
Dena tiduran ditempat tidurnya saat ini, dia sudah ada di rumah mertuanya. Tepat dua hari ini dia baru pulang dari Australia, badannya saat ini terasa lemah sekali untuk sedang bergerak saja sakit apa lagi pinggangnya yang terasa kaku.
Dirga sendiri tadi ijin untuk pergi ke kantor menemui Juna, katanya ada Model mereka yang terlibat masalah dengan seseorang di club. Jelas-jelas model baru dilarang untuk masuk Club malam tapi entahlah model itu.
“Badanku sakit semua,” ucap Dena perlahan menyenderkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
“Apa karena aku sudah hamil tua jadinya, semakin lelah untuk melakukan perjalanan jauh” batin Dena.
Dena mengambil Hp miliknya yang ada di nakas meja, ia akan menghubungi Dirga untuk cepat pulang. Dan membawakannya petisan, mulutnya serasa ingin makan itu saat ini.
“Halo,.”
“Iya ada apa sayang?” jawab Dirga dari seberang sana.
“Aku mau petisan, bisa bawakan untukku kalau sudah pulang” ucap Dena begitu menginginkannya.
“Iya nanti aku bawakan, ini juga aku sudah jalan pulang. Ada lagi yang kamu mau?”
“Tidak ada, aku hanya ingin kamu cepat pulang. Badanku sakit semua saat ini, aku butuh dirimu” ucap Dena terkesan dengan nada manja. Bukan seperti Dena yang biasanya yang terlihat dingin atau cuek.
“Iya, sebentar lagi aku sampai rumah. Kamu jangan kemana-mana kalau sedang sakit begini, kamu kelelahan itu”
“Emm”
“Aku tutup dulu ya sayang. Aku sedang menyetir saat ini”
“Iya,.” Panggilan langsung terputus begitu saja. Dena kembali memejamkan matanya sambil memegangi perutnya kini, lebih baik dia tidur sekarang daripada ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sudah bisa dipastikan ia kelelahan saat ini.
................
Daniel baru mendarat di bandara saat ini, dia pulang ke Indonesia dengan kesal. Omnya Jason menyuruh dirinya untuk segera pulang katanya dia harus hadir di rapat pemegang saham perusahaan kakeknya kalau tidak hadir makan semuanya tidak bisa menjadi miliknya.
Keinginannya untuk dua bulan lebih di Australia harus gagal, bukannya dua bulanan Namun hanya dua hari setelah keluarganya pulang ke Indonesia. Ia juga ikut pulang.
Daniel berdiri menunggu jemputan nya, ia membuka kacamata yang bertengger. Menatap depan.
“Kak,..” terdengar panggilan yang mengarah ke Daniel saat ini. Dari dalam mobil abu-abu Reyhan melambaikan tangannya memanggil Daniel yang berdiri di luar bandara sambil memegangi kacamata ditangannya.
Daniel langsung melihat kearah suara yang memanggil dirinya saat ini. Dalam diam tanpa tersenyum atau apapun, Daniel mengambil kopernya dan berjalan menuju Reyhan yang menunggunya di mobil.
Reyhan segera turun dari mobil saat kakaknya itu sudah mendekat padanya,
“Hahah, tidak jadi lama kan di Australia, kasian” ledek Reyhan sambil mengambil koper milik Daniel dan memasukkannya ke bagasi mobil.
“Bisa diem tidak,” raut wajah Daniel tampak tidak suka.
__ADS_1
“Antar aku ke Sharman Group” ucap daniel menyuruh Reyhan dan dia langsung masuk kedalam mobil. Belum juga dia membuka pintu mobil itu Reyhan sudah terlebih dahulu menghentikannya.
“Enak aja main suruh, Kak Daniel aja yang nyetir masa aku. Yang mau ke sana kan kamu” tolak Reyhan dia menahan tangan kakaknya itu.
Daniel langsung menatap tajam reyhan,
“Kau mau membuatku marah? Kau mau tidak aku akui adik di di manapun” ketus Daniel dan terkesan dengan nada mengancam.
Reyhan langsung mencebik kan bibirnya, Namu dia kembali girang saat ada sebuah ide agar dia terlepas dari ancaman kakaknya itu.
“Kak Daniel mengancam aku, oke. Kak Daniel bakal aku laporkan pada kak Dena kalau sekarang sudah pulang dan dia tidak ada niatan untuk memberitahu” ucap reyhan dengan disertai seringai kemenangan.
Daniel semakin tajam menatap adiknya tersebut,
“Kau mengancam ku, terserah aku tidak perduli jika kau bilang padanya” Daniel tidak memperdulikan itu, ia langsung masuk kedalam mobil meninggalkan Reyhan yang kesal karena ancamannya barusan tidak mempan pada Daniel.
“Menyebalkan punya kakak sepertimu,.” Erang reyhan dengan kesal, dia menendang ban Mobilnya. Namun sepersekian detik dia langsung kesakitan membuatnya memegangi kakinya itu.
................
Sepasang suami istri nan romantis duduk di tempat tidur, kepala Dirga berpangku pada Bantal dia tersenyum sekilas melihat istrinya yang begitu lahapnya memakan petisan yang ia bawakan barusan.
“Enak sayang?” tanya Dirga memperhatikan Dena yang begitu lahap makan.
“Hemm,” ucap Dena memperhatikan Dirga sambil mengunyah dia begitu senang menikmati petisan saat ini.
“Iya, mana, aa..” ucap Dirga sambil membuka mulutnya.
Dena segera menyuapkan petisan itu kedalam mulut suaminya.
