
Dena melepaskan pelukan Dirga, dia menatap manik mata hitam Dirga yang tengah menatapnya saat ini.
"Aku mau keluar sebentar, kalau kau ingin tetap berada disini, disini saja. Aku hanya sebentar" ucap Dena pada Dirga.
"Baiklah aku disini saja, jangan lama-lama meninggalkanku sendirian disini" ucap Dirga pada Dena.
Dena hanya diam tidak menjawabnya, dia langsung melangkah pergi keluar meninggalkan Dirga yang menatapnya berjalan menjauh.
Dirga melihat sekeliling ruang tamu Vila itu, tempatnya begitu tenang dan nyaman. Mungkin itulah sebab Dena sering berada disini.
Mata Dirga tertuju pada dua foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto yang memperlihatkan sebuah keluarga sesungguhnya. Membuat Dirga mengernyit teringat dengan kondisi keluarga Dena sekarang yang jauh dari keharmonisan.
Perlahan Dirga mulai mendekat ingin melihat foto keluarga tersebut.
Dua foto itu merupakan foto dimana saat Dena dan Daniel berusia satu tahun dan umur dua tahun.
"Apa ini sebelum datangnya istri Papa Marco yang sekarang?" gumam Dirga terus melihat foto tersebut.
"Dia menggemaskan, dan aku tahu ia cantik karena siapa pasti mamanya. Tapi gen papa Marco lebih mendominasi nya" ucap Dirga tersenyum sambil mengusap foto Dena. Benar walaupun dia cantik seperti mamanya tapi menurutnya Dena lebih condong ke Marco.
"Oh iya, dimana Dena. Kenapa dia belum kembali" ucap Dirga melihat kebelakang. Dimana belum melihat tanda-tanda Dena masuk ke rumah.
………………
Dena sedang berada di pinggir sungai, melihat ke arus sungai itu yang mengalir. Saat dia sedang asik mengamati arus sungai tanpa diduga kakinya terpleset membuat dirinya terjatuh kedalam air. Dia berusaha berdiri, tapi tiba-tiba saja kakinya keram dan membuatnya terseret arus.
"Tolong,..Tolong" teriaknya saat dia terseret aris itu.
Dia berusaha menggapai batu an yang ada di pinggir sungai. Dia memegangi erat batu besar yang ada di sungai itu agar tidak ikut terbawa arus.
"Tolong.." teriaknya penuh ketakutan. Benar saat ini dia benar-benar takut. Dia takut akan terbawa arus dan membuat dirinya tiada.
Terlintas bayangan Daniel, Mamanya dan Papanya dimana mereka tersenyum bersama dulu.
"Apa aku akan mati disini" ucap Dena pesimis karena sudah dua kali dia berteriak tidak ada yang datang.
"Dena,..Dena. Kamu meninggalkan dirimu di Vila mu dan sekarang kamu dimana?" teriak Dirga yang mengarah ke sungai.
Dena mendengar itu,
"Di..Dirga, Dirga tolong" ucap Dena begitu keras berusaha melawan ketakutannya.
"Dirga.." ucapnya lagi dengan lebih keras.
Dirga berhenti berjalan, dia mendengar itu.
"Dena, Dena.." panggilnya.
"Dirga tolong,..aku..aku disini" ucap Dena masih bertahan pada pegangan di batu itu.
Dirga melihat kearah sungai menelusuri ke depan mencari keberadaan Dena. Dan betapa terkejutnya dia melihat Dena tengah berpegang pada sebuah batu yang berada di tengah sungai.
Dengan segera Dirga langsung berlari menerjang sungai.
__ADS_1
Terlambat pegangan Dena terlepas dari batu., Dena terbawa arus.
"Denaaa.." teriak Dirga histeris.
Dia langsung berenang, mengejar Dena. Dengan sangat bersusah payah Dirga berusaha mengejar Dena sampai dia terkantuk batu. Itu tidak menghalangi dirinya menyelamatkan Dena.
Setelah bersusah payah berenang akhirnya dia mendapatkan Dena yang hampir terlelap semua tubuhnya dengan segera dia membawa Dena menepi ke pinggir sungai.
"Dena, Dena buka matamu. Aku mohon buka matamu" ucap Dirga menepuk-nepuk wajah Dena yang sudah tidak sadarkan diri.
"Aku mohon buka matamu" bentak Dirga dan dia langsung memberikan nafas buatan, berkali-kali dia berusaha memberikan nafas buatan dan akhirnya Dena memuntahkan air dari mulutnya.
Dirga menatap Dena dengan cemas dia langsung memeluk Dena saat perempuan itu sudah membuka matanya.
"Syukurlah, Kamu sudah sadar" lirihnya memeluk Dena.
Tapi tiba-tiba Dena terkulai lemas di pelukan Dirga. Membuat Dirga melihat Dena, dia terlihat khawatir sekarang.
"Hey, hey, kenapa kau menutup matamu lagi sadarlah" ucap Dirga sambil memegang pergelangan tangan Dena.
Dengan cepat Dirga langsung mengangkat Dena, dia menggendong Dena berlari masuk ke villa.
Dengan cepat dia menaruh Dena di sofa saat dia sudah berada di ruang tengah.
Dia menggosok-gosok tangan Dena, dia yakin saat ini Dena sedang pingsan.
