
Dirga masuk kedalam rumahnya dengan terburu-buru, diikuti Reyhan dibelakangnya. Dia berjalan cepat menuju ruang tengah. Kebetulan diruang tengah itu ada Mama dan juga Papanya yang tampak sedang santai sambil sibuk dengan kegiatan masing-masing dengan membaca koran dan juga majalah.
Mereka berdua langsung melihat kearah Dirga dan Reyhan yang baru saja datang.
“Kenapa kau masuk rumah dengan terburu-buru begitu?” tanya Doni melihat anaknya
“Hai, OM..Tante” sapa Reyhan melambaikan tangan kepada orang tua Dirga.
“Hai juga, Reyhan. Kau datang bersama Dirga?” tanya Doni dan juga Sisil.
“Iya dengan dia, tukang curhat” keluh Reyhan.
“Mama sama Papa tahu Dena?” Dirga menatap kedua orang tuanya.
“Dena? Dia baru saja keluar dengan Daniel” ucap Doni memberitahukan kemana Dena.
“Dia keluar? Kenapa tidak bilang padaku” ucap Dirga tampak kecewa mendengar jawaban dari Papanya soal Dena.
“Dena tidak bilang” ucap Sisil penasaran.
“Tidak,” singkat Dirga.
“Dia bilang mau pergi kemana?” tanya Dirga lagi
“Mereka bilangnya sih mau ke panti tempat Monica menjadi donatur” jawab Sisil
“Aku pergi dulu ma, pa” Dirga langsung pergi keluar lagi setelah mengatakan hal itu.
“Kak Dirga mau kemana lagi, Om Tante, aku juga ikut pergi Da..” Reyhan langsung ikut berlari menyusul Dirga yang sudah keluar rumah menuju mobil miliknya.
………………
Dena sendiri saat ini sedang ada di dalam mobil dengan tiga orang pria. Mobil itu dikemudikan oleh Agam sementara disebelah Agam ada Tirta. Daniel dan Dena duduk di kursi belakang. Mereka saat ini menuju Panti Permata Bunda, mereka akan memberikan sumbangan di sana untuk merayakan ulang tahun Daniel dan juga Dena dulu mereka juga pernah melakukan ini saat SMP. Yang melakukannya sebenarnya bukan Daniel atau Dena tapi inisiatif Agam dan juga Tirta, mereka berdua sahabat karib Daniel sehingga mengerti bagaimana kondisi saudara kembar itu.
Dena sendiri sebenarnya memiliki teman, tapi perempuan itu dulu lebih menghindar dengan orang-orang karena dia menganggap hubungan itu palsu tidak ada yang tulus dengannya, mereka hanya memanfaatkan dirinya saja. Itulah anggapan Dena selama ini, dia baru memiliki teman saja saat SMA, setelah dia diberitahu Dewa untuk membuka diri. Walaupun ada teman dia tetap berusaha menjauh menjaga jarak dengan teman-temannya jadi ya dia tidak memiliki sahabat karib seperti Daniel.
Pada dasarnya Daniel juga sama begitu, tapi karena Agam dan Tirta selalu mendekat padanya, ya jadi mau tidak mau mereka berteman bahkan hingga sekarang.
“Asli, Aku nggak nyangka Dena. Kamu sekarang sudah menikah dan hamil besar begini, harapanku pupus untuk menjadi suamimu” pungkas Tirta melihat sekilas kearah Dena yang hanya diam duduk disebelah Daniel yang membuang wajah kearah jendela.
“Sudahlah Tirta, nggak usah mulai. Itu masa lalu, terlambat lu” ucap Agam pada Tirta.
“Pembicaraan tak bermutu,” sinis Dena mengalihkan pandangannya dengan jengah.
Daniel sendiri melihat kearah Agam dan juga Tirta,
“Kau masih cinta dengan kembaran ku?” tanya Daniel menatap Tirta dengan sorot mata tajam.
Tirta terdiam sesaat dan dia menoleh kebelakang, memperhatikan Dena yang membuang muka jengah menatap keluar mobil.