“Kamu tadi bilang badannya sakit, sekarang bagaimana masih sakit tidak?” ucap Dirga sambil mengunyah mangga yang diberikan Dena barusan.
“Sudah tidak terlalu sakit. Tapi kakiku sedikit tidak nyaman” ucap Dena dengan lirih.
“Kakimu sakit?” ucap Dirga ia langsung duduk tegap melihat kaki Dena yang di selonjorkan lurus.
Dena mengangguk menjawab pertanyaan Dirga,
“ Ya sudah kamu habiskan dulu petisannya nanti aku pijit kakimu” ucap Dirga memperhatikan Dena yang sedang makan.
“Aku sudah kenyang” Dena langsung menaruh piring petisan di nakas meja sebelahnya.
“Serius, nanti minta lagi”
“Tidak, aku pengen dipijat kakinya.”
__ADS_1
“Ya sudah, aku pijat kakimu ya” Dirga segera mendekatkan dirinya di kaki Dena. Menaruh kakinya itu di pahanya saat ini. Dengan telaten Dirga memijat kaki istrinya tersebut, sungguh ini kesenangan tersendiri untuknya.
“Kamu sambil rebahan saja, atau nggak tidur saja.” Ucap Dirga menyuruh Dena untuk merebahkan dirinya saja.
“Ya sudah, aku sambil rebahan,” Dena menuruti apa kata suaminya dia segera merebahkan dirinya sedikit miring.
.................
Daniel berjalan beriringan dengan Reyhan yang berada disebelahnya saat ini. Mereka berdua kompak untuk datang ke rapat pemegang saham di perusahaan kakek mereka. Daniel berjalan terburu-buru sambil membenarkan jasnya dia harus terlihat sempurna saat ini jika ingin memiliki bagian di Sharman Group. Dia butuh pengakuan dari karyawan-karyawan di perusahan milik kakeknya ini, selama ini dia menjabat sebagai Chairman dengan Jason Omnya yang juga sekaligus merangkap CEO di perusahaan kakeknya. Tapi itu hanya keputusannya sepihak saja waktu itu demi mengambil alih semuanya dari kakeknya itu.
Kini dia butuh pengakuan dari yang lain, kalau ialah pemimpin perusahaan ini. Bukan dia saja tapi Omnya Jason juga sebagai pemimpin.
“Kak, kamu serius ingin menemui mereka yang menentang mu disini” ucap reyhan menatap kakaknya yang sedang berjalan terburu-buru itu.
“Untuk apa aku pulang, kalau aku tidak serius” ucap Daniel datar.
Saat reyhan dan Daniel sibuk berbicara tiba-tiba muncul seorang perempuan dibelakang mereka tanpa melihat jalan didepannya. Ia malah sibuk memeriksa berkas-berkas ditangannya sehingga tidak melihat jalanan didepannya saat ini dan akhirnya
Brakkk
Perempuan itu menabrak dua pria didepannya membuat keduanya terdorong ke depan dan perempuan itu sendiri terjatuh kelantai.
Reyhan dan Daniel sama-sama terkejut, mereka berdua langsung melihat kebelakang.
“Maaf, maaf. Aku..aku tidak sengaja” ucap perempuan itu mengambil beberapa kertas yang terjatuh ke lantai dan sesekali melihat kearah dua pria didepannya.
“Kau tidak apa-apa?” ucap reyhan langsung membantu perempuan tersebut mengambil kertas-kertas yang terjatuh.
Sementara Daniel hanya diam saja, memperhatikannya, Namun mataya langsung melebar saat melihat siapa perempuan itu. Begitu jelas diingatannya siapa perempuan itu. Itu perempuan yang sama yang telah menabraknya dua kali dulu.
“Reyhan berdiri,” tegasnya menyuruh sang adik untuk berdiri.
“Sebentar kak, aku ingin membantu perempuan ini” Ucap Reyhan dan membantu perempuan itu berdiri setelah selesai memunguti kertas-kertas itu di lantai.
“Kau karyawan disini? Apa jabatan mu disini?” ucap daniel melipat kedua tangannya di dada melihat perempuan itu begitu dingin.
Perempuan tersebut langsung mendongak melihat pria tinggi putih dan tampan serta ekspresi dingin di wajah pria itu. Wajahnya terlihat familiar, ah iya bagaimana tidak familiar ini pria yang sudah dua kali ia tabrak dan pria ini pria angkuh yang membuat dirinya kehilangan pekerjaan dulu. tangannya langsung terkepal mengingat kejadian tempo lalu, rasanya ia ingin memukul pria didepannya. Tapi kalau dilihat-lihat pria didepannya saat ini bukanlah pria sembarangan.
Dan pasti ini salah satu pemegang saham di perusahaan ini,jadi dia tidak bisa sembarangan bersikap. Bisa-bisa ia kehilangan pekerjaan lagi karena pria menyebalkan didepannya. Ia harus bisa mengontrol dirinya sekarang.
“Kakakku sedang bertanya padamu? Cepat jawablah Nona sebelum dia marah. Asal kau tahu kakakku ini pemarah jadi jawablah” ucap Reyhan mengingatkan karena ia sudah melihat wajah tidak suka Daniel menatap perempuan itu.
“I..iya, aku karyawan disini. Aku menjabat sebagai sekertaris Pak Jason” ucap Perempuan itu setelah tersadar.
“Bagus,” Daniel tersenyum sinis dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Reyhan dan perempuan itu yang menatap daniel bingung.
__ADS_1
°°°
T.B.C