Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 90


__ADS_3

Sisil berjalan begitu bersemangat dia ingin sekali bertemu dengan anak dan menantunya. Rasanya tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin ia dengar, semoga saja pengharapan nya terwujud kalau menantunya itu sedang hamil.


Dengan begitu antusias, Sisil mengetuk pintu kamar Dirga, didalam sendri kedua orang itu sedang asik menonton film sedari tadi Dirga tiduran dipangkuan Dena sambil melihat film dari kaset yang ia putar di DVD.


“Ada orang yang mengetuk pintu” ucap Dena menunduk melihat Dirga yang asik menonton Film.


“Mana, aku tidak dengar” sahut Dirga cuek saja masih asik menonton film.


“Dengarkan baik-baik, jangan asik menonton film” Dena langsung mematikan DVD begitu saja dengan remot yang berada disebelahnya.


“Kamu apa-apaan sih sayang” Dirga langsung mendudukkan tubuhnya melihat Dena kesal.


“Aku bilang ada yang mengetuk pintu” Dena langsung berdiri, akan membukakan pintu untuk orang yang entah siapa yang mengetuknya.


Dirga juga ikut berdiri, dia menyusul Dena yang berjalan kearah pintu untuk membuka pintu tersebut.


“Siapa sih, pagi-pagi sudah mengganggu kita?” omel Dirga terus-terusan sambil berjalan mendekati Dena.


Dena membuka pintu itu, melihat siapa yang mengetuk pintu kamar mereka.


“Lihat saja akan aku omeli orang itu” bersamaan dengan Dena yang membuka pintu Dirga terus saja mengomel.


“Kau mau mengomeli Mama” sungut Sisil pada putranya saat pintu terbuka dia tidak sengaja mendengar itu.


Dirga yang tadi tidak memperhatikan langsung melihat kearah Mamanya.


“Ma..mama” ucap Dirga terkejut.


“Kenapa? Kenapa bicaramu jadi gugup begitu. Katanya mau mengomel dengan orang yang mengganggu kalian, cepat omeli mama” tantang Sisil menyuruh anaknya itu.


“Ah mama salah dengar, aku tidak bicara seperti itu, benar kan sayang aku tidak bicara begitu” ucap Dirga dan langsung merangkul Dena meminta pertolongan.


“Aku tidak tahu,” jawab dena cuek.


“Ada apa ma?” tanya Dena kepada mertuanya itu.


“Mama hanya ingin bertemu kalian, Mama rindu pada kalian berdua dan Mama ingin mendengar berita bagus dari kamu Dena” Sisil begitu antusias.


Dena dan Dirga saling lihat satu sama lain, mereka tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan Sisil barusan.


“Maksud mama berita bagus?” tanya Dirga dan dena secara bersamaan.


“Dena hamil kan? Mama sebentar lagi punya cucu kan?”

__ADS_1


Mata Dirga dan dena terbelalak mendengar ucapan Sisil yang sekali lagi membuat mereka terkejut sekaligus bingung.


“Jangan Mengada-ada Ma, istriku belum hamil. Mama yang sabar dong, nanti aku dan Dena akan segera membuatkannya buat Mama” ucap Dirga


“Huh, jadi Dena belum hamil ya. Semangat mama hilang deh, kalian berdua cepat berikan cucu untuk mama dong”


“Iya-iya ma, doakan nanti malam kita akan membuatnya lagi dan memberikan cucu untuk Mama” sahut Dirga sambil tersenyum cengengesan.


Sementara Dena terbelalak mendengar ucapan Dirga dengan segera ia mencubit pinggang suaminya itu.


“Arkkh, sakit sayang” keluh Dirga menatap Dena yang ada di sampingnya.


“Kalau begitu mama kebawah lagi ya, kasihan Papa kalian tidak ada yang membantunya menurunkan koper” Sisil segera berjalan pergi dari kamar Dirga.


.......................


Dena menuruni tangga dia kan kebawah untuk berbicara pada Rehan. Dia harus bicara pada pria itu soal dia harus kembali ke rumah karena sedari Reyhan datang ke Indonesia dia sama sekali belum pulang ke rumah Papa mereka.


Walaupun Dena tidak melarangnya untuk tinggal di rumah Dirga, tapi bagaimana pun Reyhan harus pulang karena itu rumah orang tuanya. Dia juga tidak mau ambil pusing dengan Soraya yang terus-terusan menerornya menyuruh Reyhan untuk pulang.


Dena mengetuk pintu kamar yang ditinggali Reyhan saat ini,


“Masuk” terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya untuk masuk. Dena langsung membuka pintu kamar itu dan berjalan masuk kedalam.


