Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 85


__ADS_3

Matahari sudah menyingsing, sinarnya sudah menerangi bumi. Sepasang suami istri masih tidur nyenyak di atas kasur, sang istri merasakan cahaya remang-remang yang mengenai matanya membuat dirinya terpaksa terbangun dari tidurnya. Dena merasakan begitu eratnya Dirga memeluknya sejak kapan pria itu sudah tidur disebelahnya dan memeluknya erat seperti ini. Perasaan saat dia akan tidur Dirga masih sibuk ber telponan dengan temannya di balkon kamar.


Dena berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Dirga yang sedang tidur.


“Dirga lepas, aku mau bangun” ucapnya berusaha melepaskan diri.


“Enggh” Dirga menggeliat melepaskan pelukannya pada Dena, dia miring kearah lain dan masih dalam keadaan tidur.


Dena memperhatikan Dirga yang kini membelakangi dirinya, sungguh pria itu tidak bisa diduga. Ia kira dulu Dirga orang yang keras tidak ada lembut-lembutnya dengan pasangan tapi sekarang malah sungguh menggelikan mendapat perlakuan dari Dirga. Pria itu ternyata seorang budak cinta. Memikirkannya saja membuat Dena tersenyum.


Saat Dena tersadar dari apa yang ia lakukan segera saja dirinya merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.


“Cukup Dena,” ucapnya memegang wajahnya sendiri karena terasa panas membayangkan sikap manis Dirga yang selalu membuatnya merona. Dia langsung melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur, dia akan kebawah melihat Reyhan apakah dia sudah bangun atau belum dan dia akan membantu mbok Pinem menyiapkan sarapan pagi karena kedua mertuanya saat ini sedang ada di luar kota dan besok mereka baru pulang.


………………


“Mbok sedang apa?” tanya Dena saat melihat Mbok Pinem di dapur.


“Ini mbok mau buat sayur lodeh Manisa dan ceker, kok Nak Dena sudah bangun?” ucap Mbok Pinem menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci ceker ayam yang akan ia campurkan ke sayur lodeh Manisa.


“Sudah mbok,” ucap Dena


“Dena bantu ya mbok” ucap Dena lagi pada Mbok Pinem.


“Nggak usah nak Dena, biar mbok aja.” Tolak Mbok Pinem karena merasa tidak enak.


“Sudah nggak Pa-pa” Dena bersikeras membantuk mbok Pinem bahkan dia sekarang mengambil alih apa yang mbok Pinem kerjakan dengan terpaksa juga Mbok pinem menyerahkan tugasnya mencuci ceker ayam tadi pada Dena dan kini dia beralih memotong-motong sayuran lain.


“Oh iya Dena, mbok lupa buat bangunin adik kamu. Dia semalam bilang suruh bangunin dia pagi-pagi” ucap Mbok Pinem saat mengingat semalam Reyhan berpesan padanya untuk di bangunkan pagi-pagi.


Dena sendiri sekarang menghentikan kegiatannya, dia melihat kearah mbok Pinem, benar dia juga tadi akan membangunkan reyhan tapi setelah melihat mbok Pinem sudah sibuk di dapur dia jadi lupa untuk ke kamar Reyhan.

__ADS_1


“ Ya sudah mbok, biar aku saja yang membangunkan Reyhan” ucap dena dan menaruh sebaskom ceker ayam di pantry sebelum pergi dia mencuci tangannya terlebih dahulu. Baru setelah itu ia berjalan meninggalkan dapur menuju kamar tamu yang di tempati oleh Reyhan saat ini.


“Mau kemana sayang,” ucap Dirga yang baru saja turun dari tangga dengan hanya menggunakan kaos oblong serta celana kolor berwarna biru .


Dena langsung melihat kearah sumber suara, dia mendapati Dirga yang sudah berdiri di tangga melihat kearahnya.


“Aku akan membangunkan Reyhan” jawab dena dan langsung berjalan meninggalkan Dirga yang mulai turun dari tangga.


“Jangan lama-lama, habis itu buatkan aku jus ya sayang” ucap Dirga berteriak karena Dena sudah berlalu pergi.


Dena tidak menjawab karena dia sudah sedikit jauh berjalan, ia malas untuk teriak-teriak. Dirga sendiri berjalan menuju meja makan, dia akan menunggu istrinya membuatkan dia jus.


....................


Daniel keluar kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi, ia mengenakan kemeja abu-abu celana hitam panjang dan jas berwarna hitam serta kerah kemejanya tidak ia kancing kan begitu juga dengan jasnya. Dia begitu tampak keren dan mempesona.


