Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 88


__ADS_3

Dirga menarik kuat tangan Dena keruangan dia tadi,


“Lepaskan, kau kenapa? sakit” ucap Dena menghempas tangan Dirga ke saat dia sudah ada di ruangan mewah Dirga.


“Adikmu membuat produk baru gagal rilis mengerti, kenapa kau tidak bilang kalau dia tidak menghadiri konferensi pers padahal kau tadi pagi menemuinya kan” Dirga mencoba menahan emosinya agar tidak meluap.


“Aku lupa untuk mengatakannya padamu,” singkat Dena melihat Dirga yang sedang kesal.


“Kau bilang lupa? Kalau kau bilang dari awal semua nya tidak akan seperti ini. Kau dan adik mu membuatku kesal sekarang” Dirga menunjukkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Dena, tapi dia segera menurunkannya.


Dena melihat dingin Dirga,


“Kau menyalahkan ku atas semua ini? Kau marah padaku karena produk baru mu gagal rilis. Cihh. Sifat busuk mu ternyata begini” decih Dena menatap sinis Dirga di depannya yang langsung menyesal telah melampiaskannya pada Dena.


Dena langsung pergi keluar meninggalkan Dirga yang berdiri mematung menyesali perkataannya yang terlalu emosi sehingga melampiaskannya pada Dena. Dirga langsung bergegas menyusul Dena yang sudah keluar terlebih dahulu,


“Dena,.Sayang berhentilah dulu” Dirga berjalan mengejar Dena yang begitu cepat berjalan.


Dena tidak menggubris panggilan Dirga dia malah semakin mempercepat langkahnya, untuk apa dia berbicara dengan pria yang emosional.


“Sayang aku bilang berhenti,” teriak Dirga pada Dena yang tetap berjalan. Malah sekarang perempuan itu masuk kedalam. Dirga semakin cepat menyusul Dena yang sudah masuk kedalam lift, terlambat pintu lift sudah tertutup membuat Dirga semakin kesal,


“Ahh, sial” Dirga memukul keras pintu lift yang sudah menutup itu. Dengan segera dia langsung berlari kearah lift lain saat pintu lift yang terbuka. Dia harus segera menyusul Dena meminta maaf pada perempuan itu.


.................


Dena sudah berada di luar PRAHA K-PLUS, dia sedang mencari kendaraan yang akan dia naiki untuk pulang. Tapi tidak ada juga disekitar perusahaan besar ini membuat Dena berjalan kembali menuju jalan raya besar. Dia masih mencari kendaraan melihat ke kanan dan ke kiri siapa tahu ada taxi atau bis yang lewat dan akhirnya ada sebuah taksi menghampiri.


Dena sudah membuka pintu mobil tapi tangannya langsung ditarik seseorang membuat Dena melihat siapa yang menariknya ternyata itu Dirga yang menatapnya dingin.


“Mau kemana kau?” tanyanya dingin.


“Aku mau pulang lepas,” Dena berusaha melepaskan tangannya dari Dirga saat ini.


“Jadi naik nggak mbak,.” Ucap supir taksi tersebut dari dalam mobil.

__ADS_1


‘Ja..”


“Tidak pak, terus saja” ucap Dirga menyela perkataan Dena.


Supir taksi itu tentu saja langsung pergi dari hadapan mereka berdua, Dena langsung dengan kuat melepaskan tangan Dirga. Dia diam saja tidak ingin bicara sama sekali dengan pria itu.


“Aku minta maaf sayang” Dirga memperhatikan Dena yang menatapnya.


Dena masih diam di posisinya, membuat Dirga langsung menghadapkan perempuan itu agar menghadapnya.


“Saya aku, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyalahkan mu”


“Kamu memaafkan ku kan? Sayang please aku minta maaf. Jawab sayang” ucap Dirga lagi dengan nada melemah, dia menyesal karena tadi sudah menyalahkan Dena karena ulah Reyhan.


“Minggir Lah, aku mau pulang” ucap Dena menggeser tubuh Dirga agar minggir dari jalannya.


“Sayang please aku minta maaf” Dirga masih terus memohon, dia mengikuti Dena yang berjalan.


Dirga berhenti seketika, karena merasa Dena tidak menghiraukannya sama sekali.


