
Dena tertidur di sofa hingga malam, setelah dari tadi ia melihat foto Mamanya bahkan kini dia tidur sambil memeluk foto Mamanya di sofa.
Dirga yang sedari tadi ada di atas tempat tidur. Ia tertidur begitu saja, namun saat ini dia terbangun dan melihat Dena yang tertidur di sofa.
Dirga mendudukkan dirinya dia yang masih setengah sadar melihat kesamping dirinya yang kosong membuatnya heran dan langsung menatap ke sofa.
"Perempuan itu susah sekali di beritahu" gumamnya dan melangkah turun dari tempat tidur. Dia berjalan mendekati Dena yang tidur di sofa.
Dirga menundukkan tubuhnya dan mengangkat Dena. Menggendong perempuan itu menuju tempat tidur.
Secara perlahan Dirga menaruh Dena di ranjang, agar tidak mengganggu tidur Dena. Dia menyelimuti Dena hingga sebahu perempuan itu.
"Tidur yang nyenyak" ucap Dirga didepan Dena yang sedang tidur.
Kemudian dia membaringkan dirinya sendiri di samping Dena melanjutkan tidurnya tadi. Tapi sebelum dia akan tidur Hp miliknya yang berada di atas meja berbunyi. Dengan segera Dirga mengangkat panggilan itu.
"Kenapa?" ucapnya saat mengangkat telpon.
"Pergi yok ke Club" ucap Juna mengajak Dirga.
"Malas, sudah malam juga" tolak Dirga.
"Ya justru malam begini malah asik"
"Ogah, buat apa ke sana. aku sedang asik dengan istriku. Sudah aku matikan" ucap Dirga menolak dan langsung mematikan panggilannya begitu saja.
Saat selesai berbincang ditelpon, Dirga melihat kesamping melihat Dena yang tertidur pulas. Dirga tersenyum kecil, dia memiringkan tubuhnya menghadap Dena melihat perempuan itu yang tidur. Dia lalu memejamkan matanya sambil menghadap Dena ikut menyusul sang istri kedalam mimpi.
………………
Marco sedang sibuk diruang kerjanya, dia tampak melihat ke layar laptop sambil mengenakan kacamata.
"Tumben saham meningkat pesat" ucapnya saat melihat saham gabungan dirinya dengan perusahaan yang Doni ajukan kerjasama kesepakatan pernikahan Dena dengan Dirga.
"Apa efek Dirga mengumumkan kalau Dena istrinya, bersyukur juga mempunyai menantu seperti itu" ucap Marco lagi tampak senang melihat prospek kenaikan sahamnya.
"Kenapa kamu tampak senang Honey?" tanya Soraya yang tiba-tiba masuk kedalam ruang kerja Marco.
"Saham perusahaan ku meningkat, dan lihat namaku tertulis di majalah sebagai orang yang berpengaruh dalam bisnis" ucap Marco tampak bangga.
"Bagus sayang, kamu memang tidak ada tandingannya" ucap Soraya tampak senang.
"Ini mungkin berkat Dirga dan Doni"
"Tidak Honey, bagaimana bisa ini berkat meraka ini karena kerja kerasmu" ucap Soraya.
"Tapi ini juga berkat mereka. Coba kalau diriku tidak menikahkan Dena dengan anak keluarga mereka pasti saham ku tidak meningkat begini"
Soraya tampak tidak senang saat Marco menyebut nama Dena.
__ADS_1
"Ya memang berkat mereka. Karena kamu menjual anak istrimu itu. Untunglah kamu menikahkan dia, dia tidak membuat beban lagi untuk kita" ucap Soraya sinis.
"Aku tidak menjual Dena. Aku memang sengaja melakukannya karena itu memang keinginan Monica dulu, dia ingin anaknya menikah dengan anak Lidya sahabatnya" ucap Marco membantah perkataan Soraya.
"Kamu membela dia, kamu memang melakukan keinginan istrimu ternyata. Kamu masih mencintai istrimu yang sudah tiada itu, sehingga membuat dirimu menuruti keinginannya" ucap Soraya merasa tidak terima, dia terkejut mendengar perkataan Marco.
"Kau bilang apa sih, kenapa pembicaraan kita jadi tidak jelas seperti ini. Sana pergilah aku masih sibuk" ucap Marco dengan ketus dan dia segera beralih ke laptopnya lagi.
"Jawab aku Honey, kau masih mencintai istrimu yang sudah tiada itu" bentak Soraya karena Marco mengacuhkannya.
"Kenapa kau berisik sekali, keluar Sana" ucap Marco dengan keras.
"Honey.." ucap Soraya terus memaksa.
"Wow ada pertengkaran apa ini antara sepasang orang yang saling berbagi kasih tidak sepenuhnya" ucap Daniel dengan melipat tangannya di dada memperhatikan Papa dan istri Papanya.
