Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 112


__ADS_3

Daniel menarik Soraya ke sudut rumahnya lebihnya tempat tersembunyi yang jarang orang lewati. Dia mencengkram leher ibu tirinya itu,


“Kau benar-benar ingin mati ya daripada menyerahkan diri ke polisi, kuberikan kesempatan tapi kau malah tidak tahu diri” Sinis Daniel masih terus mencengkram leher Soraya.


“Le..lepaskan aku” Soraya berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman tangan Daniel yang membuatnya sesak.


“Tidak akan ku lepaskan, sebelum kau memberitahu siapa yang kau telpon tadi. Kenapa kau membawa-bawa namaku dan Dena” Daniel berbicara dengan cukup mengerikan.


Dia tadi saat tidak sengaja ingin menuju ke kamarnya. Ia mendengar suara orang yang bicara saat ia dekati ternyata itu Soraya yang sedang berbicara dengan seseorang dan menyebut-nyebut namanya dan juga Dena.


“Daniel sedang apa kamu disini?” sebuah suara membuat mereka berdua menoleh kearah sumber suara tersebut.


“Dena sedang apa kau disini” ucap Daniel dengan masih mencengkram kuat leher Soraya.


“Dena,.Dena tolong aku, lepaskan tangan adikmu yang sudah gila ini dari leherku” ucap soraya dengan bersusah payah.


Dena hanya diam saja, dia berjalan mendekati Daniel dan juga Soraya.


“Daniel lepaskan,” dena melepaskan tangan Daniel dari leher Soraya. Soraya sudah senang dengan itu senyum kemenangan datang padanya. Tapi itu semua langsung pudar saat tangan Daniel berganti dengan tangan Dena yang mencengkram lehernya.


“Kenapa kau tersenyum? Merasa aku akan menolong mu. Kau salah” sinis Dena dengan menekankan tangannya di leher Soraya.


Daniel melihat itu tersenyum sinis melihat Soraya yang mencoba mengatur nafasnya.


“Kau kira aku luluh dengan apa yang kau perintahkan pada papa membuat acara seperti semalam. Aku bukan orang bodoh, kau tenang akhir-akhir ini karena agar kau tidak diusir dari sini kan. Tapi harapanmu saat ini Zonk,”pungkas Dena menatap manik mata Soraya serta usaha yang dilakukan Soraya yang akan melepaskan tangannya.


“Kau berencana menghabisi kita berdua kan? Sebelum kau menghabisi kita. Anakmu itu sudah kita habisi terlebih dahulu mengerti. Kau pilih mana” Daniel mendekatkan dirinya pada Soraya.


“Kau dengar ucapan Daniel barusan. Pikirkan itu” Dena langsung melepaskan tangannya dari leher Soraya.


“Kita beri waktu tidak sampai seminggu. Alihkan semua harta mamaku yang sudah atas namamu ke nama panti Harapan Bunda mengerti. Jika kau tidak melakukannya, anak kesayanganmu itu akan menyusul Mama kita” tukas Daniel menata Soraya.


Plakkk


Dena menampar Soraya,


“Kau gila,” bentak Soraya tidak terima.


“Bisa dibilang begitu” Dena menarik rambut soraya dan membenturkan kepala perempuan ular itu ke dinding.


“Ayo Daniel kita pergi” Setelah melampiaskan apa yang ia inginkan Dena mengajak Daniel untuk pergi.


“Ingat apa yang kita ucapkan” Sebelum pergi Daniel mengatakan hal itu pada mereka.


“Dasar anak-anak iblis” teriak Soraya dengan kesal saat Daniel dan Dena meninggalkan dirinya sendiri.


...............


Dirga dan Dena saat ini dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Dirga menepati janjinya pada Dena yang mengajak pulang. Jalanan saat ini sedang sangat ramai bahkan mereka sekarang berada ditengah-tengah kemacetan lalu lintas.

__ADS_1


“Jalannya macet banget sih, kamu sih aku ajak pulang dari kemarin tidak mau. Sekarang macet kan” gerutu Dena menyalahkan Dirga atas kemacetan yang dialaminya sekarang.


Dirga melihat kearah Dena.


“Kok kamu nyalahin aku sih sayang, kemarin pun juga macet buka sekarang aja” tukas Dirga.


Dena diam saja dan langsung mengalihkan wajahnya keluar jendela. Namun tiba-tiba dia mengerang sakit sambil memegangi perutnya.


“Arggh, sakit” keluhnya sambil memegangi perut.


Mendengar rintihan istrinya tentu saja Dirga langsung melihatnya.


