Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 47


__ADS_3

Dena yang sedang menikmati ciumannya dengan Dirga langsung tersadar dengan apa yang dia lakukan sekarang, begitu saja ia langsung mendorong Dirga agar melepaskan ciumannya.


Tentu saja Dirga langsung terdorong karena fokusnya pada ciuman yang menurutnya selalu membuat dia ketagihan terus untuk mencicipi bibir manis Dena.


"Kau kenapa?" kesal Dirga yang terdorong menjauh, padahal dia begitu menikmati ciuman tersebut.


Dena mengusap bibirnya, melihat kearah Dirga.


"Jangan anggap aku menerima ciuman mu tadi," dingin Dena menatap Dirga yang langsung menatap matanya lekat.


"Heh, kau tidak usah menyangkal. Buktinya tadi kau menerima ciumanku," senyum miring nampak di wajah Dirga.


"Tidak ada yang salah dengan ciuman itu, kita suami istri. Bahkan jika aku mau aku bisa lebih melakukannya" tambah Dirga mendekati Dena kembali.


Dena malah berbalik arah berjalan pergi,


"Mau kemana kau?" teriak Dirga melihat Dena yang malah berjalan berlawanan arah darinya. Dia berjalan di sepanjang hamparan pasir pantai.


Dirga berlari mengejar Dena,


"Kau merasa tidak terima aku mencium mu? aku minta maaf" ucap Dirga berjalan di samping Dena yang langsung menghentikan langkahnya melihat kearah Dirga tidak percaya.


Ternyata Pria itu punya kata maaf dalam dirinya, Dena kira seorang Dirga yang kasar tidak mempunyai nya.


"Kau memaafkan ku," Dirga melihat seksama wajah Dena.


Dena diam saja, dia malah duduk dengan lututnya tertekuk melihat luasnya lautan di depannya.


"Kau bisa tidak sih, tidak hanya diam saja. Bicara dan jawab ucapan ku" kesal Dirga dan ikut duduk di pasir.


"Kau tahu tidak apa yang membuatku benci dengan Papaku sendiri" bukannya menjawab Dena malah membahas dirinya yang membenci Marco.


Dirga menatap Dena serius,


"Apa?"


"Dia menyelingkuhi Mamaku, di saat aku dan Daniel berumur dua tahun. Tapi, kita bertiga tidak mengetahuinya. Kita tahu, disaat Mamaku telah tiada di saat itu aku baru tahu kalau Papaku berselingkuh dan bahkan memiliki anak dengan selingkuhannya yang umurnya hanya terpaut dua tahun dariku" papar Dena mulai membuka apa yang menjadi alasannya membenci Papanya sendiri.


Dirga terus diam, ia lebih memilih menjadi pendengar untuk Dena. Perempuan di sebelahnya ini pasti mengalami rasa sakit yang lebih dari kenyataan itu,


"Bukan hanya itu saja yang membuatku semakin membenci dia, dia terlalu jahat serta pilih kasih pada kita berdua. Dia sering memukul, memaki dan memerintah diriku dan Daniel ketika kita mulai tinggal dengannya, dia lebih condong kepada istri serta anaknya yang lain" ucap Dena penuh pilu menceritakan apa yang ia alami dulu.


"Kenapa Papamu bisa begitu?Kalian berdua kan juga anaknya" heran Dirga merasa iba mendengar perkataan Dena barusan.


"Itu semua gara-gara kedua tua bangka itu, yang membenci Mamaku" Raut wajah Dena sekita mengeras menahan amarah saat ia mengingat wajah kedua orang tua Papanya.


"Maksudmu, tuan Maryo dan Istrinya. Kakek dan Nenekmu? kenapa mereka membenci mamamu?" Dirga semakin penasaran saja dengan kehidupan Dena.


