
Didalam mobil dirga saat ini hanya kesunyian semata. Padahal didalam mobil ada tiga orang, tapi mereka bertiga hanya diam saja tidak ada yang berbicara satu sama lain. Daniel duduk dibelakang, ia menyenderkan tubuhnya sambil memejamkan matanya saat ini.
Sementara Dena dan juga Dirga memperhatikan Daniel dari balik kaca, Dena sesekali melihat kebelakang, melihat Daniel.
Dirga tidak bisa bilang apa-apa soal perbuatan Daniel di Showroom mobil tadi. Karena menurutnya ia sama saja dengan Daniel seorang yang emosional jadi tidak bisa kalau disuruh untuk menasehati. Jadi lebih baik ia diam saja, menurut pandangannya apa yang dilakukan Daniel tadi memang wajar ia mungkin akan melakukan yang sama.
“Daniel..” akhirnya Dena memilih membuka suaranya.
“Jangan bicara padaku dulu, aku tahu apa yang akan kau katakan padaku” ucap Daniel masih dengan mata terpejam dan melipat tangannya di dada.
Dirga melihat kearah Dena yang masih terus melihat kearah Daniel,
“Daniel, Kau..” ucapan Dena terhenti.
“Hentikan mobil, aku turun disini” Daniel lebih dulu memotong ucapan kakaknya itu.
“Apa?,.” ucap Dirga langsung melihat kebelakang.
“Aku bilang hentikan mobilnya, aku turun disini” tegas daniel sekali lagi.
“Daniel, kamu kenapa turun disini. Aku masih ingin bicara denganmu?” ucap Dena.
“Dirga hentikan mobilnya” ucap Daniel dengan nada sedikit keras, dia mengabaikan perkataan Dena. Karena ia ia tahu Dena pasti akan menceramahi nya.
Mobil itu langsung berhenti, setelah Dirga meminggirkan mobilnya.
“Dena, kalau kau ingin menasehati ku soal tadi. Kau salah, dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Kau seharusnya bersyukur aku memarahi dia karena hampir membuatmu celaka jika aku menabrak mu” ucap Daniel dengan nada datar di setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
“Tapi dia tidak sengaja Daniel, kau..” lagi-lagi ucapan Dena harus terhenti.
“Terserah apa katamu, kau selalu tidak bersyukur dengan apa yang ku lakukan” sinis Daniel
“Jaga dia, aku turun disini” ucap Daniel pada Dirga. Dia langsung membuka pintu mobil dan keluar begitu saja meskipun Dena berteriak memanggilnya.
Dirga yang melihat pertengkaran keduanya hanya diam, dia bisa apa. Ia juga sama kerasnya, malah nanti menjadi besar pertengkaran tersebut.
“Sayang sudahlah,..”ucap Dirga menahan tangan Dena yang akan keluar mengejar Daniel.
“Tapi dia bersikap begitu padaku, aku juga belum selesai bicara padanya. Seharusnya dia tidak semarah itu” Dena menatap Dirga yang menahan tangannya.
“Biarkan saja Daniel, dia bersikap seperti itu wajar saja cuman sedikit keterlaluan sih. Tapi dia begitu karena takut kamu kenapa-kenapa” Dirga berusaha menenangkan Dena yang terlihat emosi bercampur sedih.
“Sudah kamu tidak usah, memikirkan hal itu. Kasihan anak kita yang juga ikut merasakan” ucap Dirga lagi.
Dena diam saja mendengar itu, ia kembali merilekskan dirinya. Melihat itu Dirga segera melajukan mobilnya kembali.
............
Dena tertidur didalam mobil, kini mereka sudah sampai di depan rumah Dirga. Pria itu menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di halaman rumahnya saat ini.
