Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 130


__ADS_3

Reyhan duduk sendiri didepan tv saat ini, dia merasa kesepian biasanya ada Daniel yang menonton tv dengannya. Tapi sekarang dia sendiri, menyebalkan memang kakaknya itu baru juga mereka akur eh malah sekarang dia pergi sudah seminggu tidak pulang atau mengabari dirinya. Sakit ya menyayangi orang yang tidak sayang dengan kita, kenapa sih dia bisa baik sekali dengan Daniel padahal Daniel tidak pernah baik dengannya.


“Kakakmu tidak menelpon?” ucap Marco yang baru saja datang dan duduk disebelah Reyhan.


“Kakakku siapa Pa? Kakakku ada dua” pungkas Reyhan.


“Daniel, dia belum menelpon seminggu ini” ucap Marco, jujur dia gelisah memikirkan anaknya yang nomer dua.


“Belum, coba Papa telpon kak Daniel pa. Tanya dia bagaimana?” ucap reyhan bersemangat menatap papanya memelas.


“Kenapa tidak kamu saja?Nanti kalau Papa yang menelpon tidak diangkat” ucap Marco merasa sedih.


“Ya tidak apa-apa Pa, setidaknya menunjukkan kepedulian Papa padanya. Biar dia luluh”


“Ya sudah Papa telpon dia” ucap Marco, segera merogoh saki celananya mengambil Hp miliknya untuk menelpon sang anak.


Marco mulai menghubungi Daniel, lama sekali panggilan tidak diangkat, dan sudah menunggu lama panggilan juga tidak kunjung diangkat.


“Tidak diangkat Reyhan,” ucap Marco terdengar sedih.


“Mungkin dia sibuk Pa, dia sibuk jalan-jalan. Atau nggak ngobrol sama keluarganya disana. Bukannya Papa pernah bilang semenjak Daniel besar ia belum pernah ke sana” Reyhan mencoba membuat Papanya tidak memikirkan tentang Daniel yang tidak menjawab panggilannya.


“Iya mungkin,” jawab Marco pelan. Kenapa susah sekali dirinya untuk sekedar memulihkan hubungan dirinya dengan anak-anaknya dulu. dengan cara apa lagi dia mendekatkan diri dengan anak-anaknya. Apa dengan cara dia menghilang saja,. Batin Marco serasa tercabik, perih rasanya kedua buah hatinya membenci dirinya saat ini


“Papa keatas dulu ya Reyhan” lirih Marco mulai berdiri. Tapi kakinya berhenti saat Hp dalam genggamannya berbunyi. Dia melihat siapa yang menelponnya. Matanya terperanjat melihat siap yang menelponnya saat ini.


“Dena,..” gumamnya saat melihat nama siapa yang tertera di layar Hpnya.


Marco segera duduk kembali dan melihat kearah Reyhan yang juga langsung melihatnya.


“Angkat Pa cepat, keburu kak Dena mematikannya. Kak Daniel nggak bisa di telpon kak Dena sekarang nelpon Papa kan” ucap Reyhan meminta papanya untuk segera mengangkat panggilan tersebut.


Dengan segera Marco langsung mengangkatnya.


“Iya, halo Dena,.” Ucap Marco menahan rasa bahagianya. Karena ini pertama kali dena menelpon dirinya terlebih dahulu.


“Papa besok sibuk tidak” ucap Dena dari seberang sana, masih dengan nada datar.

__ADS_1


“Tidak, kenapa?”


“Aku besok mau ke Australia, papa ikut tidak”


“Kamu akan ke Australia? Menemui Daniel?”


“Ya,.”


Marco terdiam, dia melihat Reyhan yang seakan bilang kenapa Pa. Haruskah ia ikut ke Australia, kalau dia ikut nanti. Apakah keluarga Monica menerimanya setelah apa yang ia lakukan terhadap putri mereka. Tapi dia ingin ikut, ini ajakan langsung dari dena untuk pertama kalinya.


Demi anak-anaknya, dan Demi dia bisa bersatu dengan kedua anaknya. Sudah diputuskan dia akan ikut ke Australia, walaupun entah di sana dia akan dihajar atau dihabisi keluarga Monica dia tidak perduli, yang ia perduli kan. Ia bisa bersatu dengan anak-anaknya. Itu yang penting di pikirannya sekarang.


“Ya Papa ikut, papa dan Reyhan iku denganmu dan Dirga” ucap Marco.


“Ya sudah kalau begitu, kita tunggu di bandara besok” ucap Dena. Dan langsung menutup panggilannya begitu saja.


Marco menghela nafasnya, dia menatap si bungsu disebelahnya yang tengah menatapnya bingung.


“Ada apa Pa? Kak Dena bilang apa?”


“Tapi Pa, itu keluarga mereka bukan keluargaku. Bagaimana kalau mereka tidak menerimaku, dan diriku anak dari pembunuh anak mereka” ucap Reyhan terdengar cemas dan risau. Serta sorot matanya berubah menjadi sayu.


