
Dirga berjalan mendekat kearah sebelah Kanan Dena kakinya entah kenapa bergetar hebat membawanya pelan melangkah semakin mendekat.
Saat sudah berada di samping Dena, dia langsung melihat kearah Hanafi yang berada di sisi kiri Dena. Menatap tajam Pria itu,
"Apa yang membuatmu masih disini, pergi dari sini" usir Dirga dengan tajam.
"Maaf, sepertinya anda salah paham. Istri anda tadi kecelakaan dan saya.." ucapan Hanafi terpotong karena Dirga yang menyelanya terlebih dahulu.
"Saya tidak perduli penjelasan anda. Pergi dari sini, dan saya akan mengganti dokter untuk istri saya" tegas Dirga dan langsung menarik kursi yang berada di situ untuk ia duduk dia menggenggam tangan Dena kuat.
"Soal tadi saya minta maaf, sepertinya tadi Dena mengigau dan dia sempat meneteskan air matanya maka dari itu saya memegang tangannya" ucap Hanafi menjelaskan yang sebenarnya.
Dirga hanya diam saja tidak berniat untuk menjawab, dia masih melihat Dena yang belum sadar sambil memegangi tangan perempuan itu dengan harap-harap cemas.
"Kalau begitu saya pergi dulu" pamit Hanafi dan langsung pergi dari ruangan Dena di rawat sekarang.
Dirga memegangi tangan Dena, mencium tangan itu.
"Kau kenapa bisa begini? sadarlah. Entah kenapa aku takut terjadi sesuatu padamu?Kau memang kecelakaan kan bukan bunuh diri?Jangan sampai kau melakukan bunuh diri?" Dirga menciumi tangan Dena penuh haru.
Entah kenapa dia tadi begitu takut terjadi sesuatu dengan Dena.
"Papa, dia bukan Mamaku jadi untuk apa aku memanggilnya Mama. Aku tidak mau, aku tidak Mau, akhh sakit kenapa Papa menamparku" ucap Dena dengan mata yang masih terpejam, air matanya juga menetes.
Dirga yang tadi memejamkan matanya memegangi tangan Dena di depan wajahnya, langsung melihat kearah Dena.
Dia melihat Dena yang menangis dalam tidurnya,
Dirga, mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Dena.
"Kepedihan apa saja yang sebenarnya kau rasakan selama ini?" lirih Dirga sambil mengusap air mata Dena.
"Mama" teriak Dena langsung memegang tangan Dirga yang akan turun dari wajahnya.
Dena membuka matanya, saat matanya telah terbuka sempurna dia melihat Dirga yang menatapnya nanar. Namun hanya sebentar, entah kenapa Dena memejamkan matanya lagi secara perlahan.
"Dena.." panggil Dirga yang terdengar sayup-sayup di telinga Dena.
Dirga melihat kembali Dena, dia melihat luka yang ada di pelipis Dena yang sudah di balut. Dia juga melihat kaki Dena yang sepertinya terluka, karena kakinya di perban.
"Pasti sakit kan?" ucapnya sambil memegang pelan pelipis Dena.
………………
Di rumah Dirga, Saat ini sudah waktunya untuk makan malam. Semua orang sudah ada di meja makan termasuk Reyhan yang sudah kembali entah darimana. Pemuda itu bilang tadi dia habis bertemu dengan perwakilan tempat dimana dia menandatangani kontrak sebagai model untuk pertama kalinya secara internasional. Dan dia nantinya harus menerima resiko dari itu, Mamanya pasti akan tahu kalau dia sudah kembali ke Indonesia bahkan menjadi model sekarang.
Walaupun kemarin-kemarin saat dia berada di Jerman, dia hanya menjadi model kecil-kecilan sehingga tidak cukup di kenal. Tapi kali ini, dia akan menjadi model Internasional sudah bisa di pastikan nanti Papa dan Mamanya akan mengetahui keberadaan dirinya saat ini. Tapi, dia tidak akan perduli jika mereka tahu. Toh ia juga tidak akan pernah mau pulang kerumahnya.
__ADS_1
"Reyhan ayo makan jangan melamun saja. Anggaplah ini sebagai rumahmu juga," ucap Doni pada Reyhan.
"Iya makanlah han," ucap Sisil ikut menambahkan.
"Kau dulu banyak omong kenapa sekarang menjadi berkurang begini?" ucap Dewa melihat Reyhan yang ada di sampingnya.
"Diamlah," Reyhan tidak suka jika Dewa membahas masa kecilnya.
"Sudahlah Dewa," tegur Sisil.
"Reyhan, ini tante buat udang Crispy buat kamu" ucap Sisil lagi menyodorkan piring udang pada Reyhan.
"Maaf tante bukannya nolak, aku alergi udang tan"
"Wah kamu memiliki alergi yang sama seperti Dena?"
"Iya,"
"Kok aneh ya, Daniel yang kembarannya tidak alergi udang tapi kamu, yang adiknya jarak dua tahu malah memiliki alergi yang sama. Jangan-jangan kau memiliki kesukaan yang sama juga dengan kakakmu" ucap Sisil merasa heran.
"Ya begitulah tante, Kak Daniel itu kembaran palsunya kak Dena kembaran aslinya tuh aku. Tapi, wajahku yang sekilas kembar dengan kak Daniel " canda Reyhan membuat semua orang tersenyum mengiyakan.
