
“Ma, Mama..” ucap Dirga teriak-teriak mencari Mamanya yang entah dimana sekarang.
“Ada apa sih Dirga, teriak-teriak begitu didalam rumah” ucap Sisil yang baru saja keluar dari kamar tamu habis membereskan kamar tersebut.
“Mama tahu istriku dimana tidak?” ucap Dirga menanyakan keberadaan dena, karena sedari ia bangun tidak melihat istrinya itu sama sekali.
“Dena sedang keluar bersama Reyhan, memangnya kamu tidak tahu?” ucap Sisil menjawab pertanyaan anaknya dan balik bertanya.
“Tidak Ma, aku masih tidur tadi” ucap Dirga.
“Kenapa dia tidak bilang padaku sih, dia sedang hamil besar begitu sering capek kalau jalan malah keluar” ucap Dirga menggerutu sendiri memikirkan istrinya.
“Salahmu sendiri, makanya jangan tidur terus. Mentang-mentang uang masuk sendiri ke rekening” ucap Sisil terkesan mengomeli anaknya.
“Kemana mereka pergi?”
“Katanya sih mau ke Mal, istri kamu pengen makan eskrim” jawab Sisil.
“Sudah dulu ya, Mama mau membereskan kamar tamu ini” ucap Sisil dan akan pergi.
“Kenapa Mama membereskan kamar tamu, memang akan ada tamu datang kerumah kita” ucap Dirga merasa heran.
“Ada, rekan bisnis Papa dari luar negeri akan datang kesini” ucap Sisil
“Sudah ah Jangan ganggu Mama, Mama sibuk” ucap Sisil dan langsung berlalu pergi meninggalkan Dirga.
“Ma, bilang dulu Dena ke Mal mana? Kenapa Mama ijinin dia keluar tadi?” ucap Dirga dengan keras.
Namun tidak di sahut oleh Sisil karena perempuan itu sudah pergi entah kemana sekarang.
“Menyebalkan” gerutu Dirga lalu berjalan ke ruang tamu. Dia akan menelpon istrinya sekarang.
..................
Dena dan reyhan berjalan kearah food court yang ada di mal tersebut, Reyhan sedang ingin menemui temannya yang baru saja datang dari Jerman teman sekolahnya dulu saat dia di sana.
Dena sendiri hanya mengikuti saja, tangannya ia kaitkan di lengan Reyhan saat ini. Pria itu sendiri yang memintanya dan tentu saja ia mau karena ia butuh pegangan untuk berjalan.
“Kak, tidak apa kan menemui temanku dulu sebelum kita pulang?” ucap Reyhan sambil berjalan melihat kakaknya yang berjalan tepat disampingnya saat ini.
“Iya tidak apa, habis ini kita baru pulang” ucap Dena.
“Kakak mau makan apa lagi? Nanti aku yang belikan” ucap reyhan.
“Tidak, aku sudah tidak ingin apa-apa lagi” jawab Dena.
Reyhan hanya diam, terus berjalan bersama Dena menuju Foodcourt untuk menemui temannya saat ini.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa menit, mereka berdua akhirnya sampai di area Food court. Ada seorang pria yang melambaikan tangannya kearah reyhan saat ini.
“Hoii, kau sudah datang” ucap reyhan dengan senyuman saat melihat pria tersebut.
“Itu temanku kak?” ucap Reyhan pada Dena.
“Itu temanmu” ucap dena memperhatikan pria yang seumuran dengan Reyhan.
“Iya, itu salah satu teman karibku di Jerman dulu” ucap Reyhan.
“Wow, Reyhan. Kau pulang dari Jerman sekarang sudah punya istri sedang hamil besar lagi” ucap teman Reyhan tersebut saat Reyhan sudah berada didepannya dengan menggandeng seorang perempuan hamil.
“Masih aja ngaco kamu Kelvin, kenalkan ini kakakku bukan istriku” ucap reyhan mengenalkan Dena pada pria yang bernama Kelvin tersebut.
“Oh jadi ini kakakmu yang sering kau ceritakan padaku dulu” ucap Kelvin pada Reyhan. Dia segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada Dena.
“kenalkan, aku Kelvin temannya Reyhan” ucap Reyhan pad Dena dengan tangan yang terulur.
“Aku Dena kakaknya,” ucap Dena membalas jabat tangan itu.
“Duduk kak,” ucap Reyhan menarik kan kursi untu Dena duduk.
Dena langsung duduk begitu juga Reyhan yang duduk di sebelah Dena saat ini.
“Kamu pergi ke Indo bilang sama bokap mu?” ucap reyhan melihat Kelvin.
