
Acara makan malam telah selesai, dan kini mereka semua sedang duduk di ruang tengah menikmati buah yang sudah di potong-potong dan ada di dalam piring.
Sedari tadi Dena hanya diam saja, saat lainnya berbicara dia malas rasanya untuk sekedar bergabung dalam pembicaraan. Dirga juga melihat itu di wajah Dena.
Membuatnya berpikir keras sekarang, kenapa hubungan Dena dengan Papanya seperti tidak baik. Sebenarnya ada apa di tengah keluarga mereka sehingga menyebabkan kondisi seperti ini.
"Ma, Pa, aku kembali ke kamar dulu ya?" ucap Dena menatap satu persatu orang yang lebih tua darinya tersebut.
"Iya, kalau kamu lelah nggak pa-pa, kembali saja ke kamar"ucap Doni dan Sisil mengiyakannya.
Marco yang mendengar itu seperti gelisah sendiri seakan ingin berbicara sesuatu.
"Dena sebentar, Papa ingin bicara denganmu" ucap Marco pada akhirnya saat putrinya itu sudah akan melangkah pergi.
Dena langsung berhenti melihat kearah Papanya,
"Bicara apa?" singkatnya.
"Tidak disini"
"Doni boleh aku ke halaman sampingmu sebentar, aku ingin bicara berdua saja dengan anakku" lanjut Marco sambil melihat kearah temannya itu.
Doni melihat kearah Sisil, dan kemudian dia melihat lagi kearah Marco.
"Iya boleh silahkan" ucap Doni mempersilahkannya.
"Dirga Papa pinjam istrimu sebentar ya" ucap Marco pada Dirga yang sedari tadi duduk sambil memperhatikannya.
"Iya Pa" sahut Dirga.
Dena langsung berjalan duluan kearah halaman samping rumah mertuanya.
………………
"Apa yang ingin Papa bicarakan denganku?" ucap Dena langsung saat Papanya sudah berdiri didepannya saat ini.
"Papa tidak mau berbasa-basi. Papa ingin langsung bertanya pada mu tentang maksudmu saat di rumah orang tua Papa kemarin"
"Kan aku sudah bilang sama Papa cari tahu sendiri, atau tanyakan saja pada orang tuamu itu. Kenapa sekarang kau bertanya padaku?Kau mulai menyesal telah melukai Mamaku" ucap Dena menatap sakartis kearah Papanya saat ini.
"Kau bisa tidak, jangan emosi dulu saat berbicara dengan Papa"
__ADS_1
"Untuk apa juga aku harus bicara sopan padamu, selama ini saja kau seperti tidak menganggap ku anak" ketus Dena
Marco diam saja melihat anaknya, yang menatap dirinya penuh kebencian.
"Cepat katakan pada Papa, sebelum kesabaran Papa habis Dena"
"Kenapa?Kau sudah mulai tidak sabar, kalau kau marah tinggal marah saja tampar aku seperti biasanya kau menamparku" Dena seakan tidak takut dengan Papanya dia malah mendekati Marco.
"Jangan main-main dengan Papa Dena, katakan pada Papa apa maksudmu kemarin. Papa tidak punya banyak waktu"
"Aku tidak akan mengatakan apapun padamu, untuk apa juga aku mengatakannya. Sudah terlambat untuk diriku mengatakan semuanya, apa dengan aku mengatakannya padamu Mamaku bisa kembali,. " ucap Dena dengan Nada sedikit meninggi di akhir kalimatnya. Dia juga menatap sanga Papa dengan tajam
"Satu yang ingin ku katakan, Mama ku terlalu mencintaimu. Bahkan sebelum dia tiada dia mengkhawatirkan mu tapi kau malah sedang melakukan hal menjijikkan dengan perempuan lain" Desis Dena dan hendak berlalu pergi.
Namun Papanya segera menahan dirinya,
"Ayo lah bilang padaku," ucap Marco tidak sabar, dia mencengkram erat tangan Dena.
Dena tersenyum sinis balik memegang tangan Papanya. Dan menghempaskan kuat tangan tersebut.
"Baiklah kukatakan yang sesungguhnya, tapi tidak semua. Aku ingin kau menyesal terlebih dahulu Pa" ucap Dena.
"Asal kau tahu Pa, Mamamu serta Papamu menyuruh istrimu sekarang untuk mendekati dirimu agar kau tergoda. Dia, mereka berdua berusaha memisahkan dirimu dengan Mama karena mereka menganggap Mama adalah penghalang dirimu menjadi pewaris karena mereka tidak tahu asal usul dari Mama makanya dia tidak menyetujui pernikahanmu dengan Mama" jelas Dena membuat Papanya melebarkan matanya tak percaya.