"Oh iya ini kemana Dena sama Dirga ya. Kok tidak ada di sini?Apa mereka masih tidur atau bagaimana?" ucap Sisil saat menyadari anak dan menantunya tidak ada di meja makan.
"Ah benar kemana mereka?Apa Dena belum pulang sedari tadi pagi?tapi dimana Dirga?" ucap Doni.
"Benar Pa Dena belum pulang dari pagi kalau Dirga tadi siang dia keluar rumah buru-buru sampai tidak melihatku yang menyapanya" ucap Dewa memberitahu kepada Papanya.
………………
Dirga tidak berhenti memegang tangan Dena sedari tadi siang, bahkan Dena belum sadar juga. Dia sadar hanya sebentar dan tidak sadar lagi mungkin karena pengaruh obat sehingga membuat dia tidak sadarkan diri.
Hp milik Dirga berbunyi di saku celananya, ia melepaskan tangan Dena dan mengambil Hp tersebut.
Tertera nomor mamanya, apa yang harus dia lakukan. Kalau dia bilang Dena di rawat di rumah sakit pasti mamanya akan khawatir. Apa dia berbohong saja.
"Iya halo Ma," ucap Dirga saat mengangkat telpon.
"Kamu dimana? Kenapa tadi keluar nggak bilang sama Mama sama Papa. Istri kamu sedari tadi pagi juga belum pulang sekarang"
"Mama tidak usah khawatir, aku bersama Dena sekarang. Bilang sama Papa juga, kita sedang pergi berdua" ucap Dirga.
"Kalian pergi berdua kemana? kenapa tidak bilang?"
"Kita sedang di Puncak Ma, ada acara sama rekan bisnis aku. Jadinya aku mengajak Dena. Maaf ya Ma tadi aku buru-buru soalnya" ucap Dirga berbohong.
"Lalu Dena dimana sekarang Mama pengen Ngomong sama dia?
__ADS_1
"Mm, i..itu ma Dena sedang Mandi" pungkas Dirga.
"Ma, sudah dulu ya.." ucap Dirga langsung menutup sambungan telponnya. Dia takut jika Mamanya terus-terusan akan bertanya nanti. Membuat dia bingung harus menjawab apa.
Dirga melihat Dena lagi,
"Bangunlah, kau lama sekali sadarnya?" ucap Dirga.
Baru saja Dirga mengatakan itu, Tangan Dena yang di genggam Dirga bergerak membuat Dirga langsung melihat kearah Dena.
"Kau sudah sadar?" ucapnya saat Dena sudah membuka matanya dan melihat kearah Dirga.
"Kenapa kau disini?" tanya Dena melihat Dirga yang melihatnya dengan senang.
"Ya untuk menjagamu lah, aneh" tukas Dirga.
"Kenapa aku bisa disini?" Dena melihat keatas dan ke sekeliling serta melihat tangannya yang terpasang infus. Dia juga merasakan kaki serta kepalanya terasa sakit.
"Kau kecelakaan," jawab Dirga.
"Kau bodoh sekali ya, selalu saja mengalami kecelakaan di serempet orang" desis Dirga.
Dena hanya diam saja, tidak menjawab ucapan Dirga. Dan dia langsung tersadar tangannya yang masih tergenggam erat di tangan Dirga.
Dengan cepat Dena menarik tangannya, membuat Dirga melihatnya aneh.
"Kamu tidur lagi, kita pulang besok pagi" ucap Dirga dan berdiri dari duduknya. Dia lalu menggeser tubuh Dena yang ada di bangkar,
"Apa yang akan kau lakukan padaku?" ucap Dena saat Dirga mendekat ke tubuhnya menggeser dirinya.
"Bergeser Lah, aku juga mau tidur" Dirga melangkah naik ke ranjang rumah sakit. Tapi sebelum dia naik Dena sudah mendorongnya terlebih dahulu.
"Kenapa kau tidur di sini?"
"Kau tidak lihat? tidak ada tempat untuk tidur di sini. Sofa saja tidak ada, kenapa juga dokter bodoh itu menempatkan mu di ruangan murahan ini"
"Sudah kau diam saja, aku juga tidak akan menyentuhmu" ucap Dirga lagi dan naik keatas ranjang.
Dena sedikit memberi jarak pada Dirga. Tapi Dirga segera menarik Dena kedalam pelukannya,.
"Jangan menjauh, kau tidak lihat ranjang ini sempit. Kau mau jatuh, terus kakimu terluka lebih parah. Kau akan merepotkan ku nantinya, sudah diam saja seperti ini " ucap Dirga terus memeluk Dena. Dan itu membuat jantung Dena berdetak kencang, bukan Dena saja tapi Dirga juga merasakannya, jantung berdetak kencang karena ia memeluk Dena saat ini.
Dena melebarkan matanya, karena dia dengan cukup jelas mendengar detak jantung Dirga. Karena posisinya yang saat ini berada dalam dekapan Dirga.
"Kau tidurlah, aku juga akan tidur. Aku lelah sedari siang menunggumu yang tidak bangun-bangun. Aku kira kau sudah mati," Dirga yang memeluk Dena mulai memejamkan matanya.
Dena terdiam dalam pelukan hangat seorang Dirga. Bahkan pelukan ini lebih hangat dari peluk kan Dewa dulu yang selalu memeluknya. Kondisi ini membuat Dena merasa nyama dan ia perlahan mulai terpejam kembali.
__ADS_1
°°°
T.B.C