Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 128


__ADS_3

“Begini,..Da..Daniel pergi ke Australia beberapa hari lalu” ucap Dirga pelan memperhatikan wajah Dena.


Dena terkejut mendengar itu ia menatap percaya dan tidak percaya pada Dirga.


“Apa? Kamu serius bilang kalau Daniel pergi ke Australia?” ucap Dena mengulangnya lagi.


Dirga dengan pelan mengangguk mengiyakannya.


“Kamu bohong, kenapa dia tidak bilang padaku. Aku mohon sekarang telpon kan dia untukku Dirga” ucap Dena memohon pada suaminya.


“Iya aku telpon kan dia untukmu. Tunggu sebentar sayang, aku akan mengambil Hp Ku” ucap Dirga langsung berdiri dari duduknya dan berjalan kearah nakas meja yang ada di samping tempat tidur mereka.


“Cepat sayang,.” Ucap Dena menyuruh Dirga untuk lebih cepat.


“Sabar..” Dirga berjalan mendekati Dena setelah mengambil Hp miliknya.


Dirga segera menekan nomor Daniel, menghubungi adik iparnya tersebut. Setelah lama menunggu tidak kunjung dijawab juga oleh Daniel.


“tidak diangkat sayang, mungkin dia sedang sibuk” ucap Dirga berbicara pada Dena yang melihatnya penuh harap.


“Coba lagi, ayo coba” ucap Dena pada Dirga meminta untuk menelpon Daniel lagi.


“Ya sudah sesuai mau mu” Dirga langsung menelpon Daniel kembali. Tapi sama saja, pria itu juga tidak mengangkatnya.


“Tidak diangkat sayang,” ucap Dirga.


“Ya sudah, nanti saja. Mungkin dia sibuk” ucap Dena akhirnya, dia langsung terdiam memegangi perutnya. Perutnya bergerak-gerak saat ini.


Dirga mengamati itu, ia menangkap keanehan pada Dena.


“Kamu kenapa? Perutmu sakit?” nada bicara Dirga terkesan khawatir.


“Tidak, mereka hanya bergerak-gerak saja. Sedikit membuat tidak nyaman” pungkas Dena dia menyandarkan dirinya ke sandaran sofa.


“Kamu jangan banyak pikiran ya, jangan terlalu dalam memikirkan Daniel. Dia sudah dewasa tidak seharusnya kamu terus memikirkannya. Lihat anak kita diperut mu, mungkin dia begini karena tidak ingin kamu terlalu banyak pikiran”


“Iya,..”


“Mau tidur atau tetap disini, nonton tv?”


“Aku disini saja,”


“Ya sudah kalau kamu disini. Aku temani,” ucap Dirga dan tangannya memegang perut Dena mengusap perut itu.


................


@AUSTRALIA

__ADS_1


Daniel duduk di balkon rumah besar milik keluarga Mamanya. Ini pertama kali dia datang kesini setelah beberapa tahun berlalu, terakhir ia datang ke rumah ini dulu saat kecil mungkin. Dia tidak ingat lagi, itu saja ia tahu karena melihat foto keluarganya dan ada dirinya dan juga orang tuanya. Berdiri di balkon ini berphoto dengan latar belakang halaman yang dipenuhi tanaman bunga.


“Daniel, kamu tidak ingin keluar-keluar kemana gitu mengeskplore Australia” ucap Michel yang baru datang dari arah belakangnya.


“Om Michel,.” Daniel langsung berbalik melihat Omnya yang baru saja datang. Selama dua hari disini dia baru bertemu Michel hari ini. Karena Michel sedang ada urusan diluar kota.


“Hai, apa kabar?” Michel memeluk keponakannya itu penuh rindu. Dan dia langsung duduk di kursi yang ada disebelah Daniel namun terpisah oleh meja kecil ditengahnya.


“Baik Om,”


“Dena mana? Dimana kakakmu itu?”


“Dia tidak ikut, aku datang sendiri kesini”


“Kenapa dia tidak ikut, tidak boleh dengan suaminya. Tapi tidak mungkin kalau suaminya melarang. Diakan terlalu cinta dengan kakakmu”


“Aku sengaja tidak memberitahu mereka kalau aku kesini, aku hanya bilang dengan adikku saja untuk menyampaikan kepada mereka berdua”


“Kenapa kau tidak bilang?”


“Tidak apa, aku tidak ingin menggangu mereka.”


“Jangan bohong dengan om, kau bertengkar dengan Dena?”


“Tidak,” Daniel menggeleng dan mengalihkan pandangannya.


“Suasana rumah ini sama seperti suasana rumahku dulu, rumah yang om tempati sebelum pindah kesini” ucap Daniel mengalihkan pembicaraan.


“Oh,..”


“Daniel, Om ingin tanya deh sama kamu. Tumben kamu ada pikiran untuk ke Australia, dulu waktu om ajak kesini kamu dan Dena menolaknya”


“Entahlah m, hati bisa berubah begitu saja”


“Bilang sama Om Daniel kalau ada masalah atau apa. Jangan kamu pendam sendiri malah membuat semakin menderita. Dulu kakakmu juga begitu sekarang dia sudah tidak lagi kan. Dia sudah ada suami yang mencintainya jadi dia bisa berbagi dengan suaminya sementara kamu belum punya istri berbagilah dengan Om. Jangan dirasa sendiri. Kalau kamu tidak mau berbagi dengan Om, kamu mau Om carikan istri agar kamu bisa mencurahkan segalanya pada istrimu”


Mata Daniel langsung melebar mendengar ucapan Michel.


“Jangan asal Om, jangan seperti Papa yang main jodoh-jodohkan. Aku tidak suka” ucap Daniel dengan begitu datar.


