Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 147


__ADS_3

Keluarga Suherman dan keluarga Sharman saat ini tengah diliputi rasa gembira yang teramat sangat cucu pertama dari dua keluarga itu akhirnya telah lahir ke dunia dengan selamat begitu juga ibunya yang sehat.


Dua bayi kembar berjenis kelamin laki-laki yang diberi nama Gian Jacob Suherman dan Gibran ILLecas Suherman itu kini menjadi rebutan orang-orang yang ingin menggendongnya. Karena kedua bayi itu sungguh lucu dan manis sekali. Tak lupa wajah tampan serta hidung mancungnya membuat semua orang merasa gemas.


Ruangan Dena dipenuhi dengan kedua keluarga itu, Dirga sendiri duduk di ranjang tempat tidur sambil menyuapi Dena apel melihat kedua orang tuanya yang menggendong Gibran saat ini.


Sementara Gian di gendong oleh Marco, Marco duduk di sofa bersama dengan Daniel dan juga Reyhan yang duduk di kedua sisinya.


“Asli gemas, iih mereka kok gemesin sih” ucap Reyhan mencubit pipi Gian.


“Jangan kau cibut-cubit” tegur Daniel dengan ekspresi datarnya.


“Apaan sih, nggak masalah kali.” Ucap Reyhan.


“Pa dulu Kak Dena sama Kak Daniel apa menggemaskan seperti ini?” ucap reyhan bertanya ada Marco.


“Ya persis begini, suasana Monica saat melahirkan dulu juga seperti ini. Kita semua senang menyambut Daniel serta Dena” ucap Marco terlihat sedih melihat cucu yang ia gendong sekarang.


Dia juga sekilas memperhatikan Doni dan Sisil yang tengah menggendong Gibran, ada semburat kesedihan dihatinya. Ini cucu pertamanya dan Monica, sangat terasa kosong sekali tanpa kehadiran Monica saat ini.


...............


Dena dan dua bayinya sudah boleh dibawa pulang, setelah sehari mereka di rumah sakit karena memang kondisi ibu dan bayinya sehat maka dokter memutuskan untuk mereka boleh pulang.


Dirga heboh sendiri, dia tampak sibuk menyuruh para pelayan dirumahnya serta orang baru yang ia jadikan pelayan untuk merapikan kamarnya dan juga menyiapkan semua kebutuhan bayi agar tersedia semua didalam kamarnya saat ini.


Sungguh hal yang tidak ia bayangkan sebelumnya, keluarga kecilnya kini tambah bahagia dengan kehadiran dua bayi kembarnya yang menggemaskan. Sungguh adil juga mereka berdua wajahnya terbagi rata. Mirip dirinya dan juga mirip Dena.


Wajah Gian putra sulungnya mirip dengan Dena sekilas juga mirip Daniel dan Gibran si bungsu mirip dirinya. Tuhan sungguh adil padanya.


Kamarnya saat ini sudah siap dan Dena juga sudah ada didalam kamar dengan kedua anaknya, Gibran ada di gendongan Dena sementara Gian ada di sebelah Dena saat ini. Ia masuk kedalam kamar melihat istri dan anak-anaknya sungguh membahagiakan sekali.


“Gian, Gibran papa datang nak,” ucapnya dengan antusias saat membuka pintu.


“Diam lah, Gibran baru saja tidur sedari tadi dia menangis” namun rasa antusiasnya serta senyumnya langsung pudar saat mendengar ucapan Dena.


“Kenapa sih sayang, aku kan lagi seneng sama mereka” ucap Dirga berjalan mendekat.


“Ya kamu apa tidak lihat mereka sedang tidur. Aku juga sedang menidurkan Gibran yang sedari tadi menangis. Kamu sendiri malah kemana, apa tidak tahu aku repot begini” kesal dena sambil menyusui Gibran saat ini.


“Aku habis dari bawah membayar pelayan-pelayan yang aku sewa untuk merapikan kamar ini tadi” ucap Dirga perlahan naik ke tempat tidur dan segera menggendong Gian.


“Anak Papa kok gemesin begini sih nak” ucap Dirga saat menggendong Gian dan menciumi anaknya itu.


