
“Turunkan aku” ucap Dena tiba-tiba saat Dirga akan membuka pintu mobil untuknya. Raut wajah Dirga yang tadi terlihat sangat khawatir langsung terdiam menatap sang istri tidak mengerti.
“sayang turunkan aku,” ucap Dena lagi mengulang ucapannya barusan karena Dirga yang terdiam sambil menatapnya.
“Kamu hanya pura-pura sakit tadi,?” tanya Dirga memperhatikan Dena yang masih dia gendong.
“Iya, sudah turunkan aku sekarang” ucap Dena minta diturunkan.
Dirga menurunkan Dena dengan tidak percaya, bisa-bisanya istrinya itu membohongi dirinya. Dia tadi sudah sangat panik mengkhawatirkan Dena. Tapi yang dikhawatirkan malah membohongi dirinya.
“Ayo jangan diam saja cepat masuk mobil. Nanti papa Doni dan mama Sisil keburu menyusul kita” ucap Dena menyuruh Dirga segera masuk kedalam mobil sementara dirinya masuk terlebih dahulu meninggalkan Dirga yang semakin melebarkan mata tak percaya melihat Dena. Dengan alasan apa dia membohongi dirinya.
Dirga langsung masuk kedalam mobilnya juga menyusul sang istri.
“Asli sayang kamu membuatku benar-benar keringat dingin mengerti?’ ucap Dirga saat sudah masuk kedalam mobil sambil memasang sabuk pengamannya dan sesekali melihat Dena yang duduk tenang disebelahnya.
“Aku melakukannya demi kebaikan” ucap Dena
“Demi kebaikanku? Maksudnya? Apanya yang demi kebaikanku?” ucap Dirga.
“Iyalah demi kebaikanmu, kalau kamu di sana terus nanti pasti debat dengan Papa. Dan papa akan mengomeli dirimu gara-gara kau telat untuk turun” pungkas Dena menatap Dirga,
Dirga terdiam mendengar apa yang diucapkan dena barusan.
“Kita mau kemana sekarang?” tanya Dirga setelah terdiam beberapa saat.
“Aku mau ke pantai,” ucap Dena.
“Pantai jauh sayang, kamu hamil besar nggak usah ke sana. Kita ke hotel dekat sini saja menghabiskan waktu bersama” pungkas Dirga menolak perkataan Dena, dia langsung melajukan mobilnya tanpa memperdulikan tatapan tidak terima dena.
................
Agam dan Tirta datang ke rumah Daniel saat ini, mereka datang karena sudah hampir beberapa minggu Daniel tidak ada kabar. Bahkan dihubungi saja nomor Daniel tidak aktif. Membuat mereka berdua memikirkan sahabatnya itu, dimana dia sekarang kenapa tidak pernah mengajak bertemu untuk sekedar mengobrol
__ADS_1
Mereka berdua membunyikan bel rumah yang ada di rumah itu, menunggu sebentar untuk dibukakan pintu dari dalam.
Tak lama kemudian pintu terbuka menampakkan Reyhan yang membukakan pintu untuk mereka.
“kalian berdua, kenapa kakak-kakak tampan main ke sini?” ucap Reyhan memperhatikan kedua pria tampan itu yang berdiri di depannya saat ini.
“Eh, nggak sopan bener aku ya, nanyain tamu didepan pintu. Masuk dulu kak Agam kak Tirta” ucap Reyhan lalu memberi jalan untuk kedua orang itu masuk.
Mereka berdua hanya saling lihat saja melihat sikap Reyhan yang konyol menurut mereka. Dengan segera kedua orang itu langsung masuk kedalam rumah berjalan beriringan.
“Papamu dimana?” ucap Agam saat memperhatikan suasana rumah itu yang sepi.
“Papa sedang ada bisnis di Luar Negeri” jawab Reyhan.
“Duduk dulu kak,” ucapnya lagi saat menyuruh mereka berdua untuk duduk di sofa ruang tamu saat ini.
“Daniel mana? Kita minta tolong panggilkan Daniel?” tanya Tirta saat sudah mendudukkan dirinya.
“Kak Daniel nggak di rumah” jawab reyhan saat sudah duduk.
“Kalian berdua tidak tahu, sudah sebulan hampir sebulan Kak Daniel tidak rumah. Dia di Australia sekarang” Reyhan menatap kedua orang didepannya dengan heran. Padahal dua orang itu sahabat baik kakaknya Daniel bagaimana bisa mereka tidak tahu.
“Apa?” ucap Agam maupun Tirta yang tampak terkejut.
