
“Kamu mau jus mangga?Tiba-tiba sekali? Jangan-jangan benihku sudah tumbuh di rahimmu. Kamu hamil sekarang?” tanya Dirga heran masih memeluk Dena dari belakang, ia mendongak melihat ke wajah Dena.
Sontak Dena langsung melihat Dirga yang tampak berbinar dengan anggapannya sendiri yang terkesan mustahil.
“Jangan asal” Dena melepaskan pelukan Dirga dan sedikit bergeser memberi jarak antara dirinya dan Dirga.
“Kenapa?Siapa yang asal bicara, aku mengatakan yang sebenarnya. Wajar dong kalau kamu hamil kitakan sudah melakukannya dan aku mengeluarkannya di dalam mu” ucap Dirga dengan polosnya. membuat wajah Dena yang sedang memotong-motong buah mangga seketika langsung memerah atas perkataan Dirga barusan.
“Jangan mengarang, Baru kemarin kita melakukanya masa langsung jadi semalam aneh” ketus Dena melhat Dirga yang langsung tampak berpikir.
Dirga diam saja, dalam hatinya dia membenarkan perkataan Dena benar saja. Masa langsung jadi dalam semalam.
“Kamu mau jus tidak?” ucap Dena menawari Dirga jus saat pria itu masih sibuk dengan pikirannya.
“Buatkan saja” sahut Dirga kemudian.
“Aku nanti ijin mau pergi sebentar” ucap Dena datar sambil memblender mangga yang sudah dia masukkan kedalamnya.
Dirga langsung memperhatikan Dena,
“Kemana?” tanyanya pada sang istri.
“Ke rumahku yang dulu” singkat Dena dan mematikan blender lalu menuangkannya kedalam tiga gelas yang sudah berada di depannya.
“Kenapa kamu akan ke sana?”
“Hanya ingin saja, karena di sana sudah tidak ada orang. Om ku sudah kembali ke Australia”
“Aku ikut”
“Kenapa kamu harus iku, tidak usah”
“Aku suamimu, tentu aku harus ikut mengerti. Dan dirimu ini sudah menjadi milikku seutuhnya. Jadi, aku harus ikut kemana kamu pergi” ucap Dirga tepat di telinga Dena.
Dena menelan ludahnya sambil menatap Dirga yang menatapnya intens, Dena langsung buru-buru mengambil dua gelas jus.
“Itu punyamu bawa sendiri” ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Dirga yang masih diam menatap Dena pergi.
…………………
Marco tidak langsung pulang ke rumahnya dia malah saat ini mengemudikan mobilnya ke lain arah. Didalam mobil dia tampak gamang sendiri, bahkan pandangannya kosong saat mengemudi pikirannya begitu terasa penuh dan hatinya sesak tapi ada rasa benci didalamnya.
Mobilnya ia kemudikan dengan kencang seakan ia ingin segera sampai ketempat yang akan dia tuju.
Setelah mengemudi begitu lama akhirnya mobilnya itu berhenti juga di sebuah rumah berwarna putih mega dan di sekeliling rumah itu tampak asri dengan di tumbuhi tanaman hijau. Rumah berlantai dua itu begitu elegannya.
Marco keluar dari mobilnya ia berdiri di luar mobil menatap rumah besar di depannya, dia berdiri mematung menatap rumah itu dan kini di dalam otaknya terbayang masa lalu yang membahagiakan.
FLASHBACK ON
Di halaman rumah yang dipenuhi rerumputan hijau, sebuah keluarga yang begitu harmonis dan saling menyayangi satu sama lain tampak sedang camping dengan menggelar karpet di atas rumput hijau tersebut dan di belakang mereka ada sebuah tenda kecil yang menambah suasana estetika.
__ADS_1
Makanan-makanan yang ada di lunch box begitu rapi tersusun di atas karpet, berbagai jenis makanan rumahan yang dibuat oleh Monica mengisi setiap lunch box yang tertata rapi itu.
Marco duduk di samping monica dengan memangku Dena kecil yang masih berumur satu tahun sedangkan Monica memangku Daniel mereka tersenyum bersama setelah berhasil menyusun semua itu.
