Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 17


__ADS_3

Dena masuk ke rumahnya membuka pintu rumah itu pelan, dia datang kerumahnya dengan di antar supir keluarga Suherman.


Rumah Dena memang selalu tidak di kunci, jadi Dena tidak pernah membunyikan bel rumah. Dena berjalan masuk kedalam rumah, melihat seisi rumahnya yang terlihat sepi sekarang. Dia tidak perduli kemana orang-orang lagi pula di rumah itu tidak ada yang ia perdulikan selain Daniel.


Karena ia datang kesini untuk menemui Daniel, maka Dena segera menaiki tangga melihat apakah Daniel ada di kamarnya atau tidak perlahan ia naik ke tangga


"Wah, ada maling masuk ternyata" ucap Soraya dari bawah tangga memperhatikan Dena sinis. Dena sendiri langsung menghentikan langkahnya melihat ibu tirinya itu.


"Jaga mulutmu, bukannya yang maling masuk itu dirimu? Maling teriak maling" sinis Dena melihat Soraya.


"Kamu bilang apa anak kurang ajar?" Soraya tidak terima dia langsung menaiki tangga terburu-buru.


Dena sendiri juga terburu-buru menaiki tangga, kalau ia hanya diam saja di situ bisa-bisa hal yang tidak diduga terjadi dan orang licik seperti Soraya akan membalikan fakta yang sesungguhnya. Hello Dena bukanlah orang yang bodoh walaupun dia masih muda masih umur dua puluh tahunan, dia tidak bodoh dengan akal licik seorang Soraya.


"Hei, anak tidak tahu diri mau kemana kau?" teriak Soraya sambil mengejar Dena yang sudah sampai ke lantai dua.


"Tentu saja menemui adikku, dan untuk kamar ku" ucap Dena menatap remeh Soraya yang terlihat ngos-ngosan sendiri.


"Makanya, sudah tua jangan belagu untuk mengejar anak muda"


"Kau sudah tua, bahkan dirimu sudah tidak cantik lagi siap-siap saja kau di duakan Papa ku. Dan rasakan sakitnya kau di duakan itu akan menjadi karma mu karena menjadi seorang pelacur di tengah-tengah keluargaku" Dena menatap tajam Soraya dia tidak takut sama sekali dengan orang seperti ibu tirinya.


"Kau setelah menikah, malah semakin kurang ajar saja ya. Apa kau merasa bebas hah?" Soraya semakin kesal saja dengan apa yang dikatakan Dena barusan.


Dan dia hendak mengejar Dena kembali tetapi teriakan Marco menghentikannya.


"Honey, sedang apa kamu disitu?Sini temani aku membaca koran" teriak Marco dari lantai bawah melihat Soraya yang ada di atas.


"Bersama siapa kamu disitu honey?" tanya Marco karena seperti melihat Soraya sedang berbicara dengan seseorang.


Karena memang saat ini Dena tidak kelihatan karena tertutupi tiang besar yang ada di rumah besar itu.


"Dengan putrimu yang kurang ajar Honey" balas Soraya.


"Siapa?Dena?Dia disini?" Marco melihat-lihat keatas mencari Dena.


"Dena, Kenapa kamu kesini?ada perlu apa kamu kesini?" tanya Marco saat melihat Dena yang tertutup tiang.


"Itu urusi suamimu, layani dia. Nanti kau di tinggal baru rasa dan kau mau tinggal di kolong jembatan. Bye bye ibu tiri yang tak tahu diri" senyum sinis terpapar di wajah Dena untuk Soraya lalu ia segera meninggalkan perempuan ular itu sendiri.


………………


Dena membuka pintu kamar Daniel yang memang berada di sebelah kamarnya saat ini, melihat kedalam kamar itu yang kosong tidak ada orang. Kemana kira-kira Daniel pergi, tadi juga Dena sempat menghubungi nomor kembarannya itu nomernya juga tidak aktif.


Dena diam berfikir memikirkan kemana perginya Daniel sekarang, biasanya jam segini dia di rumah. Karena Daniel tidak ada, Dena memutuskan untuk keluar dari kamar Daniel saat ini menutup pintu itu pelan.


"Apa dia ke makam mama ya?" lirih Dena mengingat kembali saat dirinya atau Daniel merasa sedih serta kesepian pasti tempat pelarian mereka adalah makam sang mama. Karena disitu mereka bisa bercerita apa yang mereka rasakan. Karena selama ini mereka tidak memiliki sesosok ibu yang bisa mendengarkan mereka.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?Kenapa cuman sebentar saja di sini?" tanya Marco yang berada di ruang kerjanya yang memang berhadapan dengan tangga rumahnya.


"Pulang,." ucap Dena tidak jujur.


"Ya udah sana, suami kamu nanti nyariin kamu" ucap Marco menyuruh putrinya segera kembali ke rumah suaminya.


Denah hanya berdecih, mana mungkin seorang Dirga akan mencarinya, untuk apa dia mencarinya.


"Aku pulang" pamit Dena dingin, lalu berlalu dari tangga berjalan keruang tamu lalu keluar dari rumah papanya.


°°°°°


Dena sekarang bingung dirinya harus kemana mencari Daniel. Karena tadi saat dia ke makam mamanya Daniel tidak ada di situ, padahal saat ini dia benar-benar ingin bertemu Daniel berbicara dengan saudara kembarnya tersebut.


