
Dena terpaku ditempatnya setelah mendengar ucapan Dirga barusan dia merasa bingung sendiri sekarang dengan ucapan itu. Bingung antara percaya dan tidak percaya, apa yang dikatakan Dirga itu benar atau tidak.
"Kenapa kau diam?Kau tidak percaya padaku" ucap Dirga membuat Dena langsung tersadar dari lamunannya.
"Apa?" ucapnya terkesan tidak fokus dengan ucapan Dirga.
"Sudahlah tidak usah di bahas, ayo pulang" ucap Dirga dan menggandeng tangan Dena berjalan bersama dengannya.
Baru berjalan beberapa langkah, langkah mereka langsung berhenti saat mendengar panggilan seseorang.
"Kak Dena," seorang Pria yang tak lain adalah Reyhan berlari kecil memanggil Dena. Dan tentu saja Dirga dan Dena langsung melihat kebelakang.
"Reyhan," ucap Dena saat melihat Reyhan yang berlari menghampiri dirinya.
"Ternyata kau datang juga kak, yah walaupun bukan datang untukku" ucap Reyhan tersenyum kecil melihat kakaknya.
"Maaf," lirih Dena merasa bersalah.
"Ternyata kau yang jadi model ku. Mulai sekarang jaga sikapmu padaku, aku bos mu. Hormati diriku, walaupun kau tidak menghormati ku sebagai kakak ipar mu tapi setidaknya hormati aku sebagai bos mu mengerti" ucap Dirga pada Reyhan penuh penekanan.
"Tenang, mulai sekarang aku bakal menghormatimu sebagai kakak iparku juga. Aku percaya sekarang kalau kau memang mencintai kakakku dan aku yakin kakakku ini akan segera membuka hatinya untukmu. Jika kau terus berusaha" ucap Reyhan tiba-tiba saja, dan dia merangkul kakaknya sambil tersenyum. Dena melihat Reyhan yang merangkulnya begitu juga Dirga yang melihat Reyhan tak percaya kalau pria itu menerima dirinya sebagai kakak ipar sekarang.
"Kak, buka hatimu. Aku rasa dia tulus mencintaimu" bisik Reyhan di telinga Dena.
"Aku pergi dulu kalau begitu" ucap Reyhan lagi dan langsung berjalan pergi meninggalkan Dirga dan juga Dena berdua.
Dirga terus menatap Dena, sementara Dena yang tadinya menatap Reyhan saat ini menatap Dirga yang tengah menatapnya.
"Adik bungsu mu sudah menerima diriku, lalu bagaimana denganmu?" ucap Dirga menatap Dena lekat.
"Tidak ada yang perlu ku jawab" ucap Dena dan dengan langkah pelan ia berlalu dari Dirga yang menatapnya.
………………
Marco dan Soraya sedang duduk santai diruang tengah rumah mereka menikmati secangkir teh hangat dan sambil menonton televisi.
Soraya merasa bosan karena sedari tadi yang di tonton Marco hanya berita saja bukan hal lain.
"Aku ganti chanel nya" ucapnya saat mengambil remot tv di meja.
"Kenapa kau pindah?" tanya Marco.
"Aku bosan tidak seru beritanya" Soraya langsung memindah saluran televisinya saat ini.
Saat dia sedang merubah-rubah Chanel tiba-tiba netra matanya tak sengaja melihat saluran yang saat ini sedang menayangkan acara infotainment. Di sana dia melihat Reyhan yang saat ini sedang di sorot oleh kamera.
"Honey, Honey" ucapnya sambil memegang suaminya.
"Apa,?" sahut Marco yang fokus dengan Hp miliknya.
"Itu Reyhan Honey" ucap Soraya sambil menunjuk kearah televisi.
Marco langsung melihat ke layar tv sekarang. Benar saja itu putra bungsunya Reyhan.
Dan juga ada dia dapat melihat Dena di sana yang duduk disebelah Dirga.
"Kenapa Reyhan bisa di sana Honey?Dan kenapa anak istrimu itu disitu juga. Apa dia yang menyembunyikan Reyhan selama ini, atau dia yang mempengaruhi Reyhan" ucap Soraya menatap Dena yang berada di televisi. Dan dia merasa kesal dengan Dena saat ini sehingga membuatnya mengeluarkan berbagai macam tuduhan pada gadis itu.
"Aku tidak bisa biarkan ini, aku harus memberi pelajaran anakmu honey" Soraya langsung berdiri dari duduknya dengan marah.
__ADS_1
"Kau mau kemana?" tanya Marco saat melihat Soraya berdiri dengan marah.
"Aku akan menemui anak istrimu dengan selingkuhannya" ucap Soraya.
"Soraya.." bentak Marco dan langsung berdiri juga.
"Dena dan Daniel anakku. Bukan anak Monica dengan selingkuhannya" tegas Marco tidak terima.
"Kok dirimu jadi membela dia sekarang, ah bodo amat aku tidak perduli. Aku akan memberikan pelajaran pada bocah itu karena telah menyembunyikan anakku Reyhan" ucap Soraya dan langsung pergi meninggalkan Marco yang menatap dirinya.
"Soraya,.." teriak Marco saat Soraya sudah pergi sedikit jauh darinya.
"perempuan itu," geram Marco dan langsung akan menyusul Soraya yang sudah berjalan pergi.
