Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 40


__ADS_3

Dena berjalan ke balkon kamarnya, dia melihat kearah bawah, kearah kolam renang yang tampak berkilau karena sinar matahari yang terpantul kedalam kolam renang.


Saat ini dia kembali mengingat saat dia berumur 4 tahun. Dimana saat itu dia dan adiknya Daniel menangis di koridor rumah sakit tidak ada siapapun di sana. Mereka menangisi Mamanya yang sudah tiada,


Flashback ON


Dena dan Daniel saat berusia 4 tahun.


Mereka berdua sedang ada di rumah, bermain dengan Mamanya. Hanya bertiga dan dua orang pengasuh di sana.


Penuh tawa dan riang serta bahagia mereka bertiga nampak jelas tercermin di wajah mereka.


Sesekali Monica membercandai kedua anaknya, dia begitu gemas sekali dengan anak kembarnya itu. Hanya mereka berdua lah yang menjadi pelipur lara dirinya dikala sang suami yang jarang sekali pulang ke rumah.


Saat Monica tengah sibuk bermain dengan kedua anaknya. Hp miliknya tiba-tiba saja berbunyi.


"Mbak, bisa tolong ambilkan Hp saya di meja" ucapnya kepada salah satu pengasuh yang ada didekatnya.


"Bisa buk," balas salah satu pengasuh itu dan dia langsung berdiri untuk mengambil Hp milik sang majikan.


"Dari siapa mbak?" tanya Monica.


"Nggak tahu ini buk, nggak ada namanya" sahut pengasuh itu dan langsung menyerahkannya pada Monica.


"Halo dengan siapa ya?" ucap Monica saat mengangkat panggilan tersebut.


"APA?? Suami saya ditusuk orang di jalan Maheswari" ucap Monica kaget mengetahui jika suaminya di tusuk orang.


"Baik, baik saya akan ke sana tolong suami saya sebentar" ucap Monica lagi dengan begitu khawatir dengan keadaan suaminya.


"Mbak Cici, Mbak Sari. Saya minta tolong sebentar ya sama kalian. Kalian jaga Dena sama Daniel disini ya. Saya akan menemui suami, suami saya ditusuk orang di jalanan dan dia tidak ada yang menolong" Monica sungguh-sungguh tampak panik dan dia begitu terburu-buru mencium kedua anaknya.


"Sayang, Mama pergi dulu jemput Papa ya. Kalian baik-baik di rumah sama mbak-mbak" ucap Monica menciumi kedua anaknya tersebut.


Dia langsung bergegas pergi dari rumahnya meninggalkan kedua anaknya dalam pengasuhan para pengasuhnya.


2 jam berlalu


Di rumah Garden House, rumah tempat Monica dan kedua anaknya tadi tiba-tiba saja kedatangan dua polisi yang mengabarkan bahwa Monica terlibat kecelakaan dan sekarang dia berada di rumah sakit PARDES Hospital.


Tentu saja itu membuat dua pengasuh tersebut terkejut, bagaimana sang majikan bisa terlibat kecelakaan.


Dan Heja sahabat Monica tiba-tiba saja juga datang ke rumah dia menangis menatap kedua pengasuh itu.

__ADS_1


"Dimana Dena dan Daniel?" tanya Heja kepada Cici dan Sari yang sedang berbicara pada Polisi.


"Mereka sedang tidur buk" ucap Cici dan Sari bersamaan.


Heja langsung masuk begitu saja kedalam rumah. Ia akan membawa kedua anak Monica sebelum terlambat. Benar Heja sudah mengetahui kalau Monica telah mengalami kecelakaan dari kedua polisi itu juga yang menelponnya tadi.


Dengan cepat Heja menuju kamar Dena dan Daniel yang masih dalam satu kamar.


Dia langsung menggendong keduanya. Dengan susah payah, saat sedang berusaha menggendong. Dena langsung terbangun, melihat Heja.


"Bija.." lirihnya dengan suara khas anak umur 4 tahun.


"Dena kamu sudah bangun nak, kamu jalan ya. Bija agak kesusahan menggendong kalian berdua. Kalian ikut Bija ya" ucap Heja memegang tangan kecil Dena dan tangan satunya ia gunakan untuk menggendong Daniel.


