah buat Kakek Dena mendengarnya.


"Dia pasti tidak mau kan?" tebak Kakek Dena.


Daniel hanya diam, bingung mau menjawab apa. Dia menjawab nanti kakeknya akan sedih kalau kakaknya tidak mau datang.


"Dia..Dia sedang ada acara dengan suaminya makanya tidak bisa kesini" jelas Daniel sedikit gagu untuk menjawabnya.


"Aku mau pergi sebentar," ucap kakeknya dan berdiri. Dia tahu cucunya itu pasti berbohong pada dirinya. Dan lebih baik dia saat ini pergi untuk mencari makan saja.


Saat kakeknya sudah pergi, Daniel mendekatkan lagi dirinya ke Omnya Jason. Sekarang ia harus menanyakan apa yang sebenarnya Dena sembunyikan dari dirinya.


"OM, boleh aku bertanya padamu?" Dena melihat wajah Jason penuh harap kalau adik ayahnya itu mau mengatakan yang sebenarnya padanya saat ini.


"Apa silahkan tanya saja Daniel"


"Om tahu, apa yang Dena sembunyikan dariku soal Kakek dan Nenek. Kenapa dia bisa benci sekali dengan kakek maupun nenek"


Jason diam sebentar terasa bingung harus mengatakan apa. Dia sudah di suruh Dena untuk tidak mengatakannya pada Daniel, tapi saat ini sepertinya Daniel ingin mengetahuinya.

__ADS_1


Bukankah ini saat yang tepat untuk dirinya mengatakannya. Daniel juga sudah dewasa, tapi bagaimana nanti kalau dia merasa terluka bila mengetahui kebenarannya. Jason terus saja menimang-nimang dalam benaknya haruskah ia mengatakannya.


"Daniel, maaf aku tidak bisa mengatakannya padamu. Lebih baik kau tanya saja pada Dena" Jason memutuskan untuk tidak memberitahu Daniel biarlah dia mengetahuinya dari kembarannya itu.


"Kenapa Om, bicara saja padaku" Daniel tetap kukuh ingin mengetahuinya.


"Maaf, aku tetap tidak bisa. Aku sudah janji dengan Dena"


"Baiklah, aku akan tanya pada dia sendiri" Raut wajah dingin tak bersahabat langsung nampak begitu jelas dalam wajah Daniel. Dia tampak ingin sekali tahu tapi orang-orang terdekatnya seakan tidak ingin untuk memberitahukan padanya.


………………


Dena turun dari mobil Dirga saat mobil itu sudah sampai di hamparan pasir yang luas serta laut yang begitu biru.


Dena langsung berdiri di tepi pantai merentangkan kedua tangannya merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya saat ini.


Dirga juga ikut turun dari mobil dia memperhatikan Dena yang seakan melepaskan semua bebannya. Perempuan itu terlihat damai saat merentangkan kedua tangannya. Dirga memutuskan untuk berdiri di samping Dena saat, ia melihat perempuan itu yang memejamkan matanya sambil merasakan hembusan angin.


"Cantik.." gumam Dirga begitu saja keluar dari mulutnya.


Benar Dena memang perempuan yang cantik, siapa saja yang melihatnya pasti merasa jatuh cinta. Dirga akui itu, karena memang itu sebuah kenyataan kalau Dena memanglah cantik, tapi perempuan itu juga penuh misteri.


"Kau sangat menyukai pantai?" tanya Dirga begitu ingin tahu, karena reaksi Dena yang tampak puas.


Dena membuka matanya dan melihat kearah Dirga.


"Ya, karena mengingatkannya dengan Mamaku"


Dirga duduk di pasir mendongak melihat Dena.


"Apa yang kau harapkan dari pernikahan kita sekarang" entah kenapa secara tiba-tiba Dirga langsung membahas soal pernikahan mereka.


"Sebenarnya aku tidak ada harapan dalam pernikahan ini, aku ingin mengakhirinya segera. Setelah Mamamu mampu menerima kebenarannya dengan pernikahan kita yang memang seharusnya tidak terjadi. Lagi pula Papaku juga sudah mendapatkan apa yang dia mau" Dena mengutarakan keinginannya ke depan, benar memang dia sudah ingin mengakhiri pernikahannya dengan Dirga walaupun mereka telah sepakat untuk menjadi teman dalam pernikahan.


"Kenapa kau menginginkan akhir dari pernikahan ini?Kau menginginkannya tapi aku tidak mau. Aku tidak ingin pernikahan ini berakhir begitu saja." Dirga menatap Dena mantap, dia memang ingin mempertahankan pernikahannya. Entah kenapa dia tidak ingin melepas Dena, padahal dulu keinginannya agar dia segera lepas dari Dena tapi kali ini itu semua berubah. Dia tidak ingin melepas perempuan di dingin didepannya saat ini, walaupun sekarang mereka menjalin pernikahan tanpa adanya cinta.


Dena menatap Dirga tidak percaya, kenapa pria kasar itu mengatakan hal sebaliknya. Bukannya dari awal mereka tidak menginginkan ini semua,.


"Apa maksudmu, bukannya kau dulu menginginkan perpisahan"


"Sekarang aku tidak menginginkannya, prinsip ku berubah. Aku hanya ingin menjalin pernikahan satu kali dan itu sudah terjadi dengan dirimu menjadi istriku" Dirga langsung berdiri mendekat kearah Dena. Dia semakin merapatkan ke Dena yang melihatnya tanpa ekspresi.


Dirga menarik wajah Dena, mencium perempuan itu begitu saja. Dena yang menerima ciumannya langsung memberontak seakan tidak mau, Dirga terus saja memaksa mencium, ******* bibir perempuan itu penuh kelembutan tidak seperti biasanya.


Namun tapi pasti Dena, tidak memberontak lagi. Menerima ciuman dari Dirga, bahkan perlahan juga dia mengikuti ritma ciuman yang diberikan Dirga.


Mereka berdua saling berciuman penuh kehangatan di pinggir pantai membawa kesan romantis bagi yang melihatnya, angin pantai menerpa mereka berdua membuat keduanya semakin mengeratkan ciumannya serta tangan Dirga memeluk Dena mendekatkan ke tubuhnya lebih dekat lagi.


Dena tidak memberontak sama sekali, malah seakan terlihat dia begitu menikmati ciuman dari Dirga saat ini.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2