
“Ya aku mau,”
Mendengar jawaban itu dari Dena, membuat Dirga tersenyum lebar. Dia menatap manik mata istrinya dan pelukannya pada pinggang Dena semakin mengerat. Perempuan itu masih berada di pangkuannya saat ini.
Perlahan Dirga berdiri dari duduknya, begitu juga Dena yang ikut berdiri. Dirga mengarahkan dena kearah tempat tidur. Dirga langsung mengambil wajah Dena mencium bibir istrinya yang menggoda dan yang selalu membuatnya candu. Dena membalas ciuman itu, Meraup bibir itu begitu juga Dena mereka berciuman dengan sangat panas.
Dena tidak mau kalah, dia begitu buas juga mencium bibir Dirga membuat Dirga terdorong.
Dirga kembali menunduk menciumi seluruh wajah Dena terutama leher nya entah kenapa Dirga suka sekali bermain dileher Dena memberikan tanda disitu.
“Aku mencintaimu sayang,” bisik Dirga ditelinga Dena.
“Aku juga mencintaimu” jawab Dena memeluk leher Dirga yang terus bermain dilehernya.
Tangan Dirga perlahan membuka tali jubah mandi Dena dan langsung menyibaknya begitu saja.
“Kamu begitu menginginkanku?” tanya Dena mengambil kepala Dirga yang ada diperutnya mengarahkan pada wajahnya saat ini.
“Bukan ingin lagi tapi sangat sayang,.” Dirga melepas itu semua dari Dena, tangan Dena aktif bergerak melepaskan pakaian Dirga.
Dengan perlahan dia memasukkan miliknya pada Dena, Dena menahan erangan saat milik Dirga sudah masuk kedalamnya.
“Arkk Dirga,” erangnya memeluk erat Dirga.
“Tahan sayang” ucapnya sambil melakukan apa yang dia lakukan.
Desahan dan desan keluar begitu saja dari mulut mereka berdua, mereka bermain begitu lama hingga akhirnya mereka sama-sama kelelahan satu sama lain. Dirga langsung limbung disebelah Dena. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Dirga melihat kearah sampingnya terlihat Dena yang sedang mengambil nafasnya.
“Terimakasih sayang” Dirga langsung memeluk Dena yang ada disebelahnya.
“Sama-sama, sudah kewajiban ku melayani mu” ucap Dena melihat kearah Dirga yang memeluknya.
Dirga mencium Dena sambil memeluknya begitu erat, dan ciuman itu terlepas. Tapi dena seakan tidak ingin menyudahi ciuman mereka.
“Kenapa?” ucapnya saat melihat Dirga yang melepaskan ciumannya sepihak.
“Sudah ya, kamu masih kelelahan setelah apa yang kita lakukan. Nanti kalau aku kebablasan ingin minta lagi bagaimana. Kita tidak saja oke sayang” ucap Dirga melihat kearah Dena.
“Tumben, kamu bisa menghentikan nafsumu” lirih Dena memperhatikan Dirga.
“Karena aku cinta padamu makanya aku bisa menahannya. Aku tidak ingin kamu kelelahan, kita lakukan besok lagi ya” ucap Dirga mengedipkan sebelah matanya.
Dena hanya diam saja tidak menanggapi,
__ADS_1
“Sudah sekarang tidur” Dirga semakin erat memeluk Dena dan perlahan dia memejamkan mata setelah melihat Dena yang juga memejamkan matanya.
....................
Daniel berjalan masuk ke kantor milik kakeknya, dia masuk begitu saja kedalam. Maryo yang sedang duduk di meja kerjanya langsung melihat kearah pintu.
“Daniel?” ucapnya saat melihat sang cucu.
“Aku kemari ingin menagih apa yang ku bicarakan waktu itu, kakek sudah membuat keputusan” Daniel langsung duduk begitu saja didepan Maryo.
“Kau masih mau membahas itu?”
“tentu, karena untuk Mamaku aku melakukannya”
“Kakek akan menyerahkan diri kakek ke polisi” ucap Maryo setelah menghela nafasnya.
Daniel yang tadi menunduk, langsung melihat kearah kakeknya
“Kakek serius dengan ucapan mu?” ucap Daniel menatap tak percaya kakeknya.
“Kakek serius, jika itu kemauan mu dan Kakek akan membagi saham milik kakek kepada kalian berempat” ucap Maryo terdengar sedih saat mengatakannya tapi dia harus berbesar hati kalau memang ini yang diinginkan cucunya.
“Berempat? Siapa saja yang akan kau berikan. Dulu kau bilang untukku, Dena dan Om Jason kenapa sekarang menjadi berempat” heran Daniel.