…………………


Mereka saat ini sudah ada di rumah sakit PARDES, Dan Daniel juga sudah terbangun dari tidurnya. Heja segera menurunkan bocah kecil itu dari gendongannya. Daniel tidur sangat lama sekali bahkan dari rumah, hingga di mobil dia tadi masih tidur saja. Baru saat ini dia terbangun.


Mereka sudah berada di depan pintu perawatan Monica. Heja tampak khawatir sekali dengan kondisi sahabatnya itu.


Saat dia tengah harap-harap cemas, keluar seorang dokter dari ruangan tersebut.


"Anda wali dari Ibu Monica Kusuma Tama?" tanya Dokter saat melihat Heja yang menggandeng dua anak kecil di kanan kirinya.


"Maaf bu, kami telah berusaha sedemikian keras. Tapi, nyawa saudara anda Ibu Monica tidak tertolong" ucap sang Dokter pada Heja.


Heja yang mendengar itu seketika saja kedua kakinya langsung lemas dan dia terduduk di lantai menangis meratapi kepergian sahabatnya.


Dena dan Daniel yang berada di samping Heja melihat itu dengan kebingungan kenapa sahabat mamanya itu menangis sekarang.


"Bija, Bija" panggil mereka berdua sambil memegang sahabat mamanya itu yang menangis pilu.


Bija langsung tersadar melihat kedua anak kecil yang memegang dirinya seketika ia langsung memeluk keduanya.


"Permisi, maaf sebelumnya. Anda harus mengurus administrasi untuk pemulangannya jenazah nyonya Monica" ucap salah satu perawat yang menghampiri Heja.


Heja langsung melihat kearah perawat itu dan sesekali memperhatikan Dena dan Daniel yang tidak tahu apa-apa.


Heja memposisikan dirinya berjongkok di depan kedua bocah itu.


"Kalian disini dulu ya bibi akan ke sana?" tunjuk Heja kearah lain.


"Bija, Mama ku kenapa?" ucap Dena polos.

__ADS_1


Heja hanya diam dan langsung pergi meninggalkan kedua bocah itu sendirian ditempat mereka saat ini.


Dena yang berumur 4 tahun merasa ada yang aneh dengan semua ini. Ia berjalan masuk kearah ruangan dimana dokter tadi keluar memberitahukan sesuatu pada Bija sehingga membuat wanita tadi menangis pilu.


Dena berjalan menggandeng Daniel yang hanya diam saja.


Mereka berdua masuk kedalam ruangan dan melihat Mama mereka yang terpejam di atas tempat tidur rumah sakit.


"Ma..Mama" panggil Dena perlahan mendekat begitu juga dengan Daniel.


Mereka melihat Mamanya yang telah terbujur kaku, Dena memegang tangan Mamanya itu. Menggoyang-goyangnya menyuruh Mamanya untuk bangun.


"Ma..Mama bangun, Ma.." ucap Dena dan Daniel sambil menggoyang-goyang tubuh Mamanya.


Seorang suster datang mendekati


"Jangan dek, mama kalian sedang tidur" ucap suster tersebut memberi pengertian kepada dua anak itu. Dia melihat dua bocah kecil yang menangis meratapi Mamanya, membuat hatinya sangat teriris.


Dena dan Daniel menangis secara bersamaan, mereka antara memahami kondisi seperti ini.


Heja yang mendengar suara tangis dari koridor langsung masuk kedalam ruangan melihat dua anak kecil itu yang menangis se segukan di sebelah mayat ibunya.


"Daniel, Dena" panggil Heja pada dua bocah itu.


"Bija" ucap mereka berdua berlari berhamburan kearah Heja.


"Ayo kita keluar sayang," ajak Heja


Daniel dan Dena keluar dari ruangan itu.


"Bija, Mama ku kenapa?" tanya Daniel yang menangis.


"Mama kalian, Mama kalian sudah pergi jauh" balas Heja merasa sedih


"Bija, masuk kedalam dulu ya. Kalian disini jangan kemana-mana" ucap Heja dan masuk kedalam ruangan.


Daniel dan Dena menangis terisak di koridor rumah sakit hanya berdua saja mereka di situ. Dua bocah yang tidak tahu apa-apa, bahkan tidak ada yang datang menemani mereka saat ini.


FLASHBACK OFF


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2