“Habisnya kamu tidak ingin bercerita dengan Om”


“Aku datang kesini karena aku teringat Mama. Entah kenapa tiba-tiba aku mengingatnya dan ingin kesini melihat jejak-jejak Mamaku dulu” Daniel berjalan mendekat ke depan Balkon mendekatkan dirinya pada pembatas balkon tersebut membiarkan wajahnya diterpa angin yang berhembus kencang.


Michel melihat segala kesedihan dimata Daniel, meskipun pria itu tidak berkata apapun padanya. Tapi dia bisa melihat raut kesedihan serta kesepiannya keponakan laki-lakinya ini.


“Aku berbeda dengan Dena, ingatannya dari kecil hingga sekarang begitu tajam. Bahkan dia dengan jelas mengingat masa lalu kita saat masih kecil dulu diperlakukan dengan tidak baik oleh Papa. Dia mengingat itu semua bahkan wajah terakhir Mama yang penuh gelisah serta khawatir saat pamit pada kita berdua untuk menemui Papa dulu. aku sempat melupakan itu Om, tapi kemarin saat aku datang ke resort milik Papa bersama dengan Papa dan juga Dena serta Reyhan dan suami Dena. Tiba-tiba aku ingat wajah Mama saat terakhir kali dia pergi dari rumah untuk menemui Papa, aku ingat ekspresi dia yang seakan penuh takut khawatir cemas dan campur aduk memikirkan suaminya. Mengingat itu membuat diriku serasa sesak Om. Kenapa aku bisa tidak ingat dengan wajah itu, kenapa ingatanku tidak setajam Dena” ucapan Daniel mengalir begitu saja, benar itu alasan dirinya kesini.

__ADS_1


Dia merasa bodoh sendiri, karena melupakan wajah terakhir Mamanya, seharusnya wajah itu yang ia ingat. Dan dia ingat semua sekarang perlakuan papanya. Dulu serasa samar-samar tetapi kini begitu jelas sekali.


Ingatannya itu semakin membuatnya rindu dengan Mamanya, makanya ia memutuskan ketempat ini sekarang. Ke rumah Mamanya saat kecil hingga sebelum menikah dengan Papanya dulu.


Michel hanya diam saja memperhatikan keponakannya yang berbicara menatap ke depan, melihat sinar surya mulai terbenam.


“Aku sebenarnya ingin berbagi keluh kesah ku yang kurasakan selama ini om. Tapi mulutku terasa berat untuk sekedar membuka suara” ucap Daniel lirih.


“Kamu sudah punya pacar?” ucap Michel tiba-tiba.


Daniel langsung menoleh melihat Omnya, yang bukannya memberikan jawaban atau solusi mengenai dirinya. Ini malah menanyakan dia sudah memiliki pacar atau belum.


“Kenapa Om bertanya begitu padaku?”


“Om hanya ingin tahu saja”


“Dulu ada sekarang tidak”


“Kenapa bisa begitu,”


“Dia pergi meninggalkanku. Karena aku selalu mementingkan Dena”


Michel terdiam, dia melihat Daniel yang menunduk


“Kenapa kamu lebih mementingkan dena dulu?” Michel tampak penasaran dengan Daniel.


“Bagaimana aku tidak mementingkan nya, Dena yang selalu ada untukku dan selalu mementingkan diriku. Dia ayah sekaligus ibu bagiku Om, dia bukan hanya sekedar kakak saja buatku. Jadi aku lebih memilih saudaraku daripada perempuan yang hanya minta diperhatikan.” Daniel terdiam setelah mengatakan itu.


“sekarang aku merasa sendiri, dia sudah menikah. Tapi aku juga senang akhirnya kakakku itu menemukan kebahagiannya bersama suaminya itu yang sangat cinta dengannya.” Lanjut Daniel yang sebelumnya sempat berhenti bicara.


“Kamu juga harus menikah Daniel, cari kebahagiaanmu seperti kakakmu. Cari teman bercerita tentang keluh kesah mu” ucap Michel.


Daniel hanya tersenyum smirk saja,


“Kenapa kamu malah tersenyum?”


“Menikah bukan solusinya Om,”


“Kenapa bukan Solusinya, kau tidak mempercayai wanita lagi setelah pacarmu itu pergi meninggalkanmu”


“Begitulah, wanita jaman sekarang sama saja. Dia ingin pria yang tampan kaya, dan tidak menginginkan keluarga sang pria. Kalau aku menikah jika terjadi apa-apa dengan keluarga kecil Dena siapa yang akan menolong kakakku itu. Dan bagaimana kalau istriku protes tentang diriku yang selalu mengedepankan Dena” Daniel menatap Michel seakan harus memberinya solusi.


“Kakakmu sudah bahagia Daniel, kamu tidak usah memikirkannya. Temukan kebahagiaanmu sendiri sekarang” ucap Michel menepuk bahu Daniel.


“Pikirkan apa yang Om katakan, nggak semua wanita begitu. Ada wanita yang melihat dirimu tanpa apa yang kamu miliki sekarang. Wajah tampan dan kekayaanmu ini hanya bonus Daniel, yakin sama Om pasti ada seorang wanita entah disudut dunia mana akan menerima kasih sayangmu untuk kakakmu. Yang kamu perlukan yaitu buka hatimu untu perempuan masuk kedalam hidupmu” ucap Michel lagi sebelum pergi dan dia langsung meninggalkan keponakannya itu.


“Hati yang bersih serta sempurna akan mudah mengatakannya Om. Tapi yang memiliki luka di hati sepertiku ini susah untuk melakukannya. Karena tindakan tak semudah ucapan dan membalikkan telapak tangan” Lirih Daniel melihat kepergian Michel.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2