Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 29


__ADS_3

Dena berdiri dari posisinya yang dilantai. Menghapus air matanya kasar. Dia tidak bisa menangis cengeng begini, ia harus memikirkan sebuah cara agar ia bisa mendapatkan surat rumah serta surat donatur panti. Itu sekarang yang harus ia pikirkan menangis tidak akan menyelesaikan masalah.


Dia hendak berjalan keluar kamar, langkahnya terhenti karena didekat pintu Dirga sedang berdiri melihatnya tanpa ekspresi. Jangan harap Dena perduli dengan pria itu, Dena berjalan begitu saja hendak melewati Dirga.


Tapi langkahnya langsung terhenti saat Dirga seperti yang lalu-lalu selalu mencengkram tangannya dan berniat untuk menghentikan dirinya.


"APA??" ketus Dena menatap Dirga


"Kau mau kemana?" tanya Dirga dingin.


"Bukan urusanmu, sudah berapa kali ku bilang" ucap Dena tak kalah dinginnya.


"Aku tidak perduli, ini urusanku atau bukan yang jelas jangan pernah kau pergi keluar dari kamar ini" Dirga semakin kuat mencengkram lengan Dena menarik perempuan itu kearah kasur dan membantingnya di kasur.


"Jangan pernah kau keluar dari kamar saat ini," ucap Dirga lagi menatap Dena tajam.


Setelah menghempaskan Dena, Dirga berjalan menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Kunci itu ia tarik dari tempatnya dan ia masukkan kedalam saku celana.


Dena yang sedari tadi melihat pergerakan Dirga memperhatikan Pria itu yang kini malah rebahan di sofa tempat dimana biasa ia tidur.


Sungguh Dena tidak bisa dia seperti ini saja, ia harus segera kembali kerumahnya dan mengambil semua surat-surat yang di simpan oleh Papanya.


"Berikan kunci kamarnya padaku," ucap Dena di depan Dirga yang sedang berbaring di sofa.


Dirga hanya diam saja tidak berminat untuk bicara.


Dena tidak ambil pusing dia segera duduk disebelah Dirga, tanpa takut ia memasukkan tangannya ke saku celana milik Dirga.


Tentu saja Dirga terkejut dengan apa yang dilakukan Dena saat ini.


"Apa yang kau lakukan?" bentaknya pada Dena.


"Mengambil apa yang aku ambil," sahut Dena enteng.


"Kau ternyata wanita yang tidak takut"


"Buka pintu kamarnya, aku mau keluar." ucap Dena.


"Tidak akan," ucap Dirga menatap Dena.


Dena diam, tetapi langkahnya berjalan mendekati Dirga. Membuat Dirga menatap tak percaya,


"Baiklah, kalau kau tidak mau memberikannya" Dena berjalan semakin mendekati Dirga yang malah semakin di buat bingung dengan perempuan didepannya saat ini.


Secara cepat Dena mengambil wajah Dirga mencondongkan nya ke wajah nya saat ini lalu..

__ADS_1


Cupp


entah apa yang di pikirkan Dena, dia mencium Dirga begitu saja membuat pria itu melebarkan matanya terkejut. Dena terus mencium bibir Dirga, Dirga malah menerima ciuman itu kini dia yang beralih memegang wajah Dena menarik perempuan itu lebih dekat dan ******* bibir tipis milik Dena.


Ia merebahkan Dena secara perlahan di sofa, menciumi seluruh wajah Dena bahkan hingga leher milik Dena memberikan tanda kepemilikannya di sana.


Ternyata Dena tidak membuang serta menyia-nyiakan hal itu. Ini memang tujuannya membuat Dirga terbuai dan lalai, ia segera memasukkan tangannya di saku celana Dirga tanpa pria itu sadari,.


Berhasil Dena sudah berhasil menggenggam kunci kamarnya saat ini, dia langsung mendorong Dirga dari tubuhnya dan membuat Dirga terjatuh dari atasnya saat ini.


"Dasar, semua pria memang bajingan hanya nafsu yang mereka miliki" desis Dena lalu bangkit dari sofa.


Dirga yang terkejut langsung melihat Dena yang sudah berdiri.


