Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 8


__ADS_3

Hari ini keluarga Suherman dan Keluarga Sharma ada janji temu untuk membahas masalah pernikahan Dena dengan Dirga yang akan di adakan dua hari lagi.


Mereka akan membicarakan apa saja yang harus ada dan tersedia di pernikahan itu. Serta siapa saja yang akan diundang di acara besar kedua keluarga tersebut.


@Pasola Restauran


Mereka semua sedang berkumpul di restoran mewah yang ada disebuah hotel lebih tepatnya berada di lantai enam hotel tersebut.


Di sana ada keluarga Suherman tak ketinggalan juga ada Dirga yang tampak ogah-ogahan ditempat duduknya. Keluarga Sharman tentu saja juga ada, Empat orang lengkap berada di meja tersebut.


Daniel yang duduk di samping kakaknya saat ini melihat tidak suka kearah Dirga. Entah sedari awal dia bertemu Dirga, dia merasa Dirga bukanlah orang yang baik makanya dari itu ia sangat khawatir serta takut saat ia mendengar Dena bakal di jodohkan dengannya.


"Daniel Dena beri salam kepada keluarga Om Doni" ucap Marco sok bijak memberi contoh yang baik pada kedua anaknya.


Daniel melihat kearah Papanya sambil tersenyum miring. Sementara Dena hanya diam saja ditempat pikirannya entah melayang kemana saat ini ia benar-benar bingung harus berbuat apa. Dia sendiri tidak menginginkan perjodohan ini tapi dilain sisi nasib anak-anak Panti bagaimana dan tempat kesayangan mamanya rumah serta Vila itu bagaimana.


Surat-suratnya masih dipegang oleh Papanya karena dulu dia belum cukup umur. Bukan belum lagi tapi dia masih kecil jadi mana mengerti.


"Dena Daniel ayo beri salam" pinta Marco lagi karena anak-anaknya hanya diam saja.


"Hai Om, bagaimana bisa tidur nyenyak setelah kemarin?"


"Hai tante, Mamaku masuk dalam mimpi tante atau tidak?"


ucap Daniel sambil bersalaman pada Doni dan Sisil secara bergantian.


Lalu dia bersalaman pada Dirga tanpa mengatakan apapun hanya tatapan tidak suka saja yang ia perlihatkan.


"Daniel yang sopan, jaga bicaramu" tegur Marco melihat anaknya yang berbicara tidak sopan.


Marco hanya diam kembali duduk, memperhatikan Dena disebelahnya hanya diam melamun. Membuatnya terpaksa harus menyenggol Dena agar tersadar dari lamunannya. Dena secara refleks langsung melihat kearah Daniel lalu Daniel menggerakkan kepalanya dengan artian agar Dena berdiri untuk memberi salam pada keluarga Doni.


Dena langsung menyalami satu persatu orang didepannya saat ini. Lalu duduk kembali ditempat duduknya. Ia kembali melamun seperti tadi memikirkan solusi dalam masalahnya saat ini.


Gerak-gerik kakak adik itu tak lepas dari pengamatan Dirga. Namun dia tidak terlalu ambil pusing dengan itu semua.


"Bagaimana Doni, soal persiapan pernikahan Dena dan Dirga dua hari lagi" ucap Marco.


Dirga yang mendengar itu tentu saja merasa terkejut. Jelas terkejut bagaimana bisa rencana pernikahan itu semakin di ajukan. Jujur dia tidak tahu kalau pernikahannya diajukan. Jadi Papanya itu masih tetap melanjutkan pernikahan ini.


Dirga melihat kearah Mamanya seakan meminta penjelasan soal ini semua. Kebetulan Sisil juga sedang melihat kearahnya melihat bagaimana rekasi Dirga.

__ADS_1


"Soal itu...." ucapan Doni terjeda karena tiba-tiba saja Dirga berdiri dari duduknya membuat semua orang menatapnya saat ini.


"Maaf aku permisi ke toilet sebentar?" ucapnya undur diri dari situ dan dia langsung pergi dari situ.


Sisil yang melihat putranya tampak terkejut serta menahan marah langsung ikut pergi menyusul Dirga tetapi sebelum itu ia permisi dulu kepada semua orang yang ada disitu.


………………


Di dalam toilet Dirga memandang kearah cermin memandang dirinya saat ini. Rasa marah seakan berlabuh di kepalanya mendengar ucapan Marco tadi yang mengatakan pernikahannya akan diadakan dua hari lagi. Seketika saja tangannya mengepal kuat lalu ia langsung meninju kaca didepannya.


Emosinya semakin bertambah saja saat mengingat, Clara yang tidak bisa di hubungi beberapa hari ini. Padahal kalau bisa dihubungi, ia akan mengajak Clara untuk kawin lari. Sayangnya kekasihnya itu tidak bisa dihubungi sampai saat ini.


Dirga langsung keluar dari toilet tanpa di duga saat dia keluar di depan toilet pria Mamanya sudah berdiri menatapnya khawatir.


"Ma.." lirihnya melihat sang Mama yang sedih menatapnya.


"Mama kok ada disini,?Ada apa Ma" Ucap Dirga menelisik kedalam mata sang Mama yang seakan ingin mengatakan sesuatu.