“Sayang, aku mau telur gulung dong” ucap Marco manja menunjuk kearah kotak yang berisi telur gulung.
“Kamu mau telur gulung saya, aku ambilkan ya. Daniel sini duduk di samping Papa dulu ya” ucap Monica sambil menurunkan Daniel dari pangkuannya agar dia bisa mengambil apa yang diinginkan Marco. Monica sudah mengambilkannya dan dia akan menaruh di piring Marco.
“Suapi dong, masa mama kalian tidak pengertian ya sayang” ucap Marco dengan manja dan di memperhatikan kedua anaknya.
“Iih, kamu manja banget deh” Monica akhirnya menyuapkan telur gulung tersebut ke mulut Marco. Marco tampak senang, dia mengunyah itu sambil tersenyum.
“Sekarang kamu ya sayang yang aku suapi, kamu fried chicken kan” ucap Marco mengambil fried chicken yang ada didepannya.
“Tidak usah sayang, aku bisa makan sendiri” tolak Monica.
“Daniel Dena lihat mama kalian sayang, masa dia nolak Papa” ucap Marco mengadu pada dua anaknya yang masih balita itu.
“Mulai ngambek,” ucap Monica.
Marco diam saja, menghentikan niatnya tadi. Dia membiarkan istrinya begitu saja, ia malah bercanda dengan kedua anaknya.
“Yah marah nih, Sayang lihat deh Papa kalian marah sama Mama” Monica menunduk disebelah Daniel dan mendekatkan tubuhnya mengarah ke Marco.
“Bagaimana ya biar Papa tidak marah dengan Mama” lanjut Monica seakan bertanya kepada Dena dan Daniel. Marco sendiri membuang mukanya.
Tiba-tiba saja, Monica mengambil wajah Marco dengan kedua tangannya menghadapkan kearahnya saat ini.
“Memberi hadiah untukmu, agar tidak marah padaku” cap Monica sambil tersenyum dan tiba-tiba saja dia langsung menarik wajah Marco mencium bibir suaminya. Dan tentu saja marco langsung tersenyum dengan itu, ia tersenyum ditengah-tengah ciuman mereka. Malah kini ia yang mencium Monica mereka berciuman manis didepan anak-anak mereka yang masih kecil.
FLASHBACK OFF
Marco berjalan masuk ke rumah itu, dia membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Benar dia masih memiliki kunci rumah itu meskipun sudah bertahun-tahun dia tidak ke rumah ini. Dia melangkahkan kakinya dengan berat masuk kedalam, hatinya pun terasa sesak saat mengingat kenangan manis keluarga mereka. Tapi dia berusaha menghilangkan rasa itu semua saat dia mengingat soal perselingkuhan Monica.
Saat sudah masuk di dalam rumah, tepatnya ditengah-tengah rumah besar itu. Marco menatap setiap sudut rumah itu, dia berjalan kearah tembok besar yang dipenuhi oleh foto-foto mereka yang masih sama pada tempatnya.
“Ternyata Michel tidak merubahnya” gumam Marco sambil berjalan mendekati foto-foto keluarga kecilnya dulu.
Ingatan Marco terngiang kembali saat dulu dia membelikan rumah ini untuk Monica saat dia tahu istri tercintanya itu hamil anak kembar. Dia sangat senang sekali waktu itu, mengetahui istrinya hamil anak kembar dan itu sepasang.
“Kenangan Mu masih membekas di hatiku” ucap Marco sendu memegang foto keluarga mereka, tapi tangannya mengusap lembut wajah Monica. Setetes air mata jatuh di wajahnya,
“Kenapa kau harus tiada dengan tragis seperti itu. Seharusnya kau meminta maaf terlebih dahulu padaku sebelum kau pergi” Dengan dada sesak menahan air matanya yang akan jatuh Marco terus mengusap foto keluarga mereka.
