Cold Woman Itu Istriku

Cold Woman Itu Istriku
Ep 124


__ADS_3

Daniel duduk diam dibelakang, sementara didepan ada Marco dan juga Reyhan. Mereka saat ini sedang menuju ke pantai, sebenarnya tidak ada niatan Daniel untuk ikut. Tapi karena Reyhan bilang ini Dena yang menyuruh terpaksa ia ikut ke pantai juga.


“Kak, kenapa kau diam saja?” Reyhan melihat kebelakang, lebih tepatnya melihat Daniel yang membuang mukanya.


“Jangan ganggu aku,” ketus Daniel memasangkan earphone di telinganya.


“Dasar menyebalkan, Pa..lihat dia sepertimu” pungkas Reyhan.


“Reyhan, jangan ganggu kakakmu. Biarkan saja dia” ucap Marco yang sedang menyetir, benar saat ini ia sendiri yang menyetir. Memang ia sengaja tidak mengajak supir untuk liburan keluarganya. Karena dia benar-benar ingin menghabiskan waktunya dengan anak-anaknya.


“Ya Papa,” ucap Reyhan langsung menghadap depan lagi tidak melihat kearah Daniel yang mulai memejamkan matanya menikmati lagu dari earphone miliknya.


“Pa, kita mau ke pantai mana?” ucap Reyhan penasaran karena memang dia tidak tahu mau ke pantai Mana sekarang.


“Kita ke resort Papa. Kau ingat dulu Papa pernah mengajakmu ke sana tanpa Mamamu” Marco melihat kearah anaknya yang tampak sedang mengingat-ingat.


“Ah iya, aku ingat. Kita akan ke sana Pa?”


“Iya kita akan ke sana” ucap Marco.


“Yey, aku suka tempat itu tempatnya bagus. Rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sana, itupun sewaktu aku kecil benar tidak Pa?”


“Iya sewaktu kamu kecil, sebelum kamu berangkat ke Jerman dan tidak pulang-pulang” pungkas Marco menatap Reyhan yang langsung menunduk.


“Maaf, aku dulu tidak pernah pulang. Itu karena aku malu dan merasa bersalah dengan kak Dena maupun kak Daniel. Aku merasa bersalah pada mereka karena mama telah merebut Papa dari Mama mereka dan Mama juga yang telah membunuh Mama kakakku” pungkas Reyhan menjadi sedih mengingatnya.


Marco langsung melihat kearah putra bungsunya tersebut,


“Kamu tahu darimana kalau Mamamu yang membunuh Mama Monica. Papa saja baru tahu belum lama ini tapi kamu sudah tahu dari dulu” ucap Marco terkejut.


“Dulu aku tidak sengaja mendengar Mama sedang mengobrol dengan Nenek dan Kakek. Mereka membicarakan itu dan Nenek menyuruh untuk menyerahkan diri saja” ucap Reyhan mengingat apa yang dulu ia dengar.


Marco langsung terdiam, dia fokus menyetir lagi. Dia menjadi resah serta kasihan dengan Reyhan, pasti anak bungsunya itu tertekan menyimpan semuanya sendiri.


“Maaf Pa, aku tidak memberitahu kalian kalau aku mengetahuinya semua” ucap Reyhan merasa menyesal telah menutupi semuanya.


“Tidak apa nak, jangan sedih begitu. Sekarangkan itu semua sudah selesai” ucap Marco mengusap kepala reyhan penuh kasih sayang.


Ternyata dibelakang Daniel belum tidur dan dia melihat semuanya. Jujur dia merasa iri dengan sikap Papa nya terhadap Reyhan. Papanya seakan lebih perduli pada Reyhan ketimbang dirinya dan kakaknya. dari dulu hingga sekarang selalu pilih kasih.

__ADS_1


Tapi raut wajah Daniel merasa iba juga dengan Reyhan yang menyembunyikan semua dari usia muda, pemuda itu pasti syok Mama kesayangannya telah melakukan kejahatan besar. Ah apa perduli nya tentang perasaan Reyhan, batin Daniel.


.................


Dirga dan juga Dena sudah sampai di resort milik Marco. Dena bangun dari tidurnya, ia melihat suaminya saat ini yang sedang mematikan mesin mobil.


“Kita sudah sampai?” tanya Dena pada Dirga.


“Iya, ayo turun” pungkas Dirga. Dia langsung turun dari mobil lebih dulu dan berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu mobil bagi istrinya.


Dena turun dari mobil saat pintu mobil itu terbuka, dia langsung melihat-lihat sekitaran resort ini. Dia serasa tidak asing dengan resort yang memiliki pantai indah ini, rasanya dia pernah kesini tapi kapan.


“Ayo sayang, yang lainnya sudah menuggu” ucap Dirga menuntun pelan sang istri.


Dena menghentikan langkahnya, dia melihat dirga.


“Maksudnya yang lain?” ucapnya tak mengerti.


“Sudah, nanti kamu juga tahu. Ayok kita ke sana” ucap Dirga menunjuk pintu masuk ke resort. Saat ini mereka sedang ada diparkiran.


Dena masih bingung dan penasaran siapa sebenarnya yang disebut yang lain. Apa Dirga mengajak teman-temannya kesini. Meski bingung, Dena tetap berjalan antusias, karena dia suka pantai makanya dia sangat antusias sekali saat ini.


Setelah berjalan, sedikit jauh akhirnya saat ini mereka sampai dihalaman luas resort yang besar. Langkah Dena terhenti saat dia melihat siapa yang didepan mereka berdua saat ini yang melambaikan tangan sambil tersenyum.