“Ada apa sayang? Perutmu sakit” nada khawatir keluar dari mulut Dirga saat ini.


“I..iya, arggh sakit” rintihan Dena semakin menyayat.


Dirga bingung sendiri sekarang, apa yang harus ia lakukan. Mereka tidak bisa bergerak kemana-mana karena macet.


“Sebentar sayang, tahan ya. “ Dirga benar-benar gugup dalam situasi sekarang.


“Ayo keluar, perutku sakit.” Ketus Dirga terus mengerang sakit.


“Keluar? Keluar kemana? Ini macet sayang”


“Kamu mau aku dengan anakmu kenapa-kenapa”


Dirga langsung membuka pintunya, berjalan keluar dari mobil berlari mengitari mobil membukakan pintu untuk Dena. Tentu saja ia tidak ingin istri dan anaknya kenapa-kenapa dengan segera ia menggotong Dena di tengah jalan tidak perduli dengan mobil yang lain yang sedari tadi meng klakson dirinya.


“Aku mohon jangan kenapa-kenapa ya, sabar sayang aku akan membawamu ke rumah sakit” ucap Dirga pada Dena yang mengerang sakit sedari tadi.


“Aku tidak apa, turunkan aku” ucap dena begitu saja. Tidak merasa sakit lagi.


Mendengar itu Dirga merasa bingung sendiri.


“Apa maksudmu?”


“Perutku tidak sakit, turunkan aku” ucap Dena mengulang perkataannya tadi.


“Apa? Tadi kamu merintih kesakitan minta keluar dari mobil” Dirga memperhatikan Dena


“Kamu membohongiku?’ pungkas Dirga menatap manik wajah Dena.


“Hehe iya,” Dena malah tersenyum karena telah membohongi suaminya.


Dirga langsung menurunkan Dena dari gendongannya.


“Kamu tega sekali membohongiku ya sayang. Tahu tidak aku khawatir sekali tadi” Dirga menatap lekat wajah dena.


“Marah?”

__ADS_1


Dirga diam saja mengalihkan pandangannya,


“Kamu pikir” lirihnya tanpa menatap Dena.


“Maaf,” dena merasa bersalah dan memeluk lengan Dirga.


“Ya sudah ayo kita pulang. Kamu tidak lihat mobilku di tengah-tengah jalan” Kesal Dirga.


“Ayok,.” Dena malah melangkah lebih dulu menuju mobil mereka yang berada di tengah jalan. Padahal yang mengajak Dirga malah dia yang berjalan lebih dulu.


Dirga hanya melihat saja Dena yang sudah pergi, kemudian dia berjalan mengikuti istrinya itu menuju mobil yang berada di tengah jalan.


.............


Dirga keluar dari mobilnya begitu saja, meninggalkan Dena yang masih berada didalam mobil menatapnya.


Dena ikut keluar dari mobil menyusul dirga yang sudah berjalan menjauh.


“Dirga kamu marah soal tadi, aku minta maaf” ucap Dena berjalan mengejar Dirga yang meninggalkannya.


“Dirga..” teriak Dena agar Dirga berhenti. Tapi Dirga juga tidak berhenti berjalan dia terus masuk kedalam rumah.


“Apa?” setelah melangkah jauh entah kenapa dia memilih berhenti dan melihat Dena yang berdiri dibelakangnya.


“Kamu mau membodohi ku lagi seperti tadi” kesal Dirga menatap istrinya.


“Aku minta maaf” ucap dena pada Dirga yang tampak kesal.


Dirga diam saja memperhatikan Dena,


“Kamu minta maaf, apa dengan minta maaf begini bisa membuat tidak kesal padamu” Dirga menatap Dena begitu serius.


“Tidak, karena kamu keras kepala jadi tidak bisa membuatmu berhenti kesal” ucap Dena layaknya anak kecil.


“Itu kamu tahu,” sengit Dirga.


Setelah mengatakan itu Dirga malah pergi meninggalkan Dena ditempatnya.,


“Kok kamu malah meninggalkanku sih, tunggu” Dena berjalan mengejar Dirga.


Baru beberapa langkah kaki Dena terseok dan akan jatuh. Untung saja sebuah tangan segera menangkapnya.


“Kak Dewa?” ucap Dena saat dia melihat siapa yang menolongnya dan membantunya berdiri tegap lagi.


Dewa melihat Dena sekilas dan langsung melihat Dirga yang melangkah pergi tidak mengetahui istrinya akan jatuh.


“Dirga..” Bentak Dewa keras, membuat langkah Dirga langsung berhenti.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2