“Dan kenapa kau mengkhianati ku, kenapa? Gara-gara dirimu keluarga kecil kita hancur, Jawab Kenapa kau menyelingkuhi ku” ucap Marco dengan begitu keras, dia menangis sambil berteriak meminta jawaban pada sebuah foto yang tak mungkin menjawab pertanyaannya.
“Kenapa kau berteriak pada benda mati?” terdengar suara Dena yang sudah berdiri bersama Dirga di belakang Marco.
Marco melihat ke belakang, dia mendapati anaknya dan menantunya yang sudah berdiri di belakangnya saat ini.
“Dena, Dirga” ucapnya tampak terkejut.
__ADS_1
“Kenapa kau kemari, dan apa yang kau ucapkan tadi. Kenapa kau menuduh mamaku menyelingkuhi mu, kau tidak lihat dirimu” sinis Dena berjalan mendekati Papanya.
“Jangan begitu” ucap Dirga menahan Dena agar tidak mendekat pada Marco.
“Diam lah, lepaskan aku. Aku sedang bicara pada papaku” ucap Dena melepaskan tangan Dirga yang memegang bahunya.
“Papa tidak menuduh mamamu, Papa mengatakan yang sebenarnya. Mamamu telah menyelingkuhi Papa mengerti”
“Bohong, punya bukti apa sehingga Papa bicara begitu.”
“Papa melihatnya sendiri mengerti”
“Papa memang bodoh,” ucap Dena ketus di depan wajah papanya
Dan
Plakkkk
Tamparan keras mendarat di wajah Dena.
“Papa,.”Bentak Dirga mendekat kearah anak dan ayah itu.
“Kau semakin kurang ajar dengan Papa ya” kesal Marco menatap anaknya tajam.
Dena memegangi wajahnya, sambil tersenyum sini melihat Papanya yang murka padanya.
“Apa yang ku katakan memang benar Papa itu bodoh. Percaya akan permainan palsu kedua orang tuamu”
“Kau melihat Mama tidur dengan pria di kamar kalian kan, apa kau tidak melihat mama tidak sadarkan diri saat itu. Dengan bodohnya kau hanya melihat itu tanpa mendekatinya dan langsung pergi kan tidak kembali. Dan berhari-hari kemudian kau mendapat foto dari orang tuamu. Foto mama sedang masuk kedalam mobil bersama pria dengan menggendongku dan Daniel, kau tidak tahukan apa yang terjadi saat itu. Kita berdua sedang sakit karena merindukanmu yang tidak pernah pulang mengerti, betapa bodohnya aku kecil dulu sampai merindukanmu yang jarang pulang sampai membuatku dan Daniel sakit. Dan asal kau tahu pria yang mengantar mama itu pacar Bija mengerti, sedangkan pria yang kau lihat tidur dengan Mama itu suruhan kedua orang tuamu” Jelas Dena meraung di depan wajah Papanya yang tampak terkejut mendengar Dena menceritakan itu semua.
“Kalau kau tidak percaya tanyakan sendiri pada orang tuamu”
Marco hanya bisa terdiam, melihat Dena yang menatapnya tajam. Dia berusaha mempercayai kata-kata anaknya itu.
“Papa pergi, Dirga rawat wajah istrimu” Marco langsung berjalan pergi setelah menepuk pundak Dirga. Entah dia mulai merasakan rasa bersalah setelah menampar wajah anaknya tadi, dia seakan terpengaruh perkataan anak perempuannya.
Dirga melihat mertuanya yang melangkah dengan cepat keluar dari rumah dan dia kembali melihat istrinya yang diam terpaku di tempat sambil memegangi wajah bekas tamparan Marco.
“Sakit,” ucap Dirga menurunkan tangan Dena dari wajahnya, dia memegang pipi Dena yang ditampar tadi.
“Apa ini sakit,” tanyanya lagi pada Dena.
Dena hanya diam saja, tidak menjawabnya.
Tiba-tiba saja Dirga menarik dena dalam pelukannya, dia memeluk erat dena yang masih diam saja tapi membalas pelukannya.
“Menangis lah, kalau kamu ingin menangis” lirihnya masih memeluk Dena dengan begitu erat.
°°°
T.B.C
__ADS_1