Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 87


__ADS_3

Dena berjalan masuk kedalam mobil Dirga dia duduk diam di dalam mobil sambil menunggu Dirga. Ia memikirkan tadi mengingat seberapa banyak foto mamanya di ruangan rahasia milik Papanya tadi.


“Kau memang bodoh Pa, kau sebisa mungkin untuk membenci Mama tapi hatimu berusaha untuk terus menjaga cintamu untuk Mama” gumam Dena menerawang ke depan.


“Kau juga bodoh karena ke ambisiusan mu, sehingga kau diperdaya kakek tua itu” desis Dena didalam mobil membayangkan sebegitu bodoh seorang Marco yang tak lain adalah Papanya sendiri.


“Kamu sedang memikirkan apa? Kenapa melamun sendirian di mobil” Dirga membuka pintu mobilnya melihat Dena yang menatap kosong ke depan seperti menerawang sesuatu yang tidak terlihat.


“Tidak, aku sedang tidak memikirkan apa-apa” ucap Dena berbohong.


“Ayo kita pulang” ucap Dena kembali.


“Jangan pulang dulu ya, ke PRAHA K-PLUS dulu. Aku harus melihat bagaimana acara konferensi pers untuk produk baruku” ucap Dirga melihat kearah Dena yang berada di sampingnya.


“Kita belum mandi, bagaimana bisa sudah berangkat ke kantormu” ucap Dena pada Dirga. Benar mereka berdua memang belum mandi karena Dena tadi langsung datang ke rumah Papa setelah membuatkan Dirga jus dan setelah menerima telpon dari Daniel.


“Mandi di kantorku saja, aku harus segera ke sana. Jadi tidak mungkin untuk kita pulang ke rumah lebih dahulu” pungkas Dirga.


“Terserah dirimu saja,” ucap Dena mengikuti keinginan Dirga.


Dirga langsung menyalakan mesin mobilnya setelah mendengar ucapan Dena, karena memang peluncuran produk barunya itu sangat penting jadi dia harus datang melihatnya agar tidak ada kesalahan.


...............


Daniel saat ini sedang berada di rumah kakeknya, dia duduk sendiri di ruang tengah rumah itu. Walaupun ia duduk tapi pandangannya seakan menelisik seisi rumah itu. Dulu dia sering menghabiskan waktu di rumah ini, dan dia lebih memilih di rumah ini ketimbang menemani kakaknya di rumah karena Dena selalu tidak ingin diajak ke rumah nenek dan Kakeknya.


“Kau dulu bodoh sekali Daniel” gumamnya tersenyum kecut mengingat itu.


“Kamu datang kemari Daniel, kakek senang bisa melihatmu” ucap Maryo berjalan mendekat kearah Daniel.


Daniel hanya diam saja tidak menjawabnya tatapan dingin seperti biasa terlihat jelas di wajahnya.


“Jangan senang dulu, aku kesini ada maksud lain” ketus Daniel melihat Kakeknya yang sudah duduk.


Maryo sedikit tergores hatinya, mendengar cucunya yang berkata seperti itu padanya. Karena selama ini dia belum pernah mendengar Daniel bersikap dingin padanya.


“Bicaralah nak, kakek akan mendengarkan mu” lirih Maryo.


“Berikan seluruh saham mu padaku, semuanya” Daniel menatap Maryo tajam dan di setiap ucapannya penuh penekanan.


“APA??” kaget Maryo mendengar ucapan Daniel,


“Tidak usah kaget kek, biasa saja. Kau mau memberikannya atau kau mau dipenjara saja atas semua perbuatan mu pada Mamaku”


Maryo semakin terkejut mendengar ucapan tak terduga Daniel, cucunya itu telah mengancamnya.


“Kakek tidak bisa memberikan semuanya Daniel, bukannya kau dan Dena sudah aku beri bagian dan kenapa kau mau menjebloskan kakek penjara memang ada bukti. Kalau soal itu semua kakek minta maaf tapi kakek tetap tidak mau masuk penjara”


“Makanya kalau kau tidak mau ke penjara, serahkan semua padaku. Hartamu itu tidak bisa menebus dosa mu mengerti.”

__ADS_1


“Kakek tetap tidak bisa memberikannya padamu Daniel, kakek juga tidak mau masuk kedalam penjara” kukuh Maryo dia tidak mau melakukan keduanya.


“Terserah jika kau tidak mau. Lihat apa yang selanjutnya kau terima kakek ku sayang” Daniel langsung berdiri menatap kakeknya tajam sementara Maryo hanya terdiam memperhatikan Daniel yang mulai berjalan.


Maryo menunduk, merasa itu semua pilihan sulit untuknya. Dia tidak mungkin memberikan semuanya untuk Daniel, jika ia memberikannya tidak tahu apa yang dilakukan Daniel dengan semua asetnya bisa-bisa malah membahayakan Daniel sendiri. Tapi dia juga tidak mau masuk kedalam penjara.


...........................


Dena dan Dirga sampai di PRAHA K-PLUS, mereka berdua sudah berjalan di koridor perusahaan besar itu. Tentu saja tangan Dirga tidak lepas dari tangan Dena dia terus menggandeng tangan istrinya berjalan kearah ruangan yang selama ini dia tempati saat dia memutuskan menghabiskan harinya di perusahaan.


Dia membuka pintu ruangan itu, ruangan yang dalamnya begitu luas dan arsitektur mampu membuat Dena terpukau bukan karena luasnya tapi karena arsitekturnya yang menakjubkan. Apalagi di dalam ruangan itu sangat lengkap layaknya sebuah rumah dengan sofa yang tersusun rapi ditempat, ada lemari pendingin dan beberapa rak terisi makanan serta ada tempat eskrim di dalamnya.


