Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 100


__ADS_3

Matahari sudah menyingsing, Dena terbangun dari tidurnya saat ini. Karena ia merasa mual di perutnya, rasa mual yang begitu menyiksanya saat ini.


Dengan buru-buru, ia menyibak selimut serta melepaskan pelukan Dirga dengan paksa dan langsung berlari kearah kamar mandi. Dia sudah tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.


Dirga yang merasakan pergerakan keras di kasur tadi sedikit membuka matanya sambil meraba ke sebelahnya yang telah kosong.


"Sayang, Sayang," panggilnya sambil meraba-raba kasur kosong di sebelahnya dengan masih memejamkan matanya.


Hueek, hueek


Terdengar suara keras orang sedang muntah dari kamar mandi membuat Dirga langsung terbangun membuka matanya sempurna sambil melihat kesamping yang sudah kosong. Tidak ada Dena di sebelahnya.


"Apa itu Dena,?" gumamnya sambil melihat kearah kamar mandi, dia segera turun dari tempat tidur berjalan tergesa menuju kamar mandi yang terbuka.


Dengan cepat ia masuk kedalam kamar mandi, melihat Dena yang sudah jongkok di depan kloset sambil mengeluarkan muntahan dari dalam mulutnya.


"Sayang kamu sakit?" Dirga ikut jongkok di sebelah Dena sambil memijat leher belakang istrinya agar lebih enakan.


"Sepertinya aku kelelahan" ucap Dena pelan.


Hueekk


Dena kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya.


"Nggak, kamu ini sakit sekarang. Ayo kita ke dokter ya" Dirga tampak khawatir, dia sesekali memijit leher Dena.


"Aku tidak mau, aku tidak sakit. Aku hanya butuh istirahat" tolak Dena, dia perlahan berdiri dengan di bantu Dirga yang membopongnya.


"Tapi kamu muntah begini, kamu sakit ini" tegas Dirga sambil memapah Dena pelan berjalan kearah tempat tidur.


"Aku tidak apa, kamu kenapa sih lebay banget" ketus Dena melepaskan tangan Dirga yang ada di bahunya.


"Sayang, nurut aja kenapa?" Dirga kembali memegang bahu Dena saat ini menuntunnya ke tempat tidur.


"Aku nggak mau ya nggak mau, aku cuma butuh istirahat" tegas Dena mulai menaikan kakinya ke tempat tidur.


"Dasar keras kepala sekali dirimu, aku tidak mau tahu pokonya kamu harus ikut aku ke rumah sakit" Dirga menahan Dena agar tidak tiduran kembali.


"Ayo, ke rumah sakit" Dirga memaksa Dena, bahkan dia menggendong istrinya itu.


"Aku tidak mau turunkan aku, Dirga turunkan aku" ucap Dena dengan keras dan juga memberontak.


"Tidak" pungkas Dirga tajam.


Baru saja dia akan melangkah lebih jauh, Hp Dirga berbunyi.

__ADS_1


Dengan terpaksa dia harus menurunkan Dena di tempat tidur lagi dan ia harus segera mengangkat panggilan itu.


"Iya Halo Sam, Ada apa?" kesuh Dirga menjawab panggilan itu.


"Kau harus segera ke perusahaan, pihak JK holding membatalkan kerjasama dengan kita" ucap Samuel dari seberang sana.


"Apa?" Dirga tampak terkejut mendengar kerjasama mereka di batalkan. Karena kerjasama dengan JK Holding adalah proyek besar bagi perusahaannya. Dan dia juga sudah keluar banyak modal untuk itu.


"Makanya, cepatlah ke kantor. Aku juga sudah secara paksa menyuruh mereka ke sini untuk merundingkannya lagi denganmu" pungkas Samuel.


"Baiklah aku ke sana" jawab Dirga melihat kearah Dena yang tampak santai di atas kasur.


"Sayang, kamu hari ini lolos untuk tidak ke rumah sakit. Tapi nanti, aku akan memaksamu pergi. Aku ke kantor dulu, kamu makan sana" ucap Dirga memperhatikan Dena yang malah akan beranjak pergi.


"Tidak kamu suruh aku bakal makan" pungkas Dena cuek, dan ia malah pergi meninggalkan Dirga ke balkon.


"Bagus kalau begitu, aku pergi" ucap Dirga sambil menghampiri Dena dan mencium kening perempuan itu.


"Iih, kenapa kamu mencium keningku membuatku kotor saja" Dena menghapus bekas ciuman Dirga tadi.