Di melihat kearah ruangan yang di masuki Papanya semalam, sudah keluar kah Papanya dari ruangan itu. Batin Daniel penasaran. Dia melangkah mendekati ruangan tersebut sebelum dia berjalan ke sana Soraya terlebih dahulu mengomel-omel sambil berjalan mendekatinya.


“Diam lah, aku sudah pusing karena Papamu tidak kembali ke kamar kita, malah aku bertemu denganmu di sini. Minggir” ucap Soraya menggeser Daniel agar minggir.


“Berhenti,” ucap daniel saat Soraya akan membuka pintu.


“Kenapa?”


“Papa sudah berangkat bekerja, dia tidak ada di situ” bohong Daniel pada perempuan ular seperti Soraya.


“APA,? Dia sudah pergi bekerja tanpa memberitahuku. Marco, kau benar-benar membuatku gila” ucap Soraya dan langsung mengurungkan niatnya. Dia langsung pergi lagi entah kemana dia kan pergi.


Sementara Daniel setelah memastikan bahwa Soraya sudah pergi dia langsung menuju ruangan tersebut. Dia sendiri tidak yakin kalau Papanya sudah berangkat bekerja.


Daniel mengetuk pintu itu, tidak ada sahutan dari dalam. Membuat dirinya memutuskan memutar knop pintu dan ternyata pintu tidak terkunci, ia membukanya. Ruangan itu tampak gelap, daniel mencari saklar lampu berniat untuk menyalakan lampu dan saat dia sudah menyalakan lampu di ruangan itu.

__ADS_1


Dia melihat seluruh ruangan terdapat foto-foto Mamanya dan foto keluarga mereka yang hampir memenuhi seisi ruangan membuat Daniel menatap tak percaya semua ini. Dia terpaku di tempatnya mengitari seluruh sudut dengan pandangannya.


“Apa ini? Kenapa Papa masih menyimpan semua ini?’ ucap Daniel tak percaya karena setahu dirinya semua yang menyangkut mamanya sudah dibuang dan dibakar oleh papanya dulu. Kenapa semua ini masih ada,


Tanpa di duga Marco keluar dari balik lemari besar yang memutar, dia tampak terkejut melihat anaknya yang ada di ruangan yang selama ini dia sembunyikan.


“Da..Daniel” ucap Marco gugup


Daniel langsung melihat kearah papanya yang menatapnya. Daniel berjalan mendekati papanya yang terdiam di tempat.


“Apa ini? kenapa kau melakukannya padaku dan Dena?Kau berbohong pada kita?kau masih menyimpan foto-foto keluarga kita? JAWAB PA” bentak Daniel di akhir kalimatnya.


“Kau dulu bilang sudah tidak memilikinya, kau bilang sudah membakarnya sampai membiarkan kita menangis hingga sakit gara-gara kita tidak bisa melihat foto mama dan foto kelurga bahagia kita dulu. Tapi apa ini, kau menyimpannya disini” Daniel menuntut penjelasan dari Papanya yang hanya berdiri diam didepannya saat ini.


“KAU MASIH MENCINTAI MAMA KAN? KAU MENYESALKAN SEKARANG. DASAR KAU EGOIS PA” ucap Daniel dengan keras.


“Berhenti Daniel, keluar dari sini” ucap Marco mendorong putranya untuk keluar. Kondisi tubuh Marco sepertinya tidak fit membuat dia terseok ke depan untuk saja Daniel segera menahan tubuh Papanya itu.


Daniel yang tadinya tampak marah, malah sekarang dia terlihat khawatir dengan papanya.


“Kau kenapa Pa? Kau sakit” ucap daniel sambil menopang tubuh Papanya.


“Aku tidak apa-apa” dingin Marco berusaha berdiri tapi lagi-lagi dia hampir jatuh dengan sigap Daniel menopangnya kembali.


“Jangan keras kepala, kau sakit kan badanmu saja terlihat demam seperti ini” pungkas Daniel sambil membantu Papanya berjalan kearah tempat tidur yang memang ada di dalam ruangan tersebut.


“Berbaringlah dulu” ucap Daniel mendudukkan Papanya di tempat tidur dan dia langsung pergi keluar.


Benar dia keluar dari ruangan untuk menghubungi Dena, dia akan menyuruh Kakaknya itu untuk merawat serta menunggu Papanya karena saat ini dia tidak bisa di rumah ada urusan yang harus dia urus.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2