
Dena melempar batu sekuat-kuatnya kearah sungai dengan air jernih yang mengalir didepannya. Dipinggir sungai itu terdapat sebuah pohon besar beserta ayunannya.
Tak jauh dari sungai tersebut berdiri sebuah Vila atau mansion yang sedang tidak kecil dan tidak besar. Halaman rumahnya yang tertata rapi serta ditumbuhi berbagai macam bunga yang semakin membuat tempat itu terasa nyaman. Hanya ada beberapa Hunian di daerah situ dan yang menarik perhatian mansion milik Mama Dena yang beda dari yang lain karena tempat itu lebih asri dengan taman yang luas dan juga tumbuh-tubuh
Berkali-kali Dena melempar batu-batu kecil ke sungai seakan membuang semua pikiran yang tak berarti dari kepalanya.
"Kenapa?Kenapa? orang itu tidak berubah sama sekali kenapa ma.." teriak Dena kearah sungai itu.
"Kenapa dia tidak pernah menghargai mu sebagai seorang istri.." lagi Dena meluapkan emosinya lagi di tepi sungai itu. Lalu dia langsung terjatuh, terduduk di tanah melihat kosong kearah sungai.
Perlahan air matanya menetes membasahi wajah cantiknya dia meraung-raung, terisak menangis mengingat mamanya yang telah pergi dari saat dia dan Daniel masih kecil.
"Teh Dena, Teh Dena kenapa menangis?" ucap beberapa anak kecil yang berlarian menghampiri Dena yang menangis di tepi sungai. Dengan segera Dena langsung menghapus air matanya, agar tidak di lihat oleh anak-anak itu.
Anak-anak kecil itu merupakan anak-anak panti dimana Mama Dena menjadi Donatur tetap di panti tersebut. Panti Asuhan Kasih Bunda merupakan sebuah panti asuhan yang ada di area tempat Dena saat ini. Anak-anak itu bisa ada didekat sini karena Dena yang mengajak mereka untuk ke Villa milik mamanya ini. Menemani Dena yang sedang sendiri, ia memang tidak pernah mengajak Daniel untuk datang ketempat ini, tempat dimana kenangan dia dulu di Villa milik mamanya ini.
Selain Villa Mamanya juga meninggalkan sebuah rumah yang dulu pernah mereka tinggali berempat dengan Papanya sebelum orang itu menjadi Orang menjijikkan.
"Ah nggak, siapa yang menangis" ucap Dena sambil tersenyum kearah anak-anak yang berjumlah 6 orang tersebut.
"Teh Dena yang menangis, Teteh jangan nangis ya?kita ikut nangis nanti" ucap mereka serempak salah satu dari merek mengusap lembut pipi Dena menghapus air mata di wajah itu.
"Ayo teh, kita masuk kedalam bibi Heja sudah membuatkan kita makanan enak" ucap salah satu anak itu dengan polos.
"Ayo, ayo" ucap Dena yang tangannya sudah ditarik-tarik oleh anak-anak itu.
………………
Dena saat ini duduk dimeja makan, benar saja makanan apapun itu sudah tersaji di meja makan. Bi Heja ternyata sudah menyiapkan semua apa yang ia perintahkan sebelum ia datang kesini.
Bibi Heja adalah orang kepercayaan Mama Dena saat masih hidup dulu, orang itulah yang juga telah merawat Dia dan Daniel waktu kecil sebelum mereka di bawa oleh papanya ke rumah yang panas itu. Rumah Baru papanya dengan wanita ular seperti ibu tirinya.
"Dena ayo dimakan, jangan melamun terus" Bi Heja membuyarkan lamunan Dena saat mengingat masa kecilnya dulu.
"Iih, Bija ngagetin aja" ucap Dena mengeluarkan senyum manisnya.
__ADS_1
Dena memang biasa memanggil Bibi Heja dengan sebutan Bija. Sehingga sampai sekarangpun ia masih memanggilnya seperti itu. Bija sendiri seumuran dengan Monica mamanya tetapi lebih tua Bija 3 tahun. Dan Bija saat ini sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak yang masih kecil. Anak-anaknya itu sekarang berada dirumahnya dan suaminya.
Bija ke Villa setiap hari untuk melihat kondisi Villa dalam keadaan baik atau tidak lalu ia kembali lagi kerumahnya begitu terus setiap hari. Padahal Dena sudah menyuruh Bija dan keluarganya untuk tinggal saja di Vila tetapi mereka menolak.