Dirga melihat kesamping melihat istrinya yang tertidur saat ini, ia berjalan keluar dari mobil mengitari mobilnya untuk membuka pintu sang istri. Setelah membuka pintu Dena Dirga langsung menggendongnya, membawa istrinya itu dengan perlahan agar tidak terbangun masuk kedalam rumah.
“Dena tidur Dirga?” ucap dewa saat berpapasan dengan Dirga.
__ADS_1
“Ya, aku masuk dulu” Dirga langsung berjalan melewati Dewa. Dewa hanya diam saja sambil memperhatikan Dirga yang menggendong Dena.
Dia sekarang bisa tenang, Dirga sudah cinta mati dengan Dena jadi dia tidak perlu khawatir adiknya itu akan menyakiti Dena. Dia menyayangi mereka berdua, Dena juga sudah seperti adiknya sendiri, gadis kecil yang dulu selalu ia temui untuk menghiburnya.
Saat akan menaiki tangga rumah, Dena terbangun. Ia melihat wajah suaminya yang tengah menggendong dirinya saat ini.
“Kamu sudah bangun,” ucap Dirga saat melihat Dena yang bangun.
“Iya, turunkan aku. Aku jalan sendiri saja” pinta Dena
“aku gendong saja,” ucap Dirga melanjutkan jalannya lagi setelah sempat berhenti.
“Nanti kamu lelah karena menggendongku, aku berat sekarang” pungkas Dena ada Dirga.
Dirga tersenyum mendengar itu,
“Tidak apa, aku kuat kok” Dirga masih bersikeras menggendong Dena, akhirnya Dena hanya pasrah saja.
Dirga masuk kedalam kamarnya, menaruh perlahan Dena ditempat tidur.
“Kamu tidur lagi saja, lelah kan?”ucap Dirga
“Aku tidak mengantuk”
“ Ya sudah, kalau begitu aku akan menelpon Samuel sebentar ya?” ucap Dirga melihat dena yang terus melihatnya.
Dena tiba-tiba saja berdiri dari duduknya ditempat tidur dan langsung memeluk Dirga dengan erat.
“Aku mau,.” Ucapan Dena terhenti sambil mendongak melihat intens manik mata suaminya.
“Aku juga,.Sudah lama aku tidak melakukannya” ucap Dirga maksud dengan apa yang diinginkan Dena saat ini. Benar sorot mata Dena itu menginginkan hubungan intim.
Mendengar jawaban tersebut Dena langsung tersenyum,
Dirga memegang wajah Dena dan langsung menciumnya, ia ******* habis bibir istrinya. Dan perlahan dia mendudukkan Dena di tempat tidur. Dia melepas sebentar ciumannya itu untuk membuka kemejanya. Selesai dengan kemejanya dia langsung menarik keatas dres biru dongker Dena secara perlahan agar tidak menyakiti perut istrinya.
Dirga kembali mencium bibir ranum milik Dena, sambil sesekali memegang buah dada istrinya secara perlahan, dan seterusnya mereka melakukan hubungan intim yang sama-sama mereka inginkan. Terutama dirga, sebenarnya dia menginginkan nya sudah lama, tapi karena istrinya hamil terpaksa ia menahannya selama kehamilan muda Dena kemarin, karena ia taku jika dia melakukan hubungan badan disaat istrinya hamil muda. Dia takut kandungannya kenapa-kenapa dan sekarang nafsunya baru terlampiaskan.
°°°°°
Dirga membuka matanya, dia baru saja bangun tidur. Setelah mereka berhubungan intim tadi keduanya langsung tidur tanpa mengenakan baju terlebih dahulu. Dirga masih memeluk tubuh Dena dari belakang.
Ia mengalihkan tangannya dari perut Dena, mengambil Hp miliknya yang ada di nakas meja. melihat jam berapa saat ini.
“Sudah jam lima lebih,.”gumamnya dan dia melihat kembali Dena. Dia sedikit menyibak selimut melihat perut Dena yang besar, ia mengusap-usap perut polos itu gemas. Sambil senyum merekah terpancar dari bibirnya itu.
