
“Aku mau pulang, ayo kita pulang” rengek Dena pada Dirga didalam kamar tamu yang ada dirumah Papanya.
Dirga yang berada disebelah Dena duduk saat ini semakin mendekatkan dirinya pada sang istri. Merangkulnya erat.
“Besok kita pulang, malam ini kita tidur disini” pungkas Dirga.
Dena melepas rangkulan Dirga,
“Aku tidak mau, aku mau sekarang” Dena menatap Dirga memohon.
“Tidak sayang, kita pulang besok. Kamu sudah mandi kan tadi? Ayo kita turun. Papakan buatin acara Barbeque buat kamu” tegas Dirga berdiri dari duduknya, mengulurkan tangan untuk Dena.
“Aku bilang, aku tidak mau, aku mau pulang” Dena masih keras kepala saja ingin pulang dari rumah Papanya.
“Sudah ayo, kamu mau aku gendong.paksa. Berdirilah sayang” Tentu saja Dirga tidak putus asa untuk memaksa istrinya itu.
Dena menatap kesal Dirga, dengan terpaksa dia beridiri dari duduknya. Mengambil tangan Dirga tersebut.
“Ayok,Tapi ada satu syarat” pungkas Dena menatap suaminya.
“Syarat?Apa?” Dirga tampak mengkerutkan dahinya.
“Aku mau dicium” Dena menatap manik mata Dirga sambil mengkerucutkan bibirnya.
Dirga sendiri menatap Dena sambil tersenyam dan langsung melingkarkan tangannya dipinggang Dena menariknya lebih dekat kedirinya saat ini.
“Bumilku ini, manja sekali ya sekarang. Sini aku cium, dulu aja mana pernah minta” ucap Dirga dan satu tangannya menarik dagu Dena mendekatkan pada wajahnya. Ia mencium istrinya itu, tidak hanya singikat tapi begitu dalam. Bukannya Dirga yang terlihat agresif justru malah Dena yang menunjukkan sisi agresifnya dia ******* bibir suaminya itu.
...............
Daniel,Reyhan, Marco, Soraya dan tentu saja Dirga dan juga Dena berada di situ bersama mereka. Saat ini mereka semua sedang berada di taman belakang rumah membuat acara Barbequ keluarga.
Wajah Daniel dan Dena tidak senang berada disitu, mereka berdua menekuk wajahnya masing-masing.
“Kenapa kalian berdua diam saja, kaliankan suka Barbeque. Mau Papa ambilkan” Marco yang tadi diam melihat kedua anaknya yang diam suaranya mencoba memberanikan diri untuk bicara dengan anak-anaknya itu.
“Tidak usah” jawab Daniel dan Dena bersamaan.
Marco diam saja tapi dia berdiri melangkah kearah dua orang koki yang sedang membuatkan Barbeque untuk mereka.
“Dasar anak-anak tidak tahu diri, sudah mending suamiku menawari kalian” ketus Soraya.
“Mama” tegur Reyhan pada Mamanya itu. Dia langsung berdiri menghampiri kedua kakaknya yang duduk bersebelahan.
“Minggir, minggir beri ruang” Reyhan duduk ditengah-tengah Dena dan Daniel.
__ADS_1
Daniel bergeser dengan kesal menatap adiknya itu, sementara Dena bergeser sedikit setelah menyuruh Dirga yang ada disebelahnya geser. Sofa yang mereka duduki kini sofa yang begitu panjang yang bisa menampung enam orang.
“Kakak ipar terimakasih sudah mengajak kakakku kesini ya” Reyhan melihat kearah Dirga.
Dirga tersenyum sekilas sambil menganggung.
“Kak Daniel, Kak Dena. Jangan begitu dong dengan papa, dia sudah membuang egonya loh demi kalian, lihat tuh dia yang egois dan tidak perduli rela ngambilin kalian kesukaan kalian” pungkas Reyhan pada kedua kakaknya.
“Siapa yang suruh dia seperti itu, kita tidak menyuruhnya ya” Daniel melipat kedua tangannya.
“Itu tanda sayang Papa sama kalian, Papa ingin dekat dengan kalian. Tolonglah baik sedikit dengan papa, maafkan papa itu bukan salah diakan tapi salah Mamaku dan Kakek serta Nenek” Reyhan masih berusaha membujuk kedua kakaknya itu agar memaafkan papa mereka.
Daniel dan Dena terdiam setelah mendengar ucapan Reyhan barusan. Daniel memalingkan wajahnya kearah lain.
“Sayang, benar kata Reyhan. Maafkan Papa, dia ingin mencoba dekat dengan kalian. Bukalah maaf untuknya” Dirga membantu Reyhan untuk membuju Dena.
“Ini yang kalian suka sudah jadi” Marco berjalan dengan semangat sambil membawa dua piring Barbeque di tangannya.