"Kok Tama sama Nita nggak di ajak kesini Bija?" Dena menanyakan kedua anak Bija yang tidak turut diajak.
"Mereka ada sepupunya jadinya nggak mau aku ajak kesini, milih main mereka" jawab Nita sambil duduk di dekat Dena ikut bergabung dalam acara makan siang saat ini.
"Oh, padahal aku kangen sama mereka" ucap Dena merasa kecewa.
"Besok, kapan-kapan aku ajak mereka menemui mu"
"Oke,"
°°°°°
Dirumahnya lebih tepatnya di ruang keluarga Dirga mengamati Hpnya yang berada di atas meja sambil melihat sana sini seakan sedang menunggu seseorang..
"Ada apa kamu ingin menemui Papa?" ucap sebuah suara dari tangga.
"Apa yang ingin kau beritahukan padaku," Doni duduk di Sofa sebelah yang ber dekataan dengan sofa yang di duduki Dirga saat ini.
Dirga mengambil Hpnya dari atas meja, memutar suara di Hp itu.
Terdengar suara Dena yang menolak perjodohan mereka. Benar kemarin Dirga sempat mereka pembicaraan dirinya dengan Dena.
"Suara siapa itu" tercetak jelas kerutan di dahi Doni.
"Itu suara anak Om Marco. Dia sama sepertiku Pa, menolak perjodohan ini. Jadi tidak ada alasan Papa untuk melanjutkan perjodohan ku dengannya" ucap Dirga lantang di akhir kalimat.
"Papa tidak perduli, entah kamu atau anak Marco menolaknya Papa tetap akan melanjutkan perjodohanmu dengannya" Doni masih tetap dalam pendiriannya seperti kemarin-kemarin.
"Papa.." Dirga berdiri dari duduknya melihat papanya dengan tatapan tidak terima.
"Pokoknya aku tidak mau Pa,..Aku sudah memiliki kekasih" jelas Dirga lalu pergi meninggalkan Doni yang hanya melihatnya saja.
__ADS_1
………………
Saat Dirga berjalan di teras rumahnya hendak menuju mobil tak terduga juga Daniel berjalan cepat menuju pintu rumah keluarga Suherman. Mereka berdua sama-sama emosi sehingga tidak melihat depannya.
Terjadilah benturan antara kedua orang itu. Mereka tidak ada yang terjatuh hanya keduanya mundur dari posisi mereka tadi.
"Anda kenapa sih jalan pake mata" ucap Dirga yang belum sadar bahwa didepannya adalah Daniel yang ia ketahui sebagai kembaran Dena.
"Anda sendiri, jalan pake apa?pake dengkul. Kenapa bisa menabrak saya, minggir saya tidak ada urusan dengan anda" sinis Daniel sambil mendorong Dirga agar tidak menghalangi jalannya.
Daniel langsung pergi, berjalan cepat masuk kedalam rumah keluarga Suherman dengan langkah cepat.
"Dia siapa?Tapi mukanya seperti tidak asing?Ah benar dia saudara kembar perempuan itu. Kenapa dia kesini" Dirga merasa penasaran dengan kedatangan Daniel yang berjalan sangat cepat terlihat juga emosi di wajah pria itu.
"Aku harus tahu apa yang mendasarinya kesini?" Dirga mengurungkan niatnya untuk pergi ia berbalik masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sementara Didalam rumah Daniel berteriak-teriak memanggil nama Doni di sana.
"OM Doni Suherman, Om Doni" teriaknya berkali-kali sampai membuat semua orang yang ada di rumah itu keluar melihat Daniel.
Daniel berdiri tepat ditengah-tengah ruangan melihat orang yang ia cari baru saja muncul.
"Oh Daniel, Bagaiman kabarmu?kenapa kamu ada disini" sapa Doni ramah sambil berbasa-basi.
"Saya disini tidak akan berlama-lama saya akan bilang pada intinya saja"
"Kenapa Om Doni menjodohkan Kakakku dengan putramu, apa kamu tidak kasihan dengan kakakku yang sudah menderita tapi akan kau buat menderita lagi" ucap Daniel berusaha menahan emosinya.
"Apa maksudmu Daniel.?"
"Om tidak mengerti apa yang kamu maksud. Kenapa kakakmu harus menderita saat om menjodohkannya dengan putra om,?"
°°°
T.B.C
__ADS_1