Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 51


__ADS_3

Keempat orang tadi masuk kedalam rumah, melihat Dirga yang mencengkram kerah baju Daniel yang terduduk di lantai.


Mereka tentu saja terkejut sebenarnya apa yang dilakukan Dirga pada Daniel saat ini. Masalah tadi saja belum beres malah apalagi sekarang.


"Dirga apa yang kau lakukan?" ucap Doni dan Sisil secara bersamaan.


Dena langsung berlari menghampiri Daniel, dia membantu Daniel untuk berdiri.


Dirga melihatnya saja, dan dia berjalan kearah Sofa duluan.


Sementara Doni dan Sisil membantu Reyhan untuk duduk di sofa juga.


"Kamu duduk di sini ya nak, tante ambilkan dulu pengompres luka untukmu" ucap Sisil dan dia langsung pergi ke dapur.


Reyhan hanya tersenyum sinis melihat Daniel yang melihatnya dengan tatapan menusuk. Mereka duduk cukup jauh, Daniel duduk di ujung sofa sebelah kanan. Dan Reyhan duduk di ujung sofa sebelah kiri sementara di tengah-tengah mereka ada Doni.


Dirga sendiri duduk di Sofa yang lain bersama Dena yang bersebelahan sofa dengan Reyhan.


"Sebelum om tanya sama kamu Daniel, om tanya sama kamu nak. Kamu siapa ya?" ucap Doni ingin mengetahui siapa pemuda yang duduk si sebelahnya.


"Saya Reyhan Mayco Sharman om, adik mereka berdua" jawab Reyhan memperkenalkan dirinya.


Doni tertegun mendengar itu, berarti yang di depannya kini anak Marco dan Soraya.


Bukan hanya Doni yang tertegun, tetapi juga Dirga jadi yang dia anggap pacar Dena kemarin itu adalah adik tiri Dena. Pantas sifat-sifat mereka terkesan mirip dan juga kenapa dia bisa tidak cermat melihat wajahnya jelas-jelas wajahnya sekilas mirip Daniel. Walaupun mereka tidak kembar dan terpaut dua tahun.


"Siapa yang kau anggap kakak?Aku tidak mempunyai adik" sinis Daniel menatap Reyhan.


"Daniel," tegur Dena pada kembarannya.


"Kenapa? apa aku salah. Bukannya kau sendiri juga menganggap dia bukan adikmu, kau dan aku kan juga yakin dia bukan anak Papa" ketus Daniel tidak perduli dia berbicara didepan Reyhan. Kebenciannya pada pemuda itu sekarang semakin meningkat,.


"Daniel diam lah," bentak Dena meninggikan nada bicaranya.


"Ternyata kau adiknya, beberapa hari lalu kau seakan memancing diriku" ucap Dirga melihat kearah Reyhan.


Reyhan langsung melihat kearah Dirga.


"Aku memang sengaja melakukannya, agar kau cemburu. Aku ingin melihat siapa yang suami dari kakakku" pungkas Reyhan tersenyum.


"Kalian sudah pernah bertemu" ucap Doni menatap Reyhan dan Dirga bergantian.


"Sudah" jawab Dirga.


"Dena, ini pengompresnya. kompres luka pemuda ini. Mama akan mengobati tangan Daniel" ucap Sisil yang belum mengetahui kalau Reyhan juga adik dari Dena.


Dena mengambil pengompres itu, dan mulai mengompres luka-luka Reyhan. Tapi sebelum itu Dena membersihkannya terlebih dahulu.


"Daniel, om minta sama kamu tolong jaga emosimu. Kalau kau tidak bisa menahan emosi, makan suatu saat kau malah menyelakai orang yang kau sayang. Sifat mu begitu sama dengan Dirga. Makanya Dirga dengarkan juga apa yang Papa bicarakan. Jangan sampai kalian menyesal setelah melukai orang yang kalian sayang" ucap Doni memberi nasehat kepada Dirga dan Daniel yang memang sepertinya memiliki sifat yang sama.

__ADS_1


Daniel dan Dirga diam saja tidak menjawab. Sementara Dirga menoleh kesamping melihat Dena. Apa kelak dia akan sayang dengan Dena, dan bagaimana nanti kalau dia melukai Dena. Batin Dirga melihat Dena.


"Daniel, kenapa tanganmu bisa terluka?" tanya Sisil yang sedang mengobati tangan Dirga yang ia pukulkan ke lemari kaca milik Dirga.


Semua orang melihat Daniel dan Sisil. Daniel diam tidak ada niat untuk menjawab.


"Dia sudah gila ma" sahut Dirga melihat mamanya.


"Dia, memukulkan tangannya ke kaca lemari ku" jelas Dirga.


Dena yang masih mengobati Reyhan melihat kearah Dirga. Apa yang sebenarnya terjadi pada Daniel, apa Dirga mengetahuinya. Nanti ia akan tanya pada pria itu.


………………


Reyhan saat ini sedang berada di kamar tamu rumah Dirga. Dia memang sengaja di suruh untuk menginap di rumah Dirga oleh Doni dan Sisil.


Karena luka Reyhan yang sepertinya cukup parah, dan tidak memungkinkan anak itu untuk kembali ke apartemennya. Dena masuk kedalam kamar itu tepat dimana saat Reyhan sedang berbaring di kasur sambil menonton tv.


Entah kenapa Dena merasa khawatir dengan Reyhan karena lukanya akibat dipukuli oleh Daniel.


"Ternyata kau pura-pura terluka" tajam Dena melihat Reyhan yang tampak santai menonton tv.