“Eh, ini serius kakakmu. Bukan pacarmu yang lagi hamil diluar nikahkan?” ucap Kelvin terang-terangan dia memperhatikan Dena yang ada di sebelah Reyhan.
“Astaga, kau kalau bicara asal ya. Ini memang kakakku,”
“Iya sih sedikit mirip kau tampan dan kakakmu cantik. Kenapa kamu harus sudah menikah sih kak, aku tertarik denganmu” ucap Kelvin lagi terang-terangan dia melihat Dena.
“Hoi, jangan asal kau. Jangan goda kakakku mengerti, suaminya mengerikan” ucap Reyhan menegur Kelvin.
“Daniel ayo kita pulang” ucap Dena langsung berdiri, dia tidak suka pembicara dengan pria yang genit.
“Kak, kita baru saja duduk. Masa sudah mau pulang” ucap reyhan pada kakaknya.
“Iya kalian baru saja datang masa sudah mau pulang lagi sih” tukas kelvin.
“Reyhan ayo,” Dena sudah berdiri dulu mengajak Reyhan untuk pergi.
“Kelvin, lain kali lagi kita ketemu ya. Kakakku sudah mengajak pulang, maklum ibu hamil. Kau masih berapa hari disini?”
“Aku seminggu di Indo, kapan-kapan kalau gitu kita jalan. Ya sudah sana pergi” ucap kelvin menyuruh Reyhan.
“Oke kalau gitu, sampai ketemu lain kali. Kalau tidak kamu main ke rumahku oke, nanti aku kirim alamatnya” ucap reyhan pada Kelvin.
__ADS_1
“Oke.”
Reyhan dan dena segera pergi dari situ meninggalkan kelvin yang hanya diam melihat mereka.
.................
Dirga kesal sendiri sekarang, bagaimana tidak kesal saat dia ingin menghubungi Dena malah istrinya itu tidak membawa Hp miliknya. Sedari tadi Dirga gelisah sendiri naik turun tangga dan sekarang duduk kembali di sofa ruang tengah dengan kesal.
Terdengar langkah dua orang yang berjalan masuk kedalam, membuat Dirga langsung berdiri dari duduknya saat ini.
“Kamu dari mana saja sih sayang, aku nyariin kamu juga. Hp ditinggal di rumah tuh kenapa? Sudah hamil tua juga masih jalan-jalan entah kemana” ucap Dirga berjalan mendekati Dena yang mengaitkan tangannya di lengan Reyhan.
“Kamu cerewet banget sih, aku baru juga datang” kesal dena, walaupun kesal dia memegang tangan Dirga saat ini.
“Antar kan aku duduk,” Dirga melihat istrinya itu tapi dia tetap saja mengantarkannya duduk di sofa.
“Kamu ini sudah tahu kakakmu sedang hamil besar, malah kau ajak keluar. Seharusnya kau ijin dulu denganku” ucap Dirga mengomeli Reyhan.
“Parah Kak Dirga, Marahin kak dena. Dia yang terus mengajak keluar katanya ingin makan es krim” pungkas Reyhan tidak terima bila disalahkan.
“Kamu kenapa nggak bilang sama aku kalau pengen eskrim, aku kan bisa anterin”
“Kau saja masih tidur bagaimana kau mau bilang”
“Ya bangunkanlah,”
“kelamaan, keburu tidak ingin” ucap dena.
“Kamu ini memang, tidak mau saja membangunkan ku. Apa salahnya coba bangunkan aku sebentar.” Ucap Dirga masih melampiaskan kekesalannya.
“Kamu berisik sekali sih, kamu tidak takut Gibran dan Gian mendengarnya” ucap Dena menatap Dirga kesal dengan pria itu yang terus mengomel.
“Tidak, mereka kan berpihak padaku. Apa yang aku bilang benarkan”
“tunggu-tunggu, kalian membicarakan Gibran, Gian siapa mereka?” tanya Reyhan yang tidak mengerti mereka itu siapa.
“Keponakanmu lah, siapa lagi?”
“keponakanku siapa? Aku belum punya keponakan Kak Dena saja masih hamil” ucap reyhan polos.
Dirga menggaruk wajahnya kasar,
“Ya mereka yang ada diperut kakakmu. Sayang ayo ke atas meladeni dia membuatku tambah kesal.” Dirga langsung memegang tangan Dena mengajak istrinya itu untuk berdiri.
“Huh, aku juga tidak mau bicara denganmu. Kak Dena aku pulang ya. Suamimu terlalu banyak omong.” Kesal Reyhan yang juga berdiri dan pamit untuk pergi.
°°°
__ADS_1
T.B.C