
Hari ini Daniel bertandang ke rumah Kakaknya, dia masih duduk sendiri di ruang tengah keluarga Suherman. Tak lama kemudian Doni yang akan berangkat kerja keluar dari kamarnya. Dia memang sudah mengetahui kalau Daniel datang kerumahnya jadi dia tidak kaget melihat Daniel saat ini yang sudah duduk diruang tengahnya.
Doni berjalan mendekati Daniel,
“Kakakmu belum turun Daniel,?” ucapnya saat berjalan semakin dekat dengan pemuda itu.
“Belum om” jawab Daniel singkat dengan menyilang kan kakinya.
Doni duduk di depan Daniel saat ini dia memperhatikan pemuda itu yang tampak begitu dingin dan keras melebihi Dirga. Dirga masih bisa tersenyum dengan orang tapi Daniel sepertinya tidak. Apa karena hatinya begitu kosong dan rasa sakit yang membuatnya seperti itu. Itulah yang selalu Doni tangkap dari sosok Daniel dan Dena.
“Kenapa Om Doni terus melihatku seperti itu?” Daniel yang menyadari akan tatapan Doni padanya langsung menanyakan hal tersebut.
“Tidak, “ jawab Doni sambil menggeleng dan mencoba tersenyum.
“Bagaimana Papamu?” Tanya Doni pada Daniel.
“Dia baik” jawabnya.
“Daniel..” panggil Dena yang baru saja turun dari tangga bersama dengan Dirga yang berpakaian rapi mengenakan kemeja putih dengan kedua lengan yang sedikit keatas serta celana berwarna hitam.
“Itu Daniel dan Dena, Kalau begitu Om berangkat kerja dulu” Doni langsung berdiri dari duduknya saat ini.
Daniel hanya mengangguk saja sambil memperhatikan Doni yang mulai berjalan pergi.
Dirga dan Dena berjalan mendekati Daniel saat ini, mereka duduk ditempat Doni duduk tadi. Seperti Daniel, Dirga juga menyilang kan kakinya bersandar sambil melihat kearah Daniel.
“Ada apa kamu sepagi ini kemari?’ tanya Dirga pada Daniel.
“Menemui kembaran ku lah apalagi,” pungkas Daniel.
“Perempuan ular itu sudah aku urus kamu tidak perlu lagi memikirkan cara menyingkirkannya” ucap Daniel pada Dena.
“Apa?” Dena dan jga Dirga terkejut mendengar ucapan Daniel barusan.
“Kamu sudah mengurusnya? Kamu apakan ia?” ucap Dirga penasaran.
“Daniel bagaimana kamu mengurusnya,?” Dena menatap adiknya itu yang hanya diam saja.
“Bukan aku sepenuhnya yang mengurus. Tapi Papa, dia yang melakukan sebagiannya” sahut Daniel sesekali membuang muka seakan tidak merasa senang dengan bantuan Papanya.
“Apa?Papa yang melakukannya?” Dena cukup terkejut mendengar apa yang diucapkan Daniel barusan.
“Ya,.” Singkatnya.
“Dia menceraikan perempuan itu dan menjebloskannya kedalam penjara” lanjut Daniel memberitahukan kebenarannya.
“Kau tidak berbohong, Mana mungkin Papa menceraikan istri tercintanya” ketus Dena masih tidak mempercayainya.
“Aku mengatakan yang sebenarnya” sahutnya.
Dena langsung terdiam, benarkan Papanya menceraikan perempuan ular itu dan memasukkannya kedalam penjara.
“Kamu datang kesini Cuma ingin mengatakan hal itu, kalau tidak ada lagi. Aku akan mengajak istriku pergi” pungkas Dirga melihat kearah Daniel.
“Bagaimana dengan Reyhan, apa dia tahu Papa melakukan hal itu?” sebelum Daniel menjawab perkataan Dirga. Dena bertanya terlebih dahulu kepada Daniel soal Reyhan.
“Ya dia tahu, ia kemarin melihat dengan mata kepalanya sendiri papa menyeret paksa perempuan itu dari kamarnya.” Jelas Daniel pada dena.
“Kau tidak usah memikirkannya, dia sudah ku buat bahagia.” Tambah Daniel
“Maksudmu?”
“Dia tidak sedih memikirkan perempuan ular itu, dia bahagia sekarang karena mendapatkan mobil dariku” tutur Daniel.
“Kau memberinya Mobil, tumben baik dengan Reyhan” sahut Dirga menatap tak percaya pada Daniel.
