Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 74


__ADS_3

Dena dan Dirga sedang berada di kamar mereka. Mereka berdua sibuk dengan kesibukan masing-masing. Dirga sibuk membuka laptop di atas tempat tidur, sementara Dena duduk di sofa dia menonton tv.


Dirga tampak sibuk mengetik sesuatu dan sesekali melihat Hpnya yang berada di sebelah. Dia tampak kesal sendiri dengan pekerjaannya.


Bagaimana tidak kesal Juna mengirimkan berkas salah padanya. Tidak sesuai keinginannya, dan Samuel malah membuatnya lebih rumit.


Mau tidak mau saat ini, ia harus merubahnya semua. Apalagi tentang jadwal model menerima sponsor. Bagaimana jadwal itu bisa salah.


Dena yang duduk di sofa melihat keluh kesah Dirga. Ada keinginan untuk bertanya, tapi hatinya sungkan untuk mengatakan.


Tapi, sepertinya Dirga memang sedang kesusahan. Apa seharusnya dia bertanya saja siapa tahu bisa membantunya.


Akhirnya Dena, berdiri dari duduknya. Dia memutuskan untuk membantu Dirga. Perlahan dia mendekati Dirga yang tidak tahu kedatangannya. Dia berdiri di samping tempat tidur melihat Dirga yang sibuk.


"Ada yang bisa ku bantu" ucap Dena pelan.


"Tidak ada" jawab Dirga masih menatap laptopnya.


"Jangan bohong, kalau kau tidak butuh bantuan tidak mungkin kau kesuh begini" ucap Dena melihat Dirga yang tidak melihatnya.


"Kalau aku butuh memang kau bisa apa, kau saja tidak kuliah" ketus Dirga melihat Dena.


Raut wajah Dena langsung berubah setelah mendengar perkataan Dirga.


"ya sudah," Dena langsung pergi.


Dirga yang mendengar jawaban Dena seperti itu, menyadari kesalahannya. Dia langsung bangkit dari tempat tidur mengejar Dena yang akan kembali ke sofa.


"Dena," ucapnya memegang lengan Dena.


"Kenapa?" ucap Dena sangat Dingin.


"Aku minta maaf, bukan maksudku begitu" lirih Dirga menyesali ucapannya tadi.


"Ayo ke sana, bantu aku" ucap Dirga mengajak Dena ke tempat tidur.


Dena melepaskan kuat tangan Dirga,


"Untuk apa aku ke sana membantumu? bukannya tadi kau bilang aku tidak bisa membantu. Aku kan tidak kuliah" ketus Dena dan akan berjalan pergi.


Lagi-lagi Dirga mencegahnya.


"Kau marah atas ucapan ku? aku minta maaf. Aku tidak bermaksud bicara seperti itu" ucapnya kembali menahan tangan Dena.


Dena hanya diam, tidak menjawab ucapan Dirga.


"Ayok ke sana" ucap Dirga lagi. Kembali mengajak Dena.


Dena diam saja, tapi mengikuti Dirga yang menarik tangannya kearah ranjang.

__ADS_1


"Duduk disini" ucap Dirga menggeser laptop yang tadinya berada di tengah tempat tidur beralih ke sisi kanan tempat tidur.


"Aku minta maaf," ucap Dirga memperhatikan Dena yang masih berdiri di samping tempat tidur.


"Kemari duduklah, bantu aku ya" ucap Dirga mengajak Dena duduk di tempat tidur.


Dena duduk dengan diam, dia tidak terlalu menanggapi.


"Kau bantu aku untuk menyalin ini ya" ucap Dirga menyuruh Dena dan dia menyodorkan laptopnya kearah Dena.


"Aku tidak mau," ucap Dena dingin.


"Kau masih marah denganku.?Mau mu bagaimana?Tadi kau menawarkan diri untuk membantuku" ucap Dirga sedikit menahan egonya.


"Kau saja yang mengetik nya,"


"Baiklah, jika kau sudah tidak ingin membantuku. Tapi kau harus menemaniku disini jangan kemana-mana" ucap Dirga putus asa. Sepertinya Dena sudah marah dengannya, perempuan itu pasti sangat tersinggung dengan ucapan dirinya tadi.


Dena tidak menjawab, tapi dia masih disitu. Dia melihat Dirga yang kembali fokus mengetik.


Hampir setengah jam berlalu, dan Dena merasa mengantuk hanya melihat Dirga yang mengetik.


Dirga menyadari itu, dia melihat Dena yang mau membaringkan tubuhnya.


"Kau mengantuk?" tanya Dirga.


