
Dirga berjalan masuk ke gedung besar Regal Departemn sambil menggandeng Dena, perempuan itu berjalan mengikuti langkah Dirga masuk kedalam gedung yang belum pernah ia masuki sebelumnya.
Baru masuk gedung tersebut Dirga sudah disambut puluhan karyawan berjas berbaris memberi hormat padanya. Yah walaupun ini bukan perusahaan milik Dirga tapi ia sudah menanam saham disini dan dia penanam saham terbesar kedua. Jadi bisa dibilang setengah dari regal adalah miliknya.
Kesepakatan telah diam ambil beberapa waktu lalu, makanya hari ini dia harus mensurvei tempat ini yang memproduksi segala macam tentang alat kesehatan dan obat-obatan.
Dua orang berjas rapi lainnya menyambut Dirga dan Dena di dalam.
“Selamat datang tuan Dirga dan nyonya Dirga” ucap mereka berdua mengulurkan tangannya kepada sepasang suami istri itu.
“ Ya,. Terimakasih atas sambutan kalian” ucap Dirga membalas uluran tangan mereka.
Diantara dua orang itu ada Hanafi, saat Hanafi bersalaman dengan Dena mata elang Dirga tidak lepas dari itu.
“Mari silahkan,.” Ucap hanafi memepersilahkan Dirga dan Dena untuk berjalan mereka kan mengajak kedua orang itu menuju ruangan.
Mereka berempat berjalan menuju lift yanga akan membawa mereka ke lantai atas perusahaan itu.
Di dalam lift dirga menarik Dena kepinggir menjauhkannya dari Hanafi, yang tadinya Dena berada di tengah bersebelahan dengan hanafi langsung digantikan oleh Dirga. Membuat Dena menatap Dirga heran, kenapa dengan suaminya itu.
Hanafi pun merasakan itu, tapi dia hanya tersenyum sekilas seolah tidak ada apa-apa. Karena memang dia tahu diri jika perempuan yang pernah ia tolong dulu sudah memiliki suami.
......................
Setelah dari Regal Departemen kini mereka sedang menuju ke kantor milik Marco, Dena sangat ingin bertemu dengan Daniel ia begitu khawatir mengenai Daniel yang sedari menelponnya tapi sekarang saat dia telpon kembali kembarannya itu tidak mengangkatnya.
Dena melihat kearah daniel yang sedari tadi fokus menyetir, dalam hati Dena saat ini juga bertanya mengenai sikap Dirga tadi. Tak terduga Dirga melihat kearah dena saat ini.
“Ada apa sayang,?” tanyanya pada Dena.
“Tidak,.” Sahut Dena pelan.
“jangan bohong, ada yang ingin kamu tanyakan padakukan?” ucap Dirga seolah tahu kenapa Dena menatapnya saat ini.
“Kenapa sikapmu tadi seakan dingin sekali dengan dr. Hanafi?” Dirga yang tadinya sudah fokus menyeti kembali melihat kearah Dena.
“Ya karena aku cemburu dengannya,” jelas Dirga.
“Kenapa harus cemburu?,” tanya Dena seolah tidak mengerti.
“ya aku cemburu, karna dia menyukaimu. Aku tidak suka dia melihatmu dengan tatapan mengagumi, kalau bukan karena bisnis yang sudah ku sepakati. Aku tidak akan mau bekerja sama dengan dokter Hanafi” terang Dirga menatap manik mata Dena.
“Aku tahu dia menyukaiku, tapi aku tidak menyukai dia. Biarkan saja dia melihatku seperti itu, kamu tidak perlu khawatir, dan buang rasa cemburumu itu” ucap Dena.
“Bagaimana aku membuang rasa cemburu itu, rasa cemburu ada dengan sendirinya saat orang yang kusuka dekat dengan orang lain” tegas Dirga.
“Kamu harus membuat diriku agar tidak cemburu mengerti, jangan pernah membuatku cemburu dengan kedekatanmu dengan pria yang tidak ku kenal ya?” ucap Dirga lagi menggenggam tangan Dena.
__ADS_1
“Iya,” hanya jawaban singkat yang diberikan oleh Dena.
“Bagus sayang, aku mencintaimu” ucap Dirga sembari mengecup punggung tangan Dena.
°°°°°
Daniel berada di makam Mamanya dia duduk disitu dengan mengenakan kacamata hitam.
"Aku sudah menghukum satu orang yang mencelakai mu dulu ma, aku harap kamu bahagia" ucap Daniel mengusap nisan ibunya.
"Aku akan selalu mendoakan mu Ma, aku pergi dulu kapan-kapan aku akan datang bersama Dena ke sini" Daniel mulai berdiri dari duduknya, dia melihat sekilas makam mamanya itu.