“Papa disini karena ini resort papa sayang”


“Aku mau pulang, aku tidak jadi melihat pantai” dena menarik pelan tangan Dirga.


“Sayang jangan gitu dong, Papa sengaja mengajak kita kesini karena ini tempat kalian dulu menghabiskan waktu bersama mamamu. Kita ke sana ya,”


Dena hanya diam saja, saat Dirga menuntunnya berjalan mendekat kearah tiga orang yang sudah menunggunya saat ini


.....................


Tiga orang sedang berdiri ditepi pantai saat ini mereka saling diam tidak ada yang bicara. Mereka adalah Daniel, Dena dan Marco. Marco meminta kedua anaknya untuk bicara padanya dipinggir pantai. Untung keduanya mau untuk datang menemuinya saat ini.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Dena dingin,


Marco langsung melihat kedua anaknya yang berdiri didepannya saat ini,

__ADS_1


“Maafkan Papa Daniel yang membohongimu, papa bilang kakakmu yang mengajak kesini. Sebenarnya Papa yang mengajakmu dan Maafkan papa Dena karena membuat suamimu berbohong padamu” ucap Marco pada kedua anaknya yang tampak acuh.


“Sudahlah, tidak usah banyak basa-basi, aku lelah” pungkas Dena jengah mendengar ucapan Papanya. Sementara Daniel sedari tadi hanya diam membuang mukanya sambil tangannya masuk kedalam saku celana.


“Maafkan Papa atas semua yang papa lakukan pada kalian dulu” tiba-tiba saja Marco langsung menekuk lutut didepan kedua anaknya. Lututnya itu menyentir pasir,


Sontak saja Daniel dan juga Dena langsung melebarkan matanya menatap Papanya itu dengan tidak percaya sebenarnya apa yang dilakukan Marco.


“Daniel, Dena. Papa minta maaf pada kalian, papa menyesal. Papa mohon maafkan papa, maafkan papa anakku” Marco memegang kedua tangan anaknya itu menangis ditangan tersebut.


“Kenapa kau begini, berdirilah. Membuat kita dilihat orang yang ada disini” ucap Daniel menatap Papanya yang menangis ditangannya.


“Papa tidak akan berdiri sebelum kalian memaafkan Papa. Papa menyesal Dena, Daniel. Maafkan Papa”


“Penyesalan Mu terlambat Pa, luka di hati kami begitu dalam atas perbuatan mu. Apalagi Dena, lukanya lebih besar dariku Pa. Dia yang selama ini menderita karena mu, kau yang selalu memukulnya, kau yang selalu menghukumnya, memperlakukannya kasar..” ucap Daniel mewakili Dena yang diam melihat Papanya menangis dengan berlutut didepannya saat ini.


“Aku akan memaafkan mu, kalau Dena memaafkan mu Pa. Aku tidak berhak memberimu maaf sebelum kakakku itu memaafkan mu. Lukanya lebih besar dariku. Lukaku hanya membencimu karena meninggalkan Mama, dan kau selalu mengabaikan ulang tahun kami. Itu lukaku. Tapi luka Dena begitu besar Pa, asal Papa tahu dia begitu tersiksa karena mu, dia hampir bunuh diri dulu bukan sekali tapi berkali-kali karena kau perlakukan tidak baik, selalu kau pukul” jelas Daniel mewakili kakaknya.


“Papa tahu itu, Papa salah. Papa minta maaf” ucap Marco saat membayangkan apa yang dia lakukan dulu pada dena.


“Lepas pa,” ucap dena akhirnya membuka suaranya, dia menghempas tangan Papanya itu.


“Dena, Papa mohon maafkan Papa nak, maafkan Papa. Papa akan menebus semuanya, Papa akan menerima hukuman darimu, Papa mohon maafkan Papa nak” ucap Marco menangis terisak memegang tangan anaknya kembali.


Dena menangis juga saat ini dia melihat Papanya yang menangis.


“Kenapa baru sekarang? Apa Papa tahu yang ku lalui dulu karen Papa tidak pernah perhatian pada kami dan Apa Papa tahu seberapa tersiksanya aku setelah Papa maki dan pukuli dulu” ucap dena sambil menangis menatap Papanya yang juga menangis berlutut didepannya.


“Papa tahu nak, Papa sangat tahu. Maafkan papa”


“Demi anak yang aku kandung sekarang agar dia bisa mengenal kakeknya, dan demi janjiku pada Dirga. Aku memaafkan mu, tapi beri aku waktu Pa” ucap Dena langsung melepaskan tangan Papanya, dia mengusap wajahnya kasar, karena air matanya terus menetes. Dia melihat wajah Papanya tadi sungguh kasian Papanya itu sepertinya benar-benar menyesalinya.


“Daniel..” ucap Marco melihat Daniel yang terdiam dengan ucapan kakaknya tadi. Dia tidak menyangka Kakaknya itu bakal semudah itu memaafkan papa mereka.


“Bukannya tadi aku sudah bilang, Papa jelas mengerti. Dena sudah memaafkan mu kan, kau pasti mengerti dengan ucapan ku tadi” Daniel langsung pergi meninggalkan Papanya yang masih berlutut di pasir pantai.


Marco menangis terharu, akhirnya anaknya memaafkannya. Dia mendongak keatas menatap langit malam.


“Tuhan terimakasih, terimakasih sudah memberiku kesempatan. Bantu aku untuk terus lebih dekat dengan anak-anakku” ucapnya air mata kembali menetes dari pelupuk mata Marco. Dia begitu terharu saat ini, akhirnya dia menerima maaf dari kedua anaknya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2