"Buktinya mereka bisa, kau saja bisa menyakitiku. Padahal kau papaku sendiri"
Skakk
Perkataan Dena mampu membuat Marco terdiam,
"Kalau itu tidak benar, kenapa aku membenci mereka sekarang. Padahal mereka yang telah menolongku dari penculikan"
"Ini bukan seberapa pa, masih ada lagi dosa yang orang tuamu itu lakukan. Aku tidak mau memberitahukannya padamu, kau cari tahulah sendiri"
Setelah mengatakan itu Dena langsung pergi meninggalkan Marco yang terdiam di tempatnya. Dia masih tidak percaya dengan perkataan putrinya tersebut.
Tapi, perkataan itu sekarang membuatnya semakin gelisah saja. Apa mungkin memang benar semua ini ada sangkut pautnya dengan kedua orang tua dirinya. Karena walaupun selama ini dia kasar serta seakan tidak perduli pada Dena. Tapi dia tahu betul putrinya itu seperti apa. Dena bukanlah tipe orang yang berbohong dan dia juga bukan tipe orang yang membenci orang lain tanpa alasan.
………………
Dena masuk kedalam kamarnya menutup pintu kamar itu dengan begitu keras. Dia tidak perduli jika kamar itu juga kamar dari Dirga.
__ADS_1
Dia begitu emosi saat ini, rasanya amarahnya begitu terasa saat mengingat kembali seberapa cinta Mamanya dulu pada Papanya itu.
Dena menarik selimut yang ada di ranjang dengan kuat.
"Argggh, kalian keluarga pembunuh" teriaknya.
Dia berjalan menuju meja yang mengarah ke balkon, memberantakan semua koran yang menumpuk di meja itu.
"Kenapa aku bisa terlahir dari keluarga itu" ucap Dena lantang meluapkan emosi dirinya saat ini.
Tanpa di duga saat Dena tengah melampiaskan emosinya di dalam kamar pintu kamarnya itu terbuka dan menampakkan sosok Dirga yang melihat kamarnya tampak terkejut karena saat ini kamarnya begitu berantakan dan melihat Dena yang sedang mengatur nafasnya. Dia bisa melihat bahwa perempuan itu tengah marah serta emosi sekarang.
"Kau kenapa?" tanya Dirga saat dia mulai perlahan melangkah masuk kedalam kamar mendekati Dena yang langsung berbalik melihat dirinya.
"Bukan urusanmu, jangan ikut campur" ketua Dena dan akan berjalan ke balkon.
"Tentu urusanku, bukannya kita sudah janji untuk menjalin pertemanan" ucap Dirga menahan tangan Dena yang akan pergi.
"Katakan padaku, apa sebenarnya masalah dirimu dengan Papa Marco?" lanjut Dirga mencoba mengorek informasi.
Dena diam saja di depan Dirga saat ini, dia seakan menimbang tentang haruskah dia bercerita dengan Dirga. Tapi Pria itu terlihat seperti Papanya bisakah ia mempercayainya.
"Katakan padaku?" tegas Dirga masih merasa dia harus tahu sebenarnya.
"Aku tidak ingin mengatakannya, aku belum mempercayai dirimu, bisa jadi saat aku menceritakan padamu ternyata dirimu pria bajingan seperti Marco Alexander Sharman" Dena melepaskan tangan Dirga dan berjalan keluar ke balkon.
Dirga tentu saja tidak diam saja, dia menyusul Dena yang melihat kearah langit malam melalui balkon.
"Bagaimana bisa kau mengatai ku seperti itu,?" ucap Dirga seakan tidak terima.
"pikir saja sendiri kenapa aku mengatai mu begitu. Pergilah aku ingin sendiri" ucap Dena mengusir Dirga agar pergi.
"Baiklah jika itu mau mu, dan kau butuh sendiri sekarang" Dirga langsung pergi dari hadapan Dena yang menatap Dirga tanpa ekspresi. Tapi sebenarnya dia memikirkan apa benar Dirga bisa di percaya dan mereka bisa berteman.
Apakah nantinya saat dia berteman dengan Dirga, dia bisa mengeluarkan seluruh emosi serta unek-uneknya. Seperti saat dulu dia menceritakan apa yang dia rasa seperti dia menceritakannya pada Dewa yang tanpa beban.
Dirga dan Dewa apakah orang yang memiliki kesamaan bisa ia percaya atau tidak. Dia takut, saat ia bergantung pada seseorang nantinya malah membuat dia terlihat lemah. Seperti saat dimana dia bergantung pada Dewa dulu disaat Dewa pergi ia merasa separuh dirinya hilang karena dia tidak ada teman lagi yang mampu mendengarkan keluh kesahnya.
Apa Dirga akan seperti Dewa nantinya?
°°°
__ADS_1
T.B.C