"Dena bangunlah, ku mohon bangun. Jangan membuatku khawatir seperti ini" ucap Dirga terdengar frustasi.
"Dirga.." lirih Dena membuka matanya perlahan.
"Kau gila, kau ingin bunuh diri di sungai" bentak Dirga saat Dena sudah membuka matanya secara sempurna.
"Ak..aku terpeleset" ucap Dena terbata.
"Kau serius terpleset atau ingin bunuh diri. Kau hampir membuatku gila saja" ucap Dirga begitu keras menatap Dena yang lemah dalam rengkuhannya.
"Kau bodoh, apa kau tidak tahu betapa khawatirnya diriku. Kau menganggap remeh cintaku. Kau tidak membayangkan diriku kalau kau tiada" ucap Dirga meluapkan segala emosinya.
"Maaf," ucap Dena.
"Terimakasih sudah menolongku, kalau kau tidak menolongku mungkin aku sudah tiada dan aku tidak tahu Daniel nanti bagaimana" ucap Dena lagi meneteskan air matanya.
"Kau hanya mengkhawatirkan Daniel kalau kau tiada. Kau tidak mengkhawatirkan diriku kalau kehilangan dirimu" ucap Dirga terkesan kecewa.
"Dasar," ucap Dirga lagi. Tapi dia bukannya marah dan pergi, ia malah memeluk Dena erat.
Seakan Dirga tidak ingin kehilangan Dena.
"Terimakasih,." Dena menangis sambil memeluk Dirga yang memeluknya erat.
"Kamarnya dimana?Kau harus berada dikamar. Ganti baju" ucap Dirga masih memeluk Dena.
"Di Sana," tunjuk Dena kearah kamar yang berada berada di dekat foto keluarga.
Tanpa menunggu lama Dirga langsung menggendong Dena ala bridal style menuju ke kamar tersebut.
Pakaian mereka berdua sama-sama basah, berjalan masuk kearah kamar.
__ADS_1
Dena terus memperhatikan wajah Dirga yang menggendong dirinya saat ini. Dan tanpa diduga Dena baru sadar kalau dahi Dirga berdarah.
"Dahi mu kenapa?" tanya Dena.
Dirga menunduk melihat Dena.
"Apa?" Ucap Dirga tidak mengerti.
"Ini," sentuh Dena pada dahi Dirga yang terluka.
Dirga yang tadinya tidak menyadari itu, baru merasakan nyeri saat Dena menyentuhnya.
"Apa gara-gara menolongku?" tanya Dena memperhatikan Dirga yang hanya diam dan terus berjalan menuju ke kamar.
Dirga menggendong Dena masuk kedalam kamar yang ditunjuk Dena tadi. Dia membaringkan Dena secara perlahan di tempat tidur.
"Kau tidak usah banyak tanya ganti bajumu" ucap Dirga berjalan menuju lemari pakaian. Walaupun dia tidak tahu disitu ada baju atau tidak tapi feeling-nya pasti ada baju di lemari tersebut.
Dia mengambil kaos besar yang ada di sana dan juga celana pendek. Tidak hanya satu dia mengambil dua. Untuk dirinya dan juga Dena.
Celana jeans perempuan dan laki-laki serta dua kaos berwana putih.
Dirga dibuat heran, kenapa ada dua baju seperti itu disini. Tapi ya sudah tidak perlu dipikirkan.
"Cepat ganti baju, aku juga akan ganti baju" ucap Dirga dan langsung pergi mengganti bajunya.
Setelah saling berganti baju, kini mereka duduk ditempat tidur saling diam satu sama lain.
Sementara Dena duduk di situ sudah memegang kotak p3k. Dia berjalan mendekati Dirga berdiri tepat di depan pria itu.
Dirga mendongak, melihat Dena.
"Ada apa?" tanya Dirga.
"Aku obati dahi mu" Dena menaruh kotak p3k di tempat tidur dan dia membuka kotak itu.
Dena mulai mengobati Dirga, dan sedari tadi Dirga memperhatikan Dena yang begitu serius mengobatinya.
Setelah selesai Dena melihat Dirga intens.
"Terimakasih untukmu, aku sudah percaya padamu. Aku, aku yakin pada cintamu" ucap Dena terbata.
Dirga hanya diam saja tidak merespon ucapan Dena barusan. Karena Dirga diam saja akhirnya Dena memutuskan untuk berjalan pergi.
Baru beberapa langkah dia berjalan Dirga langsung menariknya dan membuat Dena duduk di pangkuan Dirga saat ini.
Pria itu memperhatikan istrinya penuh makna
"Kau baru percaya setelah diriku seperti ini. Ternyata kau jahat ya, mungkin lebih jahat dariku." sinis Dirga memegang Dena yang duduk di pangkuannya.
"Maaf," Dena merasa bersalah.
"Tapi, tidak apa. aku rela terluka untuk membuktikan padamu. Dan aku tetap mencintaimu, kau jangan sampai terluka lagi atau menghilang dariku. Aku tidak bisa tanpamu mengerti." ucap Dirga lalu segera memeluk Dena yang terdiam, dia terharu mendengar ucapan Dirga.
"Aku janji tidak akan terluka atau menghilang dari hidupmu" balas Dena membalas pelukan Dirga.
°°°
__ADS_1
T.B.C