“Kamu mau mandikan sayang, sana kamu mandi dulu. Aku akan menelpon Juna” Dirga menyuruh Dena untuk mandi terlebih dahulu.


“Oh iya, aku tidak ada baju ganti” langkah Dena terhenti kalau dia tidak ada baju ganti. Dan dia baru sadar kenapa ia harus mau di ajak ke kantor meskipun ada kamar mandi tapi dia tidak membawa baju ganti.


“Kamu tenang saja, nanti bajumu sudah tersedia. Sana mandi sayang” ucap Dirga dan langsung duduk di sofa untuk menelpon Juna.


Dena diam dan berjalan menuju kearah kamar mandi yang ada di ruangan ini.


Dirga segera menghubungi Juna, dia akan bilang pada pria itu kalau dia sudah ada di perusahaan.


“Halo Juna,” ucap Dirga saat panggilannya sudah diangkat.


“Iya halo, kenapa?”


“Samuel tidak ada disini, dia ada di PRAHA DSJ.”


“Oh iya, aku lupa. Kalau dia ku suruh di sana untuk berdiskusi dengan Regal Departemen”


“Dasar, masih muda juga udah lupa”


“Kalau begitu kau suruh tim publik yang memberitahukannya. Segera ya,”


“Ya......”


“Eh tunggu dulu, dan suruh orang bawakan gaun yang elegan tanpa ada motif serta kualitas terbagus seukuran istriku keruangan ku.”


“Ya pak bos bucin, kemana-mana ngajak istri” Juna langsung mematikan sambungannya karena sebelum Dirga marah lebih baik ia mematikannya lebih dulu.


......................


Setelah Dena selesai mandi dan Dirga juga sudah mandi serta berpakaian rapi kini mereka berdua berjalan di lorong menuju keruang pertemuan. Dena sebenarnya tidak mau ikut dengan Dirga tapi pria itu memaksanya untuk ikut. Alhasil mereka berdua berjalan bersama sekarang.


Mereka berdua masuk kedalam, dan di dalam sudah ada orang-orang yang disuruh Dirga untuk kumpul. Mereka semua tim yang mengembangkan produk pakaian model baru, ada desainer, tim perancang statistik, tim marketing, model dan beberapa orang lain yang menangani itu.


“Kamu duduk disini dulu sayang,” ucap Dirga menyuruh Dena duduk di kursi yang ada di kursi belakangnya duduk.


“Iya,”

__ADS_1


Dirga segera duduk, dan Juna segera memberikan proposal nya didepan Dirga dan dia sendiri duduk di sebelah Dirga sebagai pemilik perusahaan.


“Kenapa muka kalian kusut dan pucat begitu” ucap Dirga kepada para pekerjanya dia sesekali melihat proposal yang diberikan Juna tadi.


“Pak Dirga,..” ucap seorang pria dari tim perencana statistik membuat Dirga langsung mendongak melihat orang itu.


“Ada apa?”


“emm, be..begini pak. Pemesanan produk baju kita dalam konferensi pers tadi tidak memenuhi syarat penjualan” pria itu berbicara dengan ragu-ragu, ia takut dengan bosnya.


Dirga langsung menutup proposal yang dia pegang melihat tajam pegawainya dan beralih melihat Juna di sebelahnya.


Juna yang dilihat begitu langsung gelagapan, dia tidak tahu soal masalah ini.


“Aku tidak tahu,.” Lirih Juna.


“Bagaimana bisa menurun?” Dirga melihat ke pegawainya kembali bukan hanya orang itu saja tapi semuanya ia tatap begitu tajam meminta penjelasan pada mereka.


“Begini pak, karena Model utama kita tidak hadir dalam konferensi pers virtual sehingga pemesan tidak tertarik dengan produk kita” ucap Desainer


“Model utama tidak datang,” Dirga langsung melihat kebelakang nya dia melihat Dena.


Dena yang ditatap tajam seperti itu tidak mengerti kenapa Dirga melihatnya begitu tajam. Dena tahu Dirga sedang marah pada pegawainya tapi kenapa saat ini malah menatapnya.


Dirga kembali melihat kearah para pegawainya,


“Batalkan peluncuran produk baru, dan bakar semua yang sudah di produksi. Buat lagi produk baru yang terbaik sehingga tanpa model pun bisa terjual habis” tegas Dirga.


“Tapi pak, kita sudah ha..”


“Aku tidak perduli,” Dirga membanting proposal nya keras di atas meja.


“Rapat ini aku bubarkan, keluar semua” Dirga benar-benar emosi saat ini, karena ini pertama kalinya produknya tidak terjual habis saat peluncuran konferensi pers dan itu gara-gara modelnya yang tidak hadir, sungguh konyol. Batin Dirga.


“Aku bilang keluar semuanya dari sini” bentak Dirga berdiri sambil menggebrak meja. membuat semuanya terkejut. Dengan takut-takut mereka semua langsung berdiri dan berjalan pergi dari ruangan.


“Dirga bagaimana bisa kau menyuruh mereka untuk membatalkannya” protes Juna tidak menyetujui itu semua.


“Diam lah Juna” bentak Dirga.


Dia berjalan mendekati Dena yang terkejut dengan semua kekacauan ini.


“Ikut aku,” Dirga langsung mencengkram tangan Dena menarik perempuan itu keluar, dari ruangan meninggalkan Juna yang tak habis pikir dengan semua yang Dirga ucapkan.


“Sungguh kau tidak berubah Dirga, tidak ada kedewasaan dalam dirimu padahal kau sudah memiliki istri” ucap Juna menatap pintu ruangan yang tertutup keras dari luar.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2