
Mobil Range Rover putih telah berhenti di depan panti Asuhan Kasih Bunda. Mobil siapa lagi kalau bukan milik Dirga.
Dena dan Dirga turun secara bersamaan dari dalam mobil.
"Ini pantinya sayang?" tanya Dirga saat sudah berada di samping Dena. Dia melepas kacamata hitamnya memperhatikan panti yang berdiri kokoh di depannya.
"Iya ini salah satu panti dimana mamaku menjadi Donatur" jelas Dena pada Dirga.
"Oh,..Mamamu dulu berarti orang yang penuh kepedulian ya" ucap Dirga merasa takjub dengan ibu mertuanya yang belum pernah ia lihat.
"Ya begitulah Mamaku. Kata Bija mama memang orang yang penuh kepedulian. Ayo kita masuk, didalam pasti sudah ada Bija" Dena segera berjalan duluan.
Dengan segera Dirga menahan lengan Dena saat perempuan itu akan lebih dulu berjalan.
"Kita jalan bareng kenapa?sama suami sendiri cuek amat." protes Dirga dan langsung menggandeng tangan Dena.
"Maaf" hanya ucapan singkat keluar dari mulut Dena.
"Bija teman mamamu ya sayang?" tanya Dirga berjalan sambil menggandeng tangan Dena.
"Iya dia teman Mamaku dan juga Mama Sisil" jawab Dena.
"Mamaku kenal juga?" Dirga tampak terkejut jika mamanya juga mengenal orang yang bernama Bija itu.
"Iya,." singkat Dena.
"Aku ingin mengenalkan mu padanya. Karena dia sudah seperti ibuku dan Daniel" ucap Dena memberitahukannya pada Dirga.
"Tumben kamu ingin mengenalkan ku pada orang-orang terdekatmu" Dirga memperhatikan Dena tak percaya.
"Karena kau suamiku, jadi aku harus memberitahukan siapapun yang dekat denganku padamu" ucap Dena.
Mendengar itu Dirga langsung berhenti begitu saja sebelum masuk kedalam panti. Padahal saat ini sudah ramai di luar karena orang-orang yang datang atas undangan pihak panti.
"Kenapa kau menghalangi jalan" bingung Dena karena Dirga berhenti tepat di depannya.
"Aku suamimu kan. Maka panggil aku sayang juga dan gunakan kata kamu bukan kau. please sayang panggil aku begitu ya. Karena aku bukan orang asing bagimu" ucap Dirga terkesan memohon di depan Dena.
Dena mendongak memperhatikan Dirga yang tampak memohon dengan raut wajahnya.
"Iya," hanya jawaban singkat saja dari Dena.
Walaupun hanya jawaban singkat membuat Dirga girang sekali, dia langsung memeluk Dena begitu saja dan mengangkatnya.
"Ahh, gitu dong. Makin cinta aku sama kamu sayang. Coba sayang aku ingin dengar kamu memanggilku sayang" ucap Dirga masih dengan mengangkat tubuh Dena sehingga membuat perempuan itu lebih tinggi darinya.
"Dirga turunkan aku, aku malu" Pinta Dena menyuruh Dirga untuk menurunkannya.
"Aku tidak mau, aku ingin dengar kamu manggil aku sayang. Kamu dulu menyuruhku untuk tidak memanggilmu honey maka aku menurutinya dan sekarang gantian dirimu menuruti ku. Tolong panggil aku sayang, kalau kamu tidak memanggilku sayang, aku tidak akan menurunkan mu"
Dena diam saja, pandangannya mengitari sekeliling melihat orang-orang yang melewati mereka terus memperhatikan.
."Cepat sayang, kamu nggak mau kan dilihatin semua orang seperti ini" ucap Dirga.
__ADS_1
"Tu..turunkan aku sa..sayang" dengan ragu Dena mengatakan semuanya.
"Apa? kamu bilang apa tadi sayang. Aku tidak dengar" ucap Dirga.
"Sayang turunkan aku" ucap Dena sedikit mengeraskan suaranya.
"Nah gitu dong" dengan senyum yang mengembang Dirga menurunkan Dena.
"Puas," sinis Dena karena dia merasa malu saat ini.
"Puas banget, I Love you sayang ku" ucap Dirga dan langsung mencium pipi Dena.
"Yuk masuk" Dengan begitu saja Dirga menarik tangan Dena untuk masuk kedalam.
………………
Di taman belakang panti, Dirga duduk di atas karpet yang digelar di bawah pohon, ia bermain gitar dengan dikelilingi anak-anak panti tersebut sementara Dena dan Bija duduk di kursi taman yang tidak jauh dari situ memperhatikan Dirga yang menghibur anak-anak.
"Dia sepertinya baik Dena," ucap Bija melihat kearah Dena yang sedari tadi melihat kearah Dirga.
Dena langsung melihat kearah Bija.
"Apa Bija?" Dena yang tidak fokus mendengar justru malah bertanya.
"Dia orang yang baik" Bija mengulangi ucapannya lagi.
