Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 103


__ADS_3

Dirga yang mendengar permintaan Dena itu langsung terbelalak. Apa?Baru saja Dena meminta anggur hijau, agar dia di maaf kan.Lantas kemana dia mencari anggur hijau itu.


"Sayang jangan bercanda, tidak ada anggur hijau" ucap Dirga.


Dena langsung melepas tangan Dirga yang setengah memeluknya.


"Dasar kampungan, katanya pebisnis muda tapi tidak tahu kalau ada anggur hijau. Ya sudah sana, aku tidak ingin melihatmu" ketus Dena dan langsung melenggang pergi ke balkon.


Sementara Dirga terbelalak mendengar ucapan Dena, cara bicara istrinya itu ketus sekali dengannya. Kenapa dia hamil sadis sekali bicaranya,.


"Sayang, kamu marah padaku. Maaf aku tidak tahu anggur hijau itu ada. Aku akan cari, tunggu ya. Tapi kamu jangan marah padaku?" ucap Dirga pada Dena saat dia menyusul istrinya itu yang duduk di balkon.


"Minggir lah, aku ingin mual melihatmu. Aku tidak ingin melihatmu sebelum kamu bawa anggur hijau buatku" ucap Dena kukuh pada pendiriannya.


"Sayang, kok kamu gitu sih. Kejam banget sama aku" Dirga mengambil duduk di sebelah Dena.


"Bukan aku yang kejam padamu tapi anakmu ini" sahut Dena tidak terima.


"Kalau kamu tidak terima dengan ini, marah saja pada perutku" ucap Dena tidak masuk akal.


Dirga hanya bisa diam melihat Dena dan sesekali melihat perut Dena yang masih terlihat rata.


"Ya sudah aku cari dulu anggurnya," Dirga terpaksa berdiri sambil melihat Dena yang membuang wajahnya.


"Tunggu ya, Papa bawakan anggur hijau buatmu" Dirga mengusap perut Dena. Dan dia langsung pergi dari hadapan Dena saat ini.


………………


Dirga menggerutu di dalam mobil ia bingung, mencari anggur hijau dimana. Jujur walaupun ia kaya raya tapi tidak pernah tahu yang namanya anggur hijau baru kali ini dia mendengar nama itu.


"Aneh memang, Hamil inginnya aneh-aneh" gumam Dirga sambil menyetir mobil mengarah ke sebuah mall benar dia baru tahu kalau ingin mencari anggur hijau adanya di mall.


Karena mall nya tidak jauh dari tempatnya sekarang baru beberapa menit saja mobil Dirga telah berhenti di parkiran mall.


Langsung saja dia turun dari mobil, ingin segera mencari anggur dan segera pulang ke rumah.


Baru saja Dirga akan melangkah masuk kedalam mal Hp miliknya yang berada di saku celana berbunyi.


Dengan segera Dirga mengambilnya.


Tertera nama Sayang dengan emotikon love dilayar Hp itu. Siapa lagi yang menelpon kalau bukan Dena.


"Ya ada apa sayang" ucap Dena saat mengangkat panggilan itu.


"Kamu dimana?Buruan anggur hijaunya. Kalau tidak ada aku tidak akan memaafkan mu" Terdengar nada ancaman dari seberang sana.


"Sabar kali sayang, aku saja baru sampai di mall. Kalau minta jangan aneh-aneh kenapa? Aku.." belum juga Dirga selesai bicara sambungan telpon langsung dimatikan.


Dirga langsung menghela nafasnya, sambil melihat layar Hpnya yang sudah mati dengan jengah.

__ADS_1


"Dia saja tidak hamil denganku agak dingin. Hamil sekarang kenapa semakin menjadi" gerutu Dirga sambil berjalan masuk kedalam Mall.


Baru saja menjajakkan kaki masuk kedalam mal, Hp Dirga berbunyi lagi. Dia mengambil Hp itu dari dalam celananya kembali.


Dia melihat nama dengan tulisan sayang kembali tampak di Layarnya.


"Iya halo sayang ku, kenapa?" ucap Dirga saat menjawab telpon dari istrinya.


"Cepat, kenapa lama sekali. Kau bersama dengan wanita murahan ya" Ucap Dena dengan keras dari seberang sana.


"Kamu ini tidak sabaran sekali sih, sabar kenapa. Suamimu masih mengusahakannya ini loh" sebal Dirga mengutarakan kekesalannya.


Sambungan telpon langsung terputus begitu saja. Lagi Dirga menatap sebal Hp miliknya kini.


Dengan menghentakkan kakinya, ia langsung masuk kedalam mal. Dia harus segera mendapatkan anggur hijau itu dan segera pulang ke rumah. Kalau dia tidak segera pulang, pasti bisa di pastikan lagi Dena bakal menghubunginya lagi.


