Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 44


__ADS_3

Dirga berjalan masuk kedalam PRAHA Caffe, dia melihat-lihat sekitar cafe itu. Banyak karyawan yang menyapa dirinya saat ia masuk kedalam. Membuat dia hanya tersenyum singkat saja untuk membalas sapaan mereka.


Dirga datang ke Cafenya karena ingin menemui orang yang bernama Reyhan yang mengirimkan pesan pada Dena. Ia penasaran siapa sebenarnya Reyhan. Mungkin kah itu pacar dari istrinya.


Dirga mengeluarkan ponsel miliknya, dia melihat nomor yang baru ia simpan kemarin. Itu nomor orang yang bernama Reyhan yang secara diam-diam ia ambil dari ponsel Dena.


Dirga menekan nomor itu, menghubungi nomor tersebut.


Tak lupa penglihatan Dirga menelusuri seluruh Cafe miliknya. Melihat siapakah diantara mereka yang bernama Reyhan dengan menjawab panggilan telpon dirinya saat ini.


Dan mata Dirga menangkap seorang pria yang duduk di kursi paling pojok kanan Cafe yang langsung menghadap kearah Jalan yang dibatasi oleh tembok kaca.


Dirga langsung mematikan sambungan telponnya sesegera mungkin berjalan menemui pria tersebut.


Saat dia sudah sampai didepannya, Dirga terus saja menatap orang itu memastikan apakah benar di depannya saat ini benar-benar orang yang mengajak bertemu Dena.


Seorang pemuda yang terlihat gagah, putih dan tampan, tak lupa tindik hitam di telinga kirinya. Serta rambut yang tertata dan kalau dilihat-lihat, pria di depannya seperti lebih muda dari darinya.


Pemuda itu yang sedari tadi menunduk bermain ponsel langsung mendongak saat merasa bahwa di depannya seperti ada orang yang berdiri memperhatikan dirinya.


"Siapa?" ucapnya langsung saat melihat orang yang berdiri di depannya saat ini.


"Kau Reyhan?" ucap Dirga balik bertanya tidak memberikan jawaban untuk pada pemuda yang duduk di depannya.


"Ya" sahut pemuda itu singkat.


Mendengar hal tersebut, Dirga langsung menarik kursinya dan duduk.


Membuat pemuda itu yang terlihat jelas di wajahnya tampak bertanya-tanya mengenai pria didepannya.


"Kau siapa?" tanyanya karena merasa aneh dengan pria yang asal duduk saja didepannya saat ini.


"Sebelum aku menjawab dirimu, aku ingin bertanya dulu padamu. Kau siapanya Dena?" ucap Dirga begitu ingin tahu siapa sebenarnya pemuda ini.


Reyhan langsung mengamati Dirga, dia memiliki berbagai pertanyaan di otaknya. Mengenai pria di depannya, kenapa pria itu mengenal kakaknya.


"Sepertinya bukan urusanmu untuk menanyakan hal itu" ketus Reyhan merasa tidak mau menjawabnya.


"Tentu itu urusanku, Dena istriku. Jadi, aku perlu tahu kau siapanya?"


Reyhan terdiam, memperhatikan Dirga lagi dengan seksama. Lalu dia tersenyum.

__ADS_1


Membuat Dirga mengernyitkan dahinya bingung.


"Namamu siapa?" tanya Reyhan.


"Dirga" ucap Dirga dingin.


"Tadi aku tanya padamu, kau siapanya Dena?" tambah Dirga masih bersikeras ingin tahu sebenarnya ada hubungan apa Dena dengan pemuda yang bernama Reyhan.


"Kau suaminya ya, tapi aku tidak yakin kau tipenya." ucap Reyhan seakan meledek Dirga.


"Aku mengenal dirinya, dia tidak suka tipe orang bejat seperti dirimu. Dan kau bilang bahwa kau suaminya, heh mana percaya diriku" ucap Reyhan lagi.


"Kau,.." emosi Dirga mulai terpancing mendengar ucapan Reyhan.


"Kenapa?Sudahlah aku pergi saja sepertinya Dena tidak akan datang. Karena dirimu yang datang ke sini" Reyhan langsung berdiri dari duduknya hendak pergi. Tapi Dirga segera menggebrak meja berdiri serta mencengkram leher Reyhan.


Reyhan tidak takut dengan itu, dia malah menatap Dirga tajam sambil tersenyum miring.


"Aku semakin yakin kau bukan tipenya, kau persis seperti Marco yang begitu emosian" Reyhan memegang tangan Dirga kuat melepaskan paksa tangan itu dari lehernya.


"Kau harus ingat, kalau kau sampai menyakiti Dena. Kau berurusan denganku" ancam Reyhan saat berhasil melepaskan tangan Dirga.


