Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 71


__ADS_3

"Dia.." lirih Dena dalam hati saat melihat salah satu pria yang masuk kedalam ruangan Samuel saat ini. Dia merasa terkejut karena tidak terduga dia bisa bertemu dengan orang itu lagi yang telah beberapa kali menolongnya tapi dia tidak pernah bisa mengucapkan terimakasih.


Sementara Dirga, matanya tajam melihat salah satu pria yang berjalan semakin mendekati mereka dengan tersenyum.


"Selamat datang Tuan Hanafi dan Galih" ucap Samuel berdiri menyalami kedua orang itu. Dirga masih diam ditempatnya, dia menatap tidak suka kearah Hanafi.


"Dirga.." lirih Samuel menegur Dirga karena tidak berdiri menyambut perwakilan Regal.


"Silahkan duduk" Dirga tidak perduli dengan ucapan Samuel dia malah berbicara dingin mempersilahkan Hanafi dan Galih duduk.


Samuel hanya tersenyum getir, karena dia merasa tidak enak dengan dua orang yang baru saja datang.


"Terimakasih karena tuan Samuel sudah mengijinkan kita untuk datang ke perusahaan kalian" ucap Hanafi membuka pembicaraan.


Dia melihat Dena yang juga melihatnya dengan terkejut, sementara dirinya hanya tersenyum menatap wanita itu yang beberapa kali ia temui.


"Sebelum kita berdua menyampaikan maksud dan tujuan kita kesini. Terlebih dahulu ijinkan kita untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu" ucap Galih.


"Silahkan" ucap Dirga singkat dia mencoba untuk bersikap profesional. Dirga melirik kesamping tepatnya kearah Dena. Perempuan itu masih saja menatap pria yang bernama hanafi itu.


"Bisa tidak kau berhenti menatapnya" lirih Dirga ditelinga Dena. Dena langsung melihat Dirga yang malah tersenyum paksa.


"Perkenalkan, Kami berdua merupakan perwakilan dari Regal Departemen yang berbasis dalam bidang Kesehatan. Saya Galih Atmaja, dan ini dr. Hanafi Regalta Atmaja." ucap Galih memperkenalkan siapa diri mereka.


"Saya Samuel Simic, Ini Dirga Prakarsa Suherman dan itu istrinya" ucap Samuel memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan Dirga dan Dena.


"Apa yang membuat anda berdua datang kesini?" ucap Dirga langsung bertanya tujuan mereka berdua datang.


"Sebentar sebelum dirimu menjawabnya, ijinkan aku untuk menanyakan kabar istrimu" ucap Hanafi melihat Dirga dan langsung melihat Dena.


Tentu saja Dirga langsung menajamkan matanya.


"Hai, bagaimana dirimu sekarang?Apa kakimu masih sakit," ucap Hanafi tidak perduli dengan Dirga yang menatapnya tidak suka.


"Baik, terimakasih karena sudah menolongku saat aku kecelakaan. Dan itu bukan pertama kalinya dirimu menolongku tapi sudah berkali-kali, maaf karena aku tidak pernah mengucapkan terimakasih padamu" ucap Dena merasa bersalah dengan Hanafi karena dia selama ini tidak pernah mengucapkan terimakasih.


Dirga tentu saja terkejut mendengar perkataan Dena, kenapa Dena bicara banyak dengan pria itu sedangkan kalau dengan dirinya butuh waktu lama.


"Sama-sama, itu sudah tugasku" ucap Hanafi tersenyum manis.


"Ehemm," Dirga batuk sambil menatap sesekali kedua orang itu.


Samuel hanya melihat Dirga, dia tersenyum. Dia tahu kalau Dirga pasti sedang cemburu.


"Kau kesini mau menemui diriku dan Samuel atau mau menemui Istriku" ucap Dirga sinis menatap Samuel.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya hanya ingin menanyakan kabarnya saja. Soalnya waktu itu kakinya cedera dan rekan saya belum sempat merongsent kakinya tapi dia sudah anda bawa pulang dulu. Jadinya saya khawatir apa kakinya baik-baik saja" jelas Hanafi.


"Anda tidak perlu khawatir, dia jelas baik-baik sajalah. Ada saya suaminya" ketus Dirga.


"Sayang berdiri," ucap Dirga tiba-tiba berdiri dan mengulurkan tangannya ke Dena. Membuat Samuel dan Dena tentu saja bingung.


"Aku bilang berdiri" Dirga menarik tangan Dena agar berdiri karena perempuan itu tidak kunjung berdiri.


"Kau apa-apaan?" ucap Dena pelan. Karena dia tidak mau membuat Dirga dipandang buruk oleh orang.


"Ikut aku," tarik Dirga begitu saja mengarah keruangan yang ada di dalam ruangan Samuel. Ruangan besar itu memang dilengkapi oleh sebuah kamar untuk istirahat.


Dirga memasukkan Dena ke kamar itu,


"Ayo masuk," ucap Dirga menarik Dena masuk kedalam kamar.