"Mereka tidak merestui mamaku, mereka menganggap mamaku hanya orang biasa yang menginginkan harta mereka saja. Dan mereka sudah memiliki pilihan lain untuk Papaku, tapi tiba-tiba saat Papaku baru pulang dari luar kota langsung membawa mamaku dan sudah menjadikannya istri membuat mereka berdua menjadi benci dengan Mama" jelas Dena mengingat mengenai cerita dari Mamanya dulu. Benar Mama Dena dulu menceritakannya pada Dena dan Daniel, disaat mereka berdua bertanya kepada Mamanya soal kenapa Kakek dan Nenek mereka tidak sayang pada mereka berdua.


Dirga sedikit merasa tersentil, karena apa yang diceritakan Dena tadi hampir seperti dirinya. Dulu ia mengira Dena menikah dengannya karena ingin Papa perempuan itu semakin jaya dengan menikahkannya.


Walaupun sekarang dia masih mengira Dena seperti itu tapi, ada keraguan dihatinya. Pasti Dena memiliki alasan lain sehingga mau menikah dengannya.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku masih ada hal yang ingin ku beritahukan padamu mengenai diriku yang begitu membenci kedua pasang tua bangka itu. Tapi, sepertinya aku belum bisa mempercayai dirimu" Dena melihat wajah Dirga tanpa ekspresi yang juga melihatnya.


"Kenapa kau belum bisa mempercayaiku sepenuhnya?" Dirga penasaran sekali mengenai alasan kenapa dia belum bisa di percaya.


"Kau mirip dengan Papaku" ucap Dena datar dan langsung mengalihkan wajahnya kearah lain.


DAMm


Dirga langsung terdiam mendengarnya, apa iya dia mirip dengan Papa dari Dena. Apa Dena merasa dirinya orang brengsek juga.


"Lupakan soal itu, aku ingin menanyakan sesuatu yang membuatku sangat penasaran selama kita menikah. Apa alasanmu menikah denganku, padahal saat itu kau juga telah sepakat untuk menolak pernikahan ini?" Dirga menatap Dena serius.


Dena langsung menatap kearah Dirga lagi, melihat pria tersebut yang tampak ingin tahu.


"Semua itu gara-gara Papaku, Dia mengancam ku agar mau menikah denganmu. Dia mengancam akan menjual properti milik mamaku, kenang-kenangan dari Mama tentang keluarga bahagia kita dulu dan bukan itu saja Papaku mengancam untuk mencabut donatur tetap Mamaku di salah satu panti asuhan. Tentu saja aku tidak berdaya dengan ancaman itu, karena semua itu hal berharga yang mamaku tinggalkan" jelas Dena menahan rasa nyeri di hatinya tak kala membahas ancaman yang dilakukan Papanya.


Dirga terkejut mendengarnya, jadi itu yang menjadi alasan Dena akhirnya mau menikah dengannya. Berarti ia selama ini sudah salah paham dengan perempuan dingin disebelahnya ini. Bahkan dia sudah melukai perempuan itu serta membencinya.


Kecanggungan seketika menelungsup diantara mereka yang saling diam menjelajah pikiran masing-masing.


"Aku mau ke mobil" Dena bangkit dari duduknya, karena menurut dirinya suasana ini tidak nyaman. Lebih baik pergi saja.


Dirga mendongak menatap Dena yang sudah berdiri,


"Kau?.." ucap Dirga terhenti saat Dena menatapnya.


"Apa?" singkatnya.


"Tidak.." jawab Dirga.


°°°°°


Dena baru saja selesai mandi, dia yang sudah berganti pakaian duduk di sofa tempatnya tidur. Tak lama Dirga masuk kedalam berjalan mendekati Dena saat ini.


"Kau segera ganti baju berwarna hitam" suruh Dirga pada Dena.


Dena yang tadinya sedang duduk santai, langsung melihat Dirga yang masuk tiba-tiba menyuruhnya berganti baju berwarna hitam.


"Kenapa?"


"Nenekmu meninggal" ucap Dirga pelan takut Dena akan merasa sedih atau apa.


Dena melebarkan matanya merasa terkejut, bukan terkejut karena dia sedih. Tapi karena apa yang ia bicarakan waktu itu terjadi, neneknya itu akhirnya bertemu dengan Mamanya.


"Kau tahu dari siapa?" datar Dena bertanya. Karena kenapa Dirga yang memberitahunya.