Gara-gara pergerakan tersebut membuat Dena yang sedang tidur terganggu, dia langsung memiringkan tubuhnya kearah Dirga.
“Sayang, sudah jam lima lebih bangun dan mandi” Ucap Dirga melihat dena yang malah memeluknya saat ini.
“Hemm..”
“Kalau begitu aku dulu ya yang mandi, kamu kalau mau tidur, tidur saja. Aku tidak bisa menemanimu” ucap Dirga mengusap punggung polos Dena.
__ADS_1
Dena yang tadi menelungkup kan kepalanya di dada Dirga langsung mendongak menatap suaminya.
“Kamu mau kemana? Kenapa tidak bisa menemaniku tidur” ucap Dena.
“Aku nanti mau bertemu Samuel di Cafe milikku” ucap Dirga melihat Dena.
“Boleh tidak, aku keluar bertemu dengan teman-temanku sebentar” ucap dirga memperhatikan istrinya penuh harap.
“Boleh, tapi jangan lama-lama” sahut Dena.
“Siap, aku Cuma sebentar kok. Ngomongin masalah pekerjaan terus aku pulang”
“Nanti belikan aku eskrim” pinta Dena dengan manja.
“Kamu mau eskrim? Oke suamimu ini pasti akan membelikan untukmu” ucap Dirga sambil memakai celananya yang tadi terhampar dilantai.
...............
Daniel duduk didepan tv di apartemen temannya. Dia setelah keluar dari mobil Dirga tadi siang sampai menjelang malam begini belum pulang kerumahnya. Dia malah berada di rumah temannya yang bernama Agam.
Mereka berdua berteman sudah cukup lama dari mereka berada di SMP, ini adalah hari pertama Agam di Indonesia setelah beberapa tahun dia ada luar negeri. Agam dan satu teman lain yang saati ini tidak berada di Indonesia adalah teman terdekat Daniel makanya selama ini Daniel terlihat tidak memiliki teman karena kedua temannya tidak berada di indonesia.
Sebenarnya dulu dia sama tidak akan ada di indonesia tapi kakaknya Dena yang membuat dia tidak jadi pergi kuliah di Luar Negeri. Dena bilang kalau mereka pergi bagaimana dengan apa yang ditinggalkan Mama mereka.
Daniel duduk diam, seakan pikirannya entah kemana. Jujur saat ini dia merasa bersalah telah berkata kasar seperti tadi pada Dena. Semua itu gara-gara perempuan showroom yang membuatnya bertengkar dengan kakaknya.
“Daniel,.sedang apa kau diam saja” Agam datang membawa minuman bersoda menaruhnya didepan Daniel saat ini.
“Tidak ada,” Daniel mengambil minuman soda yang barusan dibawa oleh Agam.
“Tidak mungkin tidak ada yang kau pikirkan, kau bertengkar dengan Dena? Atau dengan papamu malah lebih parahnya dengan ibu tiri mu”
“Aku sudah tidak memiliki ibu tiri lagi” bukannya menjawab malah Daniel berkata lain.
“Apa? Papamu sudah bercerai” Agam tampak terkejut mendengar hal itu.
“Ya..”
“Puas dong dirimu, sekarang tidak ada ular berbisa lagi didalam rumahmu”
“Begitulah” jawab Daniel
“Ya bisa tidak, kau bicara lebar sedikit. Aku sudah lama tidak bertemu denganmu tapi cara bicaramu tidak berubah. Masih dingin saja, apa Dena juga sekarang masih seperti dirimu”
“Jangan bahas tentang Dena dulu, aku menginap di Apartemen mu malam ini” ucap Daniel langsung berdiri dan berpindah ke sofa panjang di apartemen Agam.
“Kenapa dengan dia,.” Heran Agam,
“ah itu urusannya” dia langsung memindah saluran televisi saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1