
@PRAHA Caffe
Praha caffe merupakan sebuah cafe modern yang dimiliki oleh perusahaan Dirga dan Caffe tersebut memang terletak tepat di sebelah kantor PRAHA.
Dirga duduk di dalam cafe itu, ia tidak sendiri tetapi juga di temani oleh kedua rekannya Samuel dan Juna. Mereka sudah berteman cukup lama yakni sedari mereka bertiga masuk ke SMA yang sama pada saat itu. Membawa hubungan persahabatan yang erat hingga sekarang. Mereka juga bekerja sama dalam bisnis PRAHA sekarang, bisa di bilang mereka bertiga lah pendirinya.
Dirga menyesap latte nya kasar sehingga mengundang berbagai pertanyaan dalam benak kedua temannya.
"Sam lihat pengantin baru kayaknya lagi nggak mood nih" Juna memegang bahu Samuel yang di sebelahnya lalu ia menunjuk Dirga yang berada di depan mereka.
"Kenapa kamu bro,?kayaknya nggak mood begitu. Pengantin baru seharusnya happy-happy nya bukan lesu begini" ucap Sam memperhatikan Dirga.
"Dia nggak happy mungkin karena dia nggak ngundang kita atau dia nggak dapat jatah dari bini nya" canda Juna tertawa cekikikan.
"Diam lah kalian berdua," sentak Dirga kesal
"Gimana mau happy, pernikahan ini saja tidak aku inginkan" dengus Dirga.
Seketika raut muka mereka berdua tampak heran melihat satu sama lain lalu melihat kearah Dirga.
"Maksudmu?" tanya Juna tidak mengerti. Mereka berdua melihat Dirga ingin mendengar apa yang akan diucapkan pria itu.
"Ya aku tidak menginginkan pernikahan ini, ini saja kalau bukan karena mama ku aku tidak akan menikah dengan wanita itu." jelas Dirga melihat kedua temannya lalu menghembuskan nafas berat melihat kearah lain.
"Wanita itu siapa?Clara?bukannya kamu mencintai Clara?" ucap Juna heran.
"Bukan Clara, Yang aku nikahi bukan Clara tapi perempuan pilihan mamaku" kesal Dirga.
"What, jadi kamu bukan menikah dengan Clara tetapi dengan perempuan lain?" kaget Samuel.
"Baguslah kamu tidak dengan Clara" ucap Juna lega. Karena temannya itu tidak jadi menikah dengan Clara yang bukan orang baik-baik menurutnya.
"Kok bagus, kamu senang melihatku menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai" ucap Dirga menatap Juna sewot.
"Tidak sebelum itu, Aku tanya pada kalian berdua. Kenapa tidak datang ke pernikahanku waktu itu?" tanya Dirga lagi melihat kedua sahabatnya penasaran. Alasan apa yang akan mereka berdua berikan karena tidak datang ke acara pernikahannya. Padahal dia mengharapkan kedua temannya itu untuk datang agar bisa menghiburnya gara-gara harus terpaksa menikahi perempuan matre.
Juna dan Samuel saling lihat satu sama lain, lalu Juna melihat Samuel seakan menyuruh Samuel saja yang bicara.
"Oke kita jawab, aku dan Juna memang sengaja tidak datang karena kita pikir kamu menikah dengan Clara, kita tidak setuju kamu menikahi perempuan seperti Clara" jelas Samuel memperhatikan Dirga akankah Dirga tersinggung.
Dirga diam memperhatikan kedua temannya
"Aku tanya pada kalian, kenapa kalian tidak menyukai Clara?" Dirga menatap kedua orang temannya seakan meminta penjelasan.
"Dia bukan orang baik," ucap Juna lirih merasa tidak enak dengan Dirga.
__ADS_1
"Kalian berdua tidak bisa menilai orang hanya...." ucapan Dirga terhenti karena dia melihat seseorang yang sangat ia kenal baru saja masuk kedalam Cafe itu.
"Apa yang kamu lihat?" Samuel dan Juna melihat kearah pandang dimana Dirga memandang saat ini.
Tepatnya di luar sana mereka bertiga melihat Clara yang baru saja turun dari dalam mobil dan seketika itu juga. Perempuan itu mencium bibir pria yang sedang ada di dalam mobil.
Dirga yang melihat ini, langsung menggenggam tangannya memperlihatkan ruas-ruas jarinya yang memutih. Dengan cepat ia berdiri menatap tajam perempuan yang belum menyadari kehadirannya itu, Samuel dan Juna pun juga ikut berdiri menyusul Dirga takut-takut hal yang tidak mereka inginkan terjadi.
"Clara.." panggil Dirga dengan suara keras.
Perempuan yang merasa terpanggil itu langsung melihat kebelakang, wajah terkejut terlihat jelas di wajahnya.
"Honey,.." gugupnya mendekat pada Dirga yang menatapnya menahan emosi.
"Lepas.." ucap Dirga penuh penekanan sambil menghempaskan tangannya agar tangan perempuan yang memeluknya itu terhempas.
"Honey, aku bisa jelaskan" Clara menatap memohon pada Dirga.