“Anak itu juga kau beri bagian” sinis Daniel.
“Iya, bagaimanapun dia cucu kakek. Dan satu kakek berpesan padamu, kau harus hati-hati dengan Soraya dia wanita yang mengerikan. Makanya kakek tidak berani memberikan banyak untukmu dan Dena. Kakek tidak ingin kalian dalam bahaya, kakek memberikan bagian lebih banyak untuk Jason. Jason berhak mendapatkan lebih banyak dari kalian bertiga. Soal Papa kalian, dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Papa. Dia sudah memiliki semuanya” pungkas Maryo serta memberi peringatan untuk Daniel agar dia berhati-hati pada Soraya.
“Kau tidak usah mengkhawatirkan diriku dan Dena. Kami tidak akan kenapa-kenapa Cuma gara-gara perempuan ular itu. Dia akan ada saatnya mendapatkan yang lebih menderita dari dirimu saat ini. Baguslah kalau kakek menyerahkan diri, setidaknya aku bisa sedikit memaafkan mu” ucap Daniel pada kakeknya.
“Pilihanmu memang tepat untuk menyerahkan hampir sebagian pada Om Jason, karena anak yang jarang kau perhatikan itu adalah anak yang baik hati padamu melebihi anak kesayanganmu yaitu papaku sendiri” tambah Daniel memperhatikan kakeknya yang menunduk.
“Kalau begitu aku pergi dulu,” Daniel langsung berdiri dari duduknya hendak meninggalkan kakeknya.
“Daniel tunggu,” ucap Maryo menghentikan langkah Daniel.
“Kenapa?”
“Kamu bisa antar kan kakek ke kantor polisi” ucap Maryo tanpa ragu.
Daniel melebarkan matanya tak percaya melihat kakeknya.
“Kau serius?” ucapnya.
__ADS_1
“Kakek serius” Maryo dengan berat hati berdiri dari duduknya menghampiri Daniel.
“Kakek menyuruhmu mengantarkan kakek karena kau cucu kesayangan kakek yang selama ini selalu ada untuk kakek dan nenek mu”
Mendengar itu mata Daniel seakan berkaca-kaca tapi dia sebisa mungkin menyembunyikan itu semua.
“Ayok,” Daniel mempersilahkan Maryo untuk berjalan lebih dulu. setelah kakeknya berjalan Daniel mengikuti dibelakangnya, kali ini perasaanya campur aduk meskipun dendam itu ada didalam hatinya.
......................
Sudah pagi tapi sepasang suami istri masih tidur dengan saling berpelukan. Mereka saat ini belum bangun mungkin karena semalam mereka telah melalui malam yang panjang. Sampai berkali-kali Hp Dena yang berada disebelahnya tidak terdengar sama sekali.
Dirga perlahan membuka matanya karena terusik dengan suara ponsel yang berdering. Dia melihat ke sebelahnya melihat istri yang tengah dia peluk saat ini.
Lagi Hp Dena berbunyi lagi membuat Dirga melihat kearah nakas meja disebelah Dena. Perlahan Dirga meraih Hp milik Dena, mengambil Hp itu.
“Daniel..” gumamnya saat melihat siapa yang menelpon istrinya.
Dirga memperhatikan Dena yang lelap dalam tidur malah perempuan itu saat ini semakin erat memeluknya.
“Apa aku harus mengangkatnya,?” ucapnya pada diri sendiri. Tapi kalau dia yang mengangkatnya kembaran istrinya itu pasti akan marah, apa ia harus membangunkan dena.
Tidak, dia tidak akan membangunkan Dena. Dia sedang mengantuk saat ini.
Akhirnya Dirga memutuskan mengangkat panggilan dari Daniel.
“Halo, Kau kemana saja? Dari tadi aku telpon tidak kau angkat. Ada hal penting yang ingin ku bicarakan padamu tapi kau malah mengabaikan panggilanku” ucap Daniel terdengar sangat marah ditelinga Dirga.
Membuat Dirga memberikan ekspresi tidak sukanya.
“Kau bisa bicara lebih santai sedikit dengan kakakmu tidak?” sentak Dirga dengan suara dingin.
“Kau? Dimana kakakku?”
“Dia sedang tidur, ada apa?”
“Tidak ada, nanti akan aku telpon lagi” Daniel langsung mematikan panggilannya sepihak.
“Anak ini, bagaimana bisa satu keluarga dingin semua. Apalagi ini, mana ada perempuan yang menyukai pria dingin seperti dia” gerutu Dirga melihat Hp Dena yang sudah mati.
°°°
T.B.C
__ADS_1