
Setelah dirawat selama dua hari di rumah sakit akhirnya Dena diperbolehkan untuk pulang kerumah. Dirga menuntun Dena perlahan masuk kedalam kamar mereka sementara dibelakang Sisil dan Doni mengikutinya membawakan tas Dena.
“Tasnya Mama sama Papa taruh disini ya, Dirga jaga istri kamu. Mama sama Papa keluar dulu” pungkas Sisil dan juga Doni menaruh kedua tas di sebelah ranjang Dena dan Dirga.
“Iya Pa Ma, terimakasih” ucap Dirga selesai membaringkan Dena di tempat tidur.
“Dena kamu banya istirahat ya nak, Mama sama Papa keluar dulu. Oh iya sekalian kita mau bilang kalau hari ini kita berangkat ke Malang. Kalian berdua tidak apa-apakan,?” ucap Doni saat mengingat kalau dia ada pertemuan bisnis ke Malang.
Dena hanya mengangguk saja,
“Iya Pa tidak Papa” ucap Dirga.
Kedua orang tua Dirga langsung keluar dari kamar anaknya tersebut. Mereka juga akan membiarkan dua orang itu untuk menghabiskan waktu berdua.
“Sayang,..” Dirga memegang tangan Dena menatap manik mata istrinya tersebut.
“Emm,.”
“Aku minta maaf padamu, aku sudah membuatmu tertekan. Aku minta maaf” Dirga mencium tangan istrinya sambil menangis merasa bersalah.
“Tidak apa, itu bukan salahmu. Mungkin diriku yang terlalu egois soal masalah ini.” Ucap Dena mengusap pelan rambut Dirga yang masih menunduk mencium tangannya.
“Aku tidak akan memaksamu lagi untuk memaafkan papa Marco, itu terserah dirimu. Jangan kamu pikirkan lagi mengerti” ucap Dirga mendongak melihat Dena.
Dena mengangguk pelan mendengar pernyataan Dirga tersebut. Walaupun dia tidak akan bilang kalau dia masih memikirkan itu. Ia akan berusaha perlahan memaafkan Papanya, itu harus setelah kemarin dia menyadarinya. Saat Mamanya masuk kedalam mimpinya beberapa hari lalu, dimana dia langsung jatuh sakit kemarin.
Dalam mimpinya itu, mamanya menangis didepannya dia menangis karena dirinya dan juga Daniel tidak memaafkan Marco. Mamanya memohon disitu memohon padanya agar baik dengan Papa mereka. Disitu yang membuatnya tertekan batin, disisi lain masih ada rasa sakit karena ulah Papanya dulu disisi lain permintaan Mama tercintanya yang begitu mencintai Papa mereka. Bahkan sudah tiada saja Monica Mamanya msih memikirkan Marco sampai masuk kedalam mimpi. Intinya sekarang dia akan berusaha untuk baik terhadap Papanya itu demi Mamanya agar tenang disana, dia tidak mau Mamanya tidak dalam ketenangan karena memikirkan mereka.
Dirga mendongak melihat Dena yang diam, tidak bicara lagi. Saat melihat wajah istrinya dia terkejut karena Dena meneteskan air mata tanpa sebab yang dia ketahui.
“Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Kenapa kamu menangis begini” pungkas Dirga terlihat sangat mengkhawatirkan Dena.
“Tidak, aku tidak apa-apa” Dena menggeleng pelan, sembari mengusap air mata yang tanpa sadar jatuh begitu saja.
Dirga membantu menghapus air mata istrinya dalam kebingungan. Sebenarnya kenapa Dena menangis, batinnya terus bertanya soal istrinya tersebut.
.......................
Reyhan datang kerumah Dirga saat ini, dia datang untuk memberitahu kakaknya dan juga Dirga kalau Daniel pergi ke Australia.
Reyhan menunggu Dirga yang sedang ada diatas, sebelum dia sampai kerumah ini tadi ia sudah terlebih dahulu mengabari Dirga kalau dia akan datang dan pria itu bilang untuk menunggu dibawah saja setelah dia datang. Sebenarnya dia tidak ingin menuruti apa kata Dirga, ia ingin naik keatas saja langsung.
Tapi pria itu bilang jangan keatas karena Dena sedang sakit dan tidak bisa diganggu sapapu, sehingga membuat Reyhan mau tidak mau harus menunggu di bawah sampai Dirga datang.
“Maaf, kau menunggu lama ya?” ucap Dirga yang berjalan menuruni tangga melihat kebawah dimana Reyhan sudah duduk di sofa ruang tengahnya.
“Iya sangat lama” pungkas Reyhan dengan mencebik kan bibirnya.
__ADS_1
“Ada perlu apa kamu kesini?” Tanya Dirga saat sudah duduk didepan reyhan.
“Aku ingin bilang soal kak Daniel” lirih Reyhan menatap kakak ipar didepannya yang langsung terlihat penasaran.
“Daniel? Ada apa dengan dia?” heran Dirga sekaligus penasaran ada apa dengan adik ipar satunya.
“Sebelum aku jawab, kak Dena sakit apa?” ucap reyhan terlihat khawatir dengan kondisi kakaknya yang dikatakan sakit.
“Dia habis dirawat di rumah sakit selama dua hari” pungkas Dirga.
“Apa??” Reyhan langsung berdiri menatap Dirga.
“Bisa kecilkan suaramu”
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kakakku habis dirawat dua hari di rumah sakit” ucap reyhan sedikit meninggikan nada suaranya.