"Apa yang akan kamu jelaskan? aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu mencium pria yang baru saja pergi dengan mobilnya tadi"
"Kamu salah paham honey, "
"Huh, kau bilang aku salah paham, pantas saja beberapa hari ini kau ku hubungi tidak pernah kau angkat. "
"Honey, honey" Clara berusaha mengejar Dirga tetapi langkahnya langsung terhenti karena Samuel dan Juna menghalangi langkah dirinya.
"Minggir kalian berdua jangan menghalangiku"
"Tidak akan, kita tidak akan membiarkanmu menyusul Dirga" ucap Samuel tersenyum sinis.
"Lepaskan Dirga, dia sekarang sudah menikah kau carilah orang lain yang bisa kau manfaatkan" lanjut Samuel.
"Aku tidak perduli, dia sudah menikah atau belum. Dia tidak mencintai istrinya dia mencintaiku. Minggir" Clara mendorong Sam dan Juna sehingga membuat sedikit ruang untuknya mengejar Dirga. Namun sayang Dirga sudah pergi menaiki mobilnya, ia melihatnya saat mobil Dirga melewati mereka bertiga.
………………
Dena sekarang merasa bosan sekali dari tadi dia hanya mondar-mandir balkon sofa. Sungguh bosan dia saat ini berada di rumah keluarga Suherman tidak ada kegiatan apa pun yang bisa ia lakukan disini.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?Apa aku pergi ke rumahku saja menemui Daniel dia sudah beberapa hari ini mendiami ku terus-terusan" ucap Dena pada dirinya sendiri lalu ia sedikit berpikir untuk ia bermain kerumahnya menemui Daniel. Sepertinya itu ide bagus, ia harus menjelaskan semua pada Daniel tentang alasannya menerima pernikahan ini. Jujur dia tidak bisa di diamkan seperti ini oleh saudara kembarnya sendiri.
Mereka kerap kali sering bertengkar tapi tidak pernah sampai berhari-hari tidak bertegur sapa. Ia tidak bisa bila tidak berbicara dengan Danie.
Dena akhirnya memutuskan akan bertemu dengan Daniel. Ia berjalan kearah kopernya yang ada di sofa memilih pakaian mana yang akan ia kenakan baru setelah itu ia pergi ke kamar mandi.
………………
__ADS_1
Dena berjalan turun ke bawah dibawah sana ia bisa melihat ibu mertuanya sedang menonton tv. Dengan segera Dena langsung berjalan menghampiri Sisil yang belum menyadari kalau dia berjalan mendekat.
"Ma.." panggil Dena saat ia sudah sampai di depan Sisil saat ini.
"Dena, Kenapa Nak?" Sisil melihat Dena yang sudah sangat rapi, dia merasa sedikit penasaran dengan itu.
"Aku mau minta ijin Ma?"
"Minta ijin?Minta ijin apa nak?memang kamu mau kemana?" Sisil mengkerut kan dahinya memperhatikan Dena.
"Aku mau minta ijin buat bertemu Daniel ma" ucap Dena membalas pertanyaan sang mertua.
"Oh ketemu Daniel ya, kalau mama sih kasih ijin kalau Dirga kasih ijin kamu buat keluar nggak?Kamu sudah minta ijin sama Dirga?"
"Belum Ma," singkat Dena ia merasa heran sendiri kenapa juga ia harus meminta ijin pada Dirga ini tidak ada urusannya dengan dia.
"Kalau gitu kamu ijin dulu sama Dirga ya Den, soalnya sekarangkan kamu sudah jadi istrinya dia. Jadi mama saranin kamu kalau kemana-mana harus ijin dulu sama Dirga karena dia suami kamu"
"............" Dena hanya diam saja dia merasa tidak suka, dengan apa yang dikatakan Sisil. Ini hidup-hidupnya tapi kenapa hidupnya di atur. Kan terserah dirinya mau keluar kemana.
"Dena kamu dengar mama?" ucap Sisil melihat Dena yang hanya diam saja tidak menanggapi.
"Mama telpon kan Dirga dulu ya,?atau kamu sendiri yang mau menelponnya?"
"Aku sendiri saja ma, tapi aku minta nomor telponnya. Aku belum punya nomor Dirga ma" ucap Dena berusaha menutupi ketidak senangan nya saat ini.
"Mama kirim nomor Dirga ke kamu ya" Sisil langsung mengirim nomor putranya ke Dena. Ia paham Soal Dena yang belum memiliki nomer Dirga namanya juga pengantin baru yang menikah karena di jodohkan.
"Sudah masuk kan nak, kalau gitu mama ke dapur dulu ya. Jangan lupa ijin Dirga dulu" ucap Sisil sebelum pergi ke dapur.
Dena hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Sisil.
Dengan terpaksa ia menekan nomor Dirga berniat untuk menghubungi orang itu.
"Halo siapa?" ketus seseorang di seberang sana
"Dena.."
"Ada apa kau meneleponku?" dingin Dirga
"Aku mau ijin pergi menemui Daniel"
"Terserah, kenapa kau harus meminta ijin padaku. Sudah aku matikan tidak penting"
°°°
__ADS_1
T.BC