
Sudah dua hari berlalu, keluarga Marco masih berada di Australian. Dan agendanya hari ini Marco akan pulang dulu ke Indonesia karena ada pekerjaan yang harus dia urus. Tapi ternyata Dirga juga mau pulang, ada sesuatu yang di kantornya yang memaksa dia untuk hadir saat ini.
Tapi Dirga masih menunggu keputusan Dena terlebih dahulu, kalau Dena tidak mau diajak pulang dia ya tidak akan pulang. Marco sudah pulang ke Indonesia terlebih dahulu, karena menantu dan anaknya belum ada keputusan untuk pulang. Jadi dia duluan.
Dirga berjalan masuk kedalam kamar menemui Dena yang duduk di kursi sambil memegangi perutnya. Perempuan itu hanya diam saja, seperti sedang ada yang dia pikirkan saat ini.
“Sayang,” panggil Dirga sambil berjalan mendekat.
Dena langsung melihat kearah Dirga menatap suaminya itu yang berjalan mendekatinya.
“Bagaimana? Kamu pulang ke Indonesia hari ini?” ucap Dirga menatap istrinya.
“Aku bicara dulu dengan Daniel, baru aku putuskan” jawab Dena memegang tangan Dirga.
“Dari kemarin kamu belum bicara dengan Daniel?” tanya Dirga.
Dena menggeleng mendengar pertanyaan suaminya tersebut
“belum, sedari kemarin dia tidak di rumah ini” pungkas Dena.
Mendengar itu Dirga tampak terkejut, Daniel tidak di rumah ini sedari kemarin. Lalu yang bersama dengannya dan Reyhan kemarin siapa. Jelas-jelas itu Daniel, apa pria itu sengaja menghindar dari kakaknya.
“Kenapa diam?” tanya Dena saat melihat Dirga hanya diam saja.
“Tidak,” bohong Dirga, daripada dia bilang kalau Daniel di rumah sedari kemarin bisa-bisa Dena kecewa serta marah dengan pria itu.
“Kamu ingin bicara dengan Daniel kan?” tanya Dirga menatap Dena.
“Iya,”
“Kamu disini saja ya, biar aku yang panggilkan dia. “ ucap Dirga pada Dena.
“Iya,” lirih Dena.
“Ya sudah, aku keluar dulu untuk memanggil bocah itu” ucap Dirga mulai berjalan keluar kamar setelah Dena mengangguk. Memang dia yang memutuskan untuk memanggil Dirga daripada Dena yang harus keluar dari kamar. Melihat Dena berjalan ia kasihan, karena istrinya itu sudah seperti kesusahan untuk jalan
__ADS_1
..........
“Kau malah duduk disini, temui kakakmu” pungkas Dirga saat sudah menemui Daniel yang duduk bersama dengan Reyhan dan juga Michel.
“Kenapa hanya diam? Temui dia, bilang dengannya kalau misalkan kamu masih mau disini beri alasan yang jelas. Kamu bukan anak kecil lagi Daniel, kamu sudah dewasa. Beranikan dirimu bilang dengan kakakmu, kalau kamu tidak bilang kakakmu itu terus khawatir. Aku tidak bisa lama-lama disini juga, di Indonesia aku ada pekerjaan” ucap Dirga lagi, menatap Daniel yang duduk diam.
“Ya, aku temui dia” ucap Daniel singkat dan langsung berdiri dari duduknya.
Setelah Daniel pergi kini giliran Dirga yang duduk, dia tidak akan kembali ke kamarnya sekarang. Ia akan memberikan waktu Dena dan Daniel untuk bicara, mereka butuh waktu berbicara berdua saja tanpa dirinya.
Michel dan juga Reyhan yang sedari tadi diam, mulai berani membuka suaranya. Mereka berdua tadi diam karena menurut mereka tidak harus ikut campur dengan kedua orang itu.
“Kamu tidak jadi pulang hari ini Dirga?” tanya Marco melihat Dirga yang duduk di tempat Daniel duduk tadi.
“Belum tahu Om, kalau Dena mau diajak pulang hari ini. Ya aku pulang”
“kak Dena pasti menunggu keputusan kak Daniel kan kak? Kak Daniel sih egois, dia aku suruh dari kemarin untuk menemui kak Dena malah marah denganku” ucap Reyhan mengadu pada Dirga.
“Biarkan saja kalau dia marah” pungkas Dirga.