“Jangan kamu ciumi terus nanti dia bangun” ucap Dena ada Dirga.


“Ya biarin kalau bangun, aku ajak main sekalian” pungkas Dirga.


“Kamu enak bilang begitu aku yang sedari tadi coba menidurkannya yang bingung”


“Gibran udah dong nak, nyusunya masa nyusu terus dari kemarin nanti Papa nggak kebagian” ucap dirga asal dan langsung mendapat cubitan dari Dena.


“Kamu aneh,..”


“Sakit sayang,”


“Makanya jangan bilang begitu, nggak lucu”

__ADS_1


“Siapa juga yang melucu, kan memang benar nanti kalau air susu kamu habis aku gimana,” ucap Dirga menggoda Dena yang fokus menyusui Gibran. Dia pura-pura tidak mendengar perkataan Dirga.


“Sayang buat lagi yok,” Sambil menggendong Gian Dirga menatap Dena yang masih menyusui Gibran.


“Buat apa?” Dena yang tidak fokus karena tengah menyusui anaknya menanggapi saja perkataan Dirga.


“Buat anak lagi, buat adik untuk Gian sama Gibran” tukas Dirga dan langsung membuat mata Dena melebar menatapnya.


“Dasar gila, mereka saja baru lahir dua hari” ketus Dena.


“Hehehe, bercanda” ucap Dirga puas membercandai istrinya. Karena tawanya itu membuat Gian yang tengah dia gendong saat ini terbangun dan menangis.


“Eh, eh kok nangis sih sayang,.” Ucap Dirga kaget melihat Gian di gendongan nya yang tengah menangis.


“Iih, kamu mah. Aku kan sudah bilang awas bangun. Bangun beneran kan” kesuh Dena yang seakan lelah saat ini.


“Ya maaf,.”


“Aduh anak Papa kok nangis sih” ucap Dirga langsung bangkit dari tempat tidur sambil menggendong Gian menimang-nimangnya agar tidak menangis lagi.


............


Keluarga Suherman dan keluarga Sharman serta Heja dan keluarganya saat ini mereka semua tengah berlibur bersama di Vila tempat kesayangan Monica dulu.


Dena serta Daniel memang sengaja liburan karena semenjak anak mereka lahir mereka belum libur dan Heja orang yang sudah Dena anggap sebagai ibunya sendiri belum bisa menengok anaknya yang hampir berumur satu bulan ini. Makanya dia dan Dirga memberi kejutan pada Heja dengan datang Ke Vila.


“Pa, sekarang kita punya cucu” ucap Heja saat menggendong Gian dan suaminya menggendong Gibran.


“Iya ma, mereka menggemaskan ya” ucap Suami dari Heja.


“Dena Dirga, maafkan Bija ya belum bisa ke menemui kalian. Eh kalian yang malah kesini bersama dengan keluarga kalian.” Ucap Heja merasa bersalah.


“Lalu dimana Papamu, sedari tadi aku belum melihatnya” pungkas Heja karena sedari mereka semua datang tadi dia belum melihat Marco sama sekali. Dia hanya melihat orang tua Dirga saja yang saat ini sedang ada di ruang tamu bersama mereka.


“Dia dipinggir sungai, duduk di bawah pohon kesukaan Mama” jawab Dena.


“Oh, kalau begitu biarkan saja Papamu di sana”


“Ah lucu sekali anak kalian” ucap Heja berkali-kali gemas dengan kedua anak Dena dan Dirga.


Dirga serta Dena hanya tersenyum saja mendengar ke gemasan Heja terhadap anak-anak mereka sekarang.


.............


Marco duduk di bawah pohon yang terletak di pinggir sungai, dia melihat sungai jernih mengalir dengan begitu tenang.


“Lama aku tidak kesini,” gumamnya


“Aku ketempat kesukaanmu Monica” ucap Marco.


“Kenapa kau berbicara sendiri seperti orang yang tidak memiliki akal,” dengan ketusnya Daniel berbicara berjalan mendekati Papanya yang duduk melihat kearah sungai.


Marco langsung menoleh melihat anaknya yang datang dari arah belakangnya. Marco terus melihat Daniel yang sekarang telah mengambil duduk disebelahnya.


