Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 42


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" gugup Dena saat Dirga semakin mendekatkan wajahnya.


"Diam lah tak perlu bertanya" ucap Dirga


Tiba-tiba saja Dirga mencium Dena tepat di bibirnya, membuat Dena terkejut dengan itu semua.


Dia mendorong Dirga akan melepaskan ciumannya, Karena dorongan pelan tersebut akhirnya Dirga melepaskan ciumannya pada Dena.


"Apa yang kau lakukan?Kau gila" bentak Dena dan langsung berdiri dari duduknya yang berada di pangkuan Dirga.


Dirga sekali lagi menarik tangan Dena, tapi kali ini Dena tidak terjatuh kedalam pangkuan Dirga melainkan ke sofa di sebelah Dirga.


Dirga menatap lekat Dena yang duduk disebelahnya.


"Tidak usah menganggap ku sepeti itu. Apa yang aku lakukan itu adalah ciuman pertemanan" ucap Dirga dengan kalimat yang tak di mengerti oleh Dena.


Dena tampak tidak mengerti dengan perkataan Dirga itu. Apa maksudnya ciuman pertemanan.


"Kau bercanda," tegas Dena menatap Dirga aneh.


"Kita berteman saja bagaimana?Jadikan pernikahan ini sebagai pertemanan. Kita sudah masuk kedalam sebuah hubungan. Jadi, kita tidak bisa seperti ini terus, hubungan kita harus ada kemajuan walaupun bukan hubungan suami istri melainkan pertemanan" ucap Dirga dengan yakin. Karena dia sudah memikirkannya matang-matang.


Mungkin hubungannya dengan Dena merupakan sebuah hubungan yang sudah ditakdirkan oleh tuhan melalu perjodohan. Meskipun diantara mereka tidak saling mencintai, bisa jadi dengan pertemanan hubungan mereka menjadi lebih baik.


Dia sekarang sudah tidak menyimpan kebencian pada perempuan dingin di depannya. Karena berkat dia, ia mengetahui siapa Clara yang sesungguhnya.


"Kau aneh, " ucap Dena melihat Dirga yang tengah menatapnya.


"Kau mau atau tidak, kalau kau tidak mau aku harap kau berusaha untuk mengatakan mau. Karena tidak mungkin hubungan kita dingin seperti ini" ucap Dirga lagi mencoba memberikan pengertian agar Dena menerima tawaran darinya.


Dena diam saja, melihat Dirga yang tiba-tiba saja mengulurkan tangannya pada Dena.


"Baiklah, kita berteman." ucap Dena datar dia membalas uluran tangan Dirga.


"Bagus,." ucap Dirga seperti senang dengan itu.


Dena hanya bersikap biasa saja. Dan dia langsung berdiri dari duduknya saat ini


"Kau mau kemana?" tanya Dirga pada Dena yang akan pergi.


"Aku mau ke dapur membantu Mama" jawab Dena dan langsung pergi keluar kamar.


Dirga hanya memperhatikannya saja, dia tidak menyangka seorang perempuan dingin masuk kedalam hidupnya sekarang.

__ADS_1


Apa dengan pertemanan ini nanti hubungan mereka bisa menjadi lebih dekat.


Sebenarnya hubungannya dengan Dena sebelumnya tidak ada harapan. Tapi setelah ia mencoba berpikir kembali tentang Mamanya, yang sepertinya sangat menyayangi Dena.


Ia tidak bisa melepaskan Dena dari hidupnya, karena Mamanya itu pasti akan terluka kalau dia dan Dena berpisah. Bagaimanapun juga ia harus membuat Dena jatuh cinta dan terbuka padanya agar hubungan mereka menjadi lebih baik. Pikir Dirga dalam hatinya.


Saat Dirga kembali fokus pada Televisi di depannya. Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponsel Dena yang berada di meja.


Tertera nama Reyhan saat layar Hp itu menyala.


Dirga sempat melihat itu,


"Reyhan" gumamnya penasaran.


Karena dia begitu penasaran, dia mengambil Hp milik Dena dan membuka pesan dari orang yang bernama Dena tersebut.


*FRom Reyhan*


"Besok temui aku di PRAHA Cafe"


kira-kira begitulah isi pesan dari orang bernama Reyhan tersebut.