“Kamu ikut plang hari ini juga Reyhan?” tanya Michel pada Reyhan. Dia memang bersikap baik dengan Reyhan. Reyhan sudah ia anggap keponakan sendiri sama dengan Daniel dan juga Dena.
“Iya Om, aku ikut pulang kak Dirga. Kalau aku disini aku malu dengan kalian. Lagi pula nanti aku bertengkar terus dengan kak Daniel, malah bukan aku dengan kak daniel saja mungkin Om Justin juga bakal bertengkar dengan Kak Daniel kalau aku disini” ucap Reyhan panjang kali lebar menjelaskannya.
“Kenapa harus malu, kita ini keluarga. Jangan bedakan dirimu dengan kita, kau juga keponakanku sama seperti Daniel maupun Dena.” Tukas Michel sambil menatap Reyhan.
“Iya Om,” jawab Reyhan singkat.
.....................
Didalam kamar dena sendiri, Daniel duduk di sofa menatap kakaknya yang diam menatapnya saat ini.
“Kenapa kau susah sekali aku temui dua hari ini. Kita di rumah yang sama tapi kenapa sulit sekali bertemu denganmu. Kau menghindari diriku” ucap dena menatap adiknya itu.
Daniel diam saja tidak menjawabnya.
__ADS_1
“Jangan diam saja, jawab” ucap dena menuntut.
“Apalagi yang harus ku bilang padamu?” ucap Daniel akhirnya membuka suaranya.
“Kamu ikut pulang atau tidak. Kalau kau tidak ikut maka aku..” ucapan Dena terhenti.
“Kau pulang saja, jangan disini. Kasihan suamimu.”
“Bagaimana bisa pulang, kalau kau tidak pulang denganku?”
“Aku disini dena, aku sudah besar. Kenapa kau harus mengkhawatirkan ku, aku bukan daniel yang penakut serta cengeng seperti dulu”
Dena terdiam mendengar perkataan Daniel barusan, benar juga Daniel sekarang sudah dewasa tidak seharunya dia mengkhawatirkan kembarannya. Tapi dihatinya masih takut Jika Daniel merasa kesepian dan menangis atau dalam masalah nantinya.
“Pulanglah, aku disini dulu untuk berlibur” ucap daniel meyakinkan dena lagi.
“Kamu tega denganku, aku kembaran mu dan aku juga kakakmu walaupun hanya beda dua menit denganmu. Kau tega kembaran mu akan melahirkan tapi kau tidak ada di rumah?” ucap dena mulai berkaca-kaca.
Daniel melihat itu, dia melihat kakaknya yang sudah berkaca-kaca. Ia berdiri dan berjalan mendekati Dena yang duduk di kursi tidak jauh darinya saat ini.
“Bukannya aku tega denganmu, beri aku waktu untuk sendiri saat ini. Aku akhir-akhir ini sering teringat wajah mama. Kau tahukan dulu aku yang melupakan wajahnya, karena aku terus melihat foto Mama jadi aku ingat, ingatanku tak setajam dirimu jadi sebagian kenangan kita dulu aku lupakan. Tapi sekarang remang-remang wajah Mama ada di kepalaku apalagi wajahnya saat mencium kita sebelum dia pergi” ucap Daniel dengan sedih.
“Aku butuh disini kak, butuh mengumpulkan apa yang Mama suka” ucap daniel lagi.
“Iya aku tahu, tapi kamu kan bisa mengumpulkan kenangan mama di rumah kita dulu bukan disini. Kalau kamu disini kita beda Negara bukan Negara lagi tapi Benua juga Daniel. Aku tidak bisa berpisah begini denganmu saat kamu masih sendiri, aku takut ada apa-apa denganmu. Kita pulang ya, ayolah beberapa bulan lagi aku melahirkan, kalau tanpamu terasa hampa, anakku juga kembar tahu” ucap Dena diselingi air mata yang menetes.
“Aku tidak bisa pulang sekarang, tapi aku janji denganmu kalau aku akan pulang waktu kamu melahirkan anti. Aku janji” ucap Daniel memeluk kakaknya itu.
“Ya sudah kalau itu memang keinginanmu, dan kau harus menepati janjimu padaku. Kau juga harus baik-baik saja disini, mengerti” ucap dena pada Daniel.
“Iya, aku janji padamu, sudah jangan menangis. Nanti suamimu menuduhku macam-macam” ucap daniel menghapus air mata Dena yang jatuh di wajah perempuan itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1