"Aku pergi" gumam Daniel dan melangkah menjauh dari tempat itu.
………………
Mobil Dirga sudah berhenti di perusahaan milik ayah mertuanya. Dia melihat kearah Dena,
"Kita sudah sampai sayang, ayo turun" ucap Dirga keluar dari mobil terlebih dahulu dan kemudian Dena mengikutinya turun.
Dena turun dari dalam mobil dan dia akan berjalan lebih dulu dari Dirga. Tapi belum juga berjalan Dirga sudah menghentikannya lebih dulu.
"Ada apa?" ucap Dena tidak mengerti.
"Kamu melupakan suami mu sayang, jadi cewek tuh yang romantis. Suaminya di gandeng diajak jalan bareng. Bukan nyelonong begini" ucap Dirga didepan muka Dena.
"Kalau begitu ayok," Dena memegang tangan Dirga menggandengnya.
Sontak Dirga langsung tersenyum dengan Dena yang menggandengnya saat ini.
"Nah gitu, yang romantis sama suami" Dirga melepas gandengan Jihan dan malah merengkuh pinggang Dena.
"Aku sukanya begini, bukan di gandeng" ucap Dirga berbisik di telinga Dena.
Dena menjawabnya dengan tersenyum tipis dengan ucapan Dirga.
"Aku nyaman dengan pelukanmu yang begini" ucap Dena begitu saja keluar dari mulutnya.
"Kamu menyukainya?" tanya Dirga.
Dena mengangguk.
"Aku akan terus memelukmu seperti ini sayang" Dirga tampak begitu senang.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam perusahaan Marco.
………………
__ADS_1
Marco sedang berada di ruangannya dia sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya saat ini. Setelah beberapa hari dia tidak bekerja membuat pekerjaannya terbengkalai, mungkin kalau bukan karena ucapan Dena waktu itu ia masih melakukan hal bodoh dengan menghancurkan hidupnya sendiri dalam penyesalan.
Saat ini yang harus dia lakukan yaitu memperbaiki hubungan antara dirinya dan anak-anaknya. Walaupun itu terdengar berat dan seakan mustahil tapi ia akan berusaha mendekatkan dirinya pada kedua anaknya yang telah ia sakiti.
Saat dia sedang berpikir dan membuka berkas-berkasnya. Pintu ruangannya kini terbuka menampakkan dua orang yaitu anak dan menantunya.
"Kalian?" Marco langsung berdiri dari duduknya saat ini melihat mereka berdua.
Dirga dan Dena berjalan masuk kedalam ruangan itu.
"Siang Pa," salam Dirga pada Marco.
"Ya siang, silahkan kalian duduk" ucap Marco mempersilahkan mereka berdua duduk di sofa ruangannya.
"Papa tahu dimana Daniel?" tanya Dena dingin melihat papanya.
"Daniel?Papa tidak tahu sedari tadi pagi Papa tidak melihatnya. Memang ada apa?" heran Marco.
"Tidak ada, kalau begitu ayo Dirga kita pulang" ucap Dena dan akan bangkit lagi dari duduknya. Tapi Dirga menahannya.
"Sayang, tunggu dulu. kita baru sampai masa sudah mau pulang" ucap Dirga masih duduk di sofa.
"Benar kata Dirga, kau baru saja sampai tapi sudah mau pergi lagi. Duduk lagi nak" sahut Marco menimpali.
Dena diam saja, sambil memperhatikan Dirga. Dirga seakan berbicara untuk duduk lagi,
"Sayang, duduk dulu" lagi Dirga menyuruh Dena untuk duduk.
Akhirnya Dena duduk sesekali memperhatikan Papanya.
"Tidak mau mabuk lagi, tumben sekali ada di kantor" desis Dena memperhatikan Marco.
"Papa melakukannya karena dirimu, maaf kemarin Papa melakukan kesalahan" lirih Marco pada putrinya.
perkataan Marco tersebut membuat Dena melebarkan matanya tak percaya. Saat ini yang di depan benarkah Papanya. Darimana seorang Marco memiliki kata maaf di mulutnya.
Saat Dena tengah terkejut, dengan perkataan Papanya. Pintu ruangan itu kembali terbuka dan kali ini menampakkan sosok Daniel yang berdiri menatap mereka bertiga.
"Daniel,." ucap Dena saat melihat adiknya itu berdiri melihat mereka.
"Kau darimana saja?membuat istriku khawatir tidak karuan" ketus Dirga pada kembaran istrinya.
"Kakek sudah aku masukkan penjara" Daniel dengan santai berjalan mendekati ketiga orang yang langsung menatapnya tak percaya.
°°°
T.B.C
__ADS_1