“Reyhan duduk disini, Mau Papa ambilkan barbeque juga” ucap Marco saat melihat putra bungsunya yang ikut gabung duduk dengan Daniel dan juga Dena.
“Tidak usah Pa, Nanti aku ambil sendiri saja” Reyhan tersenyum pada Papanya.
“Ini Daniel, Dena” Marco menyerahkan dua piring itu pada anaknya.
Daniel dalam diam menerimanya, tapi Dena masih diam saja tidak menerima piring itu. Akhirnya Dirga yang menerimanya.
“Iya, Kalau begitu Papa ke sana dulu dengan mama Soraya” Marco memperhatikan kedua anaknya sekilas terutama ia memperhatikan Dena yang sepertinya masih tidak menyukainya saat ini. Jujur hatinya teriris putri kesayangannya dulu kini membencinya. Dia langsung pergi dari situ berjalan kearah Soraya duduk.
“Asli deh, punya dua kakak kayak gini kalau nggak kuat mental seperti ku sudah pusing nih kepala” gerutu Reyhan sesekali memperhatikan kedua kakaknya.
“Sabar Reyhan, aku saja sabarku punya istri begini” pungkas Dirga dan langsung mendapat sorotan tajam dari Dena.
“Bercanda sayang, jangan marah dong” Dirga tersenyum sambil mencium pipi Dena.
“Kau berisik ya? Sana pergi gabung tuh sama nyokap bokap mu” ketus Daniel pada Reyhan.
Reyhan tidak menggubris perkataan Daniel, dia malah berbicara dengan Dena dan Dirga.
......................
Dirga menggendong Dena masuk kedalam kamar yang ia tempati dengan istrinya di rumah mertuanya. Tadi saat Barbeque Dena tidur sehingga memaksanya untuk menggendong istrinya masuk kedalam kamar saat ini.
Saat Dirga akan membaringkan Dena di ranjang, istrinya itu terbangun.
“Kamu bangun Sayang?” ucap Dirga menatap Dena yang langsung bangkit.
__ADS_1
“Hemm” Dena mendudukkan dirinya, dan dengan cepat ia merengkuh Dirga memeluknya erat.
“Kenapa?” pungkas Dirga saat istrinya itu memeluknya saat ini.
“Nggak Pa-pa” Dena memeluk erat Dirga.
“Sayang,.” Panggil Dena masih memeluk Dirga.
“Apa?” Dirga melonggarkan pelukan Dena melihat istrinya itu.
“Aku mau mandi” ucap Dena.
“Mandi? Nggak usah, malam-malam begini. kamu juga tadi udah mandikan” ucap Dirga melarang istrinya
“Aku mau..” pungkas Dena.
“Nggak usah,” tegas Dirga.
“Ya sudah, aku mau mandi sendiri. Lagi pula aku nggak ngajak kamu” Dena langsung bangkit dari duduknya di atas kasur.
“Sayang, jangan ngeyel deh. Nanti kamu sakit, kasihan anak kita juga.” Dirga juga ikut bangkit dari duduknya mencegah istrinya itu untuk tidak ke kamar mandi.
“Aku nggak ngeyel, aku ingin aja. Mungkin anak kita yang ingin. Sini deh pegang anak kita yang pengen” Dena mengambil tangan Dirga dan menaruhnya diperut besarnya saat ini.
Dirga diam saja, merasakan seperti ada yang bergerak diperut Dena saat ini. Apa benar keinginan Dena ini dari anaknya.
“Ya sudah kamu boleh mandi” Akhirnya Dirga mengijinkan istrinya itu untuk mandi malam.
“Ye, sama kamu ya. Berendam di bath up” Dena begitu senang dengan itu layaknya anak kecil yang mendapatkan permen.
Dirga menganggu mengiyakan permintaan istrinya tersebut.
Mereka berdua langsung berjalan kekamar mandi berdua, didalam kamar mandi Jihan langsung melepaskan semua bajunya dan dia langsung masuk kedalam bathup. Sementara Dirga masih mengenakan bajunya utuh.
“Sini,” ucap Dena meminta Dirga juga masuk kedalam Bathup.
“Iya,” Dirga tanpa melepaskan bajunya masuk kedalam bathup. Duduk dibelakang Dena.
“mau di elus ya sama aku” tebak Dirga saat dia sudah duduk dibelakang istrinya.
“Iya, cepat usap perutku”
Dirga langsung mengusap perut besar Dena mengusapnya begitu lembut.
“Besok jadi anak yang nurut sama papa sama Mama ya nak. Kamu sehat-sehat di perut Mama” pungkas Dirga sambil mengusap perut istrinya yang menyenderkan tubuhnya pada dirinya saat ini.
__ADS_1
°°°
T.B.C