Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 58


__ADS_3

Dirga bangun dari tidurnya, dia melihat Dena yang masih tertidur dalam pelukannya saat ini.


"Kau semakin cantik jika diam seperti ini" ucap Dirga sambil menyelipkan rambut yang menutupi wajah Dena ke telinga.


Matahari sudah bersinar terang, Dirga masih saja melihat Dena yang tidur. Dia tidak ada niatan untuk beranjak dari tempat tidur sama sekali.


Dena menggerakkan tubuhnya membuat Dirga yang memeluk Dena sedikit melonggarkan tangannya agar Dena bisa bergerak bebas.


Tapi saat dia sudah melonggarkan tangannya Dena malah membuka matanya melihat Dirga yang juga langsung melihat Dena yang tengah menatapnya saat ini.


Dena yang menyadari itu langsung melepas tangan Dirga. Dan dia langsung duduk, Dirga pun juga ikut duduk.


"Kenapa kau kaget begitu?" tanya Dirga yang menangkap kekagetan di wajah Dena.


"Tidak," Dena langsung melangkah berdiri dari ranjang tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Dirga khawatir dia juga langsung turun.


Dena hanya diam melangkahkan kakinya.


"Arkhhh," Baru juga melangkahkan satu kaki dia sudah merintih kesakitan.


Dengan sigap Dirga langsung memutari ranjang dan berdiri di samping Dena memegangi pundak perempuan itu agar tidak terjatuh.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Dirga pada Dena sambil mundur kebelakang mendudukkan Dena di tempat tidur.


"Tidak, aku cuma merasa kakiku sakit saat ini dan kepalaku juga sedikit berdenyut" pungkas Dena memberitahukan apa yang dia rasa.


"Makanya, jangan sok-sok an mau berdiri. Kau bodoh, tidak lihat luka di kepala dan kaki mu" ucap Dirga kesal.


Dena hanya diam saja mendengar ucapan Dirga. Karena dia merasa aneh melihat sikap Dirga saat ini yang terkesan khawatir padanya.


"Kenapa diam? Apa kau merasa ada yang sakit lagi?" tanya Dirga khawatir melihat Dena yang diam saja.


Dena menggeleng, lalu dia melihat Dirga.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" heran Dirga melihat Dena yang menatapnya.


"Kenapa kau perduli padaku?" ucap Dena pelan.


Dirga terdiam, dia sendiri saja bingung. Apa mungkin karena dia merasa sudah jatuh cinta dengan Dena.


"Apa kau perlu bertanya lagi, Dengan sikapku ini?Kau bodoh atau pura-pura bodoh?" ketus Dirga.


Dena menatap Dirga tidak mengerti,


"Tidak usah menatapku?Kau tidur saja di ranjang. Nanti kita pulang ke rumah. Istirahatlah dulu," Dirga langsung membopong Dena naik ke tempat tidur.


"Kau disini, aku akan mengurus pembayaran dulu" ucap Dirga langsung berjalan keluar dari kamar rawat Dena.


Dena hanya melihat kepergian Dirga penuh rasa tidak percaya.

__ADS_1


………………


Daniel merasa gelisah di kamarnya sedari kemarin dia tidak bisa menghubungi kakaknya, dia bertanya kepada Mertua kakaknya kata mereka Dena sedang pergi dengan Dirga tetapi kenapa hatinya begitu tidak tenang.


Daniel berjalan keluar kamar, saat keluar tanpa sengaja dia berpapasan dengan Papanya yang habis dari rooftop akan turun ke lantai bawah.


"Papa ingin bertanya denganmu?" ucap Marco yang mampu membuat langkah Daniel berhenti melihat Papanya.


"Tanya apa?" Dingin Daniel.


"Kenapa kau tidak bisa di hubungi kakek mu semenjak pemakaman nenekmu?" tanya Marco penasaran.


"Jelas tidak bisa, aku telah memblokir nomornya." ucap Daniel.


"Kenapa bukannya kalian sangat dekat," heran Marco.


"Aku tidak ingin berhubungan dengan seorang pembunuh"


"Maksudmu?" Marco semakin tidak mengerti.


"Orang tuamu membunuh Mamaku mengerti, dan kau seorang Ayah yang tidak menyayangi istri dan anaknya tahu apa" sinis Daniel dan akan pergi tetapi Papanya langsung menghentikannya lagi.


"Apa yang kau maksud Daniel," tegas Marco.