"Kau gila, kau mendorongku?" sentak Dirga bangkit dari jatuhnya.


Dena hanya dia lalu berpaling pergi menuju pintu, dia membuka pintu itu.


Dan Dirga sekarang baru sadar bahwa tadi dia di bodohi Dena, perempuan itu berhasil mengambil kunci kamar dari saku celananya.


"Siall, dia telah membodohi ku" ucapnya kesal saat Dena sudah berhasil membuka pintu serta berlari keluar dari kamar.


Dirga langsung berlari keluar hendak mengejar Dena yang sudah keluar dulu dari kamar.


………………


BRAKK


Tabrakan keras tak terelakkan, dengan sigap Dewa menangkap Dena sebelum terjatuh ke lantai.


"Dena,." lirih Dewa.


Dena mendongak melihat wajah Radewa yang menatapnya, Dena hendak melepaskan tangan Dewa dari tangannya.


"Pegang dia kak, Jangan lepaskan perempuan itu" teriak Dirga yang baru saja datang.


"Lepaskan aku," ucap Dena pada Dewa.


"Kamu mau kemana Dena?" tanya Dewa masih memegang tangan Dena.


Dirga langsung menarik tangan Dena kuat, kini berpindah ke tangan nya.


"Ayo ikut aku, berani sekali kau sudah membohongiku" ucap Dirga menarik Dena kasar.


"Lepaskan Dirga, aku harus pergi" Dena berusaha melepaskan diri dari Dirga yang menyeretnya. Dan berhasil, ia berhasil lepas dari Dirga.

__ADS_1


Dena segera berlari berlindung di belakang Dewa saat Dirga hendak mengejarnya lagi.


"Kak Dewa tolong, tolong aku untuk lepas dari adikmu" lirik Dena dibelakang Dewa.


"Kenapa kau malah bersembunyi di belakang kakakku kemari lah," pungkas Dirga menyuruh Dena mendekat padanya.


"Kau sebenarnya mau kemana?" tanya Dewa pelan pada Dena yang berada di belakangnya.


"Aku mau ke rumah Papa ku, aku harus mengurus sesuatu di sana" terang Dena pada Dewa yang mendengarkannya.


"Aku bilang kemari, kenapa kau malah bicara pada kakakku" ucap Dirga lalu menarik lengan Dena paksa.


Dewa yang belum sempat bicara pada Dena langsung melihat adiknya yang berjalan sambil menarik Dena.


"Dirga,." ucap Dewa keras berjalan mendekat kearah Dirga yang berhenti sambil melihatnya. Dewa langsung menarik satu sisi yang lain dari tangan Dena.


"Lepaskan Dena" ucap Dewa lagi sambil melihat Dirga yang juga melihatnya. Kini kedua tangan Dena dipegang oleh dua pria itu.


"Seharusnya kau yang lepaskan tangan istriku," ucap Dirga tajam sambil memperhatikan tangan Dewa yang memegang tangan Dena.


"Dirga lepaskan tanganku, sakit" rintih Dena merintih kesakitan sambil menatap Dirga memohon.


Dirga menatap Dena, lalu menatap Kakaknya. Dia langsung menghempaskan tangan Dena dan dia langsung pergi masuk kedalam meninggalkan Dewa dan Dena berdua saja.


"Terimakasih,." ucap Dena pada Dewa saat Dirga pergi. Dena langsung melepaskan tangan Dewa dari tangannya.


"Aku perlu bicara padamu," ucap Radewa saat Dena akan melangkah pergi melewatinya.


"Apa yang mau dibicarakan, ?"


"Tidak di sini," ucap Dewa.


"Kalau tidak di sini, lebih baik tidak usah" ucap Dena dingin dan hendak pergi meninggalkan teras rumah.


"Kau ingin membuat Daniel frustasi" ucap Radewa keras dan mampu menghentikan langkah Dena.


"Maksudmu?" Dena tidak mengerti dengan ucapan ambigu dari Radewa.


"Aku bilang ikut denganku, aku akan bicara padamu" ucap Dewa pada Dena.


Dena terdiam di tempatnya, apa lebih baik ia bicara pada Radewa.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu" balas Dena pada akhirnya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2