Saat ini Dena sedang berjalan di pinggir jalan mencari taksi yang akan mengantarnya pulang. Benar pulang, dia sudah mencari Daniel tapi tidak ada lebih baik dia pulang saja dilanjutkan besok lagi.


Alasan Dena mencari taksi tentu saja karena tadi saat dia ke rumahnya, ia menyuruh supirnya untuk kembali saja karena ia akan lama dirumahnya. Tetapi ternyata dia hanya sebentar karena tidak ada Daniel, jadi untuk apa ia berlama-lama di rumah itu.


Dena akhirnya mendapatkan taksi untuk dia pulang ke rumah keluarga Suherman, tapi taksi itu berada di seberang jalan sehingga mengharuskan Dena untuk menyebrang.


Saat Dena akan menyebrang jalan tiba-tiba saja dari arah kirinya ada sebuah truk yang akan lewat kebetulan juga Dena tidak memperhatikannya.


arhkkk


Rintihannya saat ia terdorong ke bahu jalan dan ada seseorang yang menjadikan tangannya tumpuan untuk Dena. Ia langsung melihat siapakah orang yang mendorongnya untuk menyelamatkan dirinya saat ini.


"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu lalu membantu Dena bangkit.


"Aku..aku tidak apa-apa" ucap Dena terbata karena masih syok dengan apa yang hampir menimpanya. Ia mencoba berdiri tegak tetapi lagi-lagi ia merintih kesakitan memegangi kakinya.


"Kau kenapa?" tanya Pria itu khawatir


"Sepertinya kakiku terkilir" ucap Dena memegangi kaki kanannya yang sakit.


"Kita, kita duduk dulu di sana" tunjuk Pria itu di tempat duduk yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Maaf ya" ucap laki-laki itu sambil menuntun Dena pelan.


Sampai di kursi dia langsung mendudukkan Dena melihat Dena yang sedikit merintih kesakitan karena menahan sakit akibat kakinya yang terkilir.


"Sebentar, sebelumnya aku minta maaf..Biar aku obati dulu kaki mu" ucap Pria itu lalu berjongkok didepan Dena memegang kaki Dena. Dia hendak membenarkan kaki Dena yang terkilir.


"Sudah-sudah, aku tidak apa-apa biar di rumah saja nanti aku pijat" ucap Dena menolak.


"Tidak apa, kau tenang saja" Pria itu tetap memaksa dan langsung menarik kaki Dena secara perlahan, menyembuhkan terkilir di kaki Dena.


"Bagaimana?" tanya Pria itu.

__ADS_1


"Mendingan," ucap Dena sambil merasakan kakinya yang sedikit terasa lebih enak.


"Terimakasih ya?" tambah Dena penuh rasa terimakasih.


"Sama-sama," balas pria itu tersenyum ramah.


"Kalau boleh tahu namamu siapa?" lanjutnya


"Namaku?" ucap Dena menunjuk dirinya sendiri.


"Iya namamu?masa namaku, kau ingin tahu namaku dulu?" canda pria itu.


"Maaf, Namaku Dena Nindia Sharman" ucap Dena memperkenalkan dirinya.


"Kenalkan namaku Hanafi Abigal," ucap Pria itu mengulurkan tangannya di depan Dena.


"Salam kenal Hanafi," ucap Dena menyambut uluran tangan Hanafi.


"Salam kenal juga Dena" ucap Hanafi.


"Kalau boleh tahu, rumahmu di mana aku akan mengantarmu pulang" tawar Hanafi memperhatikan kaki Dena yang sepertinya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri" tolak Dena.


"Bagaimana kau akan pulang dengan kondisi seperti ini dan kau akan pulang naik apa?Taksi mu yang tadi sudah pergi"


Dena diam memikirkan perkataan pria didepannya ini, apakah ia harus menerima tawaran dari pria yang baru dikenalnya saat ini. Tapi bagaimana kalau pria ini macam-macam dengannya. Tapi kalau di lagi, sepertinya pria di depannya adalah pria baik-baik.


"Baiklah,." ucap Dena pada akhirnya.


………………


Dirga sedang ada di balkon kamarnya, ia membakar semua foto dirinya dan juga Clara di tong sampah kecil yang ada di situ. Ia benar-benar kecewa dengan wanita itu yang bisa-bisanya berselingkuh darinya.


Begitu marahnya ia saat ini, membuat dirinya juga mengonsumsi minuman kaleng yang beralkohol untuk melampiaskan amarahnya yang begitu besar. Dia sungguh kecewa dengan Clara saat ini, padahal ia memberikan apapun yang wanita itu minta, tapi bisa-bisanya perempuan seksi tersebut menduakan nya.


"Lihat saja Clara, kau pikir aku tidak bisa menemukan wanita yang lebih cantik dan seksi darimu" teriak Dirga sambil membanting kaleng alkohol kelantai.


Lalu ia mengalihkan pandangannya jauh ke depan melihat halaman luas rumahnya. Namun pandangannya seketika berhenti memandang kearah lain saat pandangannya tertuju pada sebuah mobil sport toyota 86 yang sudah berhenti di depan rumahnya saat ini.


Dirga langsung memincingkan matanya melihat seorang pria yang berlarian untuk membukakan pintu di sebelahnya. Lalu Pria itu memapah wanita yang sangat Dirga kenal yang saat ini telah menyandang status sebagai istrinya.


"Dengan siapa perempuan matre itu,?apa itu pacarnya?"


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2