“Bukan urusanmu aku baik dengannya atau tidak” ketus Daniel memberikan jawaban untuk kakak iparnya tersebut.
__ADS_1
“Kamu membelikannya Mobil daniel?” sama halnya seperti Dirga, Dena merasa tidak percaya dengan ucapan Daniel barusan.
“Ya, Mobil yang baru aku beli beberapa hari. Harus menjadi miliknya karena dia menginginkan itu”
“Baguslah, kalau kamu membuatnya bahagia. Memang seharusnya kamu begitu, dia adik kita. Walaupun berbeda ibu dengan kita” ucap Dena.
“Sayang..”panggil Dena pada Dirga.
“Emm,.” Dirga langsung melihat kearah Dena.
“Belikan Daniel Mobil” pinta Dena tiba-tiba saja
“Apa..?” mendengar itu tentu saja Dirga terkejut.
Daniel Pun sama terkejutnya mendengar permintaan sang kakak pada suaminya.
“Kenapa kau menyuruh suamimu membelikan ku mobil, tidak perlu aku memiliki mobil lain” ucap Daniel.
“Tuh sayang, dia punya mobil lain kenapa aku harus membelikannya Mobil” Dirga merasa lega mendengar ucapan Daniel barusan.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus membelikan mobil untuk Daniel” ucap dena.
“Kak, kau kenapa sih. Kenapa menyuruhnya membelikan mobil untukku aku kalau ingin bisa beli sendiri. Kau tidak perlu lah memintakannya pada suamimu, aku bukan pengemis” ucap Daniel dengan nada sedikit tinggi.
“Kamu berbicara keras denganku Daniel,.” Dena langsung menangis begitu saja.
“Sayang kenapa kamu jadi menangis,”
“Kamu jahat dengan kakakmu ya, padahal aku bermaksud baik denganmu” ucap Dena masih dengan menangis.
“Ada apa dengan dia, kenapa kau jadi lemah begini” lagi daniel berbicara ketus dengan Dena semakin membuat dena menangis.
“Kamu diam lah, malah membuat istriku semakin menangis dengan ucapan mu”
“Sayang, sayang berhentilah menangis. Baiklah aku kan membelikan Mobil untuk kembaran mu” ucap Dirga menenangkan Dena yang menangis.
“begitulah” Dirga merasa pasrah, nada bicaranya lemah.
“Kamu serius akan membelikan Daniel mobil?” ucap dena dengan sesegukan.
Dirga mengangguk saja, tanda mengiyakan.
“Aku tidak mau,” tolak Daniel.
Mendengar itu Dena kembali menangis.
“Sudahlah kau terima saja, seharusnya kau senang aku akan membelikan mu mobil. Kau membuat istriku menangis lagi” kesal Dirga pada daniel yang malah menatap jengah.
“Turuti saja,” tambah Dirga lagi. Tidak apa dia keluar uang banyak yang penting istrinya tidak menangis, dia tidak suka melihat istrinya menangis.
“Terserah kalian, tapi jangan mengira kalau diriku tidak bisa membelinya. Asal kalian tahu mobil merek Aston Rapide” benar Daniel tipe orang yang tidak suka diberi oleh orang lain. Dia bisa membelinya sendiri.
“Ayo sayang, ayo Daniel” Dena langsung berdiri mengajak keduanya pergi.
“Kemana?” ucap keduanya bersamaan.
“Ke showroom beli mobilmu” ucap Dena polos dan langsung menarik tangan dirga.
“Ayok,.” Ajak Dirga pada Daniel yang seolah enggan.
Dengan berat hati Daniel berdiri dari duduknya saat ini, mengikuti langkah mereka berdua yang berjalan menuju pintu keluar.
°°°°°
Saat ini mereka bertiga sudah sampai disebuah Showroom besar yang memajang-mobil-mobil mewah disitu. jujur bagi Daniel ini hal memalukan, ia harus dibelikan mobil oleh suami kakaknya. Dimana dia bisa membelinya sendiri, pemikiran itu membuat langkah kaki Daniel terasa enggan, dia hanya mengikuti saja Dirga serta dena dari belakang.
“Kamu serius akan membelikan mobil Daniel disini?” bisik Dena ditelinga suaminya.
__ADS_1
“Iya aku serius sayang, Kenapa?”
“Ini mobil mahal-mahal semua, nanti kamu keluar uang banyak” entah kenapa Dena merasa khawatir sendiri bila Dirga keluar uang banyak dengan membelikan Mobil Daniel. Padahal tadi dia tidak memikirkan itu.