"Dari Daniel, dia menghubungimu. Tapi Hpmu mati. Kau mematikan Hp milikmu?"


"Ya, karena aku tidak ingin di ganggu oleh orang-orang seperti mereka" sahut Dena.


Dirga terdiam mendengar nada yang terkesan dingin tersebut.


"Kau cepat ganti baju saja sekarang. Papa dan Mama sedang menunggu di bawah, aku juga akan ganti baju" perintah Dirga lagi dan dia segera menuju lemari pakaian miliknya.

__ADS_1


"Aku tidak akan ke sana, kalian saja" Dena langsung merebahkan tubuhnya di sofa menyalakan televisi didepannya.


Dirga yang tadi, akan membuka lemari langsung melihat kearah Dena.


"Kau tidak akan ke sana? Nenekmu meninggal" ucap Dirga.


"Untuk apa aku ke sana" ucap Dena datar.


Dirga mengambil kemeja hitamnya, membuka baju yang ia kenakan sekarang. Menggantinya dengan kemeja itu lalu mendekat kearah Dena.


"Dia nenekmu, kau harus ke sana" tegas Dirga saat berdiri tepat di depan Dena yang langsung duduk.


"Aku bilang tidak mau" Dena meninggikan nada bicaranya.


Dirga langsung menarik, tangan Dena berdiri. Mencengkram lengan perempuan itu.


"Cepat ganti baju, kau harus ke sana. Bagaimanapun juga dia nenek mu" ucap Dirga penuh penekanan.


"Aku bilang tidak mau, kau memaksa sekali" Dena tak kalah keras melepas tangan Dirga dan menghempaskan nya.


"Kau mau hubungan dirimu dengan adikmu semakin memburuk?" ucap Dirga.


Dena terdiam, tentu saja dia tidak menginginkannya. Tapi ,mau bagaimana lagi. Dia tidak ingin datang ke pemakaman neneknya. Anggap saja ini sebagai balas dendam darinya, karena dulu kakek dan Neneknya tidak datang juga ke pemakaman Mamanya.


"Aku tidak perduli, untuk apa aku datang ke sana mereka saja dulu tidak ada yang datang di pemakaman mamaku"ketus Dena dan langsung pergi dari hadapan Dirga menuju ke Balkon kamar.


"Terserah dirimu" rasanya Dirga sudah muak memaksa Dena untuk pergi. Dia langsung pergi begitu saja dari kamar, membanting pintu kamar itu dengan begitu keras.


Dia berjalan menuruni tangga dengan cepat, merasa pemaksaannya sia-sia.


"Dirga dimana Dena?" ucap Sisil saat melihat Dirga yang menuruni tangga hanya sendiri saja.


"Dia tidak mau ikut ma," ucap Dirga memberitahukannya pada sang Mama.


"kenapa istrimu tidak mau ikut?" Doni yang baru saja mendekati mereka langsung bertanya mengenai alasan Dena tidak mau ikut.


"Dia tidak mau, dia sepertinya begitu membenci kakek dan Neneknya" lemah Dirga menceritakannya.


Sisil dan Doni saling pandang,


"Apa yang membuatnya tidak mau Dirga?" Sisil bertanya kepada Dirga barang kali Dirga tahu alasan Dena tidak mau ikut ke pemakaman sang nenek.


Dirga diam,


"Tidak usah bahas dia ma, pa. Lebih baik kita berangkat saja" Dirga tidak ingin menjawab pertanyaan kedua orang tuanya. Dia lebih malah mengajak kedua orang tuanya untuk berangkat segera.


Dirga berjalan terlebih dahulu dari orang tuanya, membuat kedua orang itu merasa curiga.


"Apa Dena tahu sesuatu atau bagaimana?kenapa dia terlihat membenci keluarga Papanya? Dan kenapa Dirga sepertinya juga tahu?" Sisil bertanya-tanya soal itu sambil melihat kearah Doni.


"Aku tidak tahu ma, lebih baik kita berangkat saja sekarang" ucap Doni dan langsung merangkul istrinya untuk berjalan bersama dengannya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2