Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 146


__ADS_3

Waktu sebulan berlalu begitu cepat, hari yang dinanti-nantikan semua orang akhirnya akan segera tiba. Apa yang ditunggu keluarga Suherman Dan Sharman tentu saja suatu hal yang membahagiakan. Dua keluarga besar itu sedang harap-harap cemas menantikan seorang cucu.


Dena sebentar lagi akan melahirkan, karena sedari kemarin dia sudah merasakan kontraksi makanya sekarang dia sedang dirawat dirumah sakit menunggu proses kelahiran anaknya. Dikira Dirga dan yang lain dia akan melahirkan kemarin karena sudah terasa begitu mulas seakan akan melahirkan. Tapi nyatanya dia belum melahirkan kemarin.


Saat ini dia berbaring di ranjang rumah sakit dengan Dirga yang sedari tadi menggenggam tangannya dengan penuh kecemasan.


“Kenapa kamu berkringat sekali?” tanya Dena melihat Dirga yang sudah bercucur keringat.


“Aku gugup sendiri menunggumu yang akan melahirkan,” ucap Dirga memegangi tangan Dena.


“Kenapa harus gu..” perkataan Dena terhenti karena dia merintih kesakitan.


“Arkhh,.” Rintih Dena memegang kuat tangan Dirga.


“Kenapa sayang,”


“Perutku sakit” pungkas Dena sambil mengerang sakit.


“Sepertinya aku akan melahirkan” ucap Dena sambil menahan rintihan.


“Sebentar sayang sebentar, aku panggilkan dokter” dengan cepat Dirga langsung berlari keluar dari ruang rawat istrinya itu.


“Ada apa Dirga?” tanya yang lain yang ada diluar ruangan.


“Dena sepertinya sekarang akan melahirkan Ma” jawab Dirga


Setelah mengatakan itu Dirga langsung pergi untuk memanggil dokter, dia mengabaikan lainnya yang akan bertanya. sungguh dirinya gugup sendiri sekarang.


.........................


Daniel baru sampai di Indonesia saat ini, dia sedang berada didalam taksi. Kemarin dia dikabari kalau kembarannya akan melahirkan. Sudah satu bulan berlalu begitu cepat dan total sudah dua bulanan dia berada di Australia hatinya sedikit tenang saat ini.


Hidup baru harus dia jalani dan kakaknya dendamnya juga sudah hilang dengan dua orang yang sudah diadili secara hukum dan satu orang yang sudah diadili oleh takdir. Untuk Papanya dia harus membuka dirinya lagi untuk orang itu.


Daniel melihat keluar taxi melihat jalanan. Dua bulan berlalu tapi seakan dua bulan adalah waktu yang lama untuknya.


“Menyenangkan seperti bayanganku, lebih enak di Negara sendiri” ucapnya sambil melihat keluar mobil.


“Diumur Ku yang muda sekarang tidak menyangka juga aku bakal jadi seorang Om, waktu berlalu begitu cepat” ucap Daniel.


Dia sekarang akan ke makam Mamanya dulu, berbicara sebentar dengan Mamanya dan baru setelah itu ia akan ke rumah sakit menemui Dena dan keponak-keponakanya yang pasti lucu-lucu.


..................


Taxi yang ditumpangi Daniel sampai juga, Daniel segera turun dan berjalan kearah penjual bunga yang ada di makan itu. Dia membeli bunga dulu sebelum menemui Mamanya.

__ADS_1


Setelah membeli bunga beberapa menit dia berjalan sampailah dia di makam dengan rumput hijau yang tertata rapi.


Daniel menaruh bunga tersebut di pusaran makam sang Mama.


“Ma, apa kabar?”


“Maaf aku sudah lama tidak kesini, tahulah aku kenapa” ucap Daniel sedikit bejongkok.


“Hari ini kamu akan punya cucu, Dena akan melahirkan Ma dan aku akan jadi Om dari dua keponakan” ucap Daniel sambil mengusap nisan sang Mama.


“Terimakasih karena kau telah melahirkan ku dan Dena, walaupun dengan waktu singkat tanpa melihat kami dewasa.” Ucap Daniel mulai berkaca-kaca.


“Aku merindukanmu, dan maaf karena aku sempat tidak ingat dengan wajahmu. Ingatanku buruk Ma” ucap Daniel setetes air mata jatuh di pelupuk matanya yang tajam itu.


“Kamu sudah tenangkan di sana Ma, orang-orang yang membuatmu pergi tanpa melihat kami tumbuh sudah menemui apa yang dia perbuat. Dan suami tercintamu itu kini sudah berubah. Dia menjadi duda Ma sekarang, sering kesepian dia karena dia juga sudah tidak bersama perempuan ular. Dan entahlah kenapa dia sering curhat denganku dengan mengirimkan pesan.” Ucap Daniel bercerita di makam sang mama.