°°°°°


Daniel saat ini sedang ada di rumahnya dia duduk di ruang tengah, berbaring di sofa sambil menonton Tv serta sesekali bermain Hp.


"Kak, ketempat kak Dena yuk" ucap Reyhan yang tiba-tiba saja datang duduk di single sofa tidak jauh darinya.


Daniel langsung melihat dimana Reyhan duduk.


"Kau bicara padaku?" ucap Daniel menatap Reyhan.


"Tidak, aku bicara pada hantu," kesal Reyhan pada kakaknya itu.


"Aish menyebalkan, oke aku ke rumah kakakku yang baik hati itu sendiri. Awas saja kalau aku dapat kabar bagus dari sana" ucap Reyhan berdiri dengan kesal menatap kakaknya itu.


"Bodo amat," sahut Daniel matanya masih tetap fokus ke layar televisi.


Reyhan baru saja pergi eh datang si perempuan ular.


Soraya datang-datang langsung menendang-nendang kaki Daniel yang ada di sofa. Sorot mata Daniel yang tadinya santai langsung menatap tajam Soraya.


"Ada apa?" dinginnya melihat Soraya.


"Kau memasukkan kakek mu ke dalam penjara?" tanya Soraya menatap Daniel tidak suka.


Daniel langsung mendudukkan dirinya melihat kearah Soraya.


"Bukan aku yang memasukkannya, dia sendiri yang menyerahkan diri."


"Dan aku tunggu dirimu sebelum aku yang akan melaporkan kejahatan mu" ucap Daniel, dia berdiri dari duduknya menatap Soraya.


"Ingat itu, aku akan melaporkanmu dan menghukum mu jika kau tidak melakukan apa yang ku minta" ancam Daniel.


"Cih, aku tidak takut. Aku tidak akan menyerahkan diriku mengerti" sahut Soraya tersenyum sinis pada Daniel.

__ADS_1


"Oke, tunggu saja" Daniel balas tersenyum sinis dan langsung melenggang pergi.


……………


Setelah satu jam berlalu, akhirnya Dirga kembali dengan sekresek anggur hijau. Dia langsung masuk kedalam kamar.


"Sayang aku pulang," ucap Dirga membuka pintu kamarnya.


Dena sedang duduk di sofa, dia melihat Dirga yang sudah masuk kedalam.


Dirga berjalan mendekati Dena, begitu juga Dena yang berjalan berlawanan dengan Dirga.


"Ini aku bawakan sekantung kresek anggur buat mu. Habiskan ya, puaskan anak kita" ucap Dirga menyerahkannya pada Dena yang sudah ada di depannya saat ini.


"Aku tidak ingin lagi buang saja" Dena langsung melenggang menuju tempat tidur.


"Apa?" mata Dirga melebar melihat Dena.


"Kok tega sekali sih sayang, aku sudah cari susah-susah. Jauh juga kamu tidak mau" Dirga berbalik melihat kearah Dena yang malah dengan santai tidur kasur.


"Salah sendiri lama, aku sudah tidak ingin"


"Namanya juga aku masih cari-cari tempatnya dimana. Susah tahu sayang nyari ini. Dimakan kek satu atau bagaimana" ucap Dirga duduk di ranjang tempat Dena tidur.


"Aku sudah tidak mau, kenapa kamu memaksa sekali sih" Dena langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Terserahlah, aku buang saja" Dirga langsung menghamparkan satu kantung kresek itu di lantai.


Dia sudah capek mencari, malah Dena tidak menghargainya.


Dena langsung membuka selimutnya melihat Dirga yang berdiri kesal menatap kantung kresek di lantai.


"Aku mau kamu memelukku," ucap Dena canggung. Sebenarnya dia tidak ingin di peluk, itu ia lakukan karena merasa bersalah saja pada Dirga.


Dirga yang mendengar itu langsung melihat kearah Dena.


"Kamu bilang apa?"


"Aku mau di peluk,"


Dirga yang tadi tampak kesal sekarang rasa itu sedikit menghilang mendengar permintaan Dena.


"Baiklah sini, aku peluk" Dirga langsung beranjak ke tempat tidur sementara Dena bergeser memberi ruang untuk Dirga.


"Nah kalau kamu begini terus aku senang sayang, walaupun kamu membuatku kesal. Tapi kalau begini aku tidak kesal. Semoga permintaan anak kita terus begini ya" Dirga tampak senang memeluk Dena saat ini. Seketika rasa marahnya tadi langsung menguap begitu saja.


"Hemm, aku mau tidur jangan berisik"


"Iya sayangku, sini aku kasih pelukan hangat. Agar anak kita nyaman di perutmu" Dirga semakin erat memeluk Dena. Tapi juga tidak erat sekali agar tidak menyakiti bayi yang di kandung Dena.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2