Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 86


__ADS_3

Dena masuk kedalam kamar yang di tempati oleh Reyhan, dia membuka pintu itu. Melihat Reyhan yang masih tidur dengan selimut yang menutupinya.


“Reyhan,.” Panggil Dena sambil berjalan mendekat kearah Reyhan tidur.


“Reyhan bangun, katanya mbok Pinem kamu ingin dibangunkan Pagi-pagi. Ini malah mau siang” ucap Dena memegang Reyhan.


“Enggh, apa kak?” jawabnya dengan suara serak.


“Bangun, ini sudah pagi” ucap Dena lagi pada adiknya.


Reyhan langsung terduduk, melihat kakaknya yang sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.


“Memang sekarang jam berapa sih kak,” ucap reyhan masih dengan mata yang mengantuk.


“ini sudah hampir jam delapan,”


“Hah, jam delapan kak. Waduh aku harus hadir dalam konferensi pers virtual” kaget Reyhan dan segera buru-buru bangkit dari tempat tidurnya dengan langkah yang terpincang-pincang dia berjalan duduk di sofa mengambil laptop di meja.


Konferensi Virtual itu ia lakukan karena dia model di produk baru PRAHA,


“Kenapa sudah tidak bisa di buka, kak saat ini jam berapa kak” ucap Reyhan gugup.


“Jam delapan” sahut Dena.


“Alamak, aku sudah telat satu jam setengah” Reyhan mengacak-acak rambutnya sendiri bagaimana bisa dia kesiangan untuk bangun.


Dena hanya melihat Reyhan yang uring-uringan sendiri,


“aku keluar dulu,” ucap Dena dan mulai bangkit dari duduknya.


“Iya kak” ucap Reyhan lesu.


“Oh iya kak, tolong nanti bilang pada kakak ipar ya kalau aku ketinggalan konferensi pers dan bilang pada dia ya aku minta maaf” ucap reyhan memohon untuk Dena saja yang bilang pada Dirga karena kalau dia bilang langsung, ia takut pada pria itu.


Dena hanya mengangguk saja dan berjalan pergi meninggalkan kamar Reyhan.


Dena melangkah menuju kearah ruang makan dan dia sudah melihat Dirga yang duduk di situ, Dirga yang melihat kedatangan Dena langsung berdiri sambil memegang Hp milik Dena.


“kenapa lama sekali sayang, nih adikmu tadi menelpon” ucap Dirga menyerahkan Hpnya pada Dena.


“Dia bicara apa?” tanya Dena.


“Aku tidak tahu, dia tidak mau mengatakannya padaku.” Jawab Dirga.


“aku mau menelponnya dulu,” ucap Dena dan akan pergi tapi Dirga menahan tangannya.


“Buatkan aku jus dulu, bukannya tadi aku sudah bilang padamu” ucap Dirga menahan Dena pergi.


“Jus apa?” singkat Dena.


“Jus mangga yang seperti kemarin, itu enak “ ucap Dirga dan menggandeng tangan Dena mengajaknya ke dapur.


“Lepaskan, aku buat kan dulu” ucap dena melepas tangan Dirga, dia lalu berjalan menuju kulkas mengambil kotak makan yang berisi mangga yang sudah ia potong-potong kemarin.


Baru saja Dena akan memasukkannya kedalam belender Hp yang ia taruh di atas kulkas berbunyi.


“Dirga bisa tolong ambilkan Hp ku, aku akan membuatkan mu jus” Dirga menuruti saja dia mengambilkan Hp milik Dena yang ada di atas kulkas.


“Kembaran Mu yang menelpon” ucap Dirga menyerahkannya pada Dena. Dena segera mengangkat panggilan itu, ada apa Daniel menelponnya lagi.

__ADS_1


“Halo Daniel, ada apa?” ucap Dena saat mengangkatnya.


“Apa Papa sakit, tumben. Kenapa kamu menyuruhku untuk merawatnya” ucap Dena sinis.


“Istrinya kemana?” tanya Dena lagi.


“Baiklah aku ke sana” ucap dena pada akhirnya dan sambungan telpon akhirnya berakhir.


Dirga berjalan mendekati dena,


“Ada apa?” tanyanya.


“Aku harus ke rumahku, Papa sakit” ucap Dena sambil menghidupkan blender.


“Aku antar ya,” ucap Dirga memberi tawaran


Dena mengangguk mengiyakannya. Dia menuang jus mangga kedalam gelas, dan memberikannya pada Dirga yang berdiri di sampingnya.


………………


Dena dan Dirga sudah sampai di rumah Marco. Mereka segera masuk kedalam rumah besar itu,


“Dimana Papa,?” tanya Dena pada Daniel yang duduk di sofa ruang tengah. Daniel yang tadinya tidak melihat kedatangan Dena dan Dirga langsung mendongak melihat mereka berdua. Dia menatap sinis Dirga


“Kenapa kau mengajaknya” ketusnya pada Dena.


“Kamu lupa aku suami kembaran mu” ucap Dirga yang menyadari kalau perkataan itu untuknya,


Daniel hanya diam saja tidak menyahuti lagi.


“Papa di atas, kamu ke sanalah” ucap Daniel pada Dena memperhatikan lantai atas.


“Di atas, di kamar tamu?” tebak dena.


“Papa di sana? Kenapa dia ada di sana, bukannya dia sendiri dulu yang melarang kita untuk masuk ke sana” bingung Dena mendengar apa yang di ucapkan Daniel.