“Oh kak, ada apa?” Reyhan segera meletakkan Hpnya di meja dan dia berdiri menghampiri Dena.


“Aku ingin bicara padamu,” ucap Dena, dia langsung duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.


“Bicara padaku?mau bicara apa kak” Reyhan mengikuti Dena duduk di sofa.


“Kau pulanglah ke rumah,?” pinta Dena menyuruh Reyhan untuk pulang.


“Kenapa menyuruhku pulang? Kakak tidak suka aku disini?”


“Bukannya begitu, semenjak kau pulang ke Indonesia sama sekali kau belum pulang ke rumah kan?”


“Kau menyuruhku pulang karena Mamaku ya? Dia mengancam dirimu kak? Apa yang dia katakan sehingga kau menyuruhku untuk pulang?” Reyhan terus-terusan melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada Dena membuat perempuan itu bingung untuk menjawab.


“Memang karena Mamamu aku menyuruhmu untuk pulang, tapi bukan itu saja temui lah Papa juga. Jadi teeman curhatnya,?” Dena berusaha membuat Reyhan yakin dengan perkataannya.


“Aku tidak mau, kenapa kau menyuruhku. Di Sana kan ada kak Daniel kenapa kau tidak menyuruh dia saja untuk menjadi teman curhat Papa” sungut Reyhan.


“Karena kau anak kesayangan Papa, dia dulu kan begitu menyayangimu sampai mengabaikan kita. Dan karena itu aku serta Daniel tidak dekat dengan Papa jadi mana mungkin kita menjadi teman curhatnya bukannya kita saling mengobrol malah nanti kita saling adu mulut satu sama lain” pungkas Dena melihat wajah reyhan yang terdiam saat dia mengatakan itu.

__ADS_1


“Maaf, karena aku kalian tidak mendapatkan kasih sayang Papa” terdengar nada bersalah keluar dari mulut Reyhan, dia menunduk merasa seperti memiliki sebuah kesalahan.


“Tidak usah dipikirkan,” Dena menepuk lembut pundak Reyhan.


“Kalau kau memang tidak mau tinggal di sana ya sudah tidak apa. Tapi, kau sering-seringlah main ke sana. Bagaimanapun dia Mamamu, pasti dia merindukan dirimu bertahun-tahun tidak bertemu denganmu” ucap Dena memberikan nasehat untuk Reyhan.


“Ya, kapan-kapan aku akan ke sana. Kalau aku ke sana kakak juga ikut ya” Reyhan menatap kakaknya memohon.


“Akan aku pikirkan,” jawab Dena singkat.


“ Ayo keluar, kita sarapan dulu. kau belum makan kan?” Dena langsung berdiri memperhatikan Reyhan yang mendongak menatapnya.


“Belum kak, ayok kita keluar” Reyhan ikut berdiri dan dia berjalan mengikuti Dena yang keluar dari kamar yang ia tempati saat ini.


.....................


Dirga turun kebawah dengan terburu-buru, sambil memegang dasi ditangannya. Dia berjalan cepat menuju meja makan untuk sarapan dan untuk menemui Dena. Dia mencari istrinya itu untuk memasangkan dasi.


“Sayang,..” panggilnya sambil berjalan kearah ruang makan. Diruang makan sendiri ad Doni, Sisil, Dena dan Reyhan mereka sudah berkumpul untuk sarapan pagi meski sedikit terlambat karena ini bukan pagi lagi tapi malah hampir siang saat ini sudah jam delapan lebih.


“Ada apa sih Dirga teriak-teriak..Istrimu sedang makan” tegur Doni pada anaknya.


“sayang, tolong pakaikan aku dasi” ucapnya pada Dena mengabaikan apa yang Papanya ucapkan.


“Kamu masih belum bisa memakai dasi sendiri?” Doni tampak terkejut dengan putranya itu.


“Belum pa, lagian pula ada istriku. Jadi aku tidak perlu khawatir” ucap Dirga enteng.


“Cepat sayang, aku terlambat” ucap Dirga lagi karena Dena masih duduk saja.


Dena langsung berdiri mengambil dasi yang ada ditangan Dirga. Dalam diam dia memasangkan dasi itu


“Sudah” ucapnya setelah selesai. Dan Dena kembali duduk di kursinya.


Dena segera mengambilkan nasi untuk Dirga namun Dirga menolak dengan masih berdiri dia berbicara dengan Dena.


“Tidak usah sayang, aku mau berangkat. Aku beragkat dulu ya” Dirga langsung mencium kening Dena dan berlari pergi mengabaikan yang lainnya.


“Dasar anak itu” gumam kedua orang tuanya, sedangkan dena tersenyum kecil sambil memakan makanannya..


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2