Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 18


__ADS_3

"Dengan siapa perempuan matre itu,?apa itu pacarnya?" ucap Dirga yang melihat Dena dari balkon kamarnya sedang di tuntun oleh seorang pria.


"Apa perduli ku, itu pacarnya atau bukan." ucap Dirga lagi lalu menghempaskan dirinya duduk di kursi kembali memperhatikan api yang berkobar membakar foto-foto didalam kotak sampah besi.


………………


Dena berjalan pelan masuk kedalam rumah dengan dibantu Hanafi,


"Dena, Dena kamu kenapa nak" ucap Sisil saat melihat Dena yang dituntun orang yang tidak ia kenal. Ia berjalan mendekati kedua orang itu.


"Sini nak, sini" Sisil menunjuk sofa yang ada di ruang tamu agar Hanafi mendudukkan Dena disitu.


"Kamu kenapa bisa begini nak.?"Tanya Dena saat melihat kaki perempuan itu yang sudah mulai nampak memar.


"Aku tadi hampir keserempet mobil ma, tapi untungnya ada Hanafi yang menolongku" ucap Dena melihat raut ke khawatiran di wajah mertuanya itu.


"Astaga, kamu tidak apa-apa kan?Terimakasih ya nak Hanafi sudah menolong menantu saya" ucap Sisil meraih tangan Hanafi yang berdiri.


Hanafi terdiam, seakan ia terkejut mendengar Sisil mengatakan menantu. Berarti Dena sudah menikah, rasanya ia sedikit kecewa mendengar apabila perempuan yang dua kali ia temui ini sudah menikah. Benar dua kali, dia pernah bertemu Dena sebelumnya saat dia sedang ada disekolah keponakannya waktu itu tanpa sengaja waktu itu Dena menabraknya. Dari pertemuan itulah entah kenapa ia langsung tertarik pada Dena. Tapi sekarang saat ia mengetahui kenyataanya, apakah ia masih tertarik dengan perempuan yang duduk didepannya saat ini.


"Iya sama-sama tante" balas Hanafi dengan sedikit memaksakan senyum.


"Dena sebentar ya, mama panggilkan Dirga dulu. Dia kemana sih istrinya begini bukannya keluar" Sisil hendak beranjak dari duduknya mencari Dirga dikamar pria itu.


"Tidak usah ma, aku tidak apa-apa kok. Ini tadi juga sudah di obati oleh Hanafi" Dena memegang tangan Sisil melarang Sisil untuk memanggil Dirga.


"Ya ampun, tante bener-bener ngucapin terima kasih ke kamu nak Hanafi" ucap Sisil penuh syukur karena Hanafi juga sudah mengobati kaki Dena yang terkilir.


"Tidak usah begitu tante, ini sudah tugas saya sebagai dokter yang harus memberi pertolongan pertama" balas Hanafi merasa tidak enak dengan Sisil karena sedari tadi perempuan Paruh Baya itu mengucapkan terimakasih terus-terusan.


"Pokoknya mama ke atas dulu ya, mama mau suruh Dirga turun. Masa istrinya dibiarkan" kekeh Sisil dan langsung pergi tidak mengindahkan ucapan Dena.


"Jadi kamu dokter?" tanya Dena


"Benar" singkat Hanafi yang memperhatikan Dena sedang memegangi kakinya.


"Masih sakit kakimu?" tanya Hanafi melihat Dena yang sesekali merintih


Hanafi langsung jongkok didepan Dena hendak memegang kaki itu.


"Ekhmm, Ekhmm" suara batuk seseorang langsung menghentikan niat Hanafi itu, ia langsung menoleh kebelakang melihat siapakah orang itu.


Dirga melihat tajam kearah mereka berdua, dengan tangan terlipat di belakang.


"Romantis sekali kalian" ketusnya melihat itu semua.


"Dirga.." lirih Dena melihat Dirga yang sekarang juga melihatnya sinis.

__ADS_1


"Anda salah paham," ucap Hanafi merasa tidak enak dengan pria yang ada di depannya. Karena bisa di pastikan kalau pria itu adalah suami dari Dena.


Dirga hanya diam saja berjalan mendekati kedua orang tersebut, lalu ia tiba-tiba saja berjongkok di depan Dena seperti apa yang di lakukan Hanafi tadi melihat kaki Dena yang memar.


"Wah, gitu dong sama istri perhatian" celetuk Sisil dan itu membuat Dena yang tadinya sempat kaget dengan cara manis Dirga memegang kakinya sadar bahwa Dirga melakukan seperti itu karena ada Mamanya agar mamanya melihat itu.


"Iya dong ma, masa istriku terluka begini aku tidak perhatian" senyum Dirga melihat kearah Mamanya yang tersenyum bahagia.


Sementara Hanafi hanya mengkerutkan dahinya merasa ada yang aneh.


"Tante, kalau begitu aku permisi dulu ya?Dena aku permisi" ucap Hanafi.