“Aku sengaja melakukannya, agar dia tidak banyak pikiran” pungkas Dirga.
“Tidak masuk akal kamu kak, sudahlah aku mau melihat kakakku dulu” ucap Reyhan akan berjalan pergi menemui Dena. Tapi tangannya sudah ditahan Dirga terlebih dahulu.
“Reyhan, tidak usah menemui Dena saat ini. Dia sedang banyak fikiran, ia harus istriahat cukup agar kandungannya tidak kenapa-kenapa. Jika kamu memberitahu tentang Daniel, pikirkan bagaimana kakakmu nanti” ucap Dirga.
Reyhan langsung terdiam, dia memikirkan perkataan Dirga yang ada benarnya juga. Kalau ia menemui Dena dan menceritakan tentang Daniel yang pergi ke Australia. Bagaimana kondisinya nanti.
Reyhan memutuskan untuk duduk kembali di tempat yang ia duduki tadi, ia menatap Dirga mengamati wajah kakak iparnya itu.
“Kak Daniel pergi dari rumah?”
“Apa? Kenapa bisa dia pergi dari rumah” pungkas Dirga terkejut mendengar itu.
“Aku juga tidak tahu, saat aku dan Papa baru pulang dari resort dia sudah membawa kopernya akan masuk kedalam mobil dan katanya dia ingin pergi ke Australia” jelas Reyhan menunduk sedih mengatakan itu.
“Ke Australia, kenapa dia pergi kseana dan kenapa dia tidak bilang padaku dan dena?”
“Aku tidak tahu kenapa dia kesana, mungkin dia ingin menemui keluarga Mama Monica yang ada di sana kak.” Lirih Reyhan.
“Soal itu, dia malah menyuruhku untuk menyampaikan pada kalian” ucap reyhan lagi.
“Sebenarnya kenapa sih dengan dia,” gerutu Dirga mendengar kalau daniel pergi ke Australia. Ia semakin pusing sekarang bagaimana cra dia bilang ke Dena soal kembaran perempuan itu yang pergi dari rumah.
“Aku juga tidak tahu,” Reyhan mengangkat kedua bahunya tidak mengerti.
“Bagaimana aku bilang pada kakakmu sekarang, dia saja sedang banyak pikiran” bingung Dirga dia mengacak-acak rambutnya.
Reyhan hanya diam memperhatikannya saja, jujur dia juga bingung harus bagaimana sekarang.
………………
__ADS_1
Setelah Reyhan pulang dirga langsung menemui dena yang duduk disofa menonton tv, dia tampak tersenyum sekarang karena melihat sinema kartu yang lucu.
“kamu habis bertemu siapa dibawah?” ucap dena saat menyadari kedatangan Dirga.
“Aku bertemu reyhan, dia kesini tadi” cap Dirga jujur.
“Reyhan? Kenapa dia tidak menemuiku?”
“Dia sibuk sayang, dia kesini Cuma ingin menemuiku karena disuruh Samuel untuk mengantarkan berkas yang harus ku setujui” ucap Dirga sedikit berbohong.
“Oh,.”
“Emm, sayang..” ucap Dena pelan melihat Dirga yang sudah duduk disebelahnya.
“Apa?” Dirga memperhatikan dena.
“Tiba-tiba saja ku memikirkan soal Daniel, kamu bisa menghubunginya untukku. Dia sepertinya marah denganku karena memaafkan papa” ucap dena pelan, ada semburat sedih nampak diwajahnya.
Dirga langsung glagapan saat dia disurut menghubungi Daniel, kenpa dena tiba-tiba saja menmikirkan Daniel. Apa sebegitu eratnya seorang anak kembar saling terkonek satu sama lain.
“Please,.” Ucap dena mendekatkan dirinya pada Dirga.
“Jangan sekarang ya, besok bagaimana?”
“Aku maunya sekarang sayang, tidak mau besok. Aku benar-benar ingin bicara dengannya batinku berkata dia jauh denganku sekarang. Aku hanya ingin memastikannya saja” ucap dena memohon.
“Kamu sedang sakit, sekarang. Istirahat saja ya, soal menghubungi Daniel besok saja “ ucap Dirga merengkuh bahu Dena.
“Ada sesuatu yang kamu sembunyikan soalku ya?” ucap Dena curiga.
“Apa yang ku sembunyikan darimu sayang, aku begini karena aku khawatir denganmu. Tidak ada yang ku sembunyikan”
“Nggak, aku sekarang paham dirimu. Aku bisa melihatnya, ada yang kamu sembunyikan dariku, ini soal Daniel kan” ucap Dena masih sangat penasaran dan rasa curiganya semakin bertambah.
Dirga menghela nafasnya, dia terdiam sesaat memikirkan haruskah ia beritahu Dena.
“Ya, aku menyembunyikan sesuatu darimu. Memang benar ini soal Daniel” ucap Dirga dengan berat hati.
“Daniel, Daniel kenapa bilang padaku”
“Sayang tenang dulu, aku mau bilang asal kamu bisa tenang. Ingat kamu habis sembuh dari sakit dan selalu ingat dengan kandungan kamu” ucap dirga.
Dena mengangguk mengiyakan.
“Begini,..Da..Daniel pergi ke Australia beberapa hari lalu” ucap Dirga pelan memperhatikan wajah Dena
°°°
__ADS_1
T.B.C