"Bocah ingusan kenapa kesini?mengganggu saja" ucap Soraya tidak suka melihat Daniel.
"Kau salah sasaran menyebutku bocah ingusan, aku kesini tentu saja ingin menemui Papaku" ucap Daniel.
"Ada apa Daniel kau menemui Papa?" tanya Marco tidak memperdulikan istrinya.
"Aku ingin berbicara denganmu empat mata saja tanpa ada orang menjijikan ini" sinis Daniel melihat dingin Soraya.
"Kau.." ucap Soraya kesal.
"Daniel jaga bicaramu, bagaimanapun dia Mamamu" ucap Marco.
"Sudahlah Papa pusing melihat dirimu. Cepat bicara atau tidak sama sekali" ucap Marco seakan lelah.
"Baiklah, Aku ingin bilang kalau rumah Green House akan aku tempati. Berikan surat kepemilikan rumah itu padaku sekarang" tegas Daniel berdiri tepat didepan Papanya.
Marco tampak terkejut mendengarnya.
"Kau akan tinggal di sana?" ucapnya.
"Ya, Om Michel akan kembali ke Australia. Jadi rumah penuh kebahagian kita dulu sebelum perempuan ular ini datang akan aku tinggali"
Dalam diam Marco membuka laci dimeja kerjanya.
Dan mengambil dokumen dari laci itu.
"Ini.." ucapnya menyerahkan dokumen tersebut.
Soraya menatap Marco tidak percaya, bagaimana bisa Marco menyerahkannya semudah itu. Bukannya Marco bilang akan menjualnya.
"Terimakasih" ucap Daniel mengambilnya dan langsung pergi. Seperti biasa dia selalu menatap tajam Soraya, sebelum berlalu dia tersenyum sinis pada ibu tirinya.
"Honey..kenapa kau memberikan surat rumah pada Daniel" protes Soraya saat Daniel sudah pergi.
__ADS_1
"Itu miliknya," singkat Marco kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Kau sepertinya tidak adil ya. Semua kau berikan pada Daniel, lalu anakmu Reyhan kau kasih apa" ucap Soraya dengan nada tinggi.
"Kau berisik sekali, apa perlu aku memanggil sekuriti untuk mengusir dirimu dari rumahmu sendiri" kesal Marco.
"Pergi" usir nya pada sang istri.
"Aku keluar," kesal Soraya langsung pergi dari ruang kerja suaminya.
Saat diluar ruangan Marco, Soraya tampak kesal dia berjalan keruang tengah. Dengan cepat dia langsung mengambil Vas bungan dan melemparnya begitu saja. Dia tampak sangat marah saat ini.
"Arkkh, kau berubah sekarang Marco" dengus nya.
"Hoi..Kau mau jadi setan atau orang gila. Malam-malam begini mengamuk tidak jelas" ucap Daniel begitu sengit dari belakang Soraya.
Sontak Soraya langsung melihat kearah belakang dirinya.
"Kau,." ucapnya kaget melihat wajah dingin anak tirinya.
"Kenapa? kau terkejut?"
"Kau orang gila ternyata, aku heran kenapa dulu ayahku memilihmu. Mungkin karena kau yang dulu sangat seksi, tapi sekarang Papaku mungkin sudah muak denganmu. Jadi sepertinya Papaku sudah sadar kalau cintanya masih untuk mamaku seorang" ucap Daniel menatap tajam serta meremehkan Soraya.
"Kau memang bocah kurang ajar, aku menyesal tidak membunuhmu dan juga kakakmu itu."
"Kau ingin membunuhku, bunuh saja" Daniel mendekatkan dirinya lebih dekat pada Soraya.
"Kau," Soraya mengambil pecahan Vas bunga dan mengarahkannya ke Daniel.
Daniel bukannya takut dia malah tersenyum. Dan dia mengeluarkan Pisau kecil dari saku celananya.
"Silahkan, kau akan mati duluan" ancamnya pada Soraya mengarahkan pisau ke leher Mama tirinya itu.
Soraya tentu saja terkejut, dan dia merasa takut sekarang saat pisau tajam mengarah ke lehernya.
"Da..Daniel, jan..jangan begini"
"Kenapa?Kau dulu yang mulai"
"Ak..aku.."
"Hahaha, perempuan sepertimu bisa takut juga. Pergilah, masih kuberi kesempatan dirimu. Jangan mencoba macam-macam denganku" ucap Daniel langsung mendorong Soraya agar pergi.
Tidak membuang kesempatan Soraya langsung berlari ketakutan meninggalkan Daniel yang tersenyum mengejek.
Daniel juga langsung pergi, dia tersenyum puas karena sudah bisa mengancam Mama tirinya yang tidak tahu diri itu.
"Tinggal tunggu waktu dia akan hancur dan keburukannya akan segera terungkap" ucap Daniel tersenyum miring.
__ADS_1
°°°
T.B.C