“Kalaupun aku masih suka, juga sudah terlambat. Dia sudah menikah dengan orang dan sudah hamil” pungkas Tirta, menatap Dena.
“Cihh, kau memang selalu terlambat” Desis Daniel miris.
__ADS_1
Agam sendiri hanya diam, fokus menyetir.
“Aku pikir dulu, aku belum pantas dengannya dan aku belum dewasa. Jadi aku lebih menunggu waktu aku dewasa dan kuliah dulu baru setelah itu aku akan langsung menikahi kembaran mu. Tapi apalah daya kini dia sudah jadi milik orang lain” ucap Tirta terang-terangan.
“Kalian bodoh atau apa, kenapa berbicara tentangku didepan orangnya sendiri” ketus Dena melipat kedua tangannya memperhatikan Tirta.
“Ya, aku minta maaf. Aku hanya ingin kamu tahu saja kalau aku pernah cinta denganmu. Tai sekarang rasa cinta itu akan aku hilangkan, selamat ya atas pernikahanmu dan kehamilan mu sekarang” jujur di hati Tirta saat ini sebenarnya dia berat mengatakan itu.
“ya, terimakasih” Dena langsung mengalihkan wajahnya lagi.
“Sudah sana hadap dean, jangan melihat Dena terus. Dan tolong jaga sikapmu didepan suami Dena misalkan nanti kalian bertemu. Kau bisa mati kalau tidak menjaga sikapmu didepannya” jelas Daniel memberi peringatan untuk Tirta.
“ya, so pasti. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang” Tirta langsung berbalik menatap jalanan depan.
Agam yang sedari tadi memilih diam, menepuk pundak Tirta.
“Tirta, Tirta, sekalinya cinta sama orang ditinggal bentar udah diembat aja sama cowok lain” pungkas Agam. Merasa iba dengan temannya tersebut.
°°°°°
Dena dan teman-teman Daniel sudah sampai di Panti Permata Bunda. Mereka bertiga segera mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa, sementara Dena diam saja melihat itu semu.
Bu Panti datang menghampiri dena saat ini bersama dengan Bija dan suaminya yang ada disitu.
“Bu,.” Ucap Dena mengambil tangan ibu panti dan menciumnya.
“Bija,.OM” Dena berjalan mendekati Heja dan juga suami perempuan itu. Ia memeluk Bija.
Daniel dan kedua temannya mendekat sambil membawa barang-barang yang mereka bawa.
“Terimakasih buat kalian ya, kalian pemuda-pemuda yang punya jiwa sosial tinggal” ucap Bu Panti merasa terharu, ia ingat beberapa tahun lalu saat mereka berempat juga datang ke pantinya padahal dimana dulu mereka masih remaja dan uang pun dulu masih minta pada orang tua. Tapi mereka menyisihkan sebagian uangnya untuk panti di tanggal yang sama dan bulan yang sama seperti ini dengan agenda merayakan ulang tahun Daniel dan juga Dena.
“Iya sama-sama bu” jawab mereka bertiga bersamaan
“Bija,.” Ucap Daniel berjalan menuju Heja dan juga suaminya dia. Memeluk Bija dan juga suami perempuan itu.
“Dena dimana suamimu?” tanya Bija karena tidak melihat keberadaan Dirga saat ini.
“Aku tidak tahu,” jawab Dena singkat dan langsung berjalan masuk dulu kedalam panti.
Sementara Agam dan Tirta merasa heran mereka saling lihat satu sama lain. Kenapa cara menjawab Dena seperti itu.
Baru saja mereka semua akan masuk kedalam panti menyusul Dena yang sudah beranjak dulu. Sebuah mobil BMW 4, berwarna biru berhenti tepat disebelah mobil Agam tadi. Sontak mereka semua langsung melihat kearah mobil tersebut.
Dari dalam mobil turun dua orang pria, yang langsung berjalan mendekati mereka saat ini. Siapa lagi keduanya kalau buka Dirga dan juga Reyhan.