Dena yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya dia melihat Dirga yang sedang berada ditengah jalan menyebrangi jalan dengan sembarangan.


Dari arah depan Dirga, ada sebuah mobil box besar yang berjalan mendekat. Bukannya minggir Dirga malah berdiri mematung sambil tersenyum kearah Dena. Tentu saja Dena merasa syok dia berteriak histeris sambil menutup matanya takut akan terjadi apa-apa dengan Dirga.


“DIRGA......” teriaknya begitu histeris matanya langsung memejam takut melihat apa yang selanjutnya terjadi pada Dirga. Sungguh saat ini Dena tidak berani membuka matanya kakinya gemetar hebat sehingga membuatnya terduduk di trotoar jalan menangis.


Sementara di jalan, mereka menyoraki Dirga dengan nada-nada ketus menganggap pria itu telah gila. Benar Dirga tidak apa-apa karena dengan cepat supir mobil box menginjak remnya sehingga tidak menabrak Dirga. Dia melontarkan kata-kata cacian pada Dirga yang hampir membuatnya menjadi seorang pembunuh.


Dirga yang disoraki gila tidak perduli, dia melihat Dena yang ada di pinggir jalan terduduk menangis sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Ia dengan santainya berjalan menepi dari jalan raya sehingga membuat jalan kembali normal. Dirga berjalan menghampiri Dena yang menangis sesegukan.


“Kamu sedang apa disitu? dan menangisi siapa?” ucap Dirga dengan santainya melihat Dena yang terduduk tidak melihatnya.


Dena yang mendengar suara itu perlahan membuka tangannya yang menutupi wajahnya, ia syok melihat dirga yang sudah berdiri di depannya.


“Dirga,.” Lirihnya masih menangis, dia perlahan berdiri memperhatikan Dirga dari atas kebawah.

__ADS_1


“Kenapa melihatku begitu sayang, aku bukan hantu” Dirga tersenyum melihat dena yang menatapnya syok.


Dirga mendekatkan tubuhnya dan langsung menarik dena kedalam pelukannya.


“Kenapa? Kamu takut kehilanganku? Ucap Dirga memeluk Dena.


“Ka..kamu tidak apa-apa” dengan masih menangis Dena berucap pada Dirga didalam pelukan pria itu.


“Aku tidak apa-apa, makanya kamu maafkan aku ya.”


Dena diam, memberi jarak dirinya dengan Dirga dia mendongak melihat pria itu yang tampak puas mempermainkannya.


“Kamu gila,” sinis Dena dan melepaskan diri dari Dirga. Ia menginjak kaki suaminya sehingga otomatis membuat Dirga melepaskan pelukannya karena menahan sakit dikakinya saat ini.


“Memang, aku sudah gila. Aku gila karena kamu mengerti sayang” Dirga menatap manik mata Dena.


Dena sendiri bukannya menatap balik dia malah melenggang pergi meninggalkan Dirga.


“Mau kemana sayang, ayo pulang sama aku” Dirga mengejar Dena dan menggenggam pergelangan tangannya.


“aku tidak mau, aku ingin pulang sendiri”


“Oh silahkan kalau kamu memang ingin pulang sendiri. Tapi jangan menyesal kalau melihatku terbujur kaku di sana” Dirga menunjuk kejalan raya, ia mengancam dena akan melakukan hal seperti tadi kalau istrinya itu tidak ikut pulang bersamanya.


“Terserah dirimu aku tidak perduli” ucap Dena dingin dia akan kembali berjalan setelah melepaskan tangannya dari genggaman Dirga.


“Ah, kau tega sekali padaku sayang. Tidak ada cara lain, dan aku tidak ingin mati sia-sia” ucap Dirga terkesan bergumam membuat Dena mengerutkan keningnya dengan ucapan Dirga barusan.


Tiba-tiba saja Dirga menggotong Dena, memanggulnya seperti kantong beras.


“Turunkan aku, Dirga turunkan aku” Dena memberontak minta untuk di turunkan.


“Aku tidak mau salah mu sendiri keras kepala,” Dirga berjalan sambil memanggul Dena sehingga membuat mereka jadi tontonan orang-orang yang mereka lewati.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2