"Kenapa kau membawaku kesini, bukannya tadi rekan kerjamu kau tidak malu dilihat mereka jika sikapmu seperti ini"


"Tidak, sudah kau tidak usah banyak bicara. Kau disini dulu, jangan keluar sebelum aku menyuruhmu keluar." ucap Dirga lalu berjalan keluar dari kamar itu meninggalkan Den didalam dengan kebingungan.


"Kau kekanakan sekali" bisik Samuel ditelinga Dirga saat pria itu sudah kembali bergabung bersama mereka bertiga setelah memasukkan Dena secara paksa ke kamar.


Dirga tidak menanggapi Samuel, dia malah menatap kedua orang didepannya.


"Saya dengar kalian berdua menawarkan kerja sama di bidang kesehatan. Kerja sama seperti apa yang kalian inginkan" ucap Dirga sekarang berusaha bersikap profesional.


Dirga hanya diam, mencerna ucapan tersebut. Dia berfikir haruskah ia ikut menyalurkan dananya ke Regal Departemen.


"Dirga.."panggil Samuel saat Dirga tak kunjung bicara.


"Apa, diam lah sebentar aku sedang berfikir" ucap Dirga pada Samuel.


"Bagaimana tuan Dirga," ucap Galih.


Hanafi melihat Dirga yang sepertinya ragu untuk melakukan kerjasama dengan kantornya.


"Baiklah, aku setuju melakukan kerja sama denganmu" ucap Dirga pada akhirnya setelah lama diam.


Hanafi serta Galih langsung menyodorkan tangan mereka untuk tanda sebagai kesepakatan mereka.


"Terimakasih anda sudah mau melakukan kerjasama dengan kami" ucap Galih dan Hanafi bersamaan.


"Aku melakukannya, karena anda sudah menolong istri saya beberapa kali. Jika bukan karena saya ingin balas budi saya tidak akan mau melakukan kerja sama" ucap Dirga dengan sinis di depan mereka berdua.


Galih yang mendengarnya langsung berubah ekspresi wajahnya, dia tampak tidak senang dengan ucapan Dirga.

__ADS_1


Sementara Samuel merasa tidak enak dengan pihak Regal karena ucapan Dirga yang tidak mencerminkan ketulusan dalam tindakannya.


Hanafi sendiri hanya tersenyum miring


"Sepertinya anda tidak ikhlas, dan anda sepertinya tidak menyukai saya. Apa karena saya yang menolong istri anda waktu itu, anda tidak perlu khawatir kalau saya akan melakukan pendekatan dengan istri anda. Karena saya bukan tipe orang yang mengambil milik orang lain" jelas Hanafi dengan santai menatap Dirga tanpa takut.


"Baguslah jika memang begitu. Kalau kau tetap menepati janjimu, aku akan terus memberikan dana pada perusahaan mu ini" pungkas Dirga.


Dua orang lainnya yang berada disitu merasa bingung sendiri melihat Hanafi dan Dirga mereka beranggapan bahwa mereka berdua saling kenal dan merasa penasaran sebenarnya apa yang terjadi diantara keduanya.


"Berarti, pihak PRAHA bersepakat untuk bekerja sama dengan kami. Sebagai formalitas maka mohon diantara kalian berdua tanda tangan di dokumen yang telah kami bawa ini sebagai bukti apabila terjadi kesalahpahaman dikemudian hari" ucap Galih mengeluarkan dokumen dari tas yang ia bawa tadi menaruhnya dimeja menyodorkannya ke arah Dirga dan Samuel.


Dirga langsung mengambil bolpoin yang ada di atas dokumen itu dengan angkuh dan dia akan menandatanganinya.


"Dirga, Dirga.." panggil Samuel pelan pada Dirga yang sedang menandatangani dokumen itu.


"Apa," bentak Dirga menaruh pulpen keras di atas meja.


"Itu istrimu mau kemana?" ucap Samuel saat melihat pintu kamar yang ada di ruangan itu telah ditutup kembali secara hati-hati oleh Dena.


Tentu saja Dirga dan kedua orang yang duduk membelakangi langsung melihat kearah yang ditunjuk Samuel.


"Mau kemana kau?" ucap Dirga dengan nada keras.


Dena yang tadinya ingin langsung pergi tanpa bilang terpaksa melihat ke sumber suara.


"Aku mau pergi sebentar" ucap Dena menatap Dirga.


Dirga berdiri dari duduknya menghampiri Dena yang masih berdiri didepan pintu.


"Pergi kemana?" tanya Dirga penasaran saat dia sudah berada di samping Dena.


"Ingin bertemu dengan istri Papaku" ucap Dena jujur. Entah kenapa dia merasa memang sebaiknya dia bicara jujur saja pada Dirga.


Dirga yang mendengar itu semakin dibuat penasaran.


"Kenapa menemuinya?Tidak usah"


"Ada sesuatu yang penting, aku harus ke sana. Walaupun kau tidak mengijinkannya" ucap Dena dingin.


Dia langsung berjalan pergi. Tapi sebelum itu Dirga sudah mencengkram tangannya kuat.


"Kau keras kepala?aku antar" pungkas Dirga sehingga membuat Dena melebarkan matanya menatap Dirga.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2