"Ya, sudah kau tidurlah. Aku juga sudah selesai" ucap Dirga dan langsung menutup laptop miliknya. Membuka laci yang berada di samping tempat tidur dan memasukkan laptopnya di sana. Sementara Hp miliknya ia taruh di nakas meja.


Dena langsung membuka matanya saat merasakan ada yang menatapnya terus. Siapa lagi kalau bukan Dirga.


"Ada apa?" tanya Dena singkat.


"Aku ingin tanya padamu, kenapa kau memelukku setelah bertemu mama tiri mu?Kenapa kau meminta kehangatan padaku?Apa kau sudah mencintai ku?aku harap kau menjawabnya dengan jujur.


Dena menatap Dirga yang wajahnya berada di atas Dena.


Dena diam sebentar, memejamkan matanya sambil menghela nafas.


"Iya, aku mencintaimu Dirga" ucap Dena pada akhirnya. Benar lebih baik dia bilang langsung, daripada dia harus membohongi hatinya sendiri.


"Semoga aku tidak menyesali ini" lirih Dena.


Dirga merasa terpana mendengar perkataan Dena, dia menatap lekat wajah perempuan yang sedang berbaring itu.


"Kau serius mencintaiku?" ucap Dirga masih tidak yakin dengan apa yang ia dengar.


"Iya" singkat Dena.


"Tapi, aku tidak yakin dengan cintamu padaku" jujur Dena memperhatikan Dirga. Ia perlahan mendudukkan tubuhnya melihat Dirga.

__ADS_1


"Kenapa kau bilang tidak yakin dengan cintaku, apa kau tidak percaya denganku?" ucap Dirga merasa kecewa dengan Dena yang meragukan cintanya.


"Ya, kalau kau memang mencintaiku kau tidak mungkin merendahkan ku dengan berkata seperti tadi"


"Astaga, aku kan sudah minta maaf padamu. Itu karena aku sedang kesal dan memang diriku seperti itu. Aku minta maaf, aku akan merubah kepribadian diriku" ucap Dirga menatap serius Dena.


"Maaf ya," ucap Dirga lagi.


"Aku tadi tidak salah dengarkan, kalau kau sudah mencintaiku?" ucap Dirga memastikannya lagi.


"Iya, harus berapa kali...." belum juga menyelesaikan ucapannya mulut Dirga sudah membungkam bibir manis Dena. Dirga ******* bibir itu begitu buas seakan ingin memakannya.


Dena tidak menolak dia menerima ciuman menuntut dari Dirga.


Perlahan Dirga membuat Dena merebahkan dirinya di tempat tidur, Dirga segera naik berada di atas Dena dengan masih mencium wanita itu tidak memberikan kesempatannya untuk bernafas.


Dirga terus mencium bibir Dena, ciuman turun ke dagu, dan ke leher saat ini.


Itu membuat Dena bisa bernafas setelah Dirga **********.


"Dirga.." ucap Dena mendesah karena Dirga menghisap lehernya memberikan tanda disitu.


Dirga kembali keatas, mencium bibir Dena. Dirga melepaskan sebentar panggutan nya. Menatap Dena yang seperti kehabisan nafas karena ciumannya.


"Kenapa?" tanya Dirga.


"Tolong berhenti menciumi diriku" ucap Dena terengah-engah gara-gara ciuman barusan.


"Kenapa? kau bilang mencintaiku. Jadi, mari kita buat cucu untuk mama. Ini sudah beberapa bulan setelah kita menikah"


"Aku,..aku belum siap" ucap Dena langsung mengalihkan wajahnya dan menaikkan bajunya sedikit keatas karena agak terbuka akibat perbuatan Dirga.


"Apa.." Dirga terkejut mendengar ucapan Dena.


"Kenapa kau belum siap?" tambah Dirga.


"Aku masih ragu dengan dirimu," jujur Dena.


Dirga menghadapkan wajah Dena menatapnya.


"Tatap aku, apa yang kau ragukan dariku. Aku serius telah mencintaimu" ucap Dirga yakin.


"Aku tetap belum yakin dengan perkataan mu, maaf aku tidak bisa melakukannya lebih lanjut" lirih Dena.


Dirga langsung turun dari tubuh Dena, melihat perempuan itu yang langsung membelakangi dirinya.


"Baiklah, kalau kau memang belum siap melakukannya. Aku tidak memaksa. Tapi ijinkan diriku untuk memelukmu seperti ini dan melakukan ini" ucap Dirga sedikit menurunkan baju bagian belakang Dena mencium pundak perempuan tersebut. Tak lupa pelukan dari belakang Dirga berikan.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2