“Kamu lihat saja sendiri, aku harus pergi, aku sibuk” ucap Daniel dan langsung melangkah berjalan.


“Kau mau kemana?” tanya Dirga seperti menggantikan Dena yang berbicara.


“Ada sesuatu yang ku urus” Daniel langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang itu yang tengah menatapnya.


“Sudah biarkan saja kembaran mu pergi, ayo kita keatas” ucap Dirga saat melihat Dena yang terus-terusan menatap kepergian Daniel. Dia heran kemana akan perginya Daniel, apa yang akan dia lakukan.


“Ayo sayang, kata kembaran mu papa sakit. Ayo lihat dia” ucap Dirga menggandeng Dena berjalan. Dena akhirnya berjalan mengikuti Dirga yang menggandeng tangannya menaiki tangga.


Mereka berdua berjalan menuju ruangan yang dulu sangat terlarang sekali bagi Dena dan daniel memasukinya. Akhirnya rasa penasaran dalam diri Dena saat ini akan terjawab soal ruangan itu sebenarnya apa yang disembunyikan Papanya sehingga melarang mereka berdua untuk memasukinya.


Dirga membukanya secara perlahan dan pintu pun terbuka, mereka berdua melangkah masuk kedalam. Dena begitu terkejut melihat apa yang ada didalam ruangan ini. Foto-foto mamanya dan foto keluarga mereka dulu yang hampir memenuhi ruangan.


Begitu juga Dirga yang terkejut melihat semuanya,


“Ini semua foto mamamu dan foto keluarga kalian kan” ucap Dirga memperhatikan semuanya dan langsung melihat kearah dena yang terpaku memperhatikan semuanya.


Marco yang sedang tidur di tempat tidur merasakan ada seseorang yan masuk kedalam, dan dia terkejut melihat putrinya dan menantunya ada didalam ruangan ini.


“Dena, Dirga. Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Marco mendudukkan dirinya.


Dena langsung melihat kearah Papanya, dia menatap papanya meminta penjelasan.

__ADS_1


“Kau membohongiku dan Daniel, kau masih menyimpannya? Kenapa kau menyembunyikannya dari kita? Kau tidak tahu seberapa sedihnya kita saat tidak memiliki satupun foto mama saat itu, membuat kita menangis sejadinya? Kau tidak tahu, kalau kau menyiksa batin kita?” pertanyaan bertubi-tubi Dena lontarkan untuk papanya.


“Kau masih mencintai Mamaku? Tapi kenapa sikapmu seolah membencinya” ucap Dena merasa tidak yakin.


“Maaf,” lirih Marco dia tidak bisa berkata apa-apa lagi saat dirinya sudah tertangkap basah seperti ini.


“Dena sudahlah, Papa sedang sakit. Jangan banyak bertanya.” ucap Dirga menenangkan Dena memegang bahu istrinya.


Dena berjalan mendekat kearah Papanya yang sudah bangkit berdiri. Marco hanya melihat anaknya yang berjalan mendekatinya, tiba-tiba saja saat Dena sudah berdiri didepannya Dena menyentuh dahinya.


“Tidak panas, kata Daniel kau sakit” ucap Dena dingin di depan Papanya.


“Papa hanya sakit karena mabuk semalam” singkat Marco masih melihat anaknya, yang ternyata bisa bersikap baik juga padanya.


Dena hanya diam saja dan dia berbalik arah menjauh dari Marco.


“Dirga ayo kita pulang” ucap Dena berbicara pada Dirga mengajak pria itu untuk pulang.


Dirga sendiri terkejut mendengar perkataan Dena


“Kita baru sampai kenapa harus pulang,” ucap Dirga memperhatikan Dena yang sudah melangkah pergi.


Dirga lalu menatap Papa mertuanya yang masih memperhatikan kepergian Dena, Dena yang anak kesayangannya dulu kini bersikap dingin padanya. Bahkan dia telah menyakiti anaknya itu, wajar kalau putrinya selalu bersikap kasar padanya dia sendiri sering kasar pada kedua anaknya.


“pergilah Dirga, susul istrimu” ucap Marco pada Dirga yang masih melihatnya.


“Lalu Papa, bukannya sedang sakit” ucap Dirga.


“Papa tidak sakit, hanya lelah dan sekarang juga sudah tidak apa-apa” sahut Marco.


“Kalau begitu aku pergi dulu menyusul Dena” Dirga langsung berlari keluar kamar menyusul Dena.


Marco sendiri melihat kearah foto keluarganya yang dulu, di sana dia menggendong Dena dan Monica menggendong Daniel. Melihat itu air matanya jatuh, keluarganya dulu begitu bahagia karena kebodohannya keluarganya hancur.


“Maaf, Aku telah bodoh menilai mu” ucap Marco mengusap lembut foto keluarganya.


°°°


T.B.C



Di atas itu foto Marco ya kakak", Marco memang masih muda dia nikah sama Monica masih umur 19 tahun jadi wajar kalau anak-anaknya udah gede-gede😁. Dena sama Daniel saja umurnya 20 tahun jalan 21.



Kalau ini Visual yang jadi Dena, semoga sesuai sama yang di bayangin kakaknya ya.



Itu Dirga guys, semoga cocok juga ya.



Si Daniel yang galak, dan dingin kembarannya Dena.



Kalau ini sih Reyhan.

__ADS_1


Kira-kira begitu ya kak Visual mereka, dan belum lengkap semua Visualnya. Kapan-kapan author kasih Visual lagi buat kalian.


Terimakasih🤗


__ADS_2