"Kok terburu-buru nak Hanafi,"


"Iya tan, soalnya saya harus kembali ke rumah sakit" balas Hanafi


"Mari." tambahnya menatap Dirga yang tidak merespon, pria itu malah menatap tajam dirinya.


"Dirga bantu istrimu naik keatas, biar dia istirahat di kamar" ucap Sisil pada Dirga saat Hanafi sudah pergi dari rumah mereka.


"Iya ma," sahut Dirga singkat.


"Ti..tidak usah ma, aku bisa sendiri" ucap Dena menolak apa yang di katakan Sisil.


"Mana mungkin kamu bisa keatas sendiri Dena, sudah tidak apa biar Dirga saja yang membantumu" ucap Sisil


Dirga menunduk, mengangkat Dena di gendongannya. Dena sendiri merasa terkejut karena tiba-tiba saja tanpa ia duga Dirga menggendong dirinya.


"Tidak usah jika kau tidak mau" ucap Dena pelan didepan wajah Dirga.


"Siapa yang akan mengantarmu ke atas, aku akan mengantarkan mu ke neraka dengan menjatuhkan mu di tangga" sinis Dirga tersenyum smirk.


Dena terkejut mendengar ucapan mengerikan itu, ia berusaha turun dari gendongan Dirga yang saat ini menggendong dirinya ala bridal style.


"Lepas, lepaskan aku.." bisik Dena namun ia seakan berteriak.


Tidak mungkin ia akan mengeluarkan suara kerasnya di situ ada Sisil yang sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum.


"Kau diam lah, tidak perlu takut. Tempatmu kan memang di neraka" ucap Dirga.


"Ma, kita keatas dulu ya" Dirga langsung membawa Dena menuju tangga, membuat Dena semakin cemas apakah Dirga benar-benar akan menjatuhkannya dari tangga.


"Kenapa kau keringat dingin?Kau takut" bisik Dirga di telinga Dena.


Dena hanya menatap diam Dirga, tidak mungkin ia mengatakannya.


"Kau siap mati" sinis Dirga berdiri di lantai dua menatap Dena tajam.

__ADS_1


"Dirga, Dirga aku mohon"


Dirga tidak perduli dengan ucapan dia bersiap menjatuhkan Dena dari lantai dua, Dena langsung memejamkan matanya siap menerima apabila dirinya benar-benar akan di jatuhkan dari lantai dua saat ini.


Dirga melihat Dena yang menutup matanya, membuatnya berdecik.


"Kau pikir aku gila, akan membunuhmu di rumahku ini," desis Dirga lalu melenggang menjauh dari tempatnya itu.


Dena langsung membuka matanya melihat Dirga yang sudah berjalan membawanya masuk kedalam kamar.


Dirga menutup pintu pelan mendorongnya kecil, lalu ia langsung menuju ranjang.


Didepan ranjang itu ia menatap tajam Dena yang masih berada di gendongannya, begitu juga Dena yang tidak mengerti dengan apa yang akan Dirga lakukan.


Brakk


Tiba-tiba saja Dirga membanting Dena keras keatas tempat tidur. Membuat Dena merintih menahan sakit karena kakinya yang ter kantuk.


"Kau gila" tukas Dena menatap seorang Dirga.


"Kau sangat menyusahkan diriku sekali ternyata, dari awal menikah sampai sekarang membuat diriku tersiksa saja" ucap Dirga meluapkan emosinya.


"Gara-gara dirimu juga aku di selingkuhi kekasihku" Ucap Dirga menyalahkan Dena.


"Kenapa gara-gara aku, itu ulah kekasihmu sendiri" Dena merasa tidak terima disalahkan gara-gara pacar Dirga selingkuh.


"Tutup mulutmu, kau tidak ada hak untuk melakukan pembelaan"


"Aku punya mulut, dan hak ku melakukan pembelaan. Pacarmu selingkuh juga bukan karena diriku mungkin karena dirimu sendiri yang membuatnya selingkuh" ucap Dena tidak takut dengan Dirga yang menatapnya marah.


"Kau pria yang maunya menang sendiri dan arogan wajar saja dia..."


Plakkk


Dirga menampar wajah Dena kuat, membuat Dena langsung refleks memegangi wajahnya. Matanya berkaca-kaca menatap Dirga tidak percaya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?Kau tidak terima?" Dirga mencengkram kuat dagu Dena.


Dena menatap Dirga, datar serta dingin dengan sorot mata tajam.


"Perempuan matre sepertimu memang pantas mendapatkan tamparan, " Dirga melepas kasar dagu Dena lalu ia langsung beranjak pergi keluar kamar membanting pintu kamar itu dengan kuat.


Sontak Dena langsung meneteskan air matanya, yang tanpa bisa ia cegah. Dia begitu syok dan tidak menyangka kalau Dirga adalah orang yang begitu kasar terhadap wanita, kenapa?Kenapa ia harus bertemu lagi pria kasar selain Papanya,.Batin Dena menjerit melihat kemiripan Dirga dan Papanya yang begitu kasar sekali terhadap wanita.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2