………………
Dena dan Dirga saat ini sedang berada di dalam mobil. Mereka tidak ada yang bicara satu sama lain. Tapi sedari tadi Dirga melihat kearah Dena sebenarnya Dena menyadari kalau Dirga melihatnya. Namun dia pura-pura tidak tahu itu, karena jika dia menanggapi Dirga ia bingung akan menjawab apa.
Drrtttt
Hp milik Dena berbunyi dari dalam tas kecil yang hampir berbentuk dompet tergenggam di tangan Dena.
Dena langsung mengambilnya melihat siapa yang menelponnya saat ini. Tidak ada nama pemanggil disitu hanya nomornya saja. Tapi Dena tahu betul itu nomor telpon milik siapa
Dengan malas dia mengangkatnya.
"Ya, Halo" ucapnya. Dirga yang mendengar nada ketus dari Dena saat bicara di telpon melihatnya saat ini.
"Kau dimana?" ucap Seorang dari seberang sana.
"Aku dijalan, kenapa. Tumben sekali kau perempuan ular menelpon ku" sinis Dena.
"Bocah tengik tidak usah banyak bicara. Aku ingin menemui mu"
"Siapa?" tanya Dirga penasaran.
"Wanita menjijikan" jawab Dena dan memalingkan wajahnya.
"Mamamu?"
Dena langsung menatap Dirga tidak suka.
"Siapa yang kau bilang Mamaku, Dia bukan Mamaku mengerti" sentak Dena tidak suka.
"Maaf, aku lupa" Dirga kembali fokus menyetir menuju rumahnya.
°°°°°
Soraya sudah sampai di rumah mertua Dena, dia sudah duduk diruang tengah keluarga itu. Sisil melihat Soraya tidak suka tetapi Doni selalu memegang tangan Sisil seakan menyuruh istrinya itu untuk sabar menahan emosi.
"Kenapa kau kemari?" jutek Sisil menatap Soraya yang duduk dengan angkuhnya.
"Tentu saja mau menemui anak perempuanku" ucap Soraya enteng.
Sisil tersenyum sinis menatap Soraya,.
"Maaf, Apa kau sudah berbicara dulu pada Dena kalau kau kesini?" tanya Doni.
"Tentu saja sudah tuan Doni Suherman," jawab Soraya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau tunggu disini sendirian ya. Aku dan istriku sedang ada urusan" ucap Doni dan langsung bangkit dari duduknya mengajak Sisil juga ikut berdiri.
"Apa?" tanya Sisil.
"Kau lupa, kita ada urusan dengan klienku" ucap Doni mengingatkan.
"Oh iya, tapi bagaimana dengan perempuan iblis ini" ucap Sisil sedikit berbisik.
"Dia akan bertemu Dena biarkan saja" lirih Doni.
"Tapi, nanti bagaimana dengan Dena kalau di celakai wanita ini" ucap Sisil merasa khawatir dengan menantunya.
"Sudah tenanglah, ada Dirga. Dia pasti melindungi istrinya. Ayo kita pergi, klienku sudah menunggu" ucap Doni mengajak Sisil untuk berjalan.
"Baiklah" Sisil melangkah pergi bersama Doni tanpa bicara dengan Soraya yang juga merasa tidak masalah dengan itu. Dia benar-benar seperti nyonya besar dirumahnya sendiri padahal ini rumah orang.
………………
Dena dan Dirga masuk kedalam rumah saat ini. Mereka berdua langsung berhenti saat melihat Soraya yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi layaknya seperti di rumah sendiri.
Dena langsung berjalan mendahului Dirga menemui Soraya.
"Waah, perempuan tidak tahu diri sekaligus tidak tahu sopan santu. Di rumah orang bergaya seperti rumahnya sendiri" Sinis Dena langsung mencabut colokan tv.
Soraya berdiri memandang Dena yang melihatnya tajam. Dia tidak kalah tajam melihat Dena saat ini. Dengan senyum licik dia berjalan mendekat kearah Dena
Plakkk
Dia menampar keras Dena yang langsung kaget dengan tamparan tiba-tiba itu.
Dirga yang melihatnya tentu saja tak kalah kaget. Dia langsung berjalan disebelah Dena.
Dena tersenyum sinis sambil memegangi pipinya.
"Apa maksudmu menamparku tiba-tiba?" ucap Dena dingin.
"Itu pantas kau dapatkan anak pelacur, kau telah mencuci serta menyembunyikan anakku Reyhan kan" ucap Soraya.
Dena menghembuskan nafasnya kasar mendekati Soraya tanpa takut.
Plakkk
Dena balik menampar Soraya,
"Itu tamparan yang pantas buatmu juga, Dasar pelacur teriak pelacur" ucap Dena sengit.
"Atas dasar apa kau menuduhku menyembunyikan anakmu. Anakmu sendiri yang mencari ku mengerti" Dena mencengkram erat lengan Soraya.
"Lepas," sinis Soraya.
"Jangan harap aku melepas kan mu dengan mudah kali ini. Salahmu sendiri sudah membangunkan singa tidur sepertiku, aku sudah tidak bisa bersabar lagi denganmu" Dena semakin kuat mencengkram lengan Soraya dan Dia menghempaskan perempuan itu kelantai.
"Dena sudah" ucap Dirga menahan Dena.
"Jangan ikut campur urusanku" ucap Dena pada Dirga.
"Dasar kau anak ingusan" Soraya masih tidak takut, dia mencoba berdiri lagi dan akan menjambak rambut Dena yang sedang membelakanginya.
"Ma..Mama" ucap Reyhan lantang saat melihat mamanya yang akan menarik rambut Dena.
__ADS_1
°°°
T.B.C