"Mereka membunuh Mama dengan cara yang begitu keji mengerti. Kau tanya saja pada Om Jason atau istrimu sendiri" Daniel langsung berjalan pergi meninggalkan Papanya yang berdiri terpaku. Entah kenapa mendengar itu kaki Marco serasa tidak kuat untuk menumpu tubuhnya.


Dia terduduk, dilantai antara percaya dan tidak percaya. Benarkah yang dibilang anak-anaknya, tapi kalau memang benar ia tidak akan pernah memaafkan Monica walaupun ia dibunuh.


Mengingat itu membuat Marco mengepalkan tangannya kuat. Dia berusaha berdiri lagi,.


"Dia telah mengkhianati ku, terserah jika memang dia telah dibunuh" ucap Marco teguh dalam hatinya.


Tapi, hatinya yang lain merasakan sakit. Apa dia masih mencintai istrinya itu.


Marco tidak mau berpikir tentang Monica lagi, dia langsung pergi begitu saja turun ke bawah.


°°°°°°


Dirga membantu Dena berjalan masuk kedalam Mobilnya saat ini. Mereka akan kembali ke rumah. Karena Dena memang sudah di ijinkan untuk pulang ke rumah setelah sehari semalam dia menginap di rumah sakit.


Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil, Dirga melihat kearah Dena yang hanya diam saja tidak bicara.


Dena yang menyadari Dirga tidak kunjung menyalakan mobilnya langsung menoleh kearah Dirga.


"Kenapa kau tidak menyalakan mobilnya?" tanya Dena pada Dirga.


"Akan aku nyalakan" ucap Dirga langsung memalingkan dirinya dan mulai menyalakan mobilnya.


Mobil Dirga langsung melaju meninggalkan parkiran mobil rumah sakit.


Didalam mobil tidak ada yang bicara, mereka saling diam.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Dena tiba-tiba.


Membuat Dirga langsung menoleh menghadap Dena.


Dirga hanya tersenyum melihatnya, secara refleks dia mengelus pelan kepala Dena membuat Dena diam terpaku dengan sikap Dirga.


"Buka hatimu, dan mulailah percaya padaku" ucap Dirga dimana satu tangannya tidak lepas dari kepala Dena. Ia melihat Dena lagi sambil tersenyum.


Dena hanya diam melihat Dirga, jantungnya kembali berdegup cepat saat melihat senyum Dirga padanya barusan.


………………


Mobil Dirga berhenti di depan rumahnya saat ini bertepatan juga dengan mobil Daniel yang baru saja tiba di rumah Dirga. Dia keluar dari mobil melihat Dirga yang menghiraukannya dan malah berlari ke pintu sebelah.


Dirga membukakan pintu untuk Dena,


"Ayo keluar," Dirga mengulurkan tangannya pada Dena yang akan keluar.


"Aku bisa sendiri," Dena menolak uluran tangan Dirga.


"Kau ini keras kepala ya" Dirga langsung membopong Dena keluar mobil.


"Dirga turunkan aku" ucapnya pada Dirga.


"Kalau kau tidak keras kepala tadi, aku tidak melakukannya" Dirga berjalan kearah rumahnya.


Daniel tampak kaget karena melihat kakaknya yang digendong Dirga dan dia melihat kaki kakaknya yang di perban, serta ia juga melihat ada plaster kecil di dahi Dena.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Daniel pada Dena yang masih di gendong Dirga.


"Aku tidak Pa-pa, hanya terjatuh" ucap Dena berbohong.


"Jangan bertanya dulu, kau tahu tidak kembaran mu ini berat sekali" tukas Dirga dan langsung berjalan masuk kedalam rumah diikuti Daniel di belakangnya.


………………


Dirga mendudukkan Dena di tempat tidurnya. Tidak mungkin dia menaruh Dena di sofa tempat dimana biasanya perempuan itu tidur.


"Kau yang membuat Dena seperti ini?" ucap Daniel langsung menuduh Dirga yang akan berjalan keluar kamar.


"Daniel,." panggil Dena pada kembarannya.


"Kenapa? aku hanya bertanya pada orang ini"


"Kau menuduhku seperti itu?adik ipar macam apa kamu?" sinis Dirga melihat Daniel. Dirga langsung berjalan keluar dari kamarnya saat ini meninggalkan dua orang itu.


Namun, tiba-tiba saja Dirga berhenti. Dia merasa tidak jadi untuk turun ke bawah. Dia akan di kamar saja, nanti kalau Mamanya tahu dia bingung akan menjawab apa.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2