Dirga diam berdiri terpaku, dia semakin penasaran saja dengan siapa pria itu.


"Aku tidak akan mengatakannya, kau sebentar lagi juga bakal tahu siapa aku. Sampai ketemu lagi" ucap Reyhan datar dan dia langsung pergi meninggalkan Dirga dengan rasa penasaran yang teramat.


………………


Dena hendak pergi keluar, entah kemana dia akan pergi yang jelas saat ini dia berpakaian santai.


Dia berjalan keluar rumah, tanpa di duga ia berpapasan dengan Dewa yang hendak masuk kedalam rumah saat ini.


Dena hanya diam saja, tidak ada niat untuk menyapa Dewa sama sekali. Dia hendak segera berlalu.


"Dena sampai kapan kau akan mengacuhkan diriku?Kita sekarang bersaudara Dena" Dewa mampu menghentikan langkah Dena.


Dena melihat Dewa yang menatapnya nanar, dia berharap semoga Dena kali ini mau mendengar dirinya.


"Apa kak Dewa tahu sewaktu kau pergi, tanpa memberitahuku. Apa yang aku alami dan yang paling membuatku merasa sedih. Aku sedih kak karena dulu aku tidak tahu tentang siapa dirimu dan dimana rumahmu. Disaat kamu pergi aku seperti orang gila yang kehilangan arah mencari dirimu tapi tak tahu harus mencarinya kemana" jelas Dena menatap Dewa biasa saja.


"Aku minta maaf Dena, aku tahu aku salah. Maaf kan aku, mari kita berteman lagi seperti dulu. Ceritakan semua yang kamu alami selama ini, aku siap mendengarkannya. Jangan ada jarak lagi diantara kita Dena, kita sekarang keluarga kau bebas menceritakannya padaku lagi" ucap Dewa mencoba meyakinkan Dena.

__ADS_1


Dena hanya diam, menatap Dewa. Tapi tiba-tiba dia berlari memeluk Dewa begitu saja.


Dewa tentu saja syok dengan pelukan Dena yang tiba-tiba tersebut.


Namun dia akhirnya membalas pelukan adik kecilnya itu, dia sudah menunggu moment ini sangat lama.


"Kak Dewa,.." ucap Dena dengan bergetar sambil memeluk Radewa.


"Kuatkan bahu mu lagi, aku di sampingmu sekarang. Jangan pernah meneteskan air matamu," lirih Dewa memeluk Dena erat.


"Aku janji, aku akan menguatkan bahuku selama ada seseorang yang mendukungku seperti dirimu" ucap Dena masih terus memeluk Dewa.


"Kau harus janji padaku," ucap Dewa.


"Hemm," saat mereka berdua sedang berpelukan tiba-tiba saja ada seseorang yang baru saja datang berdehem kepada mereka.


Membuat pelukan keduanya terlepas. Dan mereka langsung melihat kearah sumber suara.


Dewa begitu kaget saat melihat siapa orang itu yang ternyata adalah adiknya Dirga. Pria itu menatap dirinya datar seperti menahan amarah terlihat dari kedua tangannya yang mengepal kuat.


Sementara Dena sendiri tampak biasa saja, dia tidak merasa ada yang salah antara dirinya dan Dewa.


"Dirga,." ucap Dewa pelan dan dia sesekali melihat kearah Dena.


Dirga hanya diam saja, dan entah kenapa dia langsung pergi tapi sorotan matanya pada Dewa tidak lepas dia begitu tajam menatap Dewa. Tapi, ia tidak menatap Dena sama sekali dia mengacuhkan perempuan itu yang menatap dirinya.


"Dirga tunggu, kamu salah paham" ucap Dewa saat Dirga melewati dirinya.


Dirga tidak menjawab sama sekali, dia hanya berjalan saja pergi masuk kedalam rumah.


………………


Dirga memukulkan tangannya keras ke tembok kamar, dia merasa marah saat ini. Emosinya keluar seketika saat dia melihat kakaknya tadi yang sedang berpelukan dengan istrinya.


"Kenapa Dewa lagi Dewa lagi," ucapnya kesal sambil memukul tembok.


"Kali ini aku tidak akan membiarkan dia mendapatkan apa yang telah menjadi milikku" ucap Dirga lagi dengan sorot mata tajam dan aura yang menakutkan.


Dirga diam berdiri di tempatnya, dia memikirkan perasaan dirinya. Sekarang dia tidak cemburu, dia hanya tidak terima jika Dewa kakaknya mendapatkan apa yang telah menjadi miliknya. Karena kakaknya itu sudah mendapatkannya sementara dirinya..


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2