
"Ma..Mama" panggil Reyhan saat dia baru saja datang dimana dia melihat Mamanya yang akan menarik rambut Dena saat ini.
Dena langsung melihat kebelakang, begitu juga Dirga yang tadinya tidak memperhatikan Soraya.
Dengan sigap Dena langsung memegang tangan Soraya dan mendorong perempuan itu.
"Reyhan, bawa pulang Mamamu yang tidak jelas ini" ucap Dena pada Reyhan yang mulai berjalan mendekat.
"Cepat bawa pulang Mama mu" ucap Dirga menyahuti.
"Anakku,." ucap Soraya berakting kesakitan saat tangannya di pegang kuat Dena.
"Sudahlah ma jangan berpura-pura," ucap Reyhan saat dia berada si samping Mamanya.
Soraya menatap anaknya tidak percaya
"Ini Mamamu" ucap Dena mendorong Soraya kearah Reyhan.
"kau bawa Mamamu pergi dari sini" ucap Dirga pada Reyhan.
"Reyhan, kamu kenapa tidak bilang kalau sudah kembali ke Indonesia" ucap Soraya akan memegang wajah Reyhan tapi dia langsung menghindar.
"Kenapa kamu menghindar dari Mama sayang. Kamu marah sama Mama, bocah itu bicara apa padamu" ucap Soraya merasa kecewa dengan sikap Reyhan yang hanya diam melihatnya dan dia malah menuduh Dena.
Dena tersenyum sinis melihat Soraya,
"Dasar,." dengus Dena.
"Stop ma, kak Dena tidak bicara apa-apa padaku. Jangan menyalahkannya" ucap Reyhan.
"Reyhan, anakku sayang kenapa kamu jadi ketus begini sama Mama" ucap Soraya sedih.
"Soraya.." panggil Marco dengan keras saat dia sudah sampai di ruang tengah keluarga Suherman.
"Syukurlah kamu kesini Honey, beri pelajaran anakmu yang tidak tahu diri itu" ucap Soraya menunjuk Dena.
"Ma.." tegur Reyhan pada Mamanya.
Marco yang mendengar ucapan Reyhan langsung melihat kearah Reyhan saat ini.
"Kau mau juga ternyata" ucapnya pada sang anak bungsu.
"Aku pulang karena aku rindu kedua kakakku" ucap Reyhan pada Marco.
Marco hanya diam dan melihat Soraya,
__ADS_1
"Ayo pulang" ucap Marco pada Soraya.
"Tidak, kalau Reyhan tidak pulang aku juga tidak pulang" ucap Soraya menolak ajakan Marco.
"Mulai Drama" sinis Dena melihat Soraya tidak suka.
"Reyhan kau pulanglah," suruh Dirga pada Reyhan.
"Ma,Mama pulang saja sana" Reyhan malah menyuruh mamanya untuk pulang.
"Tidak, kalau kamu tidak pulang maka mama tidak pulang" ucap Soraya masih bersikeras tidak mau pulang.
"Reyhan ayo pulang" ucap Marco seakan muak dengan kondisi saat ini.
"Tidak Pa" ucap Reyhan.
"Pasti ini gara-gara kau kan, kau yang mempengaruhi anakku" ucap Soraya dan akan memukul Dena tapi Dirga terlebih dahulu menghalau dengan berdiri di depan Dena saat ini.
"Jangan sampai tanganmu menyentuh istriku, maka kau akan tahu akibatnya" ucap Dirga tajam menatap Soraya.
Dena meminggirkan Dirga dia maju kearah Papanya yang tampak jengah dengan situasi seperti ini.
"Kau pusing kan sekarang dengan situasi seperti ini Pa?Lihat istrimu itu sungguh banyak drama. Aku heran dengan mu bagaimana bisa termakan rayuannya dulu sampai membuah kan hasil. Kau sedikit menyesalkan sekarang karena menuruti dua orang tua yang kejam itu" ketus Dena didepan wajah Papanya.
"Bisa tidak kau bicara halus dengan Papa" ucap Marco menatap anaknya.
"Kalau kau masih tidak ada sopan santun dengan Papa, Papa akan.."
"Akan apa? akan menamparku tampar saja Pa. Aku tidak takut" Dena malah mengambil tangan Marco mengarahkan ke wajahnya.
Dirga merasa terkejut begitu juga dengan Reyhan. Sementara Soraya tampak senang.
"Tampar pa, " tantang Dena memegang tangan Papanya di depan wajahnya saat ini.
Marco terdiam memperhatikan Dena yang menatapnya tajam.