Dirga segera menghapus pesan itu dari ponsel Dena, kebetulan sekali mereka akan bertemu di Cafe milik Dirga. Besok dia yang akan datang bukan Dena. Ia penasaran siapa orang yang bernama Reyhan itu.


Dena datang menemui mertuanya di dapur saat ini. Ia ingin sekali menanyakan tentang seberapa tahu mertuanya tersebut mengetahui kecelakaan yang menimpa Mamanya.


"Ma.." panggil Dena pada ibu mertuanya yang tengah mengaduk mengadonani tepung.


Dia langsung melihat kearah sumber suara ya memanggilnya.


"Eh Dena, kenapa nak?" ucap Sisil pada Dena.


"Bisa aku bicara sebentar dengan Mama?" tanya Dena pada Mertuanya memastikan kalau mertuanya itu tidak terlalu sibuk.


"Bisa, memang apa yang mau kamu bicarakan pada Mama"


"Tidak disini ya ma kita bicaranya"


Sisil merasa penasaran sebenarnya apa yang akan dibicarakan menantunya itu pada dirinya saat ini.


Kini mereka berada di dekat kolam renang, lebih tepatnya mereka berdua duduk di Gazebo yang berada di sebelah kolam renang tersebut.


"Kamu bicara apa sama Mama Dena?"

__ADS_1


"Mama kan sahabat dari Mamaku, Kalau boleh tahu apa yang Mama ketahui mengenai kecelakaan Mamaku?" tanya Dena langsung pada intinya karena dia bukanlah tipe orang yang ber basa-basi.


Sisil langsung melihat kearah Dena, dia merasa tidak percaya jika Dena mengetahui tentang Mamanya yang meninggal akibat kecelakaan.


"Ma, kenapa Mama malah diam. Aku ingin tahu, apa Mama mengetahui apa yang terjadi pada Mamaku?"


"Kau mengingat jika Mamamu tiada karena kecelakaan Dena?"


"Aku ingat,"


"Begini, Mama tidak tahu tentang itu. Mama hanya tahu Mamamu kecelakaan saja, dan Mama mengetahuinya dari Heja." ucap Sisil memberitahukan yang sesungguhnya pada Dena.


"Oh begitu ya Ma, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Dena langsung berdiri tidak mau berbasa-basi lagi. Kalau mama mertuanya itu mengetahui karena diberitahu Bija kemungkinan besar ceritanya akan sama seperti apa yang Bija ucapkan.


Sisil hanya keheranan saja menatap Dena yang pergi, dia cukup merasa heran kenapa Dena seakan ingin mencari tahu lagi mengenai Mamanya. Apa perempuan itu mengetahui sesuatu.


°°°°°


Tidak ada angin tidak ada hujan malam ini entah kenapa secara tiba-tiba saja Marco bertandang ke rumah besannya. Lebih tepatnya ke rumah Doni.


Sang pemilik rumah saja heran kenapa Papa dari Dena bertandang kerumahnya saat ini.


Sehingga mau tidak mau Doni maupun Sisil harus menyiapkan makanan untuk mereka. Karena tidak mungkin besannya datang ia tidak menyuguhkan apapun.


Marco datang sendiri ke rumah Doni, dia tidak mengajak Soraya. Entah kenapa dia datang sendiri tanpa mengajak istrinya itu. Padahal, selama ini kalau dia kemana-mana Soraya tidak pernah tertinggal sama sekali pasti perempuan itu akan ikut kemanapun Marco pergi.


Sekarang kenapa tidak, bagaimana cara Marco lepas dari sosok Soraya.


Dena serta Dirga baru saja turun ke meja makan, Dena menghentikan langkahnya saat melihat Papanya yang ada di situ. Dia melihat kesekeliling, tidak melihat istri Papanya itu.


"Dena, Dirga ayo kita makan malam. Ini ada Papamu juga Dena" ucap Doni saat melihat keduanya itu.


Marco langsung menghadap kebelakang melihat Dena yang menatapnya datar-datar saja.


Dirga dan Dena berjalan mendekat kearah meja makan.


Dena duduk di sebelah Dirga saat ini.


Dia hanya diam saja melihat Papanya, begitu juga Marco yang hanya diam memperhatikan anaknya.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2