"Wah kak, kau tidak lihat wajahku seperti apa akibat kembaran mu itu. Kalau dia bukan kakakku sudah ku balas dia"


"Jangan mencoba bicara pada Daniel untuk saat ini. Dia sedang dalam emosi yang tidak stabil" ucap Dena memperingatkan.


"Kalau begitu istirahatlah, aku akan melihat Daniel dulu" ucap Dena yang sempat terdiam, dan akhirnya dia akan memutuskan pergi keluar kamar tamu.


"Ya, sana lihat kembaran mu. Nanti dia iri lagi," ucap Reyhan namun perhatiannya tidak tertuju pada Dena.


Dena langsung melangkah pergi dari situ, dia keluar menutup pintunya secara hati-hati.


Kebetulan saat dia menutup pintu itu Dirga berdiri di depannya.


"Kau sedari tadi ku cari-cari ternyata ada disini?" ucap Dirga.


"Kenapa?"


"Kau tadi terluka tidak saat di dorong Daniel" ucap Dirga secara perlahan.


"Tidak, aku pergi menemui Daniel dulu" ucap Dena langsung melenggang pergi meninggalkan Dirga.


"Kenapa tidak bareng saja ke atas," teriak Dirga dan langsung berjalan mengimbangi langkah Dena.


Memang kamar tamu Daniel berada di atas, ia memang sengaja disuruh tidur di kamar tamu atas oleh Doni. Daniel tidak di ijinkan pulang oleh Doni selama emosi Daniel yang belum bisa terkontrol. Dia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi di rumah Marco nantinya.


……………


Dena masuk kedalam kamar Daniel saat ini diikuti oleh Dirga yang ternyata mengikuti Dena menemui kembarannya.

__ADS_1


"Kenapa kau mengikuti?" tanya Dena ketus melihat Dirga yang berdiri di belakangnya.


"Terserah diriku, ini rumahku. Jadi terserah, aku mau masuk atau tidak, dan asal kau tahu aku tidak mengikuti mu"


Dena membiarkan saja Dirga, dia berjalan mendekat kearah Daniel yang menatapnya.


Daniel yang tadinya melihat luar melalui jendela, langsung berjalan mendekat kearah Dena.


Dia tiba-tiba saja mencengkram lengan Dena,


"Kenapa kau tidak bilang padaku?" ucapnya dingin menatap manik mata sang kakak.


Dirga yang duduk di sofa kamar itu sambil menyilang kan kakinya melirik sekilas memantau dua adik kakak tersebut.


"Aku tidak ingin membuatmu membenci orang yang kau sayang" jawab Dena melepaskan tangan Daniel dari lengannya.


"Heh, kau memang selalu menyembunyikan sesuatu sendiri dan mementingkan perasaanku" dengus Daniel sambil menatap ke langit-langit.


"Kau kembaran ku, bagaimana aku tidak mementingkan dirimu. Apalagi dirimu tipe orang yang kalau emosi begitu mengerikan, aku takut kau akan membunuh seseorang dan kau akan mendapat masalah" jelas Dena memegang lembut tangan adiknya.


"Tahan emosimu, berpikir jernih. Kita bisa membalas dendam kepada mereka dengan cara halus Daniel bukan dengan kekerasan," lanjut Dena


"Aku tidak bisa kak, bagaimana bisa mereka hidup enak sedangkan dulu kita bagaimana. Aku tidak perduli aku akan masuk penjara gara-gara membunuh wanita ular itu, aku tidak perduli" ucap Daniel lantang menepis tangan kakaknya dan mendudukkan dirinya di ranjang.


"Daniel, diam lah. Nanti Reyhan mendengarnya"


"Bodo amat, aku tidak perduli jika anak yang tidak jelas darimana asal usulnya itu mendengar ini semua. Akan aku bunuh sekalian dia"


"Daniel stop berbicara seperti itu. Dia adik kita" bentak Dena terhadap Daniel yang masih saja begitu emosi.


"Adik, siapa?Dia bukan adikku. Dia bukan anak Papa. Kau sendiri kan yang bilang begitu, kenapa sekarang kau jadi menganggapnya adik" ucap Daniel tidak senang dia berdiri dari duduknya meminta penjelasan pada Dena.


Dirga yang melihat Dena terdiam dan bingung untuk menjawab langsung berdiri dari sofa dan berjalan mendekati kedua orang tersebut.


"Memang kenyataanya dia adikmu kan, kau tidak lihat wajahmu dan wajahnya sekilas mirip. Bahkan sifat kalian saja mirip, membuatku mrinding membayangkannya" ucap Dirga berdiri di samping Dena menatap Daniel.


"Jangan ikut campur urusan keluargaku" ketus Daniel menatap Dirga.


"Tentu ini urusanku, kau lupa aku kakak ipar mu. Dan kembaran mu ini istriku" pungkas Dirga.


"Ayo kita ke kamar saja, sepertinya kembaran mu pencerahan untuk merenung sendiri" lanjut Dirga lagi dan langsung menggandeng tangan Dena menariknya keluar dari kamar tamu yang di tempati Daniel.


Dena menatap tangannya yang di genggam erat oleh Dirga saat ini, ada rasa nyaman dari genggaman itu. Memberikan kenyamanan pada hatinya yang terasa sesak dengan permasalahan semua ini.


"Cukup, untuk kali ini saja dia ingin merasakan kenyamanan tersebut. Genggaman yang hangat sekali" batin Dena tetap melihat tangannya yang tergenggam erat oleh tangan Dirga yang menggandengnya berjalan menuju kamar.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2