Marco melepas kuat tangannya, dan berjalan kearah Soraya.
"Ayo pulang" ucapnya sambil menyeret tangan Soraya agar berjalan pergi.
"Aku tidak mau pulang, aku ingin pulang dengan anakku" ucap Soraya meronta saat dirinya di tarik oleh Marco. Marco tidak menghiraukannya dia terus menarik Soraya keluar dari rumah keluarga Suherman.
Dirga berjalan mendekati Dena.
"Kau gila menantang Papamu seperti itu?" ucap Dirga dengan menaikkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Jangan bahas itu padaku sekarang," pungkas Dena jengah tidak ingin membahasnya sekarang.
"Reyhan kau pulanglah, Mamamu itu bisa gila kalau tanpa mu" pinta Dena pada Reyhan.
"Aku tidak mau kak, aku tidak ingin menginjakkan kakiku di rumah itu" jawab Reyhan.
Dena diam saja, dia bisa apalagi untuk membujuk Reyhan agar mau pulang. Reyhan sama keras kepalanya dengan dia dan Daniel jadi percuma saja kalau terus-terusan menyuruh Reyhan untuk pulang.
"Kau pasti lelah kan, Ayo kita ke kamar saja" ucap Dirga pada Dena saat ia melihat perempuan itu hanya berdiri terdiam sambil sedari tadi menahan untuk berdiri tegak mengabaikan kakinya yang masih sakit.
Dirga memegang tangan Dena menuntunnya pelan naik ke tangga rumah yang menghubungkannya ke lantai dua.
………………
Dena masuk kedalam kamar bersama dengan Dirga yang menuntunnya masuk. Dirga mengarahkan Dena duduk di tempat tidur.
"Aku duduk di sofa saja" ucap Dena saat Dirga sudah mendudukkannya.
"Duduk di sini saja, kenapa harus di sana. Mulai sekarang kau tidur dan duduk di tempat tidur ini" ucap Dirga pada Dena. Dena yang mendengar itu langsung melihat kearah Dirga.
"Maksudmu?" ucap Dena tidak mengerti.
"Kita berbagi tempat tidur yang sama, kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyentuhmu sebelum kau mencintaiku" tegas Dirga menatap Dena yakin.
Dena menatap ragu pada Dirga, benarkah yang dikatakan pria tersebut.
"Apa kau memang serius mencintaiku atau ini cuma akal-akalan mu saja" ucap Dena menatap penuh tanya kearah Dirga.
"Kau tidak yakin dengan ucapan ku? Jika kau tidak yakin tidak apa. Kau anggap saja aku temanmu untuk saat ini, ceritakan apa yang ingin kau ceritakan seperti kau menceritakannya pada Dewa dulu"
Dena merasa terpaku dengan ucapan Dirga, perkataan pria itu terdengar tulus di telinga nya. Apakah harus ia membuka hati untuk Dirga. Tapi dia takut dengan pria di depannya karena dia dulu pernah melihat sisi gelap Dirga. Ia takut Dirga akan seperti Papanya.
"Kenapa diam, tidak perlu memikirkan ucapan ku. Sekarang jawab pertanyaan ku. Apa kau begitu membenci Mama tiri dan Papamu?" tanya Dirga penasaran.
"Kenapa kau tanya itu?"
"Karena aku penasaran, saat melihatmu menampar balik perempuan itu dan cara bicaramu dengannya padahal ada Reyhan disitu kau seakan tidak perduli karena terlihat kau membenci kedua orang tersebut"
"Seharusnya kau tidak perlu menanyakannya lagi, bukannya aku sudah pernah bicara denganmu"
"Aku sangat membenci mereka berdua, Aku benci dengan perempuan ular itu yang telah membunuh Mama dan aku membenci Papaku karena telah bodoh termakan hasutan kedua orang tuanya dan termakan rayuan perempuan ular sehingga meninggalkan Mamaku dengan luka yang menganga dihatinya" ucap Dena menahan sedih yang teramat sakit dihatinya kini bahkan air matanya ia tahan agar tidak keluar saat membayangkan Mamanya yang begitu mencintai Papanya.
Secata spontan Dirga langsung menarik Dena kedalam pelukannya karena dia merasa pasti perempuan di depannya sangat merasakan sakit yang teramat dalam.
"Jangan simpan luka mu sendiri, beritahukan padaku. Aku akan membantumu menyembuhkannya" ucap Dirga sambil memeluk Dena penuh kehangatan.
__ADS_1
°°°
T.B.C