"Terserah apa katamu sayang, kali ini kamu aku maafkan sedari kemarin membuatku kesal. Aku pergi" Dirga langsung pergi dari dalam kamar menuju perusahaan miliknya.


Tanpa mandi terlebih dahulu Dirga langsung pergi terburu-buru. Karena ini begitu penting untuk dirinya.


Dena sudah mandi saat ini dan dia masih merasa mual terus-terusan bahkan tubuhnya pun terasa lemas sekarang.


"Kenapa dengan diriku sebenarnya," ucap Dena pada dirinya sendiri. Dia duduk di ujung tempat tidur.


"Dena kamu sedang apa nak,?" pintu kamar Dena terbuka menampakkan sang ibu mertua yang berjalan mendekati Dena saat ini.


Dena langsung melihat kearah ibu mertuanya.


"Aku habis mandi ma, kenapa?" Dena berdiri dari duduknya tapi kepalanya terasa pusing sehingga dia duduk kembali.


Sisil yang menyadari ada yang tidak beres dengan menantunya langsung buru-buru mendekat.


"Kamu kenapa Dena?" Sisil tampak begitu khawatir.


"Aku tidak tahu ma, dua hari ini aku merasa mual dan kepalaku sedikit pusing" ucap Dena lirih menahan mual pada perutnya.


Sisil langsung tersenyum bahagia, dugaannya ini pasti benar. Karena senyum Sisil itu membuat Dena bingung.


"Kenapa Mama tersenyum?" heran Dena melihat mertuanya tersebut.


"Sebentar, kamu tunggu di sini ya. Mama sebentar lagi kembali" entah kenapa Sisil langsung berjalan cepat keluar dari kamar.

__ADS_1


Dena sendiri menatap heran mertuanya yang keluar tergesa-gesa.


Tak lama kemudian Sisil masuk kembali kedalam kamar Dena dengan membawa sekotak alat tes kehamilan.


Dia menyerahkannya pada Dena,


"Dena coba kamu pergi ke kamar mandi dan tes pakai ini. Mama curiga kalau kamu hamil" ucap Sisil mengambil satu alat tes kehamilan dan menyerahkannya pada Dena.


Dena sendiri menatap bingung, untuk apa dia melakukan tes itu.


"Mama kenapa menyuruhku melakukannya, dan kenapa Mama memiliki alat ini sebanyak ini"


"Mama sengaja menyimpan ini untuk dirimu, Mama ingin sekali punya cucu dari Dirga dan dirimu. Sudah sana pergi ke kamar mandi lalu tes dengan ini"


Akhirnya Dena menuruti perintah mertuanya, dia pergi ke kamar mandi. Dia juga baru terpikirkan kalau dia terlambat datang bulan, bulan ini.


Dena masuk kedalam kamar mandi, sementara di luar Sisil harap-harap cemas. Semoga harapannya untuk memiliki cucu segera terwujud.


Sisil duduk di tempat Dena duduk tadi, dia melipat tangannya berdoa semoga menantunya itu memang hamil.


Setelah beberapa menit Dena keluar dari kamar mandi sambil membawa hasil tes kehamilan itu.


"Bagaimana nak?" Sisil langsung berdiri menghampiri Dena.


perlahan Dena menyerahkannya pada sang mertua.


"Ini Ma," ucapnya menyerahkan alat tes kehamilan tersebut.


Sisil melihatnya dengan tidak sabar, dia langsung berbinar saat melihat itu. Dua garis muncul di alat tersebut yang menandakan kalau Dena hamil.


"Hah, kamu hamil nak. Ah mama senang sekali, akhirnya mama mau punya cucu" dengan gembira Sisil langsung memeluk Dena.


"Kita harus memberi tahu Dirga, Mama telpon suamimu ya?" Sisil bergegas memencet nomer Dirga.


"Ma tunggu, biar aku sendiri yang memberitahunya nanti. Aku ingin memberi kejutan padanya" ucap Dena menghentikan niat Sisil untuk memberitahu Dirga.


"Ya sudah kalau kamu inginnya begitu, sekarang kamu istirahat saja ya. Sambil nunggu Dirga pulang, ayok sayang kamu harus tiduran saja" ucap Sisil menuntun Dena ke tempat tidur.


°°°


T.B.C


Maaf untuk kk semua, karena lama banget up terus jarang up juga akhir-akhir ini. Soalnya author masih sibuk merayakan hari Raya. Jadi pelan-pelan author sempetin buat up terus.


Maaf karena sudah mengecewakan, karena lama up🙏

__ADS_1


__ADS_2