“Tempatnya bagus ya?” ucap Daniel membuka pembicaraan.


“Iya, tempat ini memang bagus dan apapun yang disukai Mamamu selalu bagus. Papa menyesal jarang datang kesini, ini utuk pertama kalinya setelah Mamamu dulu saat hamil kalian mengajak kesini” pungkas Marco memulai cerita.

__ADS_1


“Sama aku juga menyesal jarang kesini,” ucap Daniel datar tanpa ekspresi dia menatap ke depan lebih tepatnya menatap arus sungai yang mengalir.


Marco yang mendengar itu langsung melihat kearah anaknya.


“Bukannya kamu sering kesini,?”


“Tidak, Dena yang sering kesini aku jarang. Bahkan dengan hitungan jari saja bisa sangat dihitung”


Marco hanya terdiam mendengar penuturan anaknya.


“Papa tidak usah menyesali semua itu, itu juga bukan sepenuhnya salah Papa. Itu salah mereka bertiga” ucap daniel tanpa melihat kearah papanya.


Marco kembali melihat kearah Daniel saat ini yang melihat kearah sungai.


“Papa hanya menjadi korban dari mereka bertiga, mereka juga sudah mendapat hukumannya. Dan aku hanya berharap padamu jadilah Papa yang bertanggung jawab sebelum kamu terkena hasutan dulu.” pungkas Daniel.


Marco langsung berdiri setelah mendengar ucapan sang anak,


“Papa janji, Papa akan menjadi Papa yang baik buat kalian. Kalian lah yang harapan papa saat ini.” Ucap Marco berkaca-kaca.


Daniel mendongak melihat papanya yang berdiri, dia juga ikut berdiri menatap sang Papa.


“Bagus jika memang kau akan seperti itu, jika kamu memang butuh pendamping carilah seorang pendamping daripada menjadi duda sendirian seperti ini” ucap Daniel pada Marco.


Perkataan Daniel itu tentu saja membuatnya terkejut, Daniel berucap sedikit panjang padanya sekarang. Ini pertama kalinya dia berkata hangat begini padanya.


Marco mendekati Daniel dan langsung memeluknya erat, dia bangga dengan anak-anaknya yang dulu pernah tidak ia aku.


“Wah nggak asik nih, peluk-pelukan nggak ajak-ajak” ucap Reyhan dari arah belakang mereka dia tidak sendiri melainkan dengan Dena dan juga Dirga disitu yang berjalan menghampiri mereka berdua.


“Iya nih Papa Marco nggak asik” ucap Dirga ikut menimpali. Sementara Dena hanya diam terus berjalan mendekat.


“Dena,.” Ucap Marco sedikit canggung. Baru saja dia mengucapkan itu Dena langsung memeluknya saat ini.


“Boleh aku memeluk Papa?” ucap dena terus memeluk papanya.


Marco sendiri tampak terkejut karena untuk pertama kalinya juga Dena mau memeluk dirinya.


“Boleh, sangat boleh ank Papa” ucap Marco langsung balas memeluk Dena dia mengusap lembut kepala anaknya itu dan mencium hangat kepala putrinya.


“Ah aku juga mau dipeluk” ucap reyhan langsung memeluk kakak serta Papanya secra bersamaan.


“Kamu ini,.” Ucap marco setengah tersenyum. Yang lainnya juga ikut tersenyum. Mereka semua kini tampak layaknya sebuah keluarga yang penuh kehangatan.


Meskipun pernah ada konflik diantara mereka, namun kini hanya kehangatan yang terjadi saat ini sungguh suatu yang mengharukan.


°°°


END


Akhirnya Novel ini tamat juga semuanya, terimakasih sudah setia di Novel ini.


Baca kelanjutan Kisah dari mereka di Kisahnya Daniel ya Readers.


Dan Author mau Minta maaf sama kalian jika ceritanya tidak memuaskan untuk kalian semua.


Selamat bertemu di karya selanjutnya Reders.

__ADS_1


Salam hangat dari Author, See You Next Time🙋‍♀️🙋‍♀️


__ADS_2