"Mama mohon sama kamu Dirga, Kamu mau ya menikah dengan Dena" Sisil mengambil tangan Dirga memegangnya erat. Memohon pada putranya.


Dengan keras Dirga melepaskan tangannya dari tangan sang mama. Menatap Mamanya tak percaya, karena ia mengira tadi mamanya akan membantunya untuk bicara pada Papanya karena wajah Mamanya tadi menunjukkan ia tidak tega melihat Dirga.


"Aku tidak mau ma, Mama tahu sendiri kan aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintainya ma. Dan aku juga tidak mencintai anak Om Marco kenapa kalian semua memaksa ku" kesal Dirga menatap Mamanya penuh emosi.


"Aku nggak mau Ma, kenapa sih Mama maksa terus" ucap Dirga sambil menghempaskan tangan Mamanya yang akan memegang tangannya lagi.


Setelah itu Dirga langsung pergi begitu saja meninggalkan Mamanya. Tetapi baru beberapa langkah saja Mama Dirga terjatuh ke lantai cukup keras. Dia pingsan tanpa sebab.


Dirga yang mendengar itu langsung menoleh kearah Mamanya yang sudah terkapar di lantai.


"Ma...Mama" teriaknya berlari kearah sang Mama yang sudah tak sadarkan diri.


"Ma..Mama bangun Ma, Mama kenapa"


"Ma mama bangun." teriaknya khawatir. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat sang Mama dan membawanya.


°°°°°


Saat ini semua orang sedang berkumpul di koridor rumah sakit menunggu dokter yang memeriksa Sisil keluar.


Di sana ada Doni beserta Marco sekeluarga. Tak lupa juga Dirga yang duduk sendirian di kursi tunggu jauh dari mereka ia memikirkan apa saja yang akan terjadi pada Mamanya dan itu membuat dirinya menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


"Ini salahmu Dirga, ini Salahmu" terus-terusan Dirga menyalahkan dirinya sendiri.


Dan dia langsung ingat apa saja yang ia lakukan pada Mamanya. Mengingat itu membuatnya sakit.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan.


"Keluarga nyonya Sisil" panggil sang dokter. Mendengar itu Dirga langsung berlari mendekati dokter tersebut.


"Dok, Dokter apa yang terjadi pada Mama saya dok, bilang pada saya dok" ucap Dirga frustasi.


"Dirga, Dirga berhenti dulu biar dokter menjelaskannya" Doni menenangkan sang putra agar dia tenang dan agar dokter bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.


"Dok, apa yang terjadi pada istri saya?" ucap Doni.


"Hipertensi pada istri bapak kambuh, kemungkinan dia sedang banyak masalah yang ia pikirkan saat ini sehingga memicu kambuhnya hipertensi"


"Istri saya mengalami Hipertensi dok?" tanya Doni terkejut.


"Iya pak, apa istri anda sedang banyak pikiran?"


"Kalau bisa jangan membuatnya memikirkan sesuatu yang terlalu berat itu bisa membuat darahnya naik. Dan kalau sampai Hipertensinya melebihi normal bapak bisa tahu sendiri kan apa yang akan terjadi" ucap Dokter itu dan langsung membuat Dirga mundur secara perlahan dan tanpa disadarinya ia duduk tepat Disebelah Dena.


"Pa..Papa, Mama kenapa Pa" teriak seorang pria yang berlarian di lorong rumah sakit berlari menemui papanya.


"Dewa,..kok kamu bisa ada disini" Doni tampak terkejut saat melihat putra sulungnya yang ia ketahui sedang ada di Ausie datang ke rumah sakit.


"Iya Pa, aku sudah pulang dari Australia. Tadi aku sampai rumah sepi terus tanya sama asisten rumah tangga katanya Mama di rumah sakit makanya aku langsung kesini Pa" jelas Dewa.


Radewa Suherman anak pertama dari Doni Suherman dan Sisil Maheswari. Dia kakak dari Dirga Suherman, dimana usia mereka hanya terpaut dua tahun saja. Usia Dewa saat ini menginjak 24 tahun. Tetapi diusianya yang masih muda itu dia sudah memimpin perusahaan milik orang tuanya selama 7 tahun. Karena dia begitu pintar saat SMA entah bagaimana dia juga hanya menyelesaikan kuliahnya selama dua tahun padahal ia mengambil S1.


Dewa melihat Dirga yang terduduk di kursi tunggu itu ia tampak sedih saat ini.


"Apa yang kamu perbuat lagi sampai mama seperti ini?" ucap Dewa melihat Dirga tajam. Dirga yang mendengar itu hanya mendongak kearah kakaknya malas.


Mata Dewa lalu menelingsing orang-orang yang ada disitu melihat keluarga Sharman. Yang berdiri terpencar.


Dan fokusnya kini melihat seorang perempuan yang duduk disebelah adiknya Dirga. Matanya melebar menatap tak percaya perempuan itu.


"Dena.." Panggilnya lirih.


Dena hanya diam melihat Pria itu yang memang sedari tadi ia telah melihatnya dari pria itu berlari mendekat. Dia sudah tahu siapa itu,.

__ADS_1


°°°


...T.B.C...


__ADS_2