"Reyhan juga bilang begitu" sahut Dena dan kembali memperhatikan Dirga.
"Reyhan?anak Papamu dengan perempuan itu?" tanya Bija terdengar penasaran.
"Bija harap kamu dan suamimu bahagia. Aku yakin dia orang baik dan yang aku lihat dia sangat mencintaimu"
"Aku melihatnya juga begitu Bija, tapi aku takut kalau dia akan seperti Papa. Dulu Mama dan Papa juga saling mencintai tapi apa Papa meninggalkan Mama dan kita." Dena terdengar sedih mengatakan itu semua.
"Itu karena Papamu dibodohi, kalau tidak ia tidak seperti itu. Bija dengar dari Daniel Papamu sekarang menyesalinya kan? Dan Dena dengar kan Bija Dirga bukan orang yang seperti Papamu. Dia bukan orang bodoh seperti Marco Papamu." ucap Bija terkesan memberikan nasehat pada Dena.
"Kamu mencintainya kan?kalau benar perdalam cintamu padanya" ucap Bija lagi.
"Iya, aku sangat mencintainya sekarang Bija. Meskipun aku takut dengan hubungan kami nantinya" Dena memperhatikan Dirga yang tampak tersenyum dan bercanda gurau dengan anak-anak.
"Buang rasa takutmu itu, dan mulai kebahagiaanmu dengannya" ucap Bija memberikan keyakinan untuk Dena.
"Sayang, kenapa kamu disitu saja. Kemari temani aku dengan anak-anak," panggil Dirga cukup keras menyuruh Dena untuk menemaninya.
"Itu suamimu memanggil, sana dekati dia" suruh Bija.
Dena sesekali memperhatikan Bija dan Dirga. Dia langsung berdiri,
"Bija, aku ke sana dulu" ucapnya dan langsung berjalan menemui Dirga setelah mendapat anggukan dari Heja.
°°°°°
Dena baru saja selesai mandi, mereka baru saja pulang dari panti. Mereka pulang terlalu larut sehingga membuatnya terpaksa untuk mandi malam.
__ADS_1
Dena keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi berwarna biru muda. melihat sekeliling kamar setelah dirasa aman karena tidak ada Dirga, ia segera keluar dan akan berganti baju.
Baru saja dia keluar Dirga masuk kedalam kamar dengan riang serta tampak senang sambil memegangi sebuah foto di tangan pria itu.
"Sayang.." ucap Dirga saat membuka pintu kamar. Mulutnya langsung menutup rapat saat ia melihat Dena yang mengenakan jubah mandi.
Dena sendiri tampak kikuk karena Dirga terus memperhatikannya.
"Ada apa kamu memanggilku?" ucap Dena dengan gugup.
"A..ada yang ingin ku tunjukan padamu" Dirga menelan ludahnya berat. Sambil berjalan mendekat kearah Dena.
"Apa yang ingin kamu tunjukan padaku?" tanya Dena berusaha bersikap biasa saja.
"Ini," Dirga menunjukkan foto yang ia bawa pada Dena. Sambil terus memperhatikan istrinya dari atas kebawah, apalagi paha mulus Dena yang terekspos. Karena jubah mandi Dena begitu pendek di atas lutut.
Dena melihat foto yang diberikan Dirga padanya.
Itu foto Dena saat berusia enam tahun, lebih tepatnya saat dua tahun Mamanya tiada.
"Itu fotoku?" heran Dena kenapa Dirga memperlihatkan itu.
"Iya, memang fotomu dan lihat disebelahnya yang berfoto bersamamu. Ini aku" Dirga dengan bangganya menunjuk foto kecil dirinya yang berada di sebelah Dena.
Dena langsung melebarkan matanya. Masa itu Dirga.
"Ini aku dan kamu, ternyata kita jodoh dari kecil ya" Senang Dirga memperhatikan foto itu.
"Darimana kamu mendapatkannya?" tanya Dena.
"Dari Mama" sahut Dirga.
"Aku tahu kenapa kita di Jodohkan, ya karena kita sudah cocok dari kecil. Kata Mama kamu dulu suka padaku dan sering ikut diriku" ucap Dirga menatap Dena.
Dena tidak percaya, bagaimana bisa.
"Jangan bohong," ucapnya dan dia langsung melenggang pergi.
"Untuk apa aku bohong"
"Karena aku tidak pernah ingat aku menyukaimu" ucap Dena. Memang dia merasa tidak ingat soal itu.
"Huh, dasar menyangkal." Dirga tiba-tiba saja memeluk Dena dari belakang.
"Mau apa?" heran Dena.
"Kesini" Dirga menarik Dena kearah tempat tidur.
"Aku mencintaimu, dan aku mencintai Mama ku. Karena itu aku ingin memberikan cucu untuk Mama..Kamu mau?" ucap Dirga saat mendudukkan Dena di pangkuannya.
Tangan Dirga bergerak ke tempat tidur menaruh foto yang ia pegang di sana.
"Ya aku mau,"
__ADS_1
°°°
T.B.C