Marco langsung terdiam, benar juga apa yang dikatakan Reyhan. Bisakah mereka juga menerima Reyhan. Dia sendiri saja tidak tahu mungkinkah mereka nantinya menerima dirinya.


“Tidak Apa, kamu ikut saja. Misalkan kalau kamu takut, kamu di hotel saja Papa akan memesan hotel untuk kita” ucap Marco memegang tangan Reyhan menenangkan anaknya itu.


“Ya sudah aku ikut, ini demi papa dan kakak-kakakku baikan. Aku sayang kalian bertiga” ucap Reyhan menguatkan dirinya yang sebenarnya ingin menangis haru.


Marco tersenyum kecil, sambil mengusap rambut Reyhan dengan lembut ia bangga dengan anaknya ini. Di usianya yang muda tapi pemikirannya yang dewasa.


“Kamu sama seperti Jason, sifat kalian sama. Kamu anak Papa tapi sifat Papa sama Mama kamu tidak ada yang menurun ke kamu. Sifat kamu malah mirip om mu itu” ucap Marco sambil tersenyum melihat kemiripan sifat Reyhan dan Jason adiknya.


“Iya dong, karena aku dikandungan Mama dulu berdoa, agar sifatnya tidak seperti Mama atau Papa. Kalau seperti papa, wow pasti dan Papa bakal pusing karena sifat ketiga anaknya bisa keras kepala sekaligus dingin kayak Papa”


“Kamu bisa saja,”


“Aku heran deh sama Kak Daniel sama Kak Dena. Kenapa dia bisa persis banget sifatnya kayak Papa ya. Mama Monica dulu ngidam apa sih Pa.? Padahal Mama Monica dulu orangnya baik banget kan Pa?” ucap reyhan.

__ADS_1


“Iya, dia baik banget. Bukan baik lagi tapi sangat baik. Dia orang yang baik, murah senyum, lembut, penuh kasih sayang, sabar dan sangat mencintai Papa” ucap Marco miris mengingat mantan istri pertamanya dulu. Dia seakan pilu mengingat betapa baiknya Monica dulu. Makanya teman-temannya begitu menyayangi dirinya, contohnya Sisil dan Heja. Marco tersenyum getir mengingatnya.


........................


Dena memandangi Hpnya, dia baru saja menelpon papanya. Semoga keputusannya ini tepat, hatinya sudah siap memaafkan Papanya. Ia tadi barusan mengajak Papanya untuk ke Australia juga, karena ia ingin mempertemukan keluarga Mamanya dengan Papanya. Mereka sudah lama tidak bertemu, ia ingin melihat bagaimana ekspresi Opa dan Omanya saat melihat Papa Marco nantinya.


Dengan begitu ia bisa mencocokkan dengan dirinya, artinya jika orang tua Mamanya yang telah kehilangan putri mereka bisa memaafkan orang yang telah membuat anak mereka tersiksa dan Dia juga harus memaafkannya. Opa dan Omanya saja bisa memaafkan kesalahan Papanya kenapa dia tidak,. Itulah yang menjadi pemikirannya saat ini.


“Sayang kenapa melamun begitu?” ucap dirga yang baru saja masuk kedalam kamar yang ada di ruangan Samuel.


“Aku tidak melamun, aku hanya berpikir sebentar” pungkas Dena melihat kearah Dirga.


“Kamu sudah selesai berbicara dengan mereka berdua?” tanya Dena pada Dirga yang sudah duduk disebelahnya.


“Sudah, dan mereka sekarang sudah aku suruh keluar” ucap Dirga.


“Kenapa kamu suruh mereka keluar?”


“Ya karena kamu tadi pengen sesuatu kan. Nanti kalau tidak aku suruh keluar. Mereka bisa mendengar desahan seksi kita” ucap Dirga terkesan sensual.


Dena langsung tersipu malu mendengarnya,


“Apaan sih,.”


“Masih pengen nggak, kalau masih ayo lakukan disini” ucap Dirga melihat manik mata Dena dengan begitu dalam.


Dena hanya mengangguk saja, Dirga langsung menyeringai senang mendengar ini.


Tanpa menunggu lama dia langsung memulainya dengan mencium istrinya terlebih dahulu. Dia ******* bibir manis Dena yang selalu membuatnya candu saja.


Tangannya bergerak aktif menarik dres Dena keatas secara perlahan agar tidak menyakiti bayinya yang ada didalam perut sang istri. Dirga menyusuri seluruh tubuh istrinya yang setengah polos tersebut, ia menciumi perut polos sang istri.


Dan dia siap untuk memuaskan hasratnya, dena sendiri tampak menikmati sentuhan dan belaian dari Dirga. Ia menarik Dena pelan, dan merubah posisi mereka menjadi Dena yang berada diatasnya. Mereka berdua segera melampiaskan kebutuhan mereka masing-masing saat ini.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2