“Tidak, ini kan permintaanmu. Dan dia juga adikku, tidak masalah aku keluar banyak untuknya. Dia juga kan sudah keluar banyak untuk Reyhan” ucap Dirga dan mencium leher Dena. Dia memang sedari tadi melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Brakkkk
Tabrakan keras terjadi, seorang wanita yang baru saja datang dengan berlari kecil sambil membawa browsur-browsur ditangannya yang kini berhamburan di lantai karena menabrak Daniel yang langsung terdorong ke depan. Karena perempuan itu menabrak daniel dari belakang.
Mereka bertiga langsung berbalik, termasuk daniel yang beralih dengan kesal karena dia terdorong keras dan hampir menabrak kakaknya yang ada didepannya.
Daniel melihat seorang wanita berkemeja putih dengan rok hitam, serta rambutnya terkucir kuda sedang memunguti browsur-browsur dilantai.
Dengan cepat Daniel menghampiri perempuan itu, dia menginjak salah satu browsur yang ada dilantai. Membuat wanita itu mendongak.
“Kau tidak punya mata? Dimana mata? Gara-gara dirimu aku hampir membuat kakakku dalam bahaya mengerti, dia sedang hamil” dengan marah Daniel melihat wanita itu yang mendongak melihatnya.
“Maaf sebelumnya soal itu, tolong bisa meminggirkan kakimu tidak, barang ku kau injak” bukannya menjawab Daniel perempuan itu malah memikirkan browsur nya yang di injak Daniel saat ini.
Daniel berdecik saat kalimatnya diabaikan, dia semakin menginjak itu menggilasnya dengan kaki sehingga membuat browsur itu sobek.
Mata perempuan itu langsung melebar, dia merasa terkejut dengan itu. Tangannya menggenggam kuat dilantai dan langsung berdiri menatap Daniel. Ia tiba-tiba saja mendorong Daniel kebelakang.
“Dasar pria Arogan, Sombong. Bukannya aku sudah bilang maaf tadi” kesal perempuan tersebut.
Dirga dan dena melihat itu langsung mendekati daniel.
“Daniel sudahlah, dia tidak sengaja” ucap dena.
“Benar kata kakakmu, tidak usah urus perempuan itu ayo pilih mobilmu terus kita pergi” ucap dirga mengajak daniel pergi dengan sedikit menariknya.
Daniel menghempaskan tangan Dirga, dia mendekati perempuan tadi sambil tersenyum sini. Jujur dia tidak terima diperlakukan begini oleh seorang wanita, harga dirinya serasa hancur.
“Siapa Manager di Showroom ini” ucap Daniel dengan cukup keras.
Sontak membuat orang yang ada disitu langsung menatap mereka. Seorang pria berjas langsung datang menghampiri.
“Maaf tuan, saya managernya ada apa ya?” ucapnya.
“Dia pegawai mu?” dingin Daniel menatap tajam perempuan didepannya yang masih melihatnya dengan tangan terkepal.
“Iya tuan, dia pegawai baru disini”
“Pecat dia sekarang juga.”
“Hah, apa tuan?” manager tersebut tampak kaget dengan apa yang dikatakan Daniel yang notabennya bukan bosnya atau siapa.
“KAU TIDAK DENGAR AKU BILANG PECAT PEREMPUAN INI” Bentak Daniel
“Jika kau tidak memecatnya sekarang juga, showroom ini akan hancur dan usaha milikmu yang lainnya pun akan begitu. Kau tahu keluarga Sharman..” sinis daniel
Manager tersebut langsung melebarkan matanya, tentu saja dia tahu Sharman Group. Keluarga berkuasa didalamnya.
“Tahu tuan,” ucapnya takut-takut
“Bagus pecat dia,” sinis Daniel merasa puas.
“Aku tidak jadi beli mobil, aku pulang” ucapnya lagi dan berjalan meninggalkan Dena dan juga Dirga yang menatapnya terkejut.
Perempuan yang menabrak Daniel benar-benar dipecat, walaupun dia sudah memohon-mohon pada sang manager. Tapi tetap saja ia harus dipecat karena perkataan orang kaya. Sementara dirinya hanyalah orang biasa, tangannya semakin terkepal. Dia menangis karena berkali-kali memohon pada Managernya,.
Dena dan dirga hanya bisa melihat itu, mereka berjalan menyusul Daniel yang sudah keluar lebih dulu.
°°°
T.B.C
__ADS_1