“Bukannya itu adikmu? Dengan siapa dia? Suami Dena ya?” ucap Tirta dan juga Agam pada Daniel.
Daniel hanya mengangguk saja memperhatikan mereka berdua.
“Bija, Om.” Ucap Dirga menyalami Heja dan juga suaminya.
“Aku kira kamu tidak datang kesini Dirga” tukas Bija.
__ADS_1
“Halo, Bibi dan Om kesayangan dua kakak esku” ucap Reyhan pada Heja. Heja hanya tersenyum saja, dia tahu kalau itu anak Marco dengan Soraya.
“Tidak mungkin aku tidak datang,” pungkas Dirga,
“Dena dimana Bija?” tanya Dirga pada Heja.
“Dia didalam, mungkin dengan anak-anak” sahut Heja.
“Kalau begitu aku kedalam dulu” Dirga langsung pergi menuju kedalam, namun langkahnya berhenti saat berpapasan dengan Daniel dan kedua temannya yang berdiri tengah menatapnya saat ini.
“Selamat ulang tahun Daniel” ucap Dirga menatap adik iparnya itu.
“Ya..” hanya jawaban singkat saja dan senyum kecil yang diberikan pria dingin itu.
“Hadiah mu, sudah ku suruh orang mengantarkannya ke rumah papa Marco. Ku harap kau tidak menolaknya” ucap dirga pada daniel.
Dia langsung masuk kedalam menyusul istrinya, tapi pandangannya tidak lepas dari dua pria yang berada di samping Daniel saat ini.
“Kak Daniel, aku iri denganmu. Sebulan lalu kau memberikanku Mobil sekarang kau dibelikan Mobil sport mewah tahu. Lebih mahal dari mobil yang kau berikan padaku” pungkas Reyhan pada Daniel.
“Aku tidak perduli, kau tidak memberi aku kado. Katanya kau sayang denganku” ucap Daniel datar.
“Kau mengharapkan kado dariku kak? Aku kira kau tidak mengharapkannya dariku, ya aku tidak membelikan apapun untukmu. Aku hanya membelikan kak Dena”
“Kau memang bukan adikku,” ucap Daniel
“Gilak, kakak ipar mu. Aku melihatnya hampir mirip dengan Papamu sifatnya. Tapi dia lebih hangat sepertinya, dia saja membelikan mu mobil” ucap Agam.
“Sudahlah, aku mau masuk” Daniel langsung pergi meninggalkan kedua temannya dan juga Reyhan.
Tirta sedari tadi hanya diam saja setelah melihat suami Dena, dia sudah tahu siapa dia. Bagaimana tidak tahu seorang pebisnis muda seperti Dirga . Dirga juga rekan bisnis yang menanam saham di perusahaan Papanya.
.............
Di dalam Dena duduk di sofa menemani bocah yang berusia sekita r lima tahun sedang makan eskrim. Ia sesekali tersenyum melihat bocah itu.
“Sayang..” suara seseorang mengalihkan dena dari bocah itu. Dia tampak terkejut melihat Dirga yang ternyata menyusul dirinya.
“Ada apa kau disini?”
“Untuk menyusul istriku tentunya, untuk apalagi aku kesini” ucap Dirga, dia berjalan mendekat dan mendudukkan dirinya disebelah Dena.
“Kau marah padaku kan, karena aku lupa ulang tahunmu. Aku minta maaf ya,” ucap Dirga memeluk Dena dari belakang karena saat ia bicara perempuan itu membelakanginya.
Dena diam saja, tidak memberi jawaban.
“Mau ikut aku,?” ucap dirga masih dengan memeluk Dena.
“Kemana?” baru Dena melihat kearah Dirga.
“Rahasia, ayok” Dirga berdiri mengulurkan tangannya pada Dena.
Dena menerima uluran tangan itu, dia ingin ikut dengan Dirga karena perasaannya menginginkan itu. Entah apa bayinya yang menginginkan ikut dengan Dirga.
__ADS_1
°°°
T.B.C