“Kalian benar-benar tidak tahu, apa kak Daniel tidak memberitahu kalian?”
“Tidak, kita hubungi saja nomornya sudah tidak aktif dua minggu ini” jawab Tirta menyilang kan kakinya sambil melihat Reyhan.
“memang Hpnya sedang dia off kan kak, dia butuh menghibur diri sendiri tanpa gangguan. Jika ingin komunikasi dengannya menggunakan Email” pungkas Reyhan.
Mata kedua pria itu mendelik, menatap tak percaya. Daniel melakukan hal itu, menurutnya itu sebuah hal jadul.
“Kau serius mengenai kakakmu itu?” ucap Agam tidak percaya.
__ADS_1
“Iya aku serius, semalam aku habis berbicara dengannya menggunakan Email. Kalau kalian tidak percaya bisa tanya kak Dena, dia juga menghubungi kak Daniel dengan Email” ucap Reyhan menatap kedua orang itu yang tampak tak mempercayai perkataannya.
“Dia sedang ada masalah atau apa? Kenapa dia butuh menenangkan diri?” tanya Tirta menatap Reyhan.
“Dia bilang katanya wajah Mamanya sekarang teringat jelas di benaknya dan dia mengatakan rindu dengan Mamanya makanya dia untuk sementara ini tinggal di Australia mengumpulkan kenangan-kenangan Mamanya di sana” Jelas reyhan.
Agam dan tirta langsung terdiam, jadi sekarang Daniel begitu teringat jelas wajah Mamanya. Dulu saat Daniel SMP dia selalu sedih duduk di belakang sekolah dibawah pohon, mencoba mengingat wajah Mamanya memukulkan tangannya sendiri ke tembok jika tidak bisa mengingat wajah mamanya yang sebenarnya. Maksud yang sebenarnya yaitu Daniel hanya ingat wajah mamanya melalui Foto aslinya kalau tidak sering melihat foto Mamanya dia tidak mengingatnya sama sekali.
Beda dengan Dena yang katanya sedari kecil mengingat jelas wajah mamanya itu, makanya terkadang hal itu membuat Daniel merasa iri dengan kembarannya tersebut.
Agam dan Tirta memahami situasi yang di alami Daniel saat ini, pasti antara membahagiakan dan sedih harus mengingat bagaimana mamanya pergi.
“Kalau kalian mau bertanya kabar dengannya aku kirimkan alamat Email kak Daniel?” ucap Reyhan.
“Tidak, biarkan dia menyendiri dulu. kita paham bagaimana dirinya” ucap Agam menolak.
“Kalian sepertinya paham betul kakakku yang dingin itu, eh kakakku dingin semua deng” ucap Reyhan merevisi ucapannya.
“Kita memang memahami mereka, entah kenapa aku dan Agam bisa cocok sekali dengan Daniel. Kita bertiga sudah seperti saudara mengalir dengan sendirinya hubungan kita ini.” Ucap Tirta sedikit tersenyum getir saat mengingat masa lampau mereka bertiga saat SMP dulu.
“Kalian akrab dengan kakakku Daniel tapi tidak akrab dengan kakakku Dena. Padahal kalian berempat satu sekolah dulu”
“Dena lebih tertutup dengan kita, dia seakan menghindari sebuah hubungan. Bahkan teman-temannya SMP dulu yang ingin coba dekat dengan Dena dia hindari, padahal banyak para cowok yang menyukainya termasuk ini sih Tirta. Kelamaan pergi akhirnya zonk cintanya sudah di ambil orang” ucap Agam yang tadi tampak serius kini seakan tersenyum kecil menggoda Tirta yang duduk disebelahnya.
Tirta langsung melihat kearah Agam yang sedang bicara.
“Diem deh, nggak usah dibahas. Aku sedang dalam proses move dari Dena ini” ketus Tirta menatap kesal Agam yang kembali mengungkit cintanya yang kini bertepuk sebelah tangan karena Dena sudah menikah. Memang menjengkelkan Agam ini bisa-bisanya mengungkit masa lalu.
“Whahah, bertepuk sebelah tangan” Reyhan menertawakan Tirta yang melihat kesal Agam.
Mendengar tawa Reyhan itu langsung membuat Tirta melihat kearah pemuda yang dua tahun lebih muda darinya itu.
“Boleh aku pukul nggak sih bocah ini” ucap Tirta menatap Reyhan yang langsung terdiam tapi masih sedikit tersenyum meledek kearahnya.
__ADS_1
°°°
T.B.C