“maaf aku tida bisa lama-lama Ma, aku harus segera ke rumah sakit. Kalau tidak Dena bakal marah denganku, kau tahu sendiri kan bagaimana dia kalau tanpaku padahal sudah ada suami yang menemaninya” ucap Daniel di selingi tawa kecil.


“Aku pergi Ma,” ucap daniel langsung berdiri, dan berjalan menjauh dari makam sang Mama.


................


Dena mengerang, menahan nafas sambil terus mencengkram sisi ranjangnya sedangkan dokter yang ada didepannya terus menerus menyuruhnya untuk mengeluarkan bayinya.


“Argghhh”


“Ayo bu terus dorong, tarik nafas hembuskan” ucap dokter itu memandu Dena.


“Ayo sayang lakukan apa yang dibilang dokter” ucap Dirga.


“Kau diam lah, kau tidak merasakan sakitnya bagaiman” ketus Dena menahan sakit.


“kemari,..” Dena meminta Dirga lebih dekat lagi. Segera saja Dirga mendekat kearah Dena.


“Tolong bu fokus dengan proses kelahiran anda. Jangan bicara dulu” ucap sang dokter.


“Kenapa sayang,” tanya Dirga tidak mengerti saat dia disuruh mendekat.


Dena langsung menarik rambut Dirga dan mengerang sekuat tenaga untuk melahirkan anaknya. Begitu juga Dirga yang mengerang sakit karena istrinya menjambak rambutnya begitu saja.


“Arggh sakit sayang,” ucap Dirga menahan tangan Dena yang menarik rambutnya saat ini.


Terdengar suara bayi yang langsung menangis,


“Selamat tuan dan Nyonya suherman. Anak pertama kalian sudah lahir” ucap sang dokter sambil memberikan bayi pertama itu kepada seorang suster yang mendekat.

__ADS_1


“Sayang, sayang lihat anak kita sudah lahir,” ucap Dirga kesenangan dan dia langsung mendekat kearah bayinya saat ini yang sedang di urus oleh suster.


Dena bisa bernafas dengan lega, sekarang. Dia sudah mengeluarkan anaknya dengan selamat. Dia mengambil nafas dalam-dalam karena tadi begitu menguras tenaganya. Tapi dia belum bisa lega sepenuhnya, dia harus melahirkan anaknya yang satu lagi yang masih ada di perutnya saat ini.


Baru juga dia bernafas lega, perutnya kembali terasa sakit. Dia mengerang lagi mengambil nafas dalam-dalam.


Dirga yang mendengar itu langsung berlari kecil mendekati istrinya lagi,


“Dok, dok istri saya mau melahirkan lagi” ucap Dirga sangat panik.


......................


Diluar ruangan mereka yang ada di luar menunggu proses persalinan Dena saling berpelukan terlihat bahagia karena bayi pertama sudah keluar. Sudah terdengar tangis ditelinga mereka.


Doni dan Sisil saling mengucapkan selamat pada Marco karena mereka sudah memiliki cucu sekarang.


“Yes, aku punya ponakan” ucap Reyhan senang, dia memeluk sang papa yang juga tengah bahagia.


“Iya kamu jadi om, Papa jadi kakek sekarang” ucap Marco dengan bahagia tapi juga rasa sedih mengisi hatinya, tidak ada Monica disini melihat anak mereka yang sedang melahirkan cucu untuk mereka saat ini.


“OM, Tante, selamat jadi Kakek dan nenek ya. Dan Kak Dewa cepetan nyusul kak Dirga udah tua juga” ucap Reyhan pada kedua orang tua Dirga dan dia beralih pada Dewa yang juga ada disitu.


“Sudah, kamu diam saja. Tidak usah bahas diriku” ucap dewa setengah tersenyum meskipun dia diledek Reyhan.


“Dimana Daniel katanya dia mau datang hari ini” ucap dewa menanyakan keberadaan Daniel yang belum kelihatan.


“Aku juga tidak tahu, katanya sih dia mau datang” ucap reyhan.


“Benar kakakmu belum datang juga ya” ucap Marco.


“Ada apa?” ucap Doni dan Sisil berbarengan.


“Ini katanya Daniel mau datang tapi sampai sekarang belum datang” jelas Marco.


“Oh, mungkin dia sedang di perjalanan,” ucap Sisil.


“Itu dia, baru dibicarakan sudah datang” tunjuk Doni kearah Daniel yang berjalan dari arah belakang yang lainnya mendekati mereka.


“Maaf aku sedikit telat, Dena sudah melahirkan?” ucap daniel


